Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) – Biografi dan Kumpulan Puisi

posted in: Biografi, Budayawan, Sastrawan | 0
Emha-Ainun-Nadjib-Cak-Nun Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) - Biografi dan Kumpulan Puisi
sumber : mediaindonesia.com

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Beliau adalah sosok multikreatif yang menerobos beragam segmen masyarakat dan berbagi dengan mereka mengenai banyak hal. Berbekal penampilannya yang egaliter, komunikatif serta cerdas dalam menggugah perhatian masyarakat menjadikannya mudah diterima oleh beragam level masyarakat.

Kalau boleh berlebihan, beliau adalah sosok yang paling dikenal hingga beragam predikat telah disandangkan masyarakat kepadanya. Selain sebagai sastrawan, budayawan, cendekiawan, pekerja sosial, kolomnis, seminaris, artis, humoris, Cak Nun juga kiai (meskipun beliau sangat menolak sebutan ini), dan sederetan sebutan lainnya.

Emha Ainun Nadjib. Sebuah nama yang teramat melekat bagi keserbajenisan orang, terlebih ketika nama tersebut lebih disederhanakan lagi menjadi “Cak Nun”. Seorang yang telah berproses cukup panjang terlebih dalam hal mengatasi dirinya, dimana beliau bergulat dengan keadaan dan keterbatasan. “Saya sangat gandrung dengan kata keterbatasan dan tidak begitu berani omong tentang kemerdekaan” katanya.

Saya sadar saya sangat memiliki keterbatasan, kekurangan dan kelemahan. Juga lingkungan sejarah yang saya jalani ini muatan utamanya adalah keserba-terbatasan. Sehingga yang saya lakukan adalah bagaimana bekerja keras untuk mengolah batas-batas. Bagaimana dalam hidup yang serba terbatas ini saya tetap menciptakan kemungkinan untuk bermanfaat.

Kehidupan Emha Ainun Nadjib dimulai pada tahun 27 Mei 1953 dan merupakan anak keempat dari lima belas bersaudara dari pasangan Muhammad Abdul Lathif dan Chalimah. Cak Nun pernah bertutur mengenai orang tuanya:

Ayah saya seorang petani dan kiai yang punya sebuah surau. Tapi ayah saya adalah bapaknya orang banyak, yang mengatasi banyak masalah di desa. Ibu saya seorang ibu rumah tangga biasa, tapi juga ibunya orang banyak. 

Semua keluhan dan masalah orang-orang disampaikan kepada mereka. Sejak masih digendong-gendong dan baru bisa berjalan, saya sudah ikut ibu berjalan keliling melihat para tetangga. Menanyakan mereka masak apa, anaknya sekolah nggak, problem-problemnya.

Hal itu kemudian secara tidak sengaja membentuk sikap sosial saya. Kebetulan nilai-nilai yang mendasari semuanya adalah agama. Karena agama Islam kuncinya satu yakni menolong orang yang tidak mampu di segala bidang agar dibuat mampu menjadi manusia.

Desa Menturo di Jombang Timur adalah tempat Cak Nun menjalani masa kecilnya. Sebuah tempat yang mengajarkannya tentang kesederhanaan, kebersahajaan, kewajaran dan kearifan hidup hingga membuatnya sangat bersyukur dilahirkan sebagai anak desa.

Saya belajar banyak dari orang desa yang berhati petani. Mereka hanya makan yang ditanam. Mereka menuai hasil berdasarkan kewajaran kerja. Mereka menjadikan kerja sebagai orientasi hidup. Mereka tak pernah menguasai, mengeksploitasi alam dan sesama manusia. Mereka tabah meskipun ditindih penderitaan. Saya benar benar cemburu pada kualitas hidup mereka.

Ketika tamat SD, selanjutnya Cak Nun melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Gontor, namun hanya bertahan hingga dua setengah tahun karena beliau “diusir” setelah aksi protesnya terhadap ketidakadilan petugas keamanan pondok.

Pada pertengahan tahun ketiga studinya, beliau pindah ke Yogyakarta dan tamat SMA Muhammadiyah I. Selepas SMA, beliau melanjutkan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM) yang hanya dijalaninya selama empat bulan karena ia lebih memilih untuk bergabung dengan kelompok penulis sastra muda di Persada Studi Klub (PSK). Kelompok tersebut dibawah asuhan “maha guru” Umbu Landu Paranggi yang dikatakan sebagai manusia sufi misterius. Umbu lah yang kelak sangat berpengaruh pada perjalanan Emha.

Dari “Universitas Malioboro” tersebut Cak Nun memasuki kehidupan dunia sastra dan berkibar bersama beberapa rekannya. Sebut saja Linus Suryadi AG, Yudhistira Adhi Noegraha, Iman Budhi Santosa, Suwarno Pragolapati, Bambang Indra Basuki, Bambang Darto, dan Saiff Bakham.

Dari sinilah pengembaraan sosial, intelektual, kultural, maupun spiritual berlanjut. Nama Emha makin melesat, tatkala ia begitu produktif dalam berkarya (tulisannya, terutama esai, puisi, dan cerpen, bertebaran di berbagai media massa). Cak Nun juga sempat mementaskan pembacaan-pembacaan puisinya bersama Teater Dinasti pada tahun 1980-an.

Tercatat bahwa Cak Nun juga aktif dalam kegiatan kesenian internasional diantaranya:

  1. Kegiatan teater di Filipina (1980)
  2. Social worker di berbagai daerah Luzon
  3. International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, AS (1981)
  4. Festival Penyair Internasional di Rotterdam (1984)
  5. Festival Horizonte II, di Berlin Barat, Jerman Barat (1985)

Selebihnya Cak Nun juga aktif di berbagai kegiatan kebudayaan dan keagamaan, terutama melalui kampus Institue of Social Studies di Den Haag, Negeri Belanda.

Emha Ainun Nadjib dan sastra adalah hal yang sangat sulit dipisahkan. Bahwa beliau mengakui dengan “Disiplin Sastra” lah, beliau menjalani tugas-tugas Sosial, Budaya, Politik dan Keagamaan. Hingga dikatakan :

Tanpa bantuan sastra, langkah komunikasi saya akan sangat terbatas. Dengan sastra, di samping saya dapat menemukan berbagai format komunikasi, saya juga tetap bisa memelihara pandangan terhadap dimensi-dimensi kedalaman manusia dan masyarakat, yang biasa diperdangkal oleh mata pandang parsial: ekonomi, politik, dan terutama kekuasaan praktis.

Dalam perjalanannya, Cak Nun untuk pertama kalinya mempublikasikan puisinya pada akhir 1968 di surat kabar Pelopor Yogya, yang mana itu berarti bahwa beliau telah menjadi “penyair” pada usia 16 tahun. Namun baru pada tahun 1975 antopologi puisi pertamanya diterbitkan dalam bentuk stesilan yaitu “M” Frustasi.

Pada tahun yang sama Emha bersama teman-temannya mendirikan Komunitas Teater Dinasti. Pada masa inilah nama Emha Ainun Najib semakin dikenal sebagai Seniman Garda Depan Yogya dimana puisi, esai serta cerpennya banyak mewarnai media massa lokal dan nasional.

Periode 1970an hingga 1980an bisa disebut sebagai periode pertama yang paling kreatif dan produktif bagi Emha Ainun Nadjib. Pada masa-masa tersebut beliau banyak melahirkan antopologi puisi, termasuk menjadi penulis paling muda menembus Kompas dan Tempo yang dikenal sangat selektif.

Disamping itu beliau juga menulis naskah drama yang secara progresif dipentaskan oleh Komunitas Teater Dinasti. Selanjutnya mulai tahun 1988 Emha memberi kejutan baru. Bersama teman-teman UGM (Jamaah Shalahuddin) ia mementaskan Lautan Jilbab, di samping Sunan Sableng dan Baginda Faruk.

Lautan Jilbab dipentaskan di beberapa kota di Indonesia. Dalam masa-masa itu pula beberapa naskah dramanya juga dipentaskan oleh Sanggar Shalahuddin. Sambil tetap melakukan berbagai aktivitas, pada 1992 Emha mempersiapkan pementasan besar “Perahu Retak” di Ponorogo, tepatnya di Pondok Gontor.

Adapun di tahun 2012 mementaskan Teater Nabi Darurat Rasul AdHoc bersama Teater Perdikan dan Letto yang menggambarkan betapa rusaknya manusia Indonesia sehingga hanya manusia sekelas Nabi yang bisa membenahinya.

Hingga saat ini, salah satu yang menjadi kebiasaan Cak Nun adalah berbaur langsung dengan masyarakat. Melakukan aktivitas-aktivitas yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, sinergi ekonomi guna menumbuhkan potensi rakyat.

Di samping aktivitas rutin bulanan dengan komunitas Masyarakat Padhang Bulan. Beliau juga berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, rata-rata 10-15 kali per bulan bersama Gamelan Kiai Kanjeng, rata-rata 40 sampai 50 acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung.

Termasuk diantaranya Jamaah Maiyah Kenduri Cinta, Mocopat Syafaat Yogyakarta, Padhangmbulan Jombang, Gambang Syafaat Semarang, Bangbang Wetan Surabaya. Paparandang Ate Mandar, Maiyah Baradah Sidoarjo, Obor Ilahi Malang, Hongkong dan Bali.

Dalam pertemuan-pertemuan tersebut beliau melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Kumpulan Puisi Emha Ainun Nadjib

TAHAJJUD CINTAKU

Mahaanggun Tuhan yang menciptakan hanya kebaikan

Mahaagung ia yang mustahil menganugerahkan keburukan

Apakah yang menyelubungi kehidupan ini selain cahaya

Kegelapan hanyalah ketika taburan cahaya takditerima

Kecuali kesucian tidaklah Tuhan berikan kepada kita

Kotoran adalah kesucian yang hakikatnya tak dipelihara

Katakan kepadaku adakah neraka itu kufur dan durhaka

Sedang bagi keadilan hukum ia menyediakan dirinya

Ke mana pun memandang yang tampak ialah kebenaran

Kebatilan hanyalah kebenaran yang tak diberi ruang

Mahaanggun Tuhan yang menciptakan hanya kebaikan

Suapi ia makanan agar tak lapar dan berwajah keburukan

Tuhan kekasihku tak mengajari apa pun kecuali cinta

Kebencian tak ada kecuali cinta kau lukai hatinya

 

1988

SERIBU MASJID SATU JUMLAHNYA

Satu

Masjid itu dua macamnya

Satu ruh, lainnya badan

Satu di atas tanah berdiri

Lainnya bersemayam di hati

Tak boleh hilang salah satunyaa

Kalau ruh ditindas, masjid hanya batu

Kalau badan tak didirikan, masjid hanya hantu

Masing-masing kepada Tuhan tak bisa bertamu

 

Dua

Masjid selalu dua macamnya

Satu terbuat dari bata dan logam

Lainnya tak terperi

Karena sejati

 

Tiga

Masjid batu bata

Berdiri di mana-mana

Masjid sejati tak menentu tempat tinggalnya

Timbul tenggelam antara ada dan tiada

Mungkin di hati kita

Di dalam jiwa, di pusat sukma

Membisikkannama Allah ta’ala

Kita diajari mengenali-Nya

Di dalam masjid batu bata

Kita melangkah, kemudian bersujud

Perlahan-lahan memasuki masjid sunyi jiwa

Beriktikaf, di jagat tanpa bentuk tanpa warna

 

Empat

Sangat mahal biaya masjid badan

Padahal temboknya berlumut karena hujan

Adapun masjid ruh kita beli dengan ketakjuban

Tak bisa lapuk karena asma-Nya kita zikirkan

Masjid badan gmpang binasa

Matahari mengelupas warnanya

Ketika datang badai, beterbangan gentingnya

Oleh gempa ambruk dindingnya

Masjid ruh mengabadi

Pisau tak sanggup menikamnya

Senapan tak bisa membidiknya

Politik tak mampu memenjarakannya

 

Lima

Masjid ruh kita baw ke mana-mana

Ke sekolah, kantor, pasar dan tamasya

Kita bawa naik sepeda, berjejal di bis kota

Tanpa seorang pun sanggup mencopetnya

Sebab tangan pencuri amatlah pendeknya

Sedang masjid ruh di dada adalah cakrawala

Cengkeraman tangan para penguasa betapa kerdilnya

Sebab majid ruh adalah semesta raya

Jika kita berumah di masjid ruh

Tak kuasa para musuh melihat kita

Jika kita terjun memasuki genggaman-Nya

Mereka menembak hanya bayangan kita

 

Enam

Masjid itu dua macamnya

Masjid badan berdiri kaku

Tak bisa digenggam

Tak mungkin kita bawa masuk kuburan

Adapun justru masjid ruh yang mengangkat kita

Melampaui ujung waktu nun di sana

Terbang melintasi seribu alam seribu semesta

Hinggap di keharibaan cinta-Nya

 

Tujuh

Masjid itu dua macamnya

Orang yang hanya punya masjid pertama

Segera mati sebelum membusuk dagingnya

Karena kiblatnya hanya batu berhala

Tetapi mereka yang sombong dengan masjid kedua

Berkeliaran sebagai ruh gentayangan

Tidak memiliki tanah pijakan

Sehingga kakinya gagal berjalan

Maka hanya bagi orang yang waspada

Dua masjid menjadi satu jumlahnya

Syariat dan hakikat

Menyatu dalam tarikat ke makrifat

 

Delapan

Bahkan seribu masjid, sjuta masjid

Niscaya hanya satu belaka jumlahnya

Sebab tujuh samudera gerakan sejarah

Bergetar dalam satu ukhuwah islamiyah

Sesekali kita pertengkarkan soal bid’ah

Atau jumlah rakaat sebuah shalat sunnah

Itu sekedar pertengkaran suami istri

Untuk memperoleh kemesraan kembali

Para pemimpin saling bercuriga

Kelompok satu mengafirkan lainnya

Itu namanya belajar mendewasakan khilafah

Sambil menggali penemuan model imamah

 

Sembilan

Seribu masjid dibangun

Seribu lainnya didirikan

Pesan Allah dijunjung di ubun-ubun

Tagihan masa depan kita cicilkan

Seribu orang mendirikan satu masjid badan

Ketika peradaban menyerah kepada kebuntuan

Hadir engkau semua menyodorkan kawruh

Seribu masjid tumbuh dalam sejarah

Bergetar menyatu sejumlah Allah

Digenggamnya dunia tidak dengan kekuasaan

Melainkan dengan hikmah kepemimpinan

Allah itu mustahil kalah

Sebab kehidupan senantiasa lapar nubuwwah

Kepada berjuta Abu Jahl yang menghadang langkah

Muadzin kita selalu mengumandangkan Hayya ‘Alal Falah!

 

1987

MEMECAH MENGUTUHKAN

Kerja dan fungsi memecah manusia
Sujud sembahyang mengutuhkannya
Ego dan nafsu menumpas kehidupan
Oleh cinta nyawa dikembalikan
Lengan tanganmu tanggal sebelah
Karena siang hari politik yang gerah
Deru mesin ekonomi membekukan tubuhmu
Cambuk impian membuat jiwamu jadi hantu
Suami dan istri tak saling mengabdi
Tak mengalahkan atau memenangi
Keduanya adalah sahabat bergandengan tangan
Bersama-sama mengarungi jejeak Tuhan
Kalau berpcu mempersaingkan hari esok
Jangan lupakan cinta di kandungan cakrawala
Kalau cemas karena diiming-imingi tetangga
Berkacalah pada sunyi di gua garba rahasia
1987

SEPENGGAL PUISI CAK NUN

sayang sayang kita tak tau kemana pergi
tak sanggup kita dengarkan suara yang sejati
langkah kita mengabdi pada kepentingan nafsu sendiri
yang bisa kita pandang hanya kepentingan sendiri
loyang disangka emas emasnya di buang buang
kita makin buta yang mana utara yang mana selatan
yang kecil dibesarkan yang besar di remehkan
yang penting disepelekan yang sepele diutamakan
Allah Allah betapa busuk hidup kami
dan masih akan membusuk lagi
betapa gelap hari di depan kami
mohon ayomilah kami yang kecil ini

KUDEKAP KUSAYANG-SAYANG

Kepadamu kekasih kupersembahkan segala api keperihan
di dadaku ini demi cintaku kepada semua manusia
Kupersembahkan kepadamu sirnanya seluruh kepentingan
diri dalam hidup demi mempertahankan kemesraan rahasia,
yang teramat menyakitkan ini, denganmu
Terima kasih engkau telah pilihkan bagiku rumah
persemayaman dalam jiwa remuk redam hamba-hambamu
Kudekap mereka, kupanggul, kusayang-sayang, dan ketika
mereka tancapkan pisau ke dadaku, mengucur darah dari
mereka sendiri, sehingga bersegera aku mengusapnya,
kusumpal, kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku
Kemudian kudekap ia, kupanggul, kusayang-sayang,
kupeluk,
kugendong-gendong, sampai kemudian mereka tancapkan
lagi pisau ke punggungku, sehingga mengucur lagi darah
batinnya, sehingga aku bersegera mengusapnya,
kusumpal,
kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku, kudekap,
kusayang-sayang.
1994

KITA MASUKI PASAR RIBA

Kita pasar riba
Medan perang keserakahan
Seperti ikan dalam air tenggelam
Tak bisa ambil jarak
Tak tahu langit
Ke kiri dosa ke kanan dusta
Bernapas air
Makan minum air
Darah riba mengalir
Kita masuki pasar riba
Menjual diri dan Tuhan
Untuk membeli hidup yang picisan
Telanjur jadi uang recehan
Dari putaran riba politik dan ekonomi
Sistem yang membunuh sebelum mati
Siapakah kita ?
Wajah tak menentu jenisnya
Tiap saat berganti nama
Tegantung kepentingannya apa
Tergantung rugi atu laba
Kita pilih kepada siapa tertawa
1987

KETIKA ENGKAU BERSEMBAHYANG

Ketika engkau bersembahyang
Oleh takbirmu pintu langit terkuakkan
Partikel udara dan ruang hampa bergetar
Bersama-sama mengucapkan allahu akbar
Bacaan Al-Fatihah dan surah
Membuat kegelapan terbuka matanya
Setiap doa dan pernyataan pasrah
Membentangkan jembatan cahaya
Tegak tubuh alifmu mengakar ke pusat bumi
Ruku’ lam badanmu memandangi asal-usul diri
Kemudian mim sujudmu menangis
Di dalam cinta Allah hati gerimis
Sujud adalah satu-satunya hakekat hidup
Karena perjalanan hanya untuk tua dan redup
Ilmu dan peradaban takkan sampai
Kepada asal mula setiap jiwa kembali
Maka sembahyang adalah kehidupan ini sendiri
Pergi sejauh-jauhnya agar sampai kembali
Badan di peras jiwa dipompa tak terkira-kira
Kalau diri pecah terbelah, sujud mengutuhkannya
Sembahyang di atas sajadah cahaya
Melangkah perlahan-lahan ke rumah rahasia
Rumah yang tak ada ruang tak ada waktunya
Yang tak bisa dikisahkan kepada siapapun
Oleh-olehmu dari sembahyang adalah sinar wajah
Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu fisika
Hatimu sabar mulia, kaki seteguh batu karang
Dadamu mencakrawala, seluas ‘arasy sembilan puluh sembilan
1987

IKRAR

Di dalam sinar-Mu
Segala soal dan wajah dunia
Tak menyebabkan apa-apa
Aku sendirilah yang menggerakkan laku
Atas nama-Mu
Kuambil siakp, total dan tuntas
maka getaranku
Adalah getaran-Mu
lenyap segala dimensi
baik dan buruk, kuat dan lemah
Keutuhan yang ada
Terpelihara dalam pasrah dan setia
Menangis dalam tertawa
Bersedih dalam gembira
Atau sebaliknya
tak ada kekaguman, kebanggaan, segala belenggu
Mulus dalam nilai satu
Kesadaran yang lebih tinggi
Mengatasi pikiran dan emosi
menetaplah, berbahagialah
Demi para tetangga
tetapi di dalam kamu kosong
Ialah wujud yang tak terucapkan, tak tertuliskan
Kugenggam kamu
Kau genggam aku
Jangan sentuh apapun
Yang menyebabkan noda
Untuk tidak melepaskan, menggenggam lainnya
Berangkat ulang jengkal pertama

DARI BENTANGAN LANGIT

Dari bentangan langit yang semu
Ia, kemarau itu, datang kepadamu
Tumbuh perlahan. Berhembus amat panjang
Menyapu lautan. Mengekal tanah berbongkahan
menyapu hutan !
Mengekal tanah berbongkahan !
datang kepadamu, Ia, kemarau itu
dari Tuhan, yang senantia diam
dari tangan-Nya. Dari Tangan yang dingin dan tak menyapa
yang senyap. Yang tak menoleh barang sekejap.

DITANYAKAN KEPADANYA

Ditanyakan kepadanya siapakah pencuri
Jawabnya: ialah pisang yang berbuah mangga
Tak demikian Allah menata
Maka berdusta ia
Ditanyakan kepadanya siapakah penumpuk harta
Jawabnya: ialah matahari yang tak bercahaya
Tak demikian sunnatullah berkata
Maka cerdusta ia
Ditanyakan kepadanya siapakah pemalas
Jawabnya: bumi yang memperlambat waktu edarnya
Menjadi kacaulah sistem alam semesta
Maka berdusta ia
Ditanyakan kepadanya sapakah penindas
Jawabnya: ialah gunung berapi masuk kota
Dilanggarnya tradisi alam dan manusia
Maka berdusta ia
Ditanyakan kepadanya siapa pemanja kebebasan
Ialah burung terbang tinggi menuju matahari
Burung Allah tak sedia bunuh diri
Maka berdusta ia
Ditanyakn kepadanya siapa orang lalai
Ialah siang yang tak bergilir ke malam hari
Sedangkan Allah sedemikian rupa mengelola
Maka berdusta ia
Ditanyakan kepadanya siapa orang ingkar
Ialah air yang mengalir ke angkasa
Padahal telah ditetapkan hukum alam benda
Maka berdusta ia
Kemudian siapakah penguasa yang tak memimpin
Ialah benalu raksasa yang memenuhi ladang
Orang wajib menebangnya
Agar tak berdusta ia
Kemudian siapakah orang lemah perjuangan
Ialah api yang tak membakar keringnya dedaunan
Orang harus menggertak jiwanya
Agar tak berdusta ia
Kemudian siapakah pedagang penyihir
Ialah kijang kencana berlari di atas air
Orang harus meninggalkannya
Agar tak berdusta ia
Adapun siapakah budak kepentingan pribadi
Ialah babi yang meminum air kencingnya sendiri
Orang harus melemparkan batu ke tengkuknya
Agar tak berdusta ia
Dan akhirnya siapakah orang tak paham cinta
Ialah burung yang tertidur di kubangan kerbau
Nyanyikan puisi di telinganya
Agar tak berdusta ia
1988

ANTARA TIGA KOTA

di yogya aku lelap tertidur
angin di sisiku mendengkur
seluruh kota pun bagai dalam kubur
pohon-pohon semua mengantuk
di sini kamu harus belajar berlatih
tetap hidup sambil mengantuk
kemanakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga ?
Jakrta menghardik nasibku
melecut menghantam pundakku
tiada ruang bagi diamku
matahari memelototiku
bising suaranya mencampakkanku
jatuh bergelut debu
kemanakah harus juhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga
surabaya seperti ditengahnya
tak tidur seperti kerbau tua
tak juga membelalakkan mata
tetapi di sana ada kasihku
yang hilang kembangnya
jika aku mendekatinya
kemanakah haru kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga ?

BEGITU ENGKAU BERSUJUD

Begitu engakau bersujud, terbangunlah ruang
yang kau tempati itu menjadi sebuah masjid
Setiap kali engkau bersujud, setiap kali
pula telah engkau dirikan masjid
Wahai, betapa menakjubkan, berapa ribu masjid
telah kau bengun selama hidupmu?
Tak terbilang jumlahnya, menara masjidmu
meninggi, menembus langit, memasuki
alam makrifat
Setiap gedung, rumah, bilik atau tanah, seketika
bernama masjid, begitu engkau tempati untuk bersujud
Setiap lembar rupiah yang kau sodorkan kepada
ridha Tuhan, menjelma jadi sajadah kemuliaan
Setiap butir beras yang kau tanak dan kau tuangkan
ke piring ke-ilahi-an, menjadi se-rakaat sembahyang
Dan setiap tetes air yang kau taburkan untuk
cinta kasih ke-Tuhan-an, lahir menjadi kumandang suara
adzan
Kalau engkau bawa badanmu bersujud, engkaulah masjid
Kalau engkau bawa matamu memandang yang dipandang
Allah, engkaulah kiblat
Kalau engkau pandang telingamu mendengar yang
didengar Allah, engkaulah tilawah suci
Dan kalau derakkan hatimu mencintai yang dicintai
Allah, engkaulah ayatullah
Ilmu pengetahuan bersujud, pekerjaanmu bersujud,
karirmu bersujud, rumah tanggamu bersujud, sepi
dan ramaimu bersujud, duka deritamu bersujud
menjadilah engkau masjid
1987

NOCTURNO

Tuhan si anak kenangan berbaring di cakrawala selatan

Tuhan si anak kenangan berloncatan di atas bintang-bintang

Tuhan si anak kenangan berebut masuk keluar pernapasan

Tuhan si anak kenangan tak meleleh di pucuk dendam

Tuhan si anak kenangan terjatuh!

 

: dalam bayang bayang

 

“Selamat malam!

 

O, si buah angan

 

Selamat malam!

 

O, si Anak Hilang!”

 

75

 

 

SAJAK JATUH CINTA

Karena ini bunga

Maka ciumlah dengan bening jiwa

Karena ini sajak

Maka terimalah dengan mripat kanak-kanak

 

Gugusan mendung yang ranum

Menggugurkan hujan ke bumi

Dari langit jauh Engkau bagai telah turun

Pada air, tanah, serta pada sunyi

Kemudian senyap sesaat

Tuhan melintaskan syafaat

Kemudian daun-daun bersijingkat

Dalam pesona memikat

 

Karena ini bunga, dik

Maka ciumlah dengan bening jiwa

Karena ini sajak, dik

Maka terimalah dengan mripat kanak-kanak

 

75

LAGU

Sangatlah nyaman

Serta penuh kekhusyukan

Bersahabat dengan angin

Dan matahari pagi

Wajah gadisku yang membayang

Mengajakku sejenak berpejam

Tunduk kepala, dan

Menggumamkan salam

Dan embun menguap

Setelah semalaman

 

– bagai peristiwa cinta –

Membungkus dedaunan lelap

O, biru langit!

O, bukit-bukit!

Saksikanlah bahwa merdeka

Sangatlah mengikat

Bahwa jiwa

Butuh saat-saat alpa

Di mana roh diguncang

Tercampak dari tanya dan pikiran

 

Gadisku! Wahai gadisku!

Sangatlah nyaman

Bersetia kasih dengan Alam

Dan di bawah Iman-Nya: kita tenggelam

 

75

SAJAK

Demi rembulan yang Engkau ciptakan

Khusus untuk memulangkan diriku

Kepada kumandang tangis bayi, yang telanjang

Yang hening lagunya bergaung

Ke ladang-ladang jiwa

Yang meripatnya bening

Dan yang semua geraknya

Dibimbing

Oleh kegaiban

 

Demi rembulan di larut malam

Yang bagai kereta kencana

Ditarik oleh kuda siluman

Yang bangkit dari cakrawala

Yang bangkit begitu saja

Berderap

Perlahan

Dan menciptakan gemuruh

Dalam kediaman

 

Demi rembulan yang Engkau ciptakan

Untuk mengusap kening jiwa yang berabad menangis

Jiwa Adam

Rintih kerinduan

Yang mencegatnya di ujung jalan

Dan yang mencegatku kini

Dalam derita dan keasingan

Yang terus menjelma

Yang mengawali setiap pekik kelahiran

Dan yang terus berkembang dalam kenangan

 

Demi rembulan yang bagai pejalan sunyi

Menjelajah seluruh malam

Sehingga terciptalah dunia dan kehidupan

Dari angin, embun dan dedaunan

Yang berkilat

Karena cahayanya

Yang seakan mengisyaratkan harapan

Bagi kerinduanku nantinya

 

Ah, Tuhan!

 

Demi rembulan yang Engkau ciptakan

Buat menggoda!

Di semak-semak ini

Di hutan gelap yang tercipta

Dalam gaung jiwa

Dalam gelegak samudera

Dalam gelegak darahku

Yang letih

Dan maya

 

: kutikamkan pisau ini

ke dadaku!

 

(terimalah

semangatku

reguklah

cintaku!)

 

75

APAKAH PUISI-PUISI INI

Apakah puisi-puisi ini

Jelmaan roh-Mu, Tuhanku

Sehingga aku merasa bahagia

Jika bergaul dengannya

Ia selalu membuka ruang

Hingga aku setia pada kemungkinan

Ia adalah sembahyang

Yang penuh kemerdekaan

 

Tuhan, di antara sekian cara hidup

Agama dan peraturan-peraturan

Puisi memberi keikhlasan

Kepada apa pun yang Kaulakukan

 

Yogya 77

PRAMBANAN

Kenapa aku tak bisa diam sepertimu

Diam pada angin

Pada hujan, pada lindu

Dan langit yang semu

Apa benar hidup lebih baik

Dari yang disebut mati

Seperti lukisan air mukamu

Seperti sikap diammu

 

Hidup ini besar ongkosnya

Sedang kita terus berlari keras dan gila

Mengejar-ngejar apa

Tak ketemu jua

Kenapa aku tak bisa diam sepertimu

Diam pada angin, langit, Tuhan …

 

77

DI DEPAN PATUNG BUDHA

Kau ada

Aku pun ada

Tapi kau bahagia

Aku tidak

 

Apa kerna ada nyawa

Maka tak bahagia

Sedang dengan nyawa

Orang ingin bahagia

 

Kukira salah mulanya

Adam dilempar dari surga

Mengapa harus kembali ke sana

Mengapa tak ke Tiada

 

Borobudur 77

AKU INI TERMASUK ORANG YANG SUKAR BERBAHAGIA

Aku ini termasuk orang yang sukar berbahagia

Sebab makin banyak memandang adegan kehidupan

Makin bertumpuk pula pertanyaan kepada Tuhan

 

Hidup ini ruwet seperti lingkaran setan

Seperti perang brubuh yang tak bisa diuraikan

Serta penuh benturan yang seperti sengaja diciptakan

 

Ah, tetapi mudah saja jika Tuhan mau mengubah semuanya

Atau menghapusnya lantas menciptakan lagi dunia

Yang sedikit agak bermutu, terhormat dan mulia

 

Tetapi kukira itu tak mungkin terlaksana

Sebab siapa tahu Tuhan merasa asyik dengan kekonyolan kita

Dan agar tak kehilangan permainan: kita terus saja dipelihara

 

Yogya 77

KOSONG

Kenapakah kadang-kadang

Demikian kosong hidup ini, Tuhanku

Segala keramaian di sekelilingku

 

Lalu lalang pikiran dan hasrat kehidupan

Yang menggoreskan seribu warna peradaban

Segala apa pun yang dikurung langit-Mu

 

Segala apa pun yang di bilikku

Telapak tanganku yang tiba-tiba kuamati

Bahkan wajahku yang dipantulkan oleh cermin ini

 

Kurasakan amat kosong dan sunyi

Tetapi di dalam dadaku

Tetapi di dalam jiwaku

 

Ada bergaung suara-suara

Ada tekanan-tekanan yang asing rasanya

Seperti jeritan

 

Seperti teriakan dalam diam

Seperti diam dalam teriakan

Seperti dendam

 

Seperti kerinduan

Atau pusaran permainan

Yang tak bisa aku hindarkan

 

Tuhanku, apakah perasaan yang semacam ini juga

Yang mendorong-Mu untuk menciptakan manusia

Dan semesta yang fana?

 

Salatiga 77

TAKUT PADA MATAMU

Kekagumanku kepada Tuhan

Membuat aku takut pada matamu

Apakah engkau sendiri mengerti, kekasihku

 

Apa gerangan yang memancar dari matamu itu?

Bertahun-tahun kita hanya berpandangan saja

Engkau bisu

Dan aku tuli

 

Karena sangat tidak mengerti

Bola matamu yang bening

Adalah ruang yang tiada terbatas

Tetapi jika pun engkau kelak menjadi wanitaku

 

Akan bisakah kumasuki ruang itu?

 

Surabaya 77

DARI BUKIT KOTAMU

sekali waktu ingin kuajak engkau kemari, kasihku

untuk melihat lampu-lampu kotamu yang berdebu

berdiri di sini bagai berada di luar kehidupan

jika kita bergoyang-goyang ditimang tangan Tuhan

 

apa salahnya beberapa saat kita istirah

pasrah diri kepada kelam yang jauh

apa salahnya sejenak alpa pada luka yang dalam

dan hati yang robek di dalam pergulatan

 

sekali waktu ingin kuajak kau bersandar di pohon ini, kasihku

untuk menghela napas panjang, melepas keletihan

meredakan segenap dendam, meniti masa silam

dan bersiap, melayani hari-hari esok yang panjang

 

Bandung 77

SAJAK ORANG TUA SERIBU

Bapakku satu

Ibuku satu

Orang tuaku seribu

 

Yang satu ngajari sembahyang

Lainnya nyuruh edan

Yang satu ngasih kitab Qur’an

Lainnya menyodorkan minuman

Yang satu berkhotbah kebaikan

Lainnya mendorong ganggu istri orang

Lainnya lagi penuh kebajikan

Sekaligus bajingan

 

Langit muntah

Hujan tumpah

Mancur ke tenggorokan bumi

Membanjirkan sampah kotoran

Dari selokan dan kali-kali

 

Bapakku satu

Ibuku satu

Orang tuaku misteri

 

Hiruk pikuk yang sunyi

Satu wajah

Ganti beribu kali

Ibu hamil karena Tuhan

Lahir aku tercampak di air pasang

Yang bergerak menyeret tanpa ampunan

 

Yeaahh!

Kini ambil putusan

Si Diam bergerak ke sebaliknya

Balikkan badan

Curi ruang di antara ruang

Sang Maha Gunung terletak sumbernya

Sampai darah kering kutatap ia!

 

1982

KABUT

Selalu kaupanggil-panggil namaku

Aku mengangguk dan tersenyum kepadamu

Tapi sebenarnya kabutlah

Yang kaupanggil itu

 

Kauseret tubuhku, kaubawa ke perjalanan

Kau perkenalkan kepada setiap orang

Kabut pun menebal, diriku tersembunyikan

 

Tak kauingatkan sudah berapa topeng

Yang kautempelkan di wajahku?

Jadi engkau sendirilah ini, bukan aku

 

Tetangga, politik, dan persangkaan

Nafsu, idolatri, dan kepentingan

Mengepulkan debu, mengabuti sejatiku

 

Kita semua adalah Tuhan yang menyamar

Menyiksa diri dengan sejarah yang samar-samar

Kalau tak juga kautanggalkan topeng-topeng ini

Kepalsuan kita panggul sampai mati

 

DI ATAS CRETE

Jauh di atas kepulauan Crete, pesawat saya

menggerunjal, seperti sedang melewati jalanan

di kampungku yang penuh lobang dan batu-batu

 

Pilot pemandu hidup memberi peringatan tentang

cuaca amat buruk, hingga kami harus menegakkan

tempat duduk dan pasang sabuk, kemudian dianjurkan

untuk berdoa

 

Para penumpang langsung bermuka mendung, para suami

istri dan pasangan kekasih pada berpegangan tangan,

semua tiba-tiba ingat Tuhan dan tampil di hadapan-Nya

sebagai pengemis-pengemis yang malang

 

Supaya tidak mengganggu lingkungan saya pun menunduk

khusyu, sambil kupandangi jiwa saya yang tertawa lega

bagaikan menerima lotere

 

Terima kasih, terima kasih, Tuhan – katanya – Saya

tidak ingin menitipkan onggokan daging busuk ini

kepada siapa pun. Kalau Engkau berkenan, biarlah

sampah hina yang duduk cemas di kursi ini segera

saja sirna, agar saya pun merdeka!

 

Tapi tak lama kemudian jiwa saya itu pun ngambeg

karena segera ada pengumuman tentang yang disebut

keselamatan, dan daging-daging bau itu pun menarik

nafas lega, sambil bersiap turun, berjejal-jejal

memenuhi tong-tong sampah yang bertebaran di atas dunia

 

1984

PESAWAT TERBANG

Pertama kali naik pesawat terbang, saya ingin

memasang iklan di koran nasional bahwa saya

benar-benar sudah pernah naik burung ajaib

yang dikagumi oleh seluruh kanak-kanak

dan orang dewasa

 

Kali kedua pengin dishoot kamera betapa saya

memasang seat-belt segampang menelan ludah

kemudian dengan lincah menggoda stewardesses

 

Yang ketiga saya berpikir menelusuri dari modal siapa

gerangan pesawat mewah ini dibikin, bagaimana

modal itu diputar di meja perjudian

ekonomi politik internasional, serta membayangkan

siapa saja, yang bisa menikmatinya

 

Namun toh pada kali keempat saya masih saja sedikit

mengagumi otak manusia penemu daya sihir

burung-burung, meskipun kemudian bosan

dan tidur kepala berat

 

Sehingga tatkala terbang kelima, keenam, ketujuh kali,

di samping selalu disergap oleh ratusan

pikiran murung: saya merasa pesawat terbang

tak pernah membawa saya naik ke mana-mana

 

Ada kemungkinan para teknolog, teknokrat serta

para pemakai mereka, gagal melihat mana bawah

yang sebenarnya dan mana atas yang sesungguhnya

 

1984

MAKAN DAN MINUM 1

Selalu jiwa saya bertanya kenapa tiap hari

orang mesti makan dan minum

Saya bilang itu merupakan syarat agar mereka

bisa berak dan kencing

Kalau yang orang maui, kata jiwa saya, hanya

buang air baik besar maupun kecil

Kenapa makanan dan minuman dibikin bermacam-macam,

bertingkat-tingkat serta berhias-hias

Saya bilang karena mereka tak bisa tentukan

kualitas berak, hiasan tinja atau bau harum kencing

Kalau begitu, kata jiwa saya lagi, segera

mendekatlah padaku, agar tak terlalu

lama engkau dikungkung oleh tujuan hidup

berak dan kencing

 

1984

MAKAN DAN MINUM 6

Pada mulanya, kata jiwa saya, orang pergi

berburu binatang, menombak rusa atau

memanah burung-burung

Akhirnya hewan menipis jumlahnya dan hutan

hanya dipenuhi manusia, maka orang menembak orang

orang menggusur orang,

orang menembak orang

Sesampainya di dapur, mereka bikin sate

beramai-ramai

Yang kutangisi, kata jiwa saya lagi, bahwa

sesudah makan dan minum seratus kali

lipat dari kapasitas perutnya, para pemenggal,

penggusur dan penembak itu tidak menjadi kenyang,

melainkan justru semakin lapar

 

1984

SYAIR MALING

Perjuangan utama sebuah syair, hanyalah

Untuk tak menjadi slogan

Atau kembang plastik

 

Dari Tuhan lahir seorang bayi

Dituding sebagai subversi, atau dipupuk

Menjadi hostes para priyayi

 

Syair-syair diagung-agungkan

Hingga menjadi barang kerajinan

Yang menggelikan

 

Cukuplah ia – kata seorang teman

Lahir dari angin

Tapi sahabat lagi mengklaim

 

— syair ialah berak

Berak nasib

Orang-orang terpilin

 

Maka kita bertengkar

Buntu dan gagap

Dari hari ke hari

Sambil membiarkan maling-maling

 

1983

SESOBEK BUKU HARIAN INDONESIA

Melihat pentas-pentas drama di negeriku

berjudul Pesta Darah di Jember

Menyerbu Negeri Hantu Putih di Solo

Klaten, Semarang, Surabaya dan Medan

Teror atas Gardu Pengaman Rakyat di Bandung

Woyla.

 

Ah, ingat ke hari kemarin

pentas sandiwara rakyat

yang berjudul Komando Jihad

Ingat Malari.

Ingat beratus pentas drama

yang naskahnya tak ketahuan

dan mata kita yang telanjang

dengan gampang dikelabui dan dijerumuskan

 

Ah, drama-drama total

yang tanpa panggung

melainkan berlangsung di atas hamparan

kepala-kepala penonton

Darah mengucur, kembang kematian.

Bau busuk air liur para sutradara licik

yang bersembunyi di hati mulia para rakyat.

Drama peradaban yang bermain nyawa

mencumbu kemanusiaan

berkelakar secara rendahan kepada Tuhan

Kita orang-orang yang amat lugu dan tak tahu

 

Pikiran disetir

Hidung dicocok dan disemprot parfum

Pantat disodok dan kita meringkik-ringkik

tanpa ada maknanya

Kita yang terlalu polos dan pemaaf

beriuh rendah di antara kita sendiri

bagai anak-anak kecil yang sibuk dikasih petasan

kemudian tertidur lelap

sesudah disuapi sepotong kue bolu dan permen karet

 

Ah, milik siapa tanah ini

Milik siapa hutan-hutan yang ditebang

Pasir timah dan kayu yang secara resmi diseludupkan

Milik siapa tambang-tambang

keputusan buat masa depan

Milik siapa tabungan alam

yang kini diboroskan habis-habisan

Milik siapa perubahan-perubahan

kepentingan dari surat-surat keputusan

 

Kita ini sendiri

milik siapa gerangan.

Pernahkan kita sedikit saja memiliki

lebih dari sekedar dimiliki, dan dimiliki.

Pernahkan kita sedikit saja menentukan

lebih dari sekedar ditentukan, dan ditentukan.

 

Yogya, 13 Maret 1982

YOGYAKU

Candradimuka hanya kawah panas seribu panas

tapi Yogyaku apimu membekukan dinginmu memanggang

Di kawah aku mengolah baja namun engkau

menantang keabadianku di antara pijar matahari dan

malaikat salju

 

Di pelukanmu ngantuk aku tapi jika kudengar

detak jantung rahasiamu kuperoleh Tidur yang sebenarnya

Tidur abadi, sunyi segala sunyi, terkatup mulutmu

karena tahu sang Sutradara hanya menorehkan sepi

Yogyaku senyumanmu linuhung di belakang

punggung beribu orang yang mengigau pernah ketemu dan

bercakap-cakap denganmu

 

Anak-anak kecil yang menghiasimu dengan beratus

gelar, menabur janji, menancapkan papan-papan ikrar

dan menyuratkan buih-buih mimpi yang terbengkalai

Kata-kata macet di tengah pidato silang tindih,

nilai-nilai undur diri kepadamu di tengah program bingung

dan gerak yang serba rancu, ruh anak-anakmu terguncang

oleh kendaraan-kendaraan yang kesurupan di atas

 

danau-danau jalan rayamu

Kemudian sekian ratus di antara mereka,

mati rahasia, dan engkau tahu persis jumlahnya tanpa meraka

pernah kepadamu membukakannya

Yogyaku senyuman linuhungmu mengurung bagai

hamparan langit yang mahasabar, Yogyaku engkau

memaafkan para pelacur dan maling di jalan dan di singgasana

 

Di jalan, di gang-gang sempit, engkau menanam janji

sunyi, di singgasana engkau menaruh rasa iba hati, karena jika

engkau dijual untuk sepiring nasi, sesungguhnya engkau tak

kan pernah bisa digadaikan atau dicuri

Yogyaku engkau diangkut dari sungai masa silam

dengan truk hari depan, Yogyaku engkau direbut dari masa

datang dan tergesa dilempar ke museum ke alam abad silam,

waktu tak di dalam ruang, juga tak di luarnya,

tak di sela garis batasnya …

 

1984

BELAJAR TIDAK

Ajari kami

membedakan ya dan tidak

tanpa embel-embel

 

Tuntunlah kami

bilang ya dan bilang tidak

tanpa hitung untung

 

Tenaga apa bisa kami pakai

untuk bilang ya

bagi setiap ya

untuk bilang tidak

bagi setiap tidak

 

Apa mesti pakai sukma Tuhan

untuk bisa tahan

tuding tidak pada tidak

karena tidak

ialah tidak

 

 

Udara sarat tidak

tiap hari sibuk tidak

tetapi sebab dicekik ya

terpaksa bilang ya

 

******

 

Mata siapa bisa kami pinjam

untuk melihat benar kehidupan

untuk menangkap setiap murni getaran

Tangan siapa bisa kami ulurkan

untuk menggenggam air bah kenyataan

 

Mau nimba ke mana

Belajar kepada apa

Berguru ke siapa

Ilmukah atau batu

Anginkah atau guru

Langitkah atau suhu

Mataharikah atau waktu

Rohkah atau langit biru

Pohonkah atau buku

Gunungkah atau para biksu

 

Pedang-pedangkah

atau primbon masa lalu

Lautan katakah

atau Allah yang bisu

 

*******

 

Sejuta ilmu

lupa pada yang sederhana

Hidup teramat lama

untuk tak bisa ngomong tidak

Hidup terlalu sumpeg

untuk selalu tak bilang tidak

Waktu terentang panjang

bisa tampung berjuta tidak

Irama begini sesak

untuk bilang satu saja tidak

 

Dinding amat tebal

Ruang terbagi-bagi

Bagian-bagian terbagi-bagi

tanpa pintu

 

Angin membusuk

Pikiran meracuni jiwa

Sukma tertidur

takut ngerti sampai di mana

 

Kata tidak menumpuk

di sel-sel penjara

di butir-butir darah

nyangkut di mata merah

 

******

 

Ya sering nampak sebagai tidak

Tidak sering seperti ya

Ya seakan-akan tidak

Tidak seolah-olah ya

 

Ada ya yang ketidak-tidakkan

Ada tidak yang keya-yaan

Ya biasa disulap jadi tidak

Tidak dianggap sebagai ya

 

Orang ya terpaksa bilang tidak

Orang tidak terpaksa bilang ya

Segala ya jadi kuasa

 

Bikin setiap tidak jadi ya

Asal kami bilang ya

Soal jadi tak ada

Tapi jika bilang tidak

Hari esok bisa binasa

 

Hukum jadi samar

Benar jadi omong besar

Merdeka jadi patung-patung

 

******

 

Kami inginkan ya yang lugas

Tidak yang tegas

Tapi siapakah guru kami?

Para guru sangat pandai

mengajarkan upaya

 

Pemimpin kami amat pintar

membendung segala tidak

dari mulut kami

yang dibilang pengkhianat

 

Beribu nilai tersedia

Namun kami hanya dipilihkan

Oleh suatu rangka dan susunan keadaan

Kami dikepung dan dikendalikan

Kiranya guru kami ialah

kata tidak itu sendiri

 

Tidak

Beratus-ratus tidak

Beribu-ribu tidak

Berjuta-juta tidak

Kami ucapkan

tiap pagi

siang, sore

dan malam harinya

sampai bersiap merdeka

atau gila.

 

Yogya, 10 Juni 1982

SYAIR CANDU 1

kalau kamu bilang agama itu candu

dengarkan Allah-lah candu hidupku

tuak cinta maha membeningkan pikiran

melempangkan yang sebenar-benarnya jalan

 

jika sukmaku meminumnya

badan tegak dan jiwa perkasa

menyingkir rasa takut dan kesedihan

sehingga takkan kubatalkan pemberontakan

 

para peminum kesejatian

sanggup keluar dari setiap barisan

yang menghardik utuhnya kemanusiaan

meski ditemani oleh hanya sunyi dan kelaparan

 

kamu takkan tahu bau napasnya begitu merangsang

menyisihkan segala yang tampak menggiurkan

menjelaskan betapa remehnya godaan

serta apa pun saja yang seolah dan seakan-akan

 

kalau kamu bilang agama itu candu

kuperdengarkan allah dan tak ada yang selain itu

firmannya merasuki darah bagai arak suci

kusandang untuk menyibak zaman ini

 

1985

SYAIR CANDU 5

paduka kenyataan hamba

paduka juga impian hamba

luka parah hamba memburunya

 

semesta rahasia

tak terhingga jumlah pintunya

sehingga realitas terus bekerja

 

kenyataan tak bisa distop langkahnya

sebab terangkai oleh kemungkinan

yang tak tertangkap oleh kata benda

 

paduka aduk mitos kenyataan

padaka tertawakan kenyataan mitos

ketika orang membeku di salah satunya

 

maka terimalah hamba

ikut berdenyut  di jantung paduka

mengembarai hakikat yang betapa anehnya

 

1985

HIJRAH

mimpiku pawai burung

tanpa sayap terbang ke surga

mimpiku mata rabun

nyangkut di langit hampa

 

insyaallah angan-angan ini

disetujui oleh para nabi

tapi jarang kuteliti

teori mereka mengolah bumi

 

kemudian tiba ke khomeiny

marx, fraire, dan ali syari’ati

madrasah frankfurt, ngo pinggir kali

berperang brubuh di rumah sini

 

di wajah beberapa kawan

nama-nama itu menjelma siluman

ketika tangan mereka acungkan

terciptalah mesin percetakan

 

aku jatuh terjengkang

tolol di pojok jalan

hanya sanggup berpamitan

hijrah ke semesta pengembaraan

 

1985

AMBIL SI PENARI UNTUKKU TARIANNYA

Dzu Walayah membawaku mengembara.

Telah berulangkali kukunjungi tempat-tempat itu, namun bersamanya menjadi berubah cara berjalanku serta menjelma baru mata-pandangku.

Kuajukan kepadanya beribu-ribu pertanyaan seperti Ibrahim menggalah beribu-ribu bintang, kureguk jawaban-jawabannya yang mesra bagai anak kambing menyusu puting induknya.

Namun, tentang satu hal, Dzu Walayah selalu menghindar, ialah tentang wihdatul wujud, Allah dengan hambaNya manunggal.

Tatkala kami duduk-duduk istirah di tepian pantai, ia meminta – “Ambil seciduk dua ciduk air samudera untukmu, sisakan ombaknya berikan kepadaku.”

Ketika di malam hari aku merasa kedinginan oleh hembusan angin yang amat kencang, ia lepaskan kain sarungnya dan berkata – “Pakailah ini untuk selimutmu, tapi helai-helai benangnya biarlah untukku.”

Dan ketika di lapangan pojok dusun itu bersama-sama kami menyaksikan acara tayuban yang riuh rendah oleh musik, teriakan dan birahi, Dzu Walayah menggamit pundakku – “Pergilah ambil penari itu untukmu, tapi terlebih dahulu berikan kepadaku tariannya.”

 

1987

TUHAN SUDAH SANGAT POPULER

Satu

Tuhan sudah sangat populer

Nama-Nya dihapal luar kepala

Sehingga amat jarang ada

Orang yang sungguh-sungguh mengingat-Nya

 

Tuhan sudah sangat populer

Seperti matahari tak pernah tak bercahaya

Sehingga hanya kadang-kadang saja

Orang menyadari ada dan peran-Nya

 

Tuhan sudah sangat populer

Baik di kota maupun di desa

Kalau terasa tak ada, orang menanyakan-Nya

Ketika jelas, ada orang melupakan-Nya

 

1987

AJARI AKU TIDUR

tuhan sayang ajari aku tidur

seperti dulu menemuimu di rahim ibu

sesudah lahir menjadi anak kehidupan

sesudah didera tatakrama, pendidikan, politik

dan kebodohan

bisaku cuma tertidur

tertidur

 

tuhan sayang tak kurang-kurang engkau menghibur

tapi setiap kali badan terbujur ruhku bangkit

memekik-mekik!

hidupku jadi ngantuk, luar biasa ngantuk

tanpa pernah bisa sungguh-sungguh tidur

 

di siang dunia berseliweran kecemasan

orang-orang berburu prasangka

menumpuk salah paham terhadap kehidupan

memburu dugaan, bersandar pada bayangan

mengulum batu-batu akik, aku ngantuk

sungguh-sungguh ngantuk

 

di malam segala nina bobo yang menenggelamkan

tak mampu kubaringkan mati kecilku

ajari mati, ya tuhan sayang, ajari aku mati

nasib sejarah menggumpal di jantungku

jantung mengerjat-ngerjat

tapi tak pingsan

 

telah beribu kali

jantung meledak tak mati-mati

tuhan sayang, ya tuhan sayang

rinduku amat tua

dan sakit

 

1986

MEMBELAH DIRI

sayang, kenapa harus membelah diri

kalau sampai begini sakit

untuk menyatu kembali

 

merekah engkau jadi kita

jadi tuan dan hamba

panjang jarak tak terkira

 

sayang, o sayang

jangan bilang sekedar satu dua hari

jangan katakan hanya sebatas matahari

 

sebab bergulat harus sedemikian nyeri

jatuh bangun mencari

tertunda-tunda ketemu diri sendiri

 

1986

MENERTAWAKAN DIRI SENDIRI

Bermakna lebih dari segala ilmu

Ialah menertawakan diri sendiri

Sesudah kegagahan dipacu

Tahu langkah tak sedalam tangis bayi

 

Kelahiran dan maut memain-mainkan

Kita jadi perlu sekeras ini bersitegang

Padahal gua Ibunda tak di masa silam

Dan kematian tak nunggu di usia petang

 

Nyembah puisi, buku dikeloni, sejarah dibongkar

Kemudian sumpeg dan ngerti kita terbongkar sendiri

Maka laron tahu usia tak sampai semalam

Maka kita pilih saat wajah sendiri dilecehkan

 

Membantu malaikat ngerjakan tugas dari Ki Dalang

Melakonkan cilukba wayang pergantian siang malam

Heran kenapa Chairil minta cuma seribu tahun lagi

Padahal jelas jatah kita abadi

 

1985

TIDUR HANYA BISA PADAMU

Tidur hanya bisa padaMu

Ketika larut badan tak mengada

Sudah khatam segala tangis rindu

Tinggal jiwa kusut dan sebuah lagu

 

Jiwa terajah luka

Bersujud sepanjang masa

Di peradaban yang sakit jiwa

Hanya bisa kupeluk guling rahasia

 

Tidar hanya bisa padaMu

Ya kekasih, tidur hanya bisa padaMu

Kalau tak kau eluskan tangan

Bangunku tetap jua ke dunia

 

Sejak semula telah kuikrarkan

Cuma engkau sajalah yang kudambakan

Dengan sangat kumohonkan tidur abadi

Agar kumasuki bangun yang sejati

 

1986

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *