Rumah Tradisional Aceh – Arsitektur Bangunan Adat Tradisional Khas Aceh

Aceh termasuk daerah yang cukup kentara mewarnai keragaman Adat Budaya Indonesia. Masyarakatnya yang kreatif telah mencipta banyak hal seiring sejarah kebudayaan mereka. Sebagian besar produk budayanya tetap lestari hingga saat ini. Salah satu yang paling ikonik adalah rumah tradisional Aceh, yakni Rumoh Aceh.

Rumah tradisional merupakan wujud nyata kebhinekaan rumpun bangsa Indonesia. Setiap provinsi, atau bahkan mungkin setiap suku memiliki arsitektur bangunan tradisional tersendiri yang khas. Meski demikian, sudah selazimnya bahwa terdapat satu rumah tradisional yang paling menonjol mewakili suatu daerah.

Aceh sendiri memiliki 13 etnis bangsa asli. Dan, suku Aceh adalah yang terbesar dengan angka mencapai 70%. Sehingga, kebudayaan suku Aceh pun mendominasi, tanpa terkecuali rumah tradisional suku Aceh yang sejauh ini mewakili kekhasan rumah adat daerah Aceh. Artikel ini sedikit banyak membahas rumah tersebut.

Arsitektur Rumah Tradisional Aceh

Rumah tradisional belum tentu rumah adat, sementara rumah adat sudah semestinya termasuk dalam jenis rumah tradisional. Demikianlah kiranya dengan masyarakat Aceh yang sebenarnya tidak mengenal istilah rumah adat. Mereka hanya mengenal Rumoh Aceh, istilah untuk menyebut rumah tradisional mereka.

Rumoh Aceh merupakan rumah tempat tinggal bercorak tradisional. Sejak dulu, sudah menjadi kebiasaan suku Aceh dalam membuat rumah cenderung sama atau nyaris sama dengan yang lainnya. Ciri khas rumahnya adalah berbentuk panggung dan memiliki serambi depan, serambi tengah dan serambi belakang.

Membangun Rumoh Aceh bagi masyarakat Aceh telah mentradisi sejak zaman kerajaan. Saat ini pun masih ada, namun sudah jarang, kecuali di pelosok-pelosok perkampungan. Gambaran mengenai rumah Aceh yang banyak menjadi rujukan adalah rumah yang berada dalam area Museum Aceh, Banda Aceh.

Selain itu, model rumah Aceh juga bisa kita temukan dengan mengunjungi beberapa rumah pahlawan Aceh yang masih tetap lestari hingga saat ini. Misalnya, rumah kediaman Cut Nyak Dhien yang berlokasi di Gampông Lampisang, Aceh Besar. Atau, rumah Cut Mutia yang berada di wilayah Matangkuli, Aceh Utara.

Kontruksi Bangunan Tradisional Aceh

Rumah tradisional Aceh memiliki kontruksi kokoh. Salah satu rumah tradisional tahan gempa, sama halnya dengan Rumah Gadang Sumbar. Selain itu, rumah ini juga mampu menahan angin kencang dan banjir, yang salah satunya dikarenakan keberadaan pohon besar yang hampir selalu tertanam di samping rumah.

Kekokohan rumah ini juga karena banyaknya tiang penyangga (16,24,32 tiang). Jumlah tiang penyangga juga menandai banyaknya ruangan dalam rumah. Pemanfaat bahan-bahan alam menjadi faktor kokohnya rumah ini, termasuk juga tidak menggunakan paku melainkan pasak untuk mengaitkan setiap bagian.

Seluruh bagian rumah berbahan kayu, kecuali atap yang berbahan daun rumbia. Sebagai rumah panggung, jarak antara tanah dan lantai cukup tinggi, sekitar 2,5 – 3 m. Kolong bawah rumah umumnya berfungsi sebagai tempat menyimpan hasil dan alat-alat pertanian, selain juga bisa menjadi tempat beristirahat.

Secara garis besar, rumah tradisional Aceh terdiri dari seuramoë keuë (serambi depan), seuramoë teungoh (serambi tengah) dan seuramoë likôt (serambi belakang). Ada juga bagian tambahan, yakni rumoh dapu (rumah dapur). Selebihnya, atap rumahnya berfungsi sebagai tempat penyimpanan pusaka keluarga.

Nilai Filosofis Bangunan dan Hiasan

Umumnya rumah tradisional selalu mengandung nilai filosofis yang mendalam, demikian juga Rumoh Aceh. Sebagai rumah berjenis panggung, menuntut adanya tangga agar si pemilik bisa memasukinya. Uniknya, jumlah tangganya selalu ganjil. Menurut orang Aceh jumlah ganjil sangat khas dan sulit ditebak.

Tinggi pintu rumah ini sedikit rendah hanya sebatas berdirinya orang dewasa dan bagian atas pintu terdapat balok melintang. Desain pintu yang demikian rupa tersebut bermakna bahwa setiap tamu hendaknya menghormati tuan rumah dengan menunduk ketika memasuki rumah atau tidak mendongakkan kepala.

Selain itu, rumah-rumah masyarakat Aceh juga selalu menghadap ke arah timur dan barat. Maksudnya, agar salah satu sisinya menghadap kiblat. Selain itu, arah barat dan timur juga berfungsi untuk mensiasati adanya angin badai karena keseringan badai menerjang wilayah Aceh dari dua arah, barat dan timur.

Rumah khas Aceh juga mengandung warna kedaerahan yang sarat makna. Warna kuning mewakili karakter kuat dan hangat. Merah bermakna semangat dan gairah. Ada juga warna putih melambangkan kesucian, warna oranye bermakna kehangatan dan kegembiraan, serta warna hijau sebagai simbol kesejukan.

Selebihnya, rumah tradisional Aceh juga menandakan bahwa orang Aceh memiliki jiwa seni yang tinggi. Hal ini terlihat pada ragam ukiran yang menghiasi rumah. Motif-motif ukiran tersebut lebih mewakili sikap dan pandangan hidup masyarakat Aceh, serta sama sekali tidak mengandung maksud mitos.

Motif flora fauna menggambarkan kecintaan terhadap hewan dan tetumbuhan. Motif bulan dan bintang menjadi isyarat agama Islam, sedangkan motif awan melambangkan kesuburan. Selain itu, terdapat juga motif taloe meuputa (tali berpintal) simbol ikatan persaudaraan dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Motif lainnya yang menggambarkan budaya masyarakat Aceh adalah pucok reubong (pucuk rebung bambu). Motif ini mengisyaratkan bahwa hidup bermula dari rebung yang selanjutnya berproses menjadi bambu. Juga, motif bungo kipah (bunga kipas) dan daun sirih yang tentunya memiliki makna tersendiri.


Demikian sekilas tentang rumah tradisional khas Aceh, yakni Rumoh Aceh yang sejauh ini juga dianggap sebagai rumah adat Aceh. Untuk mengetahui lebih banyak mengenai produk kebudayaan masyarakat Aceh, baca juga artikel Daftar Tarian Tradisional Daerah Aceh dan Ragam Alat Musik Tradisional Khas Aceh.

Referensi:

  1. img credit: Si Gam Acèh, CC BY-SA 3.0
  2. gln.kemdikbud.go.id/glnsite…pdf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *