Batik Solo – Perihal Sejarah Serta Khasnya Motif Batik Laweyan dan Kauman

Batik Solo. Kota Surakarta (Solo) adalah tentang eksotika Jawa, untuk dikagumi, untuk dirindukan kembali. Dalam hal wisata, di kota otonom di Jawa Tengah inilah salah satu sentra seni budaya, kuliner dan sejarah manusia Jawa.

Lebih spesifik lagi, Kota Solo bisa dikatakan sebagai mercusuar Kerajinan Batik, salah satu warisan budaya tak benda Indonesia. Meskipun wastra nusantara tersebut telah tersebar hingga ke 27 provinsi, “Batik Solo” tetaplah mentereng, dikagumi.

Bahkan, Pasar Klewer di Solo disebut-sebut sebagai sentra batik terbesar se-Asia Tenggara. Meski demikian ikon Batik Surakarta bukanlah pasar tradisional tersebut, melainkan merujuk hanya pada dua tempat, yakni “Laweyan” dan “Kauman“.

Jika tertarik, sebelum membeli Batik Solo, bukanlah ide buruk jika membaca tuntas artikel ini. Mencoba lebih dalam mengenal Batik Solo, baik awal kesejarahannya serta kampung batik yang hingga saat ini senantiasa melestarikannya.


Perihal Kesejarahan Batik Solo

Wastra batik telah mengalami sejarah yang sangat panjang. Dikatakan bahwa batik telah ada sejak zaman prasejarah. Terus hidup dari masa ke masa, melalui masa Hindhu-Buddha, Keraton Islam, hingga saat ini semakin berkembang lestari.

Batik mungkin saja bukan budaya asli bangsa Indonesia. Namun, budaya batik sudah demikian kuat tertanam dalam kebudayaan masyarakat adat di Indonesia. Khususnya di Jawa, batik hidup berkesinambungan selama berabad-abad.

Kerajaan Mataram Islam yang pernah berjaya di Jawa berandil kuat dalam melestarikannya. Selanjutnya, dinamika keraton melahirkan Perjanjian Giyanti (1755 M) dan membagi Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Tidak hanya kekuasaannya, namun juga cara melestarikan budayanya. Batik Solo dan Batik Yogyakarta lahir dalam nuansa seperti itu. Meski tetap dijadikan pakaian adat keraton, dua jenis batik tersebut hidup berkembang dengan coraknya sendiri.

Adat berbusana batik Surakarta dan Yogyakarta berbeda, baik warna dan motifnya. Kasunanan Surakarta memilih warna coklat emas dengan warna dasar krem dan Kasultanan Yogyakarta memakai biru gelap dan coklat berlatar putih.

Untuk motif batiknya, secara keseluruhan hampir sama. Hal ini dikarenakan penciptaan batik di sana dipengaruhi oleh kehidupan sekitar keraton, yang mana dua keraton tersebut masih merupakan generasi dari kerajaan Mataram Islam.

Di Kasunanan Surakarta sendiri, pada masa Paku Buwono III (1749-1788 M) ada aturan penggunaan motif batik pada tahun 1769. Aturan dikeluarkan untuk membedakan motif batik yang digunakan abdi dalem dan masyarakat di luar keraton.

Tidak hanya itu, motif batik bangsawan keraton pun berbeda dengan abdi dalem dan dilarang memproduksinya di luar keraton. Sehingga, ada pembeda antara pemerintahan Kasunanan Surakarta dengan orang Belanda dan rakyat pengikut raja.

Seiring berjalannya waktu, aktivitas pengerjaan batik abdi dalem yang memakan waktu 1 hingga 2 bulan sering kali dikerjakan di rumah masing-masing. Dalam proses pembatikan, para abdi dalem tersebut dibantu oleh istri mereka.

Alhasil, produksi batik dapat keluar dari keraton. Berawal dari daerah di sekitar keraton Kasunanan Surakarta, di Kauman. Di kampung para abdi dalem itulah, lambat laun masyarakat mewarisi ketrampilan batik secara turun temurun.

Menariknya, ada juga Kampung Batik Laweyan. Ada yang mengatakan, konon kampung eksotis ikon wisata heritage ini telah beroperasi sejak zaman kerajaan Pajang pada tahun 1546 M. Yang berarti lebih dulu menghasilkan kerajinan batik.


Antara Batik Laweyan & Kauman

Laweyan dan Kauman hadir dengan keunikan tersendiri, meski kemudian inovasi para pengrajin membuat sekat-sekat tersebut semakin menipis. Batik Laweyan dikatakan lebih berwarna, Batik Kauman lebih menekankan motif klasik keraton.

Sejak dulu, Laweyan dikenal sebagai daerah tempat hidup para pengusaha batik tulis Jawa. Karena motif-motif batiknya, kampung batik yang menempati area seluas 24 hektar lebih ini telah dikenal sebagai Ikon Batik Solo sejak abad ke-19.

Sarikat Dagang Islam (SDI) didirikan di Laweyan pada tahun 1912. Tersebutlah seorang Haji Samanhudi, sebagai pendiri asosiasi pedagang pertama milik pribumi untuk mengimbangi dominasi pengusaha China dan Eropa tersebut.

Perihal batiknya, kini Laweyan telah mengoleksi lebih dari 250 motif batik yang telah dipatenkan. Motif batiknya cenderung menghadirkan warna yang lebih terang, lebih bebas dan tak terikat dengan motif batik klasik keraton Kasunanan Surakarta.

Sementara itu, Batik Kauman terlahir seiring kebutuhan keraton yang membutuhkan sandang batik. Kampung di sisi barat alun-alun Keraton Solo ini dibangun bersamaan pembangunan Masjid Agung Keraton oleh Raja Paku Buwono III.

Agar lebih dekat dengan keraton, para abdi dalem yang biasa membatik diperintahkan tinggal di daerah tersebut. Bisnis batik pun turut berputar di sana. Batik yang dijual, motifnya dibedakan dengan busana batik untuk bangsawan dan raja.

Meski telah dibedakan, motif batik Kauman masih beraura priyayi. Motif Batik Solo yang dihasilkan masih terikat dengan pakem atau standar keraton. Lebih merepresentasikan busana yang dikenakan di Keraton Kasunanan Surakarta.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *