Prof. Dr. Kuntowijoyo – Pemikir Komplit dengan Beragam Julukan

posted in: Biografi, Budayawan, Sastrawan | 0

Kuntowijoyo Prof. Dr. Kuntowijoyo - Pemikir Komplit dengan Beragam Julukan

Prof. Dr. Kuntowijoyo

Beliau adalah seorang pemikir komplit dengan ragam identitas dan julukan. Seorang Guru Besar, Sejarawan, Budayawan, Sastrawan, Penulis-Kolumnis, Aktivis serta Intelektual Muslim.

Kuntowijoyo dikenal sebagai intelektual muslim yang rendah hati, Jujur dan berintegritas tinggi. Dalam keadaannya yang sakit, beliau tetap sabar dalam melayani bimbingan mahasiswa juga sempat menulis beberapa buku yang baru terbit setelah kepergiannya menghadap Illahi.

Prof. Dr. Kuntowijoyo lahir sebagai anak kedua dari delapan bersaudara dari pasangan Martoyo yang seorang pendalang dengan Ibu Warastri. Tepatnya di Desa Ngawonggo, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten pada tanggal 18 Sepetember 1943.

Beliau memulai pendidikan sekolah dasarnya di Sekolah Rakyat Negeri Klaten hingga lulus pada tahun 1956. Setamat dari SD Klaten, ia melanjutkan ke SMP Negeri Klaten, lulus pada tahun 1959. Kemudian melanjutkan studi ke SMA Negeri Solo, lulus pada tahun 1962. Selanjutnya belajar di Fakultas Sastra UGM Yogyakarta, lulus pada tahun 1969.

Setelah lulus dari UGM, Kuntowijoyo melanjutkan kuliah di University of Connecticut dan meraih master (M.A., American Studies, 1974). Gelar doktor (Ph.D., Ilmu Sejarah, 1990) diperoleh di Universitas Columbia, dengan disertasi yang berjudul Social Change in an Agrarian Society: Madura 1850-1940.

Dalam perjalanan hidupnya, beliau menikahi perempuan bernama Susiloningsih yang dikenalnya sejak 1967. Kala itu secara kebetulan bersua di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta, tempat Kunto sedang dirawat karena penyakit batu ginjal. Istrinya tersebut juga menjadi dosen Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Jogja.

Sang istri telah menyelesaikan studi di Psychology Department, Hunter College of The City University of New York pada tahun 1980. Dari pernikahannya tersebut keduanya dikaruniai dua orang anak yakni Punang Amari Puja dan Alun Paradipta. Dalam masa hidupnya, Kuntowijoyo mengalami serangan virus meningo enchepalitis (infeksi yang menyerang bagian otak). Dan Kuntowijoyo meninggal pada hari Selasa, 22 Februari 2005.

Kuntowijoyo merupakan pengajar di jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (sebelumnya Fakultas Sastra) Universitas Gadjah Mada. Sebagai seorang intelektual dan akademisi, beliau telah menghasilkan telaah-telaah kritis terhadap beragam masalah sosial, Budaya dan Sejarah. Semua itu dapat terlihat pada buku-bukunya antara lain;

  • Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (1985)
  • Budaya dan Masyarakat (1987)
  • Paradigma Islam : Interpretasi untuk Aksi (1991)
  • Demokrasi dan Budaya Birokrasi(1994)
  • Identitas Politik Umat Islam(1997)
  • Pengantar Ilmu Sejarah (2001)
  • Muslim Tanpa Masjid (2001)
  • Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas(2002)
  • Radikalisasi Petani : Esai-Esai Sejarah Kuntowijoyo(2000)
  • Raja, Priyayi, dan Kawula : Surakarta 1900-1915 (2004)
  • Penjelasan Sejarah (2008).

Kuntowijoyo merupakan tokoh yang begitu gemilang dengan banyaknya identitas yang disandangnya, karena memang tidak banyak Sastrawan Indonesia yang bisa seperti itu. Kualitas dan produktivitas beliau dalam menulis karya sastra sebanding dengan kekuatannya menulis karya ilmiah dalam bidang sejarah atau pemikiran sosial berbasis Islam.

Baik dalam sastra (khususnya prosa) maupun dalam dunia intelektual atau akademisi, Kuntowijoyo menduduki posisi penting dan terhormat. Dua aktivitas itu dijalaninya dengan khusyuk, dengan perhatian dan penekanan yang seimbang. Selain tersebar dalam berbagai antologi, karya sastra beliau terkumpul dalam beberapa buku, antara lain :

  • Suluk Awang Uwung (kumpulan sajak, 1975)
  • Makrifat Daun, Daun Makrifat (kumpulan sajak, 1995)
  • Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (kumpulan cerpen, 1992)
  • Hampir Sebuah Subversi (kumpulan cerpen, 1999)
  • Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari (novel, 1996)
  • Pasar (novel, mendapat hadiah Hari Buku 1972)
  • Khotbah di Atas Bukit (novel, 1976)
  • Mantra Pejinak Ular (2000)
  • Wasripin dan Satinah (2003)
  • Rumput-Rumput Danau Bento (drama, 1968)
  • Tidak Ada Waktu Bagi Nyonya Fatma, Barda, dan Cartas (drama, 1972)
  • Topeng Kayu (1973).

Sebagai sastrawan beliau banyak menerima penghargaan, diantaranya :

  • Hadiah Seni dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (1986)
  • Penghargaan Penulisan Sastra Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa untuk Buku Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (1994)
  • Penghargaan Kebudayaan dari ICMI (1995)
  • Cerpen Terbaik Kompas (1995,1996, 1997, dan 2005)
  • ASEAN Award on Culture (1997)
  • Satyalencana Kebudayaan RI (1997)
  • Mizan Award (1998)
  • Penghargaan Kalyanakretya Utama untuk Teknologi Sastra dari Menristek (1999)
  • Sea Write Award dari Pemerintah Thailand (1999).
Alam Sedang Berdandan

Tangan yang tak nampak
Menjentikkan kasih ke pohonan
Semi di cabang-cabang
Adapun di rumputan
Seribu warna jambon
Memberikan madunya
Pada lebah dan kupu-kupu

Wahai yang menghias diri di air sungai
Simpanlah senja di bawah batu-batu
Angsa putih ingin mencelupkan bulu
Menuai ikan-ikanmu

Perawan mencuci mukanya
Masih tertinggal wangi kulitnya di permukaan
Ketika burung mandi dan menyanyi

Terdengar bagai engkau bangkit kembali
Tangan yang tak nampak
Mendandani.

Malam

Bayang-bayang bumi
Memalingkan tubuh
Memejam lelah
Meletakkan beban ke tanah

Maka malam pun turun
Memaksa kucing putih
Mengeong di pojok rumah
Memanggil pungguk
Yang sanggup mengundang bulan

Karena hari sedang istirahat
Di ladang angin mengendap
Tidur bersama ibu bumi
Dari kasih mereka
Ilalang berisik
Ditingkah suara jangkrik
Di sungai, air
Pelan-pelan
Melanda pasir

Justru pada tengah malam
Rahasia diungkapkan.

Lelaki

Ketika kentong dipukul
bintang-bintang berebut
menenun pagi
jadi samudra

Di laut
naga memukul ombak
perahu tergoyang
bagai mainan
Dua ribu tangan menjinakkan air
menahan gelombang
Halilintar di kepala
bagai isyarat
memaksa laut
menyerahkan diri
untuk dijamah
Pelaut sudah turun
jaring-jaring perkasa
menangkap duyung
yang menggoda cinta
Para lelaki
berdiri di pinggir kapal
mengagumi wajahnya
menarik napas
Lelaki:
yang hanya bercinta di malam hari

Suasana I

Yang serba kaca
sudah ditanam di kamar
cangkir dengan kopi di dalam
mengawasi pagi
membiarkan uap menyedap kamar

Bapa sedang memandikan bocah
terdengar air berkecibak
Ibu menyiapkan rahmat pagi
memerintah burung di luar
untuk menyanyi
dan angin pagi
melompat jendela
mendandani pipinya

Ingatlah, Ibu menyediakan
kopi dan pipi – untuk dicium
ketika bapa pergi
lunak kulitnya terasa
bagai tangan halus
menghapus sisa duka

Pagi semerbak oleh
wangi tubuhnya
mengantar bapa pergi bekerja.

Menara

angin selatan
mendaki pucuk menara
meliukkan puncaknya
dua meter dari tanah

orang berkerumun
dengan mata silau
mengagumi kubah
alangkah indahnya
sungguhkah ini terjadi

dua puluh jari meraba
dua puluh ribu jari meraba
sebenarnya,sebenarnya

beginilah
kalau sudah tiba waktunya
menara pun
merendahkan diri
mencium tanganmu.

Hari ke- N

Hari ke n dari Adam dilahirkan
mega putih menyingkir ke tepi
langit terbuka
sederet burung undan
terbang di garis cakrawala

Tidak habisnya engkau memuji
hari itu di hutan
serigala mencumbu kijang
yang berubah jadi kencana
engkau duduk di tepi telaga
mengaca
bahkan engkau heran, mengapa
bibirmu tersenyum.

Pina

Di atas pohon pina
surya
mempersembahkan sinarnya
pada semesta

Seseorang tertidur
sangat lelap
di bawahnya
tidak tahu
bahwa Waktu sudah berjalan
sampai di tikungan
dan berhenti:
Sebagai ada yang tertinggal

Seseorang yang dikasih
sedang menikmati istirahat
sangat sayang membangunkan.

Pada Hari yang Lain

Pada hari yang lain
di angkasa
seribu gagak raksasa
menyerbu matahari
menggugurkan batu-batu
terbang menutup ruang

Malaikat langit ketujuh
turun menghalau perusuh
menghunus pedang guntur
berkilat-kilat
darah mengucur hujan
langit amis kemerahan

Engkau di sini
di kebun semangka pinggir desa
bersama lima bidadari
mengajarmu menyanyi
dan merangkai puisi.

Pabrik

Di sini dilahirkan raksasa
bertulang besi bersaraf baja
tidak perlu nyanyi
dan ninabobo bidadari
Berjalan sedetik sesudah turun dari kandungan
melambaikan tangan
Aduh, jari-jarinya gemerlap bagai halilintar
Laki-laki dan perempuan
datang menghormat
ia pun mengulurkan tangan
untuk dicium.

Sesungguhnya ia dilahirkan dari rahim bumi
oleh tangan lelaki
Sesungguhnya ia dicipta dari tanah
untuk membantu ayah
menggembala kambing dan menyabit rumputan.
Sayang, mereka sangat memanjakannya
hingga raksasa itu jadi anak nakal
mengganggu ketenteraman tidur.

Awaslah, jangan lagi engkau melahirkan
anak-anak yang bakal jadi pembunuhmu.

Musim Panen

Setelah semusim
tangan-tangan sibuk
memotong pohonan
di kampung halaman
pak tani
mengundang anak-anaknya
memanen kolam
sudah waktu ikan dinaikkan

Segunduk matahari
menyingkirkan sepi
dari danau
mendorong sampan
berlayar dua-dua

Di bukit
batu sudah dipecah
sekejap saja, bagai hanya main-main
rumah-rumah berdiri
melindungi perempuan
melahirkan bayi

Hari itu derita dihapuskan
Keluarlah lelaki-perempuan
memainkan udara dengan selendang
menyulap siang dalam impian
warna-warni dan wewangi

Anak lelaki-perempuan
menabuh genderang
menyebar kenanga
memaksa matahari
berhenti di balik daunan

Malaikat dan bidadari
menonton tarian
senyum mereka
menyentuh pohonan

Semesta berpesta
di tengah hari
pada musim panen abadi.

In Memoriam : Yang Terbunuh

Sekali, hutan tidak menumbuhkan pohon
Burung melayap-layap, terbakar bulu-bulunya
Bumi mengaduh, menggapai bebannya
Pemburu tidak pulang sesudah petang tiba
Lampu malam dipetik dari gunung api.

Malaikat di angkasa menyilang tangan di dada
Menyesali dendam yang tumpah
Memalingkan muka tiap kali darah menetes di tanah.

“Mengapa kaubunuh saudara kandungmu?”

Musium Perjuangan

Susunan batu yang bulat bentuknya
berdiri kukuh menjaga senapan tua
peluru menggeletak di atas meja
menanti putusan pengunjungnya.

Aku tahu sudah, di dalamnya
tersimpan darah dan air mata kekasih
Aku tahu sudah, di bawahnya
terkubur kenangan dan impian
Aku tahu sudah, suatu kali
ibu-ibu direnggut cintanya
dan tak pernah kembali

Bukalah tutupnya
senapan akan kembali berbunyi
meneriakkan semboyan
Merdeka atau Mati.

Ingatlah, sesudah sebuah perang
selalu pertempuran yang baru
melawan dirimu.

Sesudah Perjalanan

Sesampai di ujung
engkau menengadah ke langit
kekosongan yang lembayung

Ayolah, Ruh
tiba saatnya
engkau menyerahkan diri

Sunyi mengantarmu ke kemah
di balik awang-uwung
di mana engkau istirahat
sesudah perjalanan yang jauh

Kabut

Ada kabut di atas bukit
Pergi kesana
daerah samar tak bertepi
di lindung hutan kenangan
bayang-bayang purba
(Kaujamah puncaknya
tiba-tiba terlepas rindumu)
Bidadari kuning rupanya
menguntai permata
melempar mawar
membagi rahasia

Ada kabut di atas bukit
Bersumpahlah
Demi impian terpendam
mendaki punggungnya
berdiri di tengah-tengah
dan berseru:
Kutemukan daerah baru.
(Sebenarnya daerah yang dulu
tetapi engkau melupakannya
ingatanmu terkubur waktu)

Ada kabut di atas bukit
Remang-remang saja
selangkah maju
Surya menyala di ubunmu.

Batu Pualam

Di batu pualam
jejak para nabi
aku berjalan berjingkatan
menyongsong nyanyian

Cahya redup bianglala
menghampiri pucuk menara
wahai
angin utara menghembus
burung ke angkasa

Pelan bagai belaian
malaikat
bersujud
pada Adam

Tuhan mengangkatmu
sedepa di atas ujung karang
guntur terdengar
bagai nyanyian

Di batu pualam
jejak para nabi
aku bangkit
menuju
pada
Mu.

Vagina

Lewat
celah ini
engkau mengintip
kehidupan.
Samar-samar
dari balik sepi
bisik malam
menembangkan bumi.
Engkau tidak paham
mengapa laut tidak bertepi
padahal engkau berlayar setiap hari.
Tutup kelopak matamu
bulan mengambang
di balik semak-semak.
Menantimu.
Misteri itu
gugur
satu-satu
setiba engkau di sana
merebahkan diri.

Angin Laut

Perahu yang membawamu
telah kembali
entah ke mana
angin laut mendorongnya ke ujung dunia
Engkau tidak mengerti juga
Duduklah
Ombak yang selalu
pulang dan pergi.
Seperti engkau
mereka berdiri di pantai
menantikan
barangkali
seseorang akan datang dan menebak teka-teki itu.

Kupu-kupu

Keahlian kupu-kupu
Menggugurkan kuning sayapnya
Menenun jaring-jaring halus
Tinggal di dalamnya
Mendengarkan pohon bersemi.
Yang berubah warna
Hanya sayap kupu-kupu. Kemanakah warna-warna?
Karena kuning adalah bulan, ia tinggal di sana
Menanti hari terang. Kadang-kadang hinggap
Di wajah perempuan. Lalu para tetangga
Berbisik: gadis kecil sudah perawan
Ya Tuhan.
Karena kupu-kupu tinggal di sarang
Bunga-bunga berkembang!

Danau

Rangkaian bunga dari lampu neon
Di sekitar meja berenda impian pagi
Memantulkan bening
Sepatu yang mengetuk lantai
Musik memainkan buah apel
Yang belum habis dibagi
Senja menyongsong terompet
Bagai bibir lembut membisik
Mengabaikan lilin sudah dipasang.
Di jendela yang lain
Seseorang sedang mengharap napasnya berhenti
Pada detik yang sama. Mencekik leher sendiri
Tangan hari yang ajaib
Menampung banyak warna

Penyucian

Sebelum dihinakan

kalungkan daun bodi

dalam benang emas di pagi hari

tuliskan huruf-huruf Abadi

menandakan engkau lahir kembali

Di tengah yang serba empat

tersembunyi pusat

di mana hidup mengendap

ambil air dari dasarnya

satu teguk untuk ragamu

satu teguk untuk ruhmu.

Sempurnalah wujudmu

Pergi ke utara

mereka siapkan puji-pujian

untukmu.

Ada pun Kalimat

ialah hakikatmu yang pertama.

Ada pun Laku

ialah hakikatmu yang kedua.

Bencana

Toko-toko di kota

sudah ditutup. Anjing menjajakan gonggongnya

pada yang bergegas lewat. Tak seorang tahu

sekarang jam berapa. Hari sudah jadi kemarin.

Nyanyian sudah berhenti di night-club.

Polisi kembali ke pos, menyerahkan pestol

dan tanda pangkat pada bajingan. Yang serba

hitam mengambil alih pasar-pasar. Menawan

wali kota. Mendudukkan kucing di pos-pos

penjagaan. Mereka tahu, semua sudah jadi tikus.

Sia-sia! Rumah-rumah tertutup rapat.

Tidak peduli hari menggelap, lampu jalan

memecah bola-bolanya karena sedikit gerimis,

terdengar retaknya. Kertas-kertas koran,

coklat dan lusuh menggulung kotoran kuda.

Besi-besi berkarat memainkan sebabak silat

di jalanan, lalu diam mengancam. Terdengar

gemuruh tapak kuda di setiap muka rumah,

merebut darah dari jantung. Detak darah tidak

karena urutan, tapi diperintah ringkikan kuda.

Nyanyian sudah berhenti, dihapus dari ingatan.

Diam

Diam itu udara

mengendap di pohon

menidurkan derkuku

menjentik ranting patah

menyulam rumah laba-laba

Yang petapa menutup mata

Ketika angin membisik duka

mengusap halus ruang

dengan isyarat jantungnya

Serangga berjalan biasa

seolah ia tak di sana

Yang petapa menutup mata

ketika udara menggoda dendam

hanya napas yang lembut

menghembus cinta

Daun pun mengerti

menghapus debu di dahinya

Yang diam.

Yang petapa.

Yang sahabat.

Yang cinta.

Perjalanan ke Langit

Bagi yang merindukan
Tuhan menyediakan
Kereta cahaya ke langit
Kata sudah membujuk
Bumi untuk menanti

Sudah disiapkan
Awan putih di bukit
Berikan tanda
Angin membawamu pergi
Dari pusat samudera

Tidak cepat atau lambat
Karena menit dan jam
Menggeletak di meja
Tangan gaib mengubah jarum-jarumnya
Berputar kembali ke-0

Waktu bagi salju
Membeku di rumputan
Selagi kaulakukan perjalanan.

Kelahiran

Setelah benih disemaikan
Di pagi pupus menggeliat
Bayi meninggalkan rahim
Memaklumkan kehadiran

Cempaka di jambangan
Menyambut bidadari
Turun memandikan
Bahkan hari menanti
Sampai selesai ia mengeluskan jari
Merestu kelahiran
Membungkus dengan sari
Mendendangkan kehidupan

Para perempuan
Berdandan serba kuning
Pucuk mawar di tangan
Duduk bersila
Menggumam doa-doa

Hari yang semalam dikuburkan
sudah tiba kembali

Selalu kelahiran baru.

Yang Terasing

Ada dinding-dinding di gedung
membagi ruang jadi dua:
engkau dan semesta
Kamar-kamar raksasa
menyimpan hidup
dalam kotak-kotak
Engkau terkapar di sana
terpaku di kursi
tangan ke lantai
dilingkar tembok baja
yang membungkus napasmu

Sedang di luar
hari berjalan sebagai biasa
lewat lorong luas
yang indah hiasannya
mengirim berkas matahari ke kamarmu
memancing duka.

Suasana II

Seekor mainan kijang
duduk di atas kursi
hari itu
sudah dijanjikan
sebuah tamasa

Sedang bocah lelaki
diajar ibunya
mengucap selamat datang
ketika Bapa pulang

Diam-diam
mawar kembang di halaman
rumput
mencat mukanya
hijau dan cantik

Sebentar, waktu
Bapa kembali
pintu terbuka
vas di meja
mekar merah warna
selapis taplak sulam sutera
melambai tepinya:
Senyum di mana-mana.

Sang Utusan

Dikabarkan
pada tanggal satu bulan Muharam
akan tiba Sang Utusan
dalam perjalanan kembali
menjenguk warganya

Mereka keluar dari rumah-rumah
berdiri di taman
menantikan
Bunga-bunga mawar di tangan
nyanyi kudus
dan detak-detak
harapan

Tidak.
la tidak mengikuti angin utara
ia lewat menurut ilhamnya.
Pulang, ia akan mengetuk pintumu.

Mereka saling memandang
barangkali itu benar
lalu kembali ke rumah
menaburkan mawar di ambang
menyimpan nyanyian

Malam tidak tidur
untuk di pagi hari
mereka temukan
jejak Sang Utusan
di halaman.

Pemandangan Senja

Dua ekor ikan
Menutup mata
Mereka lihat tanda
Air berhenti mengalir
Maka gugurlah kepercayaan
Perempuan menangis di jendela
Menghentikan pejalan
Lelaki tidak juga datang
Merpati di pucuk atap
Kesal menunggu senja
Menahan dingin
Mengharapkan bintang turun menyapa
Jauh di langit
Kelompok pipit mencari pohonan
Adakah masih tersedia daunan?
Mereka hanya berputar-putar.

Terasa juga malam ini
Lelaki tidak akan pulang
Barangkali sore harus dibatalkan
Tidak ada lagi:
Merpati harus tidur di awan
Pohonan sudah ditebang
Tidakkah kaudengar tidak ada lagi peradaban?

Pepohonan

Sebagai layaknya pepohonan
menampung kenangan
dunia yang tergantung di awan
sudah sampai di simpang

Ada kubu terbungkus daunan
mengeluh pelan
memanjakan impian
Ayolah kubur dukamu di rumputan
senja sudah mendekat
malam berjalan merayap
engkau tentu mengharap bulan

Dalam pepohonan
yang berbuah rindu
aku mendengar
sesuatu yang tak kutahu
Namun aku suka padamu.

Engkau Sukma

Sukmamu bangkit
Bagai bianglala
Berdiri
Di cakrawala
Merenda siang dalam impian
Gemerlap warna-warni benang sutra.

Badai tidak datang
Angin pulang ke pangkalan
Istirahat panjang.

Langit menyerah padamu
Menggagalkan lingkaran
Surya kabur kembali ke timur.

Sepi.
Hanya napasmu yang tenang
Terdengar bagai nyanyian.

Mobil

Mobil-mobil sudah berangkat
pergi ke tengah kota
meninggalkan gas dan debu
terdengar mereka tertawa
karavan yang sempurna
Di pusat kota
di muara yang deras airnya
mereka labuh waktu

Aku menutup mata
tidak karena debu-debu
aku ingin melihat rumahku
dalam sunyi di tengah rimba kunang-kunang
Alangkah jelasnya, Tuhan, alangkah jelasnya.

Pejalan

Pejalan sudah kembali
mukanya pucat pasi
terbungkuk
di bawah kain lusuh
tak ada lagi cahya matanya
bergegas pulang
ke rumah yang tak jelas di mana
berhasrat keras melepas beban
yang lama mendera punggungnya

(rumahmu tidak di sini
tetapi jauh di dasar mimpi)

ia tercengang
tidak ada jalan balik lagi
musnah dihamburkan angin
hanya debu-debu

ia merintih pelan
takut membangunkan derita
menahan lelah yang sangat
sempoyongan, dan
terbatuk-batuk
ah, alangkah penat
(ternyata ia hanya harus berjalan
atas putusan sendiri
di pagi hari)

Kota

Kotaku yang jauh
padam lampu-lampunya
angin menerpa
lorong-lorong jelaga

Kotaku yang jauh
menyerah pada malam
seperti di siang hari
ia menyerah pada kekosongan

Tuhan
nyalakanlah neon-neon itu.

Suara

Ada suara menderu dan warna ungu. Terserap
jasadku. Kukira akan padan juga. Tetapi tidak.
Adakah engkau juga menangkap makna itu? Di luar,
sebagai sediakala. Langit bersatu dengan birunya
menyelimuti bumi yang diam. Pelan udara merayap,
menggosok-gosok di pohonan. Engkau pasti tak
mendengar suara itu. Ada gemuruh di tubuhmu.
Barangkali ruhmu sedang mempersoalkan gelombang
yang tak mau berhenti itu. Gelombang-gelombang
suara. Gelombang-gelombang warna. Bercahaya-
cahaya! Membuatku lupa bahwa hari sudah malam,
sudah waktunya pergi tidur. Tidak, ia bergerak-
gerak. Menuntunku ke mimpi yang lena sebelum
bahkan mata berhasrat memejam. Hai! la mengucapkan
sesuatu yang sempurna. KATA. Aku tak paham
apa. Terasa bagai buaian. Mengayun-
ayun. Sebagai di benua asing aku keheranan.
Tenggelam di garis batas, yang sayup-sayup.
Jauh, jauh. Ada jalan dari berkas cahaya, sangat
licinnya. Bagai meniti benang sutra, aku berjalan
di atasnya. Berjalan, tidak ada ujungnya.
Kekosongan dari tepi ke tepi. Aku kehilangan
jejak sudah. Namun, aku berjalan juga. Alangkah
nikmat jadinya! Suara itu masih menderu. Warna
masih ungu. Tiba-tiba aku kenal benar.
Tiba-tiba saja aku tahu. Sudah lama aku merindukannya.

Waktu

Engkau dibunuh waktu
Sekali lupa mengucap selamat pagi
tiba-tiba engkau sudah bukan engkau lagi
Waktu membantai bajingan dan para nabi
kerajaan-kerajaan kitab suci
peradaban di buku sejarah
Semua harus menyerah.

Engkau sibuk memuji namanya
selagi ia berusaha menghinakanmu
memendammu di bawah batu-batu
(Engkau tak bisa berteriak
ia juga melahirkan koor yang berisik dan keras)

Seperti singa lapar
ia duduk di meja
sudah mencakarmu
selagi engkau bersantap

Ssst, pikirkanlah
bagaimana engkau bisa membunuhnya
sebelum sempat ia menerkammu.

Sepi

Jangan ditinggalkan sepi
karena ia adik kandungmu
ketika di rahim ibu

Jangan dibunuh sepi
karena ia kawan jalanmu
ketika di selubung mimpi

Di subuh pagi itu
ia menunggu
mengalungkan bunga ke lehermu
mengucap doa-doa
menyanyikan mantra.

Aduh
engkau sungguh berbahagia
karena hari ini
ia meluangkan waktu bersamamu
sendiri.

Bangun, Bangun!!

Barangkali Engkau ingin berkata
kali ini pada gugus awan:
Bangun.
Hujan akan datang juga
hutan pina itu menggeliat
menengadah pada-Mu.

barangkali sudah selesai kitab-Mu dibacakan
pendengar berkemas pulang
gelap menyapu ujung padang
mereka kembali ke rumah
menutup pintu-pintu. Tiba-tiba
Engkau campakkan isyarat:
Bangun

Apakah maksud-Mu
(Pohon randu menggugurkan daun
berlayangan di udara
kudengar risiknya)
Apalagi.
Engkau masih memanggilku juga
serasa begitu. Serasa begitu
Engkau selalu menggodaku.

Aku cinta kepada-Mu.

Laut

Siapa menghuni pulau ini kalau bukan pemberani?
Rimba menyembunyikan harimau dan ular berbisa.
Malam membunuhmu bila sekejap kau pejam mata.
Tidak. Di pagi hari kautemukan bahwa engkau
di sini. Segar bugar. Kita punya tangan
dari batu sungai. Karang laut menyulapmu jadi
pemenang. Dan engkau berjalan ke sana.
Menerjang ombak yang memukul dadamu.
Engkau bunuh naga raksasa. Jangan takut.
Sang kerdil yang berdiri di atas buih itu
adalah Dewa Ruci. Engkau menatapnya: menatap dirimu.
Matanya adalah matamu. Tubuhnya adalah tubuhmu.
Sukmanya adalah sukmamu. Laut adalah ruh kita
yang baru! Tenggelamkan rahasia ke rahimnya:
Bagai kristal kaca, nyaring bunyinya.
Sebentar kemudian, sebuah debur
gelombang yang jauh menghiburmu.
Saksikanlah.
Tidak ada batasnya bukan?

Danau

Kutemukan danau baru
pada musim kering
jerih dan mengaca
menjamu burung
masih terdengar
tetes air
yang jatuh kembali.

Impian lama pun
berdesakan
aduh
tidak kuasa aku menahannya
sudikah Engkah menolongku.

Isyarat

Angin gemuruh di hutan
Memukul ranting
Yang lama juga.
Tak terhitung jumlahnya
Mobil di jalan
Dari ujung ke ujung.
Aku ingin menekan tombol
Hingga lampu merah itu Abadi.
Angin, mobil dan para pejalan
Pikirkanlah, ke mana engkau pergi.

Gelas

Itulah yang kukerjakan. Mengumpulkan gelas
Kembali. Sambil mengenangkan bahwa bibir
Lembut telah menyentuh tepinya. Kuhapus dengan
Pelan-pelan sebagai meraba yang halus,
Takut ia terkejut. Ah, jari-jariku terlalu
Kasar rasanya. Pelan-pelan kudekatkan ke
Bibirku. Aneh! Gelas itu selalu menghilang.
Kacanya melunak dan mengabur bersama bayang-
Bayang. Ia selalu menolakku.
Kapankah kauperkenankan aku duduk di meja.
Meninggalkan gelas, lalu gadis penjaga mencium
Bekas gelasku? Aku malu dengan pikiran ini
Sesungguhnya, tetapi biarlah. Sebenarnya,
Hatiku tak sejelek ini. Engkau tahu, pasti

Desa

Yang berjalan di lorong

hanya suara-suara

barangkali kaki orang

atau malaikat atau bidadari atau hantu

mereka sama-sama menghuni desa di malam hari

Kadang-kadang kentong berjalan

dipukul tangan hitam

dari pojok ke pojok

menyalakan kunang-kunang

di sela bayang-bayang

Kalau ingin melihat hidup

pandanglah bintang-bintang

yang turun rendah

menyentuh ujung kelapa

atau berhenti di bawah rumpun bambu

mendengarkan tanah menyanyi

Tunggulah, engkau tak akan percaya

Siapakah mengerang dari balik dinding bambu

Barangkali ibu yang kehabisan air susu

Ya Tuhan!

Petuah

Langkah tidak untuk dihitung

ia musnah disapu hujan

Ketika engkau sampai pangkalan

ingatlah, itu bukan tujuan

Cakrawala selalu menjauh

tak pernah meninggalkan pesan

di mana ia tinggal

Hanya matamu yang tajam

menangkap berkas-berkasnya

di pasir, sebelum engkau melangkah

Tanpa tanda-tanda

engkau sesat di jalan

kabut menutupmu

menggoda untuk diam

Karena kabut lebih pekat dari udara

engkau bisa terlupa.

Kenangan

Yang tergantung di udara:

jari menunjuk ke bulan

mengingatkan kenangan

Kapas-kapas ladang

dipanen angin malam

melayang-layang putih

bersaing dengan bintang

pergi ke utara

menyongsong rumpun bambu kuning

yang berubah jadi seruling

Dengan sukarela, waktu

mengikut bujukan anjing

menyalak ringan dari temaram.

Lima pasang sejoli

berjalan-jalan di taman

membiarkan rambut terayun

mandi cahaya.

Bulan adalah guna-guna

penyubur cinta.

Puisi Kuntowijoyo dalam Makrifat Daun, Daun Makrifat

Bait Al-Barzanji

Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Nabi yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Sesudah membuka pintu-pintu
aku keluar menuju ladang
dan di antara pohon kutemukan
senyum, danau dan ayat Tuhan

Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Muhammad yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Seperti butir salju
ruhku menggigit rumput
menghisap putik makrifat
dan setangkai mawar

Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Matahari yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Aku ingin
meletakkan sekuntum sajak
di makam Nabi
supaya sejarah menjadi jinak
dan mengirim sepasang merpati

Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Purnama yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Aku jatuh cinta
karena matematik
mengajar manusia
lebih mulia dari malaikat
demikian kutulis musik & puisi
dan menanti mutmainah di sudut rumah
sambil menatap kuncup rahmat mekar di halaman

Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Cahaya yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Dengan ikhlas
kutanam pohon untuk burung
yang sanggup
memuji Tuhan dengan sempurna

Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Rasul yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Batuputih, Madura
Di mata air
mukaku bergoyang di antara pohon dan awan
dan aku terbenam
di pasir subhanallah

Ya, Allah. Taburkanlah wangian
di kubur Tercinta yang mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera

Aku ingin
jadi pencuri
yang lupa menutup jendela
ketika menyelinap
ke rumah Tuhan
dan tertangkap

Storrs—New York, 1973-1974

Tuhan menjaga diriku
dari kejahatan bayang-bayang
gedung pencakar, batu granit
lorong bawah tanah
dan gerbong usang
Dan Tuhan menjaga diriku
dari kejahatan angan-angan
Dari gadis dengan seekor anjing
dan rimah roti di tangan
Ketika musim semi
dan rumput menawarkan bunga
dan kebebasan burung-dara

Semoga abadi dinihari
yang menurunkan bulan
dan menumbuhkan seribu rindu

Subhanallah
Alhamdulillah
Allahuakbar

Menjadi Saksi Pemogokan

Kusucikan waktu dengan kata
sehingga para pekerja
kembali ke pabrik

Aku tak pernah sangsi
kemerdekaan, tangan gaib semesta
mengalir lewat benang elektronik
dan kesadaran yang mulia

Aku Cemas Bumi Semakin Menyusut

Aku cemas hujan tidak akan datang
tetapi angin mengingatkan
Sedangkan petani menabur benih di tangan
Demikian kuperoleh kembali kepercayaan
dan menunggu matahari dengan senyum
Aku percaya kepada malam
aku percaya kepada siang

Bahkan kapal mencair di batas min
karena pantai semakin jauh
Tetapi tidak Engkau
Subhanallah biru
Subhanallah ungu
Subhanallah rindu

O, matahari pemantau camar
jangan biarkan
dukaku tersapu sebelum hari petang
dan mendapat kepastian
Kemenangan, seperti laut, menunggu pasang

Bidadari yang cerdik
mengirim buahan
untuk mata yang selalu menatap langit
dan hari esok semata pelangi
Maka senyumlah
karena duka terakhir bergegas mengundurkan
Dan engkau, bagai sutera, diterbangkan angin

Demikianlah gelas yang pecah
tak kembali ke laut
Dan sayap yang patah
hanya menulis huruf-huruf mati
Tanpa makna
Kecuali jika engkau percaya mukjizat
Dan, kun fayakun

Dari hukum gaya berat
kita mengerti
kemiskinan selalu bercumbu dengan maut
Sampai keabadian
berubah secara sempurna dan memuliakan semesta
Jangan serahkan bukit-bukit
jika mereka hanya menbagi nestapa
Karena engkau pun

Aku mendukung
maksud pohon zaitun
menggugurkan ranting di istana
Supaya segala yang suci menjadi sejarah
dan membuka halaman baru
Bagi yang haus dan lapar

Duka itu doa
Doa itu iman
Iman itu kebenaran
Kebenaran itu sayap awan
yang mengabarkan kebun bunga
selagi engkau menunggu hari yang membeku
seolah tidak ada tangan gaib
Yang jari-jemarinya selalu merangkaimu
Dan tak pernah melepaskan tanggung-jawab
Percayalah

Di sini
kata akhir daun yang gugur
tidak lagi mendapat pengesahan
dan pergi bagai bayang samar
Kecuali engkau
karena ruhmu telah disucikan dengan nafas-Nya

Tidak akan
tidak akan

Bertentangan
dengan kebijaksanaan para wali
Siti Jenar memotong api menjadi tujuh
sehingga dapat berenang sepuasnya
melepas rindu yang disimpan
Kemudian ia kehilangan atas bawah
yang disangka kebenaran
dan mengundang tetangga ke pesta

Perangkat yang membebaskan engkau
dari kenyataan ialah mimpi
dan kematian
Tetapi tidak kurang dari itu
ialah ruh dan kesadaran
karena mereka sebagian dari kenyataan surgawi
Yang pada saatnya
memberimu kehidupan baru

Aku mengundang makna
untuk melebur darahku jadi putih
sehingga mataku tidak lepas dari keabadian
Selalu aku berharap
supaya burung membagi sayap
Dan menerbangkan ruhku – melayang
siapa tahu
jika batas telah menghilang
aku dapat bertemu
Tidak akan
tidak akan kulepaskan lagi wajahku

Menyambut pagi
adalah kerja mulia bagi pemabuk
yang cinta kepada sepi
Yang memandang dunia
dengan mata malaikat
Dan tak pernah lupa
menafsirkan tanda-tanda
Kadang-kadang sebutir kebijaksanaan
puncak pengetahuan
keluar dari rahimnya
Menghias matahari

Seorang kawan mengatakan
bahwa selain memburu lalat
kucing juga dapat mengangkap tangkap – yang sejati
hakekat segala gerak
Aku sangsi
kebijaksanaan terakhir sudah lepas
ketika orang tidak lagi pandai berdoa
Karena kita tidak punya
waktu bagi kekosongan
manusia bukan milik manusia

Engkau dapat membujuk
awal menjadi akhir
dan akhir menjadi awal
karena engkau pencipta lambang-lambang
Tetapi, engkau kehilangan jejak
Lebih baik serahkan laut kepada airnya
daun kepada hijaunya
bintang kepada cahayanya
Sebab pada mulanya
hanyalah kun fayakun

Yang paling puncak
dari kenyataan adalah keabadian
namun ia lengkap pada dini hari
dan tak menjaga manusia
itu sebabnya
aku menentang pembangunan kapal-kapal
Karena satu-satunya jalan menyeberang
ialah berenang mengikuti air sungai
Dan begitulah engkau sampai ke ujung

Permainan yang tak habis pakai
ialah denyut darah ketika ia menyentuh kalimat
Engaku akan menjadi tua tanpa mengerti hakekat kata
jika tidak mengenal abjad
Satu-satunya cara ialah menekan nadimu
dan dengarkan bagaimana ia memuji Tuhan
Ikutlah
seperti anak-anak bermain di atas pasir

Yang membeku bukan hanya es
Kau tahu semua yang bergerak akan berhenti
Engkau penguasa mata angin
usirlah senja
Sebagai orang merdeka
engkau pun punya hak

Dari segala yang terbang
kupu-kupu ialah yang kuning
dirahmati beludru
Kadang-kadang ia melepas sayap
Karena bunga-bunga
seperti kebijaksanaan
gugur bersama angin
hanya yang bersayap
sanggup menangkap
Dan engkau

Awan tempat burung-burung singgah
menyambutmu sebagai tamu
Sebagai fakir
engkau tak mengidamkan singgasana
Karena itu semesta
laut dari laut
adalah sahabat
Sebab
mereka pun memuji Tuhan
Dan merendah

Pelabuhan akhir
ialah yang awal tempat engkau berangkat
Engkau tidak lupa
cakrawala penghabisan ialah yang pertama
Karena bumi
begitu sumpah galileo galilei
adalah sebuah bayang-bayang
engkau tidak akan lupa

Luluhkan ruhmu pada mutmainah
dan mutmainah pada laku
Karena persenyawaan baru itu
tidak tunduk pada newton
maka semestamu ialah keabadian
Yang takkan kembali
kecuali kepada sepi

Pertentangan ialah Hukum Surgawi

Kepada matahari
kau tak pernah menyatakan tidak
Setiap pagi kau menuai
dan mengelompokkan energi ke dalam makna
Namun selalu saja kau lupa
bahwa rindu juga tenaga
Ingat pepatah
yang sempurna ialah yang rindu
dan rindu yang sempurna ialah yang lupa

Selain sepi kun fayakun
juga menjelma menjadi putih
Segala yang tidak jatuh
sebagaimana langit
menghapus dendam pada yang putih
Dan dari yang putih
engkau yang memukau
Engkau, mozaik, juga berwarna biru
Yang biru ialah yang putih
Tidak akan memudar, aku bersaksi

Kepada optika
engkau mengharap lebih dari sinar
tetapi tidak tanpa matahari
Hak penghuni malam ialah yang lembut
lebih dari sekedar langit
Namun, hanya bintang sanggup bertaburan
Dan ruhmu, insyaallah

Semua yang kemilau adalah yang hijau
Engkau berdoa supaya warna
tetap memikat dan air mewangi
Dan sungia mengalirkan rindu
Maka daun yang lepas
dari dahan menjatuhkan makrifat
Lalu engkau pun

Milik bulan ialah yang lembut
sebab salju selalu berkilau
Dan engkau, sahabat mata air
lebih bulan dari kuning
Karena mutmainah, bagai bayang-bayang
mekar dalam sunyi

Semoga Tuhan memberi karunia rumput
Yang menawarkan semi sejati
Karena musim pelaut menaburkan benih
Yang menyuburkan semesta
Dan sunyi menjanjikan mimpi yang mawar

Atas perintah
cahaya menjadi bunyi
Di atas pohon cakrawala
Di antara para pemabuk
Setelah perahu kembali ke sauh
engkau pun berpihak
Kepada lautan kabut

Di ujung makrifat
bersama malaikat
ketika angin
dan ruh
dan hu
terjatuh

Dan engkau

Bersama rindu pohon
Aku percaya pada yang merah
dan Engkau. Bersama ombak, buih, dan nelayan
aku percaya pada yang jingga
dan Engkau. Bersama burung, rumput, dan petani
aku percaya pada yang kuning
dan Engkau. Bersama angin dan bintang
aku percaya pada yang hijau
dan Engkau. Bersama sauh, perahu, dan pelaut
aku percaya pada yang biru
dan Engkau. Bersama rebana dan kecapi
aku percaya pada yang api
dan Engkau. Bersama kabut dan hutan
aku percaya pada yang ungu
dan Engkau

Aku cinta keajaiban
karena bersama bulan bunga mengenal mawar
Aku cinta keajaiban
karena Hu pun

Khutbah-khutbah burung
mengikat langit dan awan
memberi warna putih
kepada mawar
dan kepada ruhmu

Tuhan dan malaikat mencuci pagi
lalu awan pun membuka ujung langit
dan engkau, wakil yang serba kuning, mengurai kabut

Ya nabi salam’alaik
Ya rasul salam’alaik
Ya habib sama’alaik

Di antara nama-nama indah
aku pilih Al-Hayyu
yang mengalirkan oksigen ke ujung pohon
dan menggoda kerisik cemara

Ya Hayyu

Kusapa angin pagi di Ann Arbor
ditawarkannya kalau-kalau aku suka keliling kota
Hari itu mendung
dan ia berjanji sungguh-sungguh
takkan membiarkan aku kehujanan
Habis, kami berdua adalah ayat Tuhan

Aku percaya keajaiban O2
yang mengalir lewat darah
dan menyebarkan virus makrifat

Ya Allah
Ya Rasulullah
Ya malaikat
Ya bukit-bukit
Ya batu-batu
Ya daun melayang
Ya burung mengigau
Ya tumbuh
Ya berkembang
Ya menghilang

Yang selalu ialah alif lam mim
yang sempurna ialah kabut
ketika menyebut nun
lalu, menyelinap ke laut
Marhaban. Ahlan wa sahlan

Burung murai
menanam rumput makrifat dan Hu
berisik di daun Hu
beratap di kutub Hu
berumah di rantau Hu
berteduh di ranting Hu

Makrifat sungai pohon
Makrifat bunga mawar
Makrifat batu-batu
merangkai tasbih danau
melebur danau jadi kemilau
melebur kemilau jadi ruh
melebur ruh jadi aku
melebur aku jadi nafas-Mu

Ketika salju mencair
Ketika zikir mengalir
Ketika benam membenam
Ketika engkau dan Hu
Melepas rindu

Suatu hari kutemukan
burung di sangkar termenung membungkam
aku bertanya dan dengan sedih dia mengatakan
Mereka yang melupakan Tuhan
tak berhak mendengar burung bernyanyi

Sebagai hadiah malaikat menanyakan
apakah aku ingin berjalan di atas mega
dan aku menolak
karena kakiku masih di bumi
sampai kejahatan terakhir dimusnahkan
Sampai dhuafa dan mustadhafin
diangkat Tuhan dari penderitaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *