Umbu Landu Paranggi – Penyair Misterius, Sang Presiden Malioboro

posted in: Biografi, Sastrawan | 0
Durasi baca : 24 menit

Biografi Umbu Landu Paranggi

Umbu Landu Paranggi “Presiden Malioboro”

Umbu di kenal sebagai tokoh misterius dalam Dunia Sastra Indonesia sejak 1960-an. Ia seperti berusaha menjauh dari popularitas dan publik, konon sering “menggelandang” sambil membawa kantung plastik berisi kertas-kertas, yang tidak lain adalah naskah-naskah puisi koleksinya. Orang-orang menyebutnya “pohon rindang” yang menaungi bahkan telah membuahkan banyak sastrawan kelas atas, tapi ia sendiri menyebut dirinya sebagai “PUPUK” saja.

“Kalau ada kata untuk mengungkapkan yang lebih sederhana, saya akan memakainya”, begitu kata salah satu muridnya ketika menggambarkan kesederhaan gurunya. “Kamu boleh mengidolakan seseorang, tapi jadilah dirimu sendiri”. Itulah salah satu kata yang pernah keluar dari bibir Umbu Landu Paranggi.

Mungkin bagi sebagian orang nama tersebut cukup asing, namun perlu diketahui dialah yang turut menjadi perantara lahirnya beberapa Sastrawan kenamaan Indonesia seperti Emha Ainun Nadjib, Eko Tunas, Linus Suryadi AG, Ebiet G Ade dan lain-lain.

Bagi Cak Nun (Emha Ainun Najib), Umbu Landu Paranggi adalah tokoh yang dikaguminya dan sangatlah berpengaruh dalam banyak hal. Dialah Sang Presiden Malioboro yang dikenal melalui karya-karyanya berupa esai dan puisi yang pernah dipublikasikan di berbagai media massa.

Umbu Wulang Landu Paranggi adalah nama lengkap tokoh ini. Dia adalah seorang bangsawan yang pernah dilahirkan di Kananggar, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur pada 10 Agustus 1943. Petualangannya dimulai sejak SMP, dimana dia bermaksud melanjutkan pendidikan di pulau Jawa, tepatnya di Taman Siswa Yogyakarta.

Umbu sangatlah tertarik bersekolah di Taman Siswa terlebih karena terkesan dengan model pengajaran Ki Hajar Dewantara yang diterapkan di Taman Siswa. Hanya saja saat itu perjalanan kapal laut mengalami keterlambatan, sehingga sampai di Jogja pendaftaran di Taman Siswa sudah ditutup.

Akhirnya dia memilih mendaftar di SMA BOPKRI I. Ketika bersekolah di SMA Bopkri itulah kebiasaannya menulis puisi tumbuh subur. Di sekolah SMA itu pula Umbu menemukan seorang guru yang baginya ikut mempengaruhi jalan hidupnya kemudian. Setiap kali ada pelajaran guru itu, Umbu suka diam-diam menulis puisi. Sejak saat itu Umbu rajin menulis puisi dan kemudian di muat di beberapa koran.

Setelah lulus ia melanjutkan ke Fakultas Sosial Politik di Universitas Gadjah Mada jurusan Sosiatri dan di Universitas Janabadra jurusan hukum. Tetapi kuliahnya di 2 universitas itu gagal, tidak dilanjutkan. Gagal juga memenuhi harapan orang tuanya untuk menggantikan kedudukan di kampung halamannya.

Umbu di kenal sebagai tokoh misterius dalam Dunia Sastra Indonesia sejak 1960-an. Ia seperti berusaha menjauh dari popularitas dan publik, konon sering “menggelandang” sambil membawa kantung plastik berisi kertas-kertas, yang tidak lain adalah naskah-naskah puisi koleksinya. Orang-orang menyebutnya “pohon rindang” yang menaungi bahkan telah membuahkan banyak sastrawan kelas atas, tapi ia sendiri menyebut dirinya sebagai “PUPUK” saja.

“Kalau ada kata untuk mengungkapkan yang lebih sederhana, saya akan memakainya”, begitu kata salah satu muridnya ketika menggambarkan kesederhaan gurunya. “Kamu boleh mengidolakan seseorang, tapi jadilah dirimu sendiri”. Itulah salah satu kata yang pernah keluar dari bibir Umbu Landu Paranggi.

Julukan Presiden Malioboro

Julukan tersebut didapat ketika Umbu pada kisaran tahun 1970-an membentuk Persada Studi Klub (PSK), sebuah komunitas penyair, sastrawan, seniman yang berpusat di Malioboro Yogyakarta. Melalui PSK,  ia turun ke kampung-kampung, ke kampus-kampus, ke sekolah-sekolah, kesurau dan masjid, kepasar, kepasar swalayan, ke kantor-kantor pemerintah, ke kantor swasta, ke pesantren, panti asuhan, dan se­ba­gainya.

Oleh karena anggota PSK tidak hanya terbatas di Yogyakarta, maka kegiatan itu dilakukan hampir serempak di seluruh Indonesia. Itulah sebabnya, tak salah rekan-rekan menggelarinya “Presiden Malioboro”. Komunitas yang dibentuknya tersebut di kemudian hari dikenal sebagai salah satu komunitas sastra yang sangat mempengaruhi perjalanan sastrawan-sastrawan besar di Indonesia.

Umbu dahulu juga dikenal sebagai seorang pemegang rubrik puisi dan sastra di Mingguan “Pelopor Yogya” yang berkantor di ujung utara Jl Malioboro Yogyakarta. Adapun pada kisaran tahun 1979, sosok penyair yang tulus terhadap karyanya ini kemudian pindah ke Bali dan menghabiskan masa tuanya sembari mengasuh rubrik Apresiasi di Bali Post.

Upacara XXXIII

jadi kau merasa payah sejatiku

pukul rata tanahlah

baca bacalah aku sejatimu

di liang liang gua tapamu

di sentilsentil ujung heningmu

jadi

sajak bilang apa saja pada aku

jadi buang diri kau

alhamdulilah begitu rupa kau

jadi pengembara…

(Umbu Landu Paranggi)

Sumber : Kuda Putih, Musikalisasi Puisi, Tan Lioe Ie, dkk (2000)

Tujuh Cemara

sisa sampah debu revolusi

sapu dan lego dalam seni

di ibu kota kata sendi kata

si tua muda yogyakarta

(yogya sudah lama kembali)

kembalilah ke yogyakarta

cemara tujuh denyar puisi

tujuh cemara

di jantung Yogyakarta

barisan rindudendam menghela anginmu

terjaring di kampus tua

tertanam cinta terdera

di surut hari mencari

debar puisi di hati

tujuh gelandangan

(buah asam malioboro)

memanggul gitar nembakkan syair lagu
mentari jalanan bulan lorong kumuh
antara kampung kampus, gubuk gedongan
singsing singsing fajar lenganmu
prosesi tugu pasar alun-alun
bongkar pasang dadadadamu
kang becak andong muatan perkasa
kilatan raut pasi berpeluh debu
ciumlah bumi yang nerbitkan sayangmu
nyelamlah lubuk urat nadi hayatmu

tujuh gunung seribu yogya
seribu tarian gang malioboro
tujuh pikul daun pisang ibu beringharjo
(nasi bungkus pondokan selasa rabumu)
tumpukan hijau restu sanubari jelata
sujud bibir pecah yang mengulum kata sejati
hulubalang benih ilham di siang malammu

tujuh cemara gelandang
tujuh gunung seribu saksi tak bisu
gelaran tak sunyi gusargusur kakilima
bentangan dukacita langit sukma
manggang biji mata di kawah candradimuka
tak kau dengar keliling kidung sembilu
meronda dan menggedor mimpi mimpi igaumu

(tak kau ingat peta rute juang gerilya
gercik darah tumpah meriba pertiwi)
di bawah jam kota tujuh pengemis tua
bertumpu seperti mendoakan kita semua
di bawah tapak sudirman kami mangkal malam-malam ini

sisa sampah debu revolusi
sapu dan lego dalam seni
di ibu kota kata sendi kata
(yogya sudah lama kembali)
kembalilah ke yogyakarta
cemara tujuh denyar puisi

tujuh cemara
di jantung yogyakarta
barisan rindudendam menghela anginmu
terjaring di kampus tua
tertanam cinta terdera
di surut hari mencari
debar puisi di hati

(Umbu Landu Paranggi)

Sumber : The Ginseng, Antologi Puisi Indonesia, Sanggar Minum Kopi, Denpasar, 1993.

Apa Ada Angin di Jakarta

Apa ada angin di Jakarta
Seperti dilepas desa Melati
Apa cintaku bisa lagi cari
Akar bukit Wonosari

Yang diam di dasar jiwaku
Terlontar jauh ke sudut kota
Kenangkanlah jua yang celaka
Orang usiran kota raya

Pulanglah ke desa
Membangun esok hari
Kembali ke huma berhati

(Umbu Landu Paranggi)

Sumber : “Apa Ada Angin di Jakarta” dalam Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya, oleh Emha Ainun Nadjib, 1983. Sala : PT Jatayu

Kuda Merah

versi 1

Kuda Merah
kuda merah musim buru, berapa kemarau panjang maumu
jantung yang akan terbakar hangus, satu cambuk api lagi
peluki padang anak angin dan batu gunungku purba
melulur bayang-bayang di pasir : rahasia cinta

(Umbu Landu Paranggi)
Sumber : Majalah CAK, edisi No. 1/1994

versi 2

Kuda Merah
kuda merah musim buru, berapa kemarau panjang maumu
jantung yang akan terus terbakar, satu baris puisi lagi
peluki padang anak angin dan batu gunungku purbani
melulur bayang-bayang cintaku di pasir waktu rahasia cintaku

(Umbu Landu Paranggi)
sumber : Majalah Kolong, No.3, Thn I, 1996

NUSA, 10 Agustus 1997

versi 3

Kuda Merah
kuda merah musim buru,
berapa kemarau panjang maumu
jantung yang akan terbakar hangus,
satu cambuk api lagi
peluki padang anak angin
dan batu gunungku purba
melulur bayang-bayang di pasir waktu :
rahasia cinta

(Umbu Landu Paranggi)

Sajak Kemarau

berapa musim panas lagi rindu, kenang satu baris puisi
jantung yang akan terbakar hangus semesta basa sunyi
yang menyihir padang-padang tandus, ke laut lepas tabir biru
melulur bayang-bayang di pasir waktu: rahasia cintaku.

(Umbu Landu Paranggi)

Sumber Majalah Pusara, September 1973

Kuda Putih

Versi I

Kuda Putih

kuda putih yang meringkik dalam sajak-sajakku
merasuki basabisik kantong peluh rahasiaku
diam diam kupacu terus ini binatang cintaku
dengan cambuk tali anganan dari padang padangku

(Umbu Landu Paranggi)
Sumber : Majalah Kolong No.3 Th. I/1996

Nusa, 10 Agustus 1997

Versi 2

Kuda Putih

kuda putih yang meringkik dalam sajak-sajakku
merasuki basabisik kantong peluh rahasia
diam diam kupacu terus ini binatang cinta
dengan cambuk tali anganan dari padang padangku

(Umbu Landu Paranggi)
Sumber : Kuda Putih, Musikalisasi Puisi, Tan Lioe Ie, dkk (2000)

Kata Sajak

engkau merasa lesu sejatiku
bacalah, bacalah aku sejatimu
di kalbu-kalbu gua tapamu
di dasar pusaran batu semadiku

(Umbu Landu Paranggi)
Sumber : Majalah Kolong No.3 Th. I/1996

Di Sebuah Gereja Gunung

lonceng kecil yang bertalu, memanggil-manggil belainya
di tengah kesunyian, minggu pagi yang cerah
mereka pun berduyunlah ke sana: warga petani dan gembala
dalam dandanan sederhana, bangkit dari kampung, lembah
bukit dan padang-padang sepi
hidup dan kehidupan mereka di tanah warisan, telah terpanggil
dan lonceng gereja lalang di lereng gunung itu menuntun setia
dalam galau kesibukan mereka sehari-hari tak pernah lupa
panggilan minggu: di sini mereka, dalam gereja lalang dan bambu
— berpadu memanjat doa dan terima kasih bagi kehidupan
— bagi kebutuhan hari ini, hari depan datanglah ketentraman
— di antara sesama, pada malapetaka menimpa dunia ini
— pertikaian peperangan, damailah di surga di bumi ini: mazmur mereka
keyakinan yang telah terpatri, bersemi, tak terikat ruang dan waktu
juga dalam gereja lalang ini, terpencil jauh dan sunyi
jauh dari genteng, kegaduhan listrik serta deru oto
tak mengenal surat kabar, jam radio ataupun televisi
tapi keyakinan, pegangan mereka adalah harapan dan kerinduan yang sama
mentari dan bulan yang bersinar di mana pun —
dan tuhan mendengar seru doa mereka

(Umbu Landu Paranggi)
Sumber : “Persada Studi Klub dan Sajak-sajak Presiden Malioboro” dalam Suara Pancaran Sastra : Himpunan Esai dan Kritik, Korrie Layun Rampan, Yayasan Arus Jakarta, 1984.

Sabana

memburu fajar
yang mengusir bayang-bayangku
menghadang senja
yang memanggil petualang

sabana sunyi
di sini hidupku
sebuah gitar tua
seorang lelaki berkuda

sabana tandus
mainkan laguku
harum napas bunda
seorang gembala berpacu

lapar dan dahaga
kemarau yang kurindu
dibakar matahari
hela jiwaku risau
karena kumau lebih cinta
hunjam aku ke bibir cakrawala

(Umbu Landu Paranggi)
Sumber : “Persada Studi Klub dan Sajak-sajak Presiden Malioboro” dalam Suara Pancaran Sastra : Himpunan Esai dan Kritik, Korrie Layun Rampan, Yayasan Arus Jakarta, 1984.

Ronggeng Sumba

I

Tambur tua, ditabuh dewa
menujum sunyiku, di mulut kemarau
sirih pinang tembakau, membaun angin cendana
duh sarungkan pedangmu, dendam budak biru
gulung rokok daun lontar, kumurkan mantra pengantar
api pediangan menanti, siraman darah lelaki

II

Gong gong purba, meningkah bertalu talu
duh restu dewata, menjaring bulan buangan
lima perawan saringan, menghambur dalam arena
terjurai melindas baying, kain dan selendang pilihan
tenunan datu, kayu dan batu
anyaman pelangi, menyambar nyambar dukaku

III

gemerincing giring-giring di kaki, mabuk berburu sorak sorai
bulu ayam di kepala meronta, surai kuda di jari melambai
melipat malam lupa berbusa, hai patah tambur buat rajamu
(hingga lepas urat-urat tangan), gong-gong nyaring dan tajamkan
(bahkan hingga putus napas tarian), mari…hanya kesepianku
panggang di bara cemar, sampai subuh berlinangan
embun, pijaran riap embun, yang meramu cintaku

IV

rawa rawa, paya paya, duka cintaku mengibas telaga senja
rawa rawa, paya paya, di punggung sunyi hariku busur cakrawala
rawa rawa, paya paya, baris cemara meriap gerimis nyawaku
rawa rawa, paya paya, pelaminan kemarau, nyanyi fana nyanyi baka

(Umbu Landu Paranggi)
Sumber : “Persada Studi Klub dan Sajak-sajak Presiden Malioboro” dalam Suara Pancaran Sastra : Himpunan Esai dan Kritik, Korrie Layun Rampan, Yayasan Arus Jakarta, 1984.

Lagu Tujuh Patah Kata

sunyi
bekerjalah
kau
bagi
nyawaku
risau

sunyi bekerjalah
kau bagi
nyawaku risau
sunyi bekerjalah kau
bagi nyawaku risau
sunyi bekerjalah kau bagi nyawaku risau
risau nyawaku bagi kau bekerjalah sunyi
risau nyawaku bagi

kau bekerjalah sunyi
risau nyawaku
bagi kau

bekerjalah sunyi
risau
nyawaku
bagi
kau

bekerjalah
sunyi
kauku

(Umbu Landu Paranggi)
Sumber : Kuda Putih, Musikalisasi Puisi, Tan Lioe Ie, dkk (2000)

Doa

sunyi
bekerjalah
kau
bagi
nyawaku
risau

sunyi bekerjalah
kau bagi
nyawaku risau

sunyi bekerjalah kau
bagi nyawaku risau

sunyi bekerjalah kau bagi nyawaku
risau

risau nyawaku bagi kau bekerjalah
sunyi

risau nyawaku bagi
kau bekerjalah sunyi
risau nyawaku
bagi kau

bekerjalah sunyi
risau
nyawaku
bagi
kau

bekerjalah
sunyi
Kauku

(Umbu Landu Paranggi)
Sumber : “Dunia Puisi Umbu Landu Paranggi”, IK Parwita, dalam Semangat No.2/Oktober 1978 Th 24.

Sajak Kecil

(1)

dengan mencintai
puisi-puisi ini
sukma dari sukmaku
terbukalah medan laga
sekaligus kubu
hidup takkan pernah aman
kapan dan di mana pun
selamanya terancam bahaya
dan kebenaran sunyi itu
penawar duka bersahaja
selalu risau mengembara
mustahil seperti misteri
bayang-bayang rahasia
bayang-bayang bersilangan
bayang lintas bayang
pelintasanku

(2)

dengan mempercayai
kata kata kata
yang kutulis ini
jiwa dari jiwaku
jadilah raja diraja
sekaligus budak belian
sebuah kerajaan
purbani
lebih dari nafasku
bernama senantiasa
nasibmu
umbu landu paranggi

(Umbu Landu Paranggi)
Sumber : Tonggak 3, Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 240). Puisi ini diambil dari Pusara, No. 1, Th. 43, Januari 1970.

Stasiun Gambir Jakarta, Menanti Pagi Sempurna

Kabut terakhir,
perlahan surut ke arah barat
merecikkan sosok sunyi,
di bangku tunggu yang berangin
sejauh itu jua percakapan,
meresonansi di rahang ruang sendat
stasiun di mana kota jantungmu di mana
menjanjikan segala pertarungan

Bersiap-siaplah, berdamai dengan hati
masuk suaramu, tebaran mega biru
memburu fajar di mana,
pelintasan membayangi pelintasan
pergumulan akan dimulai lagi
segala padang kristal gemuruh adegan
sekian cerita, kenangan dan gigi waktu
memahat-mahat siang malammu segera
terjaring langkahmu dalam pusaran jakarta

(Umbu Landu Paranggi, Jakarta, Oktober 1969)
Sumber : Tonggak 3, Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 241-242). Puisi ini diambil dari Pelopor Yogya, 22 Februari 1970.

Melodia Versi II

Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan
karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan
baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi suara-suara luar sana
sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja

Karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati pengembara
dalam kamar berkisah, taruhan jerih memberi arti kehadirannya
membukakan diri, bergumul dan menyeri hari-hari tergesa berlalu
meniup deras usia, mengitari jarak dalam gempuran waktu

Takkan jemu napas bergelut di sini, dengan sunyi dan rindu menyanyi
dalam kerja berlumur suka-duka, hikmah pengertian melipur damai
begitu berarti kertas-kertas di bawah bantal, penanggalan penuh coretan
selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam manja bujukan

Rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis, bahagia sederhana
di rumah kecil papa, tapi bergelora hidup kehidupan dan berjiwa
kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja harapan impian
yang teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi dan kedua tangan

(Umbu Landu Paranggi)
Sumber : Tonggak 3, Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 243-244). Puisi ini diambil dari Manifes: Antologi Puisi 9 Penyair Yogya, Yogyakarta, 1968.

Melodia Versi I

cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan
karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan
baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi suara-suara luar sana
sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja

karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati pengembara
dalam kamar berkisah, taruhan jerih memberi arti kehadirannya
membukakan diri, bergumul dan merayu hari-hari tergesa berlalu
meniup seluruh usia, mengitari jarak dalam gempuran waktu

takkan jemu-jemu napas bergelut di sini, dengan sunyi dan rindu menyanyi
dalam kerja berlumur suka duka, hikmah pengertian melipur damai
begitu berarti kertas-kertas di bawah bantal, penanggalan penuh coretan
selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam deras bujukan

rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis, bahagia sederhana
di ruang kecil papa, tapi bergelora hidup kehidupan dan berjiwa
kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja harapan impian
yang teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi dan kedua tangan

(Umbu Landu Paranggi)
Sumber : “Persada Studi Klub dan Sajak-sajak Presiden Malioboro” dalam Suara Pancaran Sastra : Himpunan Esai dan Kritik, Korrie Layun Rampan, Yayasan Arus Jakarta, 1984 (halaman 73).

Upacara XXIII

rang tua karang
yang bertahta di mahligai nyawaku
tumbuk-tumbuklah, jadikan lidah anak lakimu
bisu abadi

peras-peraslah bisuku
yang senantiasa ajak bicara bisumu
maka haru birulah si anak batu
di batu asah kasihku
nuliskan puisi…

(Umbu Landu Paranggi)
Sumber : Kuda Putih, Musikalisasi Puisi, Tan Lioe Ie, dkk (2000)

Sajak Dalam Angin

Sebelum sayap senja
(daun-daun musim)
Sebelum hening telaga
(burung-burung malam)
Sebelum gunung ungu
(bisik suara alam)
Sebelum puncak sayu
(napas rindu dendam)
Sebelum langkah pengembara
(hati buruan cakrawala)
Sebelum selaksa kata
(sesaji upacara duka)
Sebelum cinta itu bernama
(sukma menguji cahaya)
Sebelum keningmu mama
(kembang-kembang telah bunga)
Sebelum bayang atau pintumu
(bahasa berdarah kenangan maya)
Kabut itu dikirimkan hutan
Gerimis itu ke padang perburuan
Gema yang itu dari gua purbani
Merendah: dingin, kelu dan sendiri
Namaku memanggil-manggil manamu
Lapar dahaga menghimbau
Dukamu kan jadi baka sempurna
Dan dukaku senantiasa fana

(Umbu Landu Paranggi, Yogya, 1968)
Sumber : Tonggak 3, Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 240-241). Puisi ini diambil dari Pelopor Yogya, Minggu, 26 April 1970.

Upacara XXII

dengan mata pena
kugali gali
seluruh diri
dengan helai helai kertas kututup nganga luka luka
kupancing udara di dalam dengan angin tangkapanku
begitulah selalu
kutulis nyawamu
senyawa nyawaku

(Umbu Landu Paranggi)
Sumber : The Ginseng: Antologi Puisi Indonesia, Sanggar Minum Kopi, Denpasar, 1993.

Seremoni

dengan mata pena kugali gali seluruh diriku
dengan helai helai kertas kututup nganga luka lukaku
kupancing udara di dalam dengan angin di tanganku
begitulah, kutulis nyawaMu senyawa dengan nyawaku

(Umbu Landu Paranggi)
sumber : Bali Post, 1978

Aide Memoire

bukalah jendela, di luar angin
menyiapkan pelaminan kemarau
sebelum burung-burung dan daunan
luput dari nyalang pandang dukaku
catatan-catatan mengubur segala kecewa
upacara kecil hari-hari kelampauanku
bukalah kerudung jiwa di sini
gemakan kenangan pengembaraan sunyi
jauh atau dekat, dari ruang ini
sebelum sayap-sayap derita dan kerja
pergi berlaga mendarahi bumi
dan dengan gemas menyerbu kaki langit itu
di mana mengkristal rindu dendamku abadi

(Umbu Landu Paranggi, 1967)
Sumber : Tonggak 3, Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 239). Puisi ini diambil dari Pelopor Yogya, 12 April 1970.

Panggilan

kau dengarlah suara memanggil-manggil namamu lelaki
bila pagi membuka, bila malam menutup daun jendela
di matanya, kehidupan pasang dan surut telah menanti
hanya kesetiaanlah yang sayang hati yang selalu terjaga.

(Umbu Landu Paranggi)
Sumber Majalah Basis, September, 1967

Kata, Kata, Kata

kenangkanlah gumam pertama
pertemuan tak terduga
di suatu kota pantai
di suatu hari kemarau
di suatu keasingan rindu
di suatu perjalanan biru

kenangkanlah bisikan pertama
risau pertarungan kembara
duka percintaan sukma
rahasia perjanjian sunyi

kenangkanlah percakapan pertama
gugusan waktu, napas dan peristiwa
mungkin hanya angin, daun dan debu
pesona terakhir nyanyian sajakku

(Umbu Landu Paranggi, Yogyakarta, 1967)
Sumber : Tonggak 3, Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 245). Puisi ini diambil dari Pelopor Yogya, Minggu, 26 April 1970.

Upacara XXI

sapu jerami
mengangkat jemari
meunjuk sunyi

anak batuku
batu tulisku
tulis bukuku
buku debuku
debu gambarku
gambar hidupku
hidup sunyiku
sunyi asalku
asal sumberku
sumber airku
air nyawaku
jiwa darahku
darah resahku
resah pesonaku

pesonaku, bakamu
ibu berjuta sunyi
menyapu debu
dari pertemuan bunyi

(Umbu Landu Paranggi, 1966)
Sumber : Menagerie 4, 2000, halaman 145, The Lontar Foundation, Jakarta

Seremoni III

satu lidi
dua jari
tiga sunyi
menyapu jantung hari
masa bocah bernyanyi

batu tulisku anak batuku
buku gambarku tulis bukuku
hidup sunyiku gambar hidupku
sarang asalku sunyi sarangku
nyawa risauku asal nyawaku

sepuluh lidi
dua tangan jemari
beribu ratus sunyi
menyerbu buah hati
cintalah darah puisi

(Umbu Landu Paranggi)
Sumber : Bali Post, 1978

Sajak

anak batuku
batu tulisanku
tulis bukuku
buku debuku
debu gambarku
gambar hidupku
hidup mabukku
mabuk kataku
kata mantraku
mantra tuakku
tuak lontarku
lontar buahku
buah sunyiku
sunyi sarangku
sarang pohonku
pohon lukaku
luka asalku
asal akarku
akar airku
air nyawaku
nyawa darahku
darah resahku
resah pesonaku
pesonakubakamu

(Umbu Landu Paranggi)
Sumber : “Persada Studi Klub dan Sajak-sajak Presiden Malioboro” dalam Suara Pancaran Sastra : Himpunan Esai dan Kritik, Korrie Layun Rampan, Yayasan Arus Jakarta, 1984 (halaman 74).

Percakapan Selat Versi II

Pantai berkabut di sini, makin berkisah dalam tatapan
sepi yang lalu dingin gumam berhantam di buritan
Juluran lidah nampak di bawah kerjap mata menggoda
dalam lagu siul, di mana-mana menghadang cakrawala

Laut bersuara di sini, makin berbenturan dalam kenangan
rusuh yang ganjil sampai gelisah terhempas di haluan
Pusaran angin di atas geladak bersambung menderu
dalam terpencil, hingga di mana napas dendam rindu

Menggaris batas jaga dan mimpikah cakrawala itu
mengarungi perjalanan rahasia penumpang itu
Langit terus mainkan cuaca, sampai tanjung, rusuk senja
bintang di mata si anak hilang, taruhannya terus mengembara

(Umbu Landu Paranggi, 1966)
Sumber : “Persada Studi Klub dan Sajak-sajak Presiden Malioboro” dalam Suara Pancaran Sastra : Himpunan Esai dan Kritik, Korrie Layun Rampan, Yayasan Arus Jakarta, 1984 (halaman 71). Puisi ini diambil dari Pusara, No. 3, Maret 1974.

Percakapan Selat Versi I

Pantai berkabut di sini, makin berkisah dalam tatapan

sepi yang lalu dingin gumam terbantun di buritan
juluran lidah ombak di bawah kerjap mata, menggoda
di mana-mana, di mana-mana menghadang cakrawala

Laut bersuara di sisi, makin berbenturan dalam kenangan
rusuh yang sampai, gemas resah terhempas di haluan
pusaran angin di atas geladak, bersabung menderu
di mana-mana, di mana-mana, mengepung dendam rindu

Menggaris batas jaga dan mimpikah cakrawala itu
mengarungi perjalanan rahasia cintakah penumpang itu

namun membujuk jua langkah, pantai, mega, lalu burung-burung

Mungkin sedia yang masuk dalam sarang dendam rindu

saat langit luputkan cuaca dan laut siap pasang

saat pulau-pulau lengkap berbisik, saat haru mutlak biru

(Umbu Landu Paranggi, 1966)
Sumber : Tonggak 3, Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 240). Puisi ini diambil dari Pelopor Yogya, 18 Januari 1970.

Solitude

dalam tanganmu sunyi

jam dinding masih bermimpi
di luar siang menguap jadi malam
tiba-tiba musim mengkristal rindu dendam

dalam detak-detik, dalam genggaman usia
mengombak suaramu jauh bergema
menggigilkan jemari, hati pada kenangan
bayang-bayang mengusut jejakmu, mendera kekinian

seberkas cahaya dari menara waktu
menembus tapisan untung malang nasibmu
di luar tiba-tiba angin, lalu gerimis berderai
dalam gaung kumandang bait demi bait puisi
Sumber : Tonggak 3, Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 239). Puisi ini diambil dari Pelopor Yogya, 26 April 1970.

Ibunda Tercinta

Perempuan tua itu senantiasa bernama:
duka derita dan senyum yang abadi
tertulis dan terbaca jelas kata-kata puisi
dari ujung rambut sampai telapak kakinya

Perempuan tua itu senantiasa bernama:
korban, terima kasih, restu dan ampunan
dengan tulus setia telah melahirkan
berpuluh lakon, nasib dan sejarah manusia

Perempuan tua itu senantiasa bernama:
cinta kasih sayang, tiga patah kata purba
di atas pundaknya setiap anak tegak berdiri
menjangkau bintang-bintang dengan hatinya dan janjinya

(Umbu Landu Paranggi, 1965)
Sumber : Tonggak 3 : Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 244). Puisi ini diambil dari Manifes, Antologi Puisi 9 Penyair Yogya, Yogyakarta, 1968.

Mantra Pengantar

ucapan melati

dimekarkan matahari

udara bakti

disemburkan matahati

maka para pengisap sezarrah

gelombang lengang

menanam ini sembahyang dialog

sawah ladang

maka adalah cuka duka

lupa luka

jantung hari

bahagia beta

alpa sendiri

bikin bikin puisi

 

ucapan melati

pergelaran matahari

udara bakti

persembahan matahati

 

(Umbu Landu Paranggi)

sumber : NUSA, 31 Desember 1997

Denpasar Selatan, Dari Sebuah Lorong…

 

anak angin ruh

sembunyikan sajak airmatamu

hanya cakrawala sepagar halaman

kali ini menyibak rahasia semesta

begitulah senantiasa perempuan

ibunda setiap yang bertanda laki-laki

sigaran nyawa

pecandu laknat air dewi katakatamu

 

bibit cahaya rumpun perdu

inilah perjalanan penemuan siangmalammu

saban kali kau mengidung menembang

dan melabuh bara para kekasih dewata

terowongan penjor nun

di dusun dusun jagatraya Bali

resah menanti lalu menyulingmu kembali

memasuki gerbang kotamu tergesa metropolitan

ada juga titipan jalan pasir

gubug ladang garam masa kecilmu

kaligrafi sungai payau, gaib aksara

terbungkus pujapujimu, mutlak laguan kawi

kembali kau menyuruk ingatan

limbung mengguruk tanah kuru dengan darah cinta

kesuir atau sipongang segara gunungkah itu

gagu merafal, mengeja eja mantra purba…

(Umbu Landu Paranggi)

Sumber : Bali Post Minggu, 23 Februari 1997

Dari Pura Tanah Lot

inilah bunga angin dan tirta air kelapa muda

para peladang yang membalik balik tanah dengan tugal

agar bermuka muka langit tinggal serta dalamku

bercocok tanam mengidungkan musik dwitunggal

dan seruling tidur ayam di dangau pinggir tegalan

atau sepanjang pematang sampai ke batang air

duduklah bersila di atas tumpukan

batu batu karang ini lakon lakon

rumput dan sayur laut mengirimkan gurau ombak

seraya uap air memercik pedihku

beribu para aku sebrang sana datang

mengabadikanmu pasang naik pasang surut

dan kini giliran asal bunyi sunyiku menggapai puncak meru

ke gunung gunung agung tengadah mataku mengail ufuk

tak teduh mengairi kasihku

(Umbu Landu Paranggi)

(sumber : Majalah Kolong Budaya No. 3 Th. I / 1996)

Jagung Bakar Pantai Sanur

Suatu senja
dengus cinta seperti jagung muda dihembus bara purba
seraya pasir
sepasang nganga luka buatan eropa direndam laut Sanur
belajar mengunyah berenang dan menyelami pesona timur
berpasang saksi bisu: perahu tembang jukung cakrawala
satu ransel senyum derita
berbuka-buka
satu jengkal lebih syair
berjemur jemur
satu tongkol lagi:
bakarkan, bakarkan
bagi dua kenangan
gombal rahasia
kesepian moderna

(Umbu Landu Paranggi)

Sumber : Majalah Budaya Kolong No 3 Th. 1. 1996: 17

Syair Rajer Babat

Rajer

bukan ke mana bukan di mana

bumi dipijak langit dijunjung

Babat

bukan di mana bukan ke mana

langit dijunjung bumi dipijak

Suaka deskara siguntang

hadir selalu menopangmu

(kemanamana kau ayun langkahmu

dimanamana kau tanam cintamu)

 

Rajer

bukan ke mana bukan di mana

Babat

bukan di mana bukan ke mana

langit dijunjung bumi dipijak

Ilmu salak seni subak

mengalir setia mengawalmu

(dimanamana kau bongkar rindumu

kemanamana kau tembakkan lagu)

(Umbu Landu Paranggi)

Ni Reneng

sebatang pohon nyiur
meliuk di tengah Denpasar
(akar-akarnya memeluk tanah
dan tanah memeluk akar-akarnya)
sudah terangkai sekar setangkai
menimba hawa tikar pandan
anyaman bulan di pelataran
maka kuapung-apungkan diri
berayun dan beriring menghilir
telah tereguk air telaga
dalam satu tarikan nafas
bangau tak pernah risau
akan warna helai teratai
lalu menebal dasar telaga
melayani turun-naiknya embun
datang dan perginya sekawanan pipit
perdu saja mengerti kesusahan langit
sandaran sikap kepala kita
dalam rimba babad prasasti
dan ritus tubuh tarian

selembar demi selembar daun sirih
menyalakan perbincangan senja senja
dalam perjalanan meraut kecemasan
antara sehari hari kefanaan
dan arah keabadian
sepasang mata angin
di sini, di pusaran jantung Bali
ibu, biar bersimpuh rohku
pada kedua tapak tanganmu
bekal ke sepi malam malam mantram
memetik kidung cipratan bening embun
menyusuri jelajahan jejak aksara
menjaga kemurnian rasa dahaga
dan lapar gambelan sukma kelana

jika kematian kebahagiaan kayangan
maka sia-sia derita mengempang raga
masih misteri sisa warna matahari
lalu kubaca-baca keriputmu
(ke mana-mana jalanan basah
bayang-bayang pohon peneduh)
dan gelombang riang di rambutmu
sebumbang kesadaran sunyi
melaut permainan cahaya
kesabaran ombak memintal pantai
jukung-jukung cakrawala menjaring angin
sambil mempermainkan punggung tangan
dan telapak bergurat rahim semesta
kata ibu keindahan itu
sedalam seluas samudera mistika
menyangga langit kerinduan kita
bersamamu kutemui pondok di dasar laut
di mana bunga-bunga bermekaran
harum bau nyawa tarian
dan semerbak syair selendang purba

 

(Umbu Landu Paranggi, Denpasar, Oktober-November 1984)

Sumber : Majalah Kolong, No.3. Th I, 1996

Nusa Tenggara, 10 Agustus 1997

Kompas, Jumat, 1 September 2000

Bentara, Gelak Esai dan Ombak Sajak Anno 2001, Sutardji Calzoum Bachri. Jakarta,Kompas, 2001. (halaman 120-121).

Fragmen Upacara XXXIX

versi 1

Fragmen Upacara XXXIX

(buat Inna Rambunaijati Pajijiara Marambahi)

 

Tujuh lapis langit kutapis

teratas:

sungsang lapar dahaga

delapan peta bumi kukipas

terbawah:

hening runtuhan sukma

mencium celah retak tanah tanah

serayaraya sawahladang terimakasihmu

dan ringkik kuda putih putus tali

ke negeri dewata terlupa

(ke mata air matahari ribuan ternak)

menggiring yang berumah di sajak sajak

membasuh debu tungkai

barisan anakanak sulungmu

barisan anakanak bungsuku

 

(Umbu Landu Paranggi, Denpasar 1984)

versi 2

 

Fragmen Upacara XXXIX

Kepada Inna

 

tujuh lapis langit kutapis

teratas sungsang lapar dahaga

delapan peta bumi kukipas

terbawah hening runtuhan sukma

 

mencium celah retak tanahtanah

serayaraya sawah ladang terimakasih mu

dan ringkik kuda putih putus tali

ke negeri dewata terlupa

(ke mataair matahari ribuan ternak)

menggiring yang berumah di sajak sajak

membasuh debu tungkai

barisan anakanak sulungmu

barisan anakanak bungsuku

 

(Umbu Landu Paranggi)

Sumber : Kuda Putih, Musikalisasi Puisi, Tan Lioe Ie, dkk (2000)

Upacara XXXVII

lepaslah rahasia sebagai rahasia percakapan sunyi

lelehan debu

tegalan kalbu

rayau waluku

(jam-jam pasir di waktu air

dipukul airwaktu pasir

nyawa kembara

di pohon raya

menala rindu

berkalam batu…)

peganglah rahasia sebagai rahasia percintaan sunyi

sedekah sesaji bumi

dewi sri sepasang musim

bimasakti seruling jisim

semantra setungku mentari

(tuak-tuak waktu di jam sajak

di pukul sajak waktu tuak :

ombak mencapai pantai

gamelan sudah mulai

tanah lot bergelora

pura besakih purnama…)

dari kabut fajar sanur hingga megah senja kuta

bermalam siang tabuh gunung meru merasuki jiwa

di lambung lumbung lambang kedewatan balidwipa

berbanjar peri candi melontar genta yang purba

 

di luar teratai

di dalam semadi

di luar kepala

di dalam semesta:

langit ilmu manusiawi

masuk ke luar kamus sukmaku

bumi teknologi rohani

raung hutan hantu di lubuk tuhanku

samudera galaksi pribadi

membajak-bajak rawapaya payahku

rahasia seni puisi

bermukamuka fanabakaku

(…beruas-ruas bambu tuak

tuang tuang tualang gelegak

bergaung parang perang tenggak ke puncak

menatah patahkata sajak

di luar kepala

di dalam semesta

di luar teratai

di dalam semadi….)

 

(Umbu Landu Paranggi, Kedewatan, Agustus-Desember 1982)

Sumber : Tonggak 3, Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 240). Puisi ini diambil dari Karya Bakti, No. 1. Th V, 25 Februari- 4 Maret 1985.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *