Pramoedya Ananta Toer – Biografi & Kumpulan Kutipan Terbaik

posted in: Biografi, Sastrawan | 0
Durasi baca : 8 menit
Biografi Pramoedya Ananta Toer
sumber : www.inzpirer.com

Pramoedya Ananta Toer

Seorang novelis dan esais yang akrab disapa Pram ini adalah salah satu sastrawan besar yang pernah dimiliki Indonesia. Bahkan, ia termasuk satu dari sekian pengarang paling produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Lebih dari 50 karya telah dihasilkannya hingga kemudian diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa di dunia.

Dikarenakan pemikirannya terlampau kritis, Pram sering keluar masuk penjara. Karya-karyanya seringkali dilarang dipublikasikan, baik di masa Orde Lama maupun Orde Baru. Ia adalah tokoh yang dibenci di negeri sendiri namun dihargai di dunia. Banyak penghargaan luar negeri disandangnya, termasuk Ramon Magsaysay Award 1995. Hanya saja, penghargaan tersebut diprotes oleh 26 tokoh sastra Indonesia.

Pramoedya Ananta Toer adalah putra Blora, Jawa Tengah yang lahir di tahun 6 Februari 1925. Seorang anak sulung tokoh Institut Boedi Oetomo ini sebenarnya memiliki nama asli Pramoedya Ananta Mastoer. Dikemudian hari karena ia merasa nama keluarga Mastoer (ayahnya) terkesan aristokratik, iya pun menghilangkan awalan Jawa-nya “Mas” sehingga hanya tinggal “Toer” saja sebagai nama keluarganya.

Pendidikan di masa kecil seorang Pram tidaklah begitu cemerlang. Tiga kali tidak naik kelas di Sekolah Dasar, benar-benar membuat sang ayah marah. Sehingga selepas SD ia pun di bawah pengajaran keras sang ayah yang menolak menyekolahkan Pram di MULO (setingkat SLTP). Kemudian dengan pembiayaan dari ibunya yang hanya seorang penjual nasi, ia pun melanjutkan pendidikan di Sekolah Kejuruan Radio (Radio Vakschool) di Surabaya.

Dengan Pembiayaan yang teramat pas-pasan membuatnya gagal mengikuti ujian praktik. Beruntungnya, secara umum nilainya cukup baik dan ia pun diluluskan dari sekolah tersebut. Sayangnya, oleh karena saat itu bersamaan dengan meletusnya perang dunia II di Asia, ijazahnya yang dikirim ke Bandung tidak pernah sampai ke tangannya. Selanjutnya, selama pendudukan Jepang di Indonesia, ia bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta.

Kemiskinan dan keterbatasan cukup melekat dalam kehidupan seorang Pramoedya. Hal itu juga yang membuat perkawinan pertamanya harus berakhir dengan perceraian. Ia di usir dari rumah sang mertua karena pendapatan dari menulisnya yang tidak mampu menafkahi keluarganya. Selanjutnya, Pram jatuh cinta kembali pada seorang wanita penjaga stan yang ia temui di pameran buku pertama di Indonesia. Untuk kedua kalinya Pramoedya menikah, hidup bersama seorang istri yang setia mendampinginya hingga masa-masa tua.

Terus Berkarya di Masa-masa Terpenjara

Di masa kemerdekaan Indonesia, Pram pernah menjadi bagian dari kelompok militer Jawa. Sepanjang karirnya tersebut, ia menulis cerpen dan buku, termasuk saat di penjara oleh Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Ia juga pernah tinggal di Belanda pada tahun 1950-an dalam rangka pertukaran budaya, adapun ketika kembali ke Indonesia ia bergabung dengan Lekra, organisasi sayap kiri di Indonesia. Pada masa itu, gaya penulisannya berubah kritis, terutama terlihat pada karyanya Korupsi yang mengesankan friksi antara dia dan pemerintahan Soekarno.

Pramoedya Ananta Toer sering kali keluar masuk penjara. Setelah satu tahun di tahan di masa Orde Lama, oleh karena sikapnya yang pro-Komunis, di masa Orde Baru ia di tahan selama 14 tahun sebagai tahanan politik tanpa proses peradilan, di Nusakambangan dan kemudian di pulau Buru. Meski dilarang menulis selama di pulau Buru, ia tetap bisa mengatur untuk menulis hingga lahirlah karyanya yang terkenal berjudul Bumi Manusia.

Pada akhir 1979, ia dibebaskan, menjadi tahanan rumah untuk kemudian menjadi tahanan kota dan tahanan negara hingga tahun 1999. Selama masa itu, ia menulis novel semi-fiksinya yang lain, Gadis Pantai. Selanjutnya adalah Nyanyian Sunyi Seorang Bisu dan Arus Balik di tahun 1995. Edisi lengkap Nyanyian Sunyi Seorang Bisu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Willem Samuels dan baru diterbitkan di Indonesia pada tahun 1999 dengan judul The Mute’s Soliloquy: A Memoir.

Kontroversi Seorang Pramoedya Ananta Toer

Selain tidak disukai oleh pihak pemerintah, Pramoedya Ananta Toer juga tidak disukai oleh banyak sastrawan Indonesia lainnya. Hal ini setidaknya terlihat sejak perseteruannya dengan Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka). Perselisihan tersebut berkisar pada karya Hamka berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang diberitakan sebagai karya jiplakan dari sastrawan asing, Alvonso Care. Berbulan-bulan koran Harian Bintang Timur yang diasuh Pram beserta Harian Rakyat memojokkan karya Hamka, termasuk memojokkan pribadinya.

Kontroversi dengan beberapa sastrawan lainnya semakin kentara, terlebih saat Pramoedya mendapatkan penghargaan Ramon Magsaysay Award di tahun 1995. Diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat “protes” ke yayasan Ramon Magsaysay. Pram dituding sebagai tokoh Lekra yang paling ganas mengkritis masa demokrasi terpimpin. Tidak hanya itu, Mochtar Lubis mengancam akan mengembalikan anugerah yang sama yang ia terima di tahun 1958.

Masa-masa Tua, Hingga Akhirnya Berpulang

Pramoedya Ananta Toer telah menulis banyak hal yang mengkritisi pemerintahan Indonesia. Banyak tulisannya mengusung tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, tidak terkecuali Tionghoa. Tulisannya juga banyak berupa semi-otobiografi yang lebih menggambarkan pengalamannya sendiri.

Ia terus menulis, di masa tua juga aktif menulis, bahkan sampai akhir hayatnya pun ia aktif menulis. Pada 12 Januari 2016 Terdengar kabar sudah dua minggu ia terbaring sakit. Komplikasi diabetes, sesak nafas, jantung, radang paru-paru dan ginjal telah menyerang masa tuanya. Akhirnya pada pukul 08.55 30 April 2006, ia wafat dalam usia 81 tahun.

  • Freedom to Write Award dari PEN American Center, AS, 1988
  • Penghargaan dari The Fund for Free Expression, New York, AS, 1989
  • Wertheim Award, “for his meritorious services to the struggle for emancipation of Indonesian people“, dari The Wertheim Fondation, Leiden, Belanda, 1995
  • Ramon Magsaysay Award, “for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognation of his illuminating with briliant stories the historical awakening, and modern experience of Indonesian people“, dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina, 1995
  • UNESCO Madanjeet Singh Prize, “in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence” dari UNESCO, Perancis, 1996
  • Doctor of Humane Letters, “in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom” dari Universitas Michigan, Madison, AS, 1999
  • Chancellor’s distinguished Honor Award, “for his outstanding literary archievements and for his contributions to ethnic tolerance and global understanding“, dari Universitas California, Berkeley, AS, 1999
  • Chevalier de l’Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication République, Paris, Perancis, 1999
  • New York Foundation for the Arts Award, New York, AS, 2000
  • Fukuoka Cultural Grand Prize (Hadiah Budaya Asia Fukuoka), Jepang, 2000
  • The Norwegian Authors Union, 2004
  • Centenario Pablo Neruda, Chili, 2004

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan.

Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?

Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang-orang lain pandai

Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, dan kau harus percaya akan berhasil, dan berhasillah kau; anggap semua pelajaran mudah, dan semua akan jadi mudah; jangan takut pada pelajaran apa pun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua

Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit

Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.

Dan alangkah indah kehidupan tanpa merangkak-rangkak di hadapan orang lain

Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri

Kalau mati, dengan berani; kalau hidup, dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.

Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berfikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia sarjana

Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.

Jarang orang mau mengakui, kesederhanaan adalah kekayaan yang terbesar di dunia ini: suatu karunia alam. Dan yang terpenting diatas segala-galanya ialah keberaniannya. Kesederhaan adalah kejujuran, dan keberanian adalah ketulusan.

Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya , tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini.

Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.

Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain.

Tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri.

Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri.

Kehidupan lebih nyata daripada pendapat siapa pun tentang kenyataan.

Saya selalu percaya–dan ini lebih merupakan sesuatu yang mistis–bahwa hari esok akan lebih baik dari hari sekarang.

setiap pejuang bisa kalah dan terus-menerus kalah tanpa kemenangan, dan kekalahan itulah gurunya yang terlalu mahal dibayarnya. Tetapi biarpun kalah, selama seseorang itu bisa dinamai pejuang dia tidak akan menyerah. Bahasa Indonesia cukup kaya untuk membedakan kalah daripada menyerah.

Pada akhirnya persoalan hidup adalah persoalan menunda mati, biarpun orang-orang yang bijaksana lebih suka mati sekali daripada berkali-kali.

Pernah kudengar orang kampung bilang : sebesar-besar ampun adalah yang diminta seorang anak dari ibunya, sebesar-besar dosa adalah dosa anak kepada ibunya.

Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya. Kan begitu Tuan Jenderal?

Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia.

Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.

Tanpa wanita takkan ada bangsa manusia. Tanpa bangsa manusia takkan ada yang memuji kebesaranMu. Semua puji-pujian untukMu dimungkinkan hanya oleh titik darah, keringat dan erang kesakitan wanita yang sobek bagian badannya karena melahirkan kehidupan.

Setiap ketidakadilan harus dilawan, walaupun hanya dalam hati.

Kesenangan adalah tanda bahwa kematian mulai meraba jiwa manusia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *