• sumber : www.sumber.com

Beksan Lawung Ageng – Tari Pusaka Simbol Latihan Prajurit Trunajaya

posted in: Jawa, Seni dan Budaya, Tari, Yogyakarta | 0

Tari Lawung Ageng. Tari “beksan” Lawung Ageng adalah salah satu tarian pusaka di Keraton Yogyakarta yang diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwono I. Tari unggulan setelah Tari Bedhaya ini juga termasuk bagian dari ritual kenegaraan yang hanya digelar pada waktu dan tempat tertentu. Secara umum, tarian pusaka di Yogyakarta digelar pada saat ulang tahun raja dan penobatannya, pernikahan putra-putri sultan, serta pada saat-saat yang dianggap istimewa.

Tari Lawung Ageng terlahir sebagai sebuah kesenian yang menjadi simbol atau idiom budaya untuk mendukung legitimasi kekuasaan raja, selain juga sebagai simbolisasi latihan perang. Seperti diketahui, pada masa penjajahan Belanda, raja-raja Jawa sebagai penguasa lokal yang diagungkan oleh rakyat, tidak lagi berkuasa penuh. Pada awalnya, mereka melawan secara sporadis, karena kekuatan yang tak memadai perlawanan itupun mengalami kegagalan. Pada akhirnya, secara politik dan ekonomi mereka ada dibawah kekuasaan Belanda.

Pada saat-saat seperti itu, Beksan Lawung tercipta sebagai upaya Sultan Hamengku Buwono I untuk mengalihkan perhatian Belanda yang khawatir akan adanya latihan militer di keraton. Dari sini, diketahui bahwa sebenarnya tarian ini juga sebagai latihan militer yang terselubung untuk melatih ketangkasan dan ketangguhan para prajurit. Selain untuk menunjukkan kebesaran sang raja, Lawung juga ditujukan untuk menyulut semangat patriotisme dan bela negara para prajuritnya.

Penari dalam Beksan Lawung Ageng

Oleh karena Tari Lawung Ageng dimaksudkan sebagai simbolisasi latihan perang, maka karakter keras dan disiplin ala prajurit pun sangat kentara. Tari ini juga dikenal dengan Beksan Trunajaya karena ditarikan oleh para prajurit kesatuan Nyutra dari korps Trunajaya. 16 orang penari pria terlibat dalam tarian ini, dua orang sebagai penari botoh dan dua lainnya sebagai penari salaotho. Selebihnya, ada peran jajar, lurah dan ploncon (pengampil) yang masing-masing diisi oleh empat orang penari. Berikut adalah properti dan busana yang digunakan para penarinya :

  • Penari botoh : Menggunakan kain parang barong ceplok gurda, celana cinde, bara cinde, stagen cinde, kamus timang, sampur cinde, kaweng cinde buntal, kiat bahu candrakirana, kalung sungsun, sumping mangkara ron dan keris gayaman serta oncen keris.
  • Penari Salaotho : Menggunakan kain parang seling, celana panji putih, kopel kulit, baju beskap biru, kacu, iket lembaran, dan klinthing.
  • Penari lurah : Menggunakan kain parang barong, celana cinde, bara cinde, stagen cinde, kamus timang, sampur cinde, kaweng cinde, buntal, kiat bahu nganggrang, kalung sungsun, dan keris branggah serta oncen keris.
  • Penari jajar : Menggunakan kain kawung ageng ceplok gurda, celana cinde, bara cinde, stagen cinde, kamus timang, sampur cinde, kaweng cinde, buntal, kiat bahu nganggrang, kalung tanggalan oren, keris gayaman dan oncen keris, serta klinthing.
  • Penari Ploncon : Umumnya mengenakan iket tepen, tanpa hiasan, celana, sampur dan kain polos.

Demikian artikel mengenai Beksan Lawung Ageng Yogyakarta. Tentu saja artikel ini sangatlah terbatas dalam hal penyampaian informasinya karena hanya ditujukan sebagai pengenalan saja. Ragam tari lainnya bisa di lihat di Daftar Tari Yogyakarta, sedangkan jika ingin membaca lebih detail mengenai Tari Lawung Ageng, bisa melanjutkan pembacaan melalui tautan referensi dibawah ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *