Bedoyo Wulandaru, Banyuwangi – Tari Penyambutan Bumi Blambangan

Tari Bedoyo Wulandaru. Menciptakan seni tari telah menjadi kebiasaan masyarakat tradisional dalam memberi penghargaan atau sebagai simbol kebahagiaan mereka atas kedatangan tamu istimewa. Hampir setiap daerah di Indonesia telah memiliki tarian selamat datang atau tari penyambutan yang khas, tidak terkecuali di Banyuwangi, Jawa Timur.

Tersebutlah tarian hasil kreasi masyarakat Blambangan (Banyuwangi) yang diberi nama Bedoyo Wulandaru. Sebuah tarian yang merepresentasikan rasa bahagia. Mereka tidak bisa menyembunyikan rasa itu ketika mendengar berita bahwa rombongan keluarga besar Prabu Hayam Wuruk beserta Mahapatih Gajahmada akan bertandang ke wilayah Blambangan.

Kebahagiaan mereka kemudian diungkapkan dalam sebuah tari dan terciptalah Tarian Bedoyo Wulandaru. “wulan” berarti bulan atau bisa dimaknai cahaya penerang kegelapan, “ndaru” adalah bintang jatuh sebagai suatu tanda keberuntungan. Sementara itu, Bedoyo atau Bedhaya merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut para penari wanita.

Melalui tarian ini, rakyat Blambangan mencoba mengungkapkan rasa bahagia atas kedatangan raja keempat Kerajaan Majapahit beserta mahapatihnya tersebut. Ungkapan kebahagiaan yang besar yang diibaratkan mendapatkan terangnya sinar rembulan serta keberuntungan karena didatangi seorang raja yang membuat Majapahit mencapai puncak kejayaannya.

Hingga saat ini, tari tradisional Banyuwangi ini tetap lestari. Sering kali ditampilkan pada acara festival budaya dan sebagai penyambutan tamu besar yang datang ke Banyuwangi. Bahkan, tarian ini pernah ditampilkan dan berhasil meraih juara umum dalam perhelatan Festival Karya Tari (FKT) tingkat provinsi Jawa Timur di Taman Krida, Malang.


Penyajian dan Bentuk Tari Bedoyo Wulandari

Layaknya seorang putri, para penari membawakan tarian ini dengan sangat indah. Mereka berbusana cantik dengan warna hijau yang mendominasi sebagai lambang kesuburan dan kemakmuran. Bagian kepala diberi mahkota berhias bunga, bagian tubuh berupa kain kemben setinggi dada, bagian bawahnya memakai kain panjang sampai mata kaki. Ada juga aksesoris berupa selendang, gelang dan ikat pinggang bercorak warna emas dan bunga.

Baik dari segi gerak tari dan musik pengiringnya, Tari Bedoyo Wulandaru merupakan pengembangan dari Tari Seblang dan Tari Gandrung. Yang menarik, di akhir setiap pertunjukannya para penarinya akan menebarkan beras kuning dan logam benggol (logam mata uang). Beras kuning dimaksudkan untuk mengusir malapetaka, sementara logam benggol untuk mengikat hati rakyat agar tetap patuh pada pemerintah yang sedang berkuasa.

  • 5
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *