10 Tarian Daerah Aceh – Tarian Khas Aceh Terpopuler Dan Yang Mendunia

Tarian Daerah Aceh. Umum diketahui bahwa kebudayaan Aceh merupakan salah satu yang paling menonjol di Indonesia. Popularitas kebudayaan masyarakat Aceh terutama dimotori oleh produk seni tarinya. Beberapa tari yang berasal dari Aceh pun terkenal, bukan hanya di dalam negeri, namun juga di mancanegara.

Secara umum tarian daerah Aceh memiliki ciri-ciri diantaranya, sarat dengan nilai Islam, melibatkan banyak orang, serta banyak pengulangan gerak serupa dan rancak. Selain itu, juga menggabungkan unsur tari, musik dan sastra, serta disajikan dengan pola lantai yang terbatas.

Pada dasarnya tarian Aceh terbagi menjadi tari duduk dan tari berdiri. Sekilas antara satu tari dengan tarian lainnya terlihat sama, sehingga banyak orang yang salah menyebutkan namanya. Ratoeh Jaroe misalnya, tari yang terlahir di Jakarta ini sering kali disebut Tari Saman, demikian pula beberapa tarian duduk lainnya.

Berikut ini adalah daftar 10 tari yang berasal dari Aceh yang populer dan sebagian diantaranya telah mendunia. Tarian Daerah Aceh dalam daftar berikut hanya disertai penjelasan singkatnya saja. Untuk penjelasan lebih detail, bisa dibaca melalui tautan yang telah disediakan di bawah masing-masing tari.


Daftar 10 Tari Daerah Aceh Terpopuler


1. Tari Saman

Tari Saman - Tarian Adat Aceh
sumber : www.hikayatbanda.com

Tari Saman merupakan kesenian asli suku Gayo di dataran tinggi Gayo, Provinsi Aceh Tenggara. Tari yang kental dengan nuansa Islam ini termasuk di antara kesenian tradisional Indonesia yang telah mendunia. Bahkan pada tahun 2011, tarian ini ditetapkan UNESCO sebagai Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia.

Selain ditampilkan dalam perayaan adat, Tari Saman juga sering dipertunjukkan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tari ini disajikan tanpa iringan musik eksternal, iringan tarinya berasal dari suara dan tepuk tangan para penarinya. Mereka menari dipandu oleh seorang pemimpin tari yang disebut Syekh.

Beberapa literatur mengatakan bahwa Tari Saman dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama Gayo. Di samping aktif menyebarkan berdakwah, beliau juga mempelajari Tarian Melayu Kuno. Gerakan-gerakan tari yang dipelajari diadopsi dan dikombinasikan dengan syair-syair bernuansa Islami, kemudian lahirlah tarian ini.

Selengkapnya perihal Tarian Adat Aceh ini, baca di Tari Saman – Tarian Suku Gayo Aceh


2. Tari Seudati

Tari Seudati - Tari yang berasal dari Aceh
sumber : www.kamerabudaya.com

Seudati merupakan tarian khas Aceh yang keberadaan awalnya diketahui dari Kabupaten Pidie dan Kabupaten Aceh Utara. Tari ini dulunya bernama Ratoh yang berarti penceritaan tentang apa saja yang berhubungan dengan aspek sosial-kemasyarakatan. Adapun nama Seudati berasal dari shahadatayn (dua kalimat syahadat).

Seudati merupakan media dakwah yang disampaikan dalam keindahan dan kekompakkan gerak. Berciri khas heroik, gembira serta menggambarkan kebersamaan dimana seluruh bagian tubuh para penari bergerak ketika menarikannya. Sebuah tarian agresif yang dibawakan oleh 8 penari yang masing-masing diberi jabatan tersendiri.

Seperti halnya Tari Saman, Tari Seudati juga terkenal tidak hanya di dalam negeri, namun juga di mancanegara. Beberapa sumber mengatakan bahwa sejarah Tari Seudati berasal dari komunitas tarekat yang dibangkitkan oleh Syekh Tarekat Saman. Bahkan tarian Seudati dalam bahasa Aceh juga dinamakan dengan “meusamman”.

Selengkapnya perihal Tarian Khas Aceh ini, baca di Seudati – Tarian Aceh Yang Agresif


3. Tari Tarek Pukat
Tari Tarek Pukat - Tari Daerah Aceh
sumber : steemit.com/culturevulture/@zikmaulana/

Tari Tarek Pukat merupakan kesenian yang terinspirasi dari budaya masyarakat pesisir Aceh, yakni Tarek Pukat. Tarek Pukat merupakan tradisi menangkap ikan dengan cara menarik jala secara gotong-royong. Hasil tangkapan ikannya kemudian dibagi rata kepada mereka yang ikut serta menarik jala.

Tarian Tarek Pukat biasa dipertunjukkan oleh 7 penari perempuan yang berbusana tradisional Aceh. Mereka menari sambil membawa instrumen pelengkap berupa tali yang difungsikan untuk mewakili jala atau yang dalam bahasa Aceh disebut pukat. Tarian ini disajikan dengan diiringi nyanyian dan musik khas Aceh.

Selengkapnya perihal Tarian dari Aceh ini, baca di Tarek Pukat – Yang Terinspirasi Tradisi Tangkap Ikan


4. Tari Likok Pulo

Tari Likok Pulo - Tari Tradisional Aceh
sumber : www.wacana.co

Likok Pulo adalah seni tari pesisir. Hal ini telah diisyaratkan oleh namanya, “Likok” berarti gerakan tari sedangkan “Pulo” berarti pulau. Pulau yang dimaksudkan disini adalah Pulo Aceh atau Pulau Beras (Breuh) yakni sebuah pulau yang berada di daerah Aceh Besar di ujung pelosok utara Pulau Sumatera.

Tari ini dibawakan oleh 10-12 penari dengan properti bambu seukuran jari telunjuk. Mereka menari dalam formasi duduk memanjang dengan posisi selang seling atas bawah. Setiap gerakan yang dihadirkan biasanya memuat nasehat-nasehat yang disampaikan melalui syair oleh penari utama yang biasa disebut Syekh.

Selengkapnya perihal Tarian Daerah Aceh ini, baca di Tari Likok Pulo – Persembahan Masyarakat Pulau Breuh


5. Tari Laweut

Tari Laweut - Tari yang berasal dari Aceh
sumber : www.youtube.com/watch?v=F2_CDrCK470

Tari Laweut adalah salah satu dari ragam tarian tradisional Aceh, tepatnya berasal dari Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Seiring perkembangan, selanjutnya tarian ini pun menyebar di seantero Aceh dan menjadi salah satu tarian populer bersama dengan Tari Saman dan Tari Seudati.

Tari ini dulunya bernama Seudati Inong. Bisa dikatakan Tari Laweut merupakan Tari Seudati versi perempuan. Banyak kesamaan diantara dua tarian ini, gerakan dan pola tarian, proses serta tehniknya, bahkan sama-sama melibatkan 8 penari dengan 1 syahi (penyanyi) yang sekaligus memimpin tarian.

Selengkapnya perihal Tarian Tradisional Aceh ini, baca di Tari Laweut – Tarian Seudati oleh Kaum Perempuan


6. Tari Ratoeh Duek
Ratoh Duek - Tarian dari Aceh
sumber : steemit.com

Ratoh Duek merupakan salah satu tari daerah Aceh yang identik dengan Tari Saman. Sekilas terlihat sama, namun tetap banyak perbedaan. Sejak Tari Saman ditetapkan UNESCO sebagai Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia, sejak saat itu pula hanya boleh boleh ditarikan oleh laki-laki berjumlah ganjil.

Sementara itu, Tari Ratoh Duek merupakan tarian yang dibawakan oleh penari wanita berjumlah genap. Perbedaan lain adalah busana. Penari Saman menggunakan pakaian adat Suku Gayo, adapun penari Ratok Duek hanya menggunakan pakaian polos berwarna dipadu dengan kain songket Aceh. dan masih banyak perbedaan lainnya.

Ratoh Duek sangat populer di luar Aceh serta sering ditampilkan di dalam dan luar negeri. Tari ini disajikan dalam posisi duduk berbanjar dengan pola lantai yang tidak banyak memiliki perubahan, yakni hanya berbentuk horisontal, zig zag. Para penarinya semuanya wanita berjumlah genap yang berjumlah 8-12 orang.

Selengkapnya perihal Tarian Khas Aceh ini, baca di Tari Ratoh Duek – Mirip Tari Saman, Ditarikan oleh Wanita


7. Tari Bines

Tari Bines - Tarian Daerah Aceh
sumber : steemit.com/blog/@abangace99

Tari Bines merupakan Tarian Daerah Aceh sebagai salah satu ragam kesenian suku Gayo. Bagi masyarakat Gayo Lues, Tari Bines adalah belahan jiwa Tari Saman. Dahulu perempuan di Gayo Lues, tidak diizinkan menarikan Tari Saman mengingat sifatnya terlampau keras, sehingga leluhur Gayo pun menciptakan tarian ini.

Meski tidak ada kepastian mengenai awal munculnya, dahulu dalam setiap pertandingan (jalu) Saman, Tari Bines juga ditampilkan pada jeda penampilan satu grup saman dengan grup yang lainnya. Keberadaannya yang lebih difungsikan sebagai pelengkap inilah yang kemudian membuat tari ini tidak sepopuler Tari Saman.

Selengkapnya perihal Tarian Daerah Aceh ini, baca di Tari Bines – Dikatakan Sebagai Belahan Jiwa Tari Saman


8. Rateb Meuseukat

Rateb Meuseukat - Tarian Adat Aceh
sumber : chemember.wordpress.com

Selain Ratoh Duek, tarian khas Aceh yang sering kali disamakan dengan Tari Saman adalah Rateb Meuseukat. Ketika merujuk pada Wikipedia, Tari Saman yang biasa dimainkan remaja putri di pesisir berubah menjadi Ratoh Duek. Dari Ratoh Duek kemudian berubah lagi menjadi Tari Rateb Meuseukat.

Rateb Meuseukat tumbuh sebagai tari yang hanya dibawakan oleh kaum perempuan saja. Tarian ini melibatkan penari dengan jumlah yang tak terbatas, namun minimal 10 orang dengan dipimpin oleh seorang syekh. Sumber lain ada yang mengatakan pemainnya 13 orang, berjumlah ganjil tidak boleh kurang dari 10 penari.

Selengkapnya perihal Tarian dari Aceh ini, baca di Rateb Meuseukat – Tari Yang Bermula Dari Tempat Pengajian


9. Tari Guel
Tari Guel - Tarian Khas Aceh
sumber : @etnisgayo

Tari Guel adalah salah satu khasanah budaya Gayo, khususnya yang berada di daerah dataran tinggi Gayo di Provinsi Aceh bagian tengah. Selain berfungsi hiburan, Guel merupakan tarian tradisi yang erat kaitannya dengan upacara adat. Istilah Guel memiliki arti membunyikan atau memukul suatu benda hingga menimbulkan suara.

Sumber inspirasi terciptanya tarian ini adalah alam, lingkungan yang kemudian dirangkai sedemikian rupa melalui gerak simbolis dan hentakan irama. Didalamnya terkandung beberapa unsur seni, sastra, musik dan tari yang berpadu harmonis dan sarat akan makna, khususnya sehubungan dengan sejarah Gayo.

Selengkapnya perihal Tarian Tradisional Aceh ini, baca di Tari Guel – Gambaran Kearifan Budaya Suku Gayo


10. Rapai Geleng

Tari Rapai Geleng Aceh - Tarian Daerah Aceh
sumber : steemit.com/@muntaza03

Tari Rapai Geleng merupakan satu di antara tarian Daerah Aceh sebagai media dakwah. Tari ini mengekspresikan nilai-nilai Islam di setiap bagiannya, termasuk syair, busana dan gerakannya. Selain itu, tarian ini juga turut melambangkan sikap hidup Suku Aceh yang menonjolkan nilai kekompakan dan kebersamaan dalam bermasyarakat.

Rapai Geleng merupakan salah satu kesenian yang paling populer digemari oleh masyarakat Aceh. Setiap pertunjukannya, hampir selalu dipadati penonton. Daya tarik utama dari Tari Rapa’i Geleng adalah lebih kentara melalui keindahan gerak dan syair yang menyertainya, sangat menghibur mata dan telinga.

Selengkapnya perihal Tarian Khas Aceh ini, baca di Rapai Geleng – Media Dakwah Masyarakat Pesisir Aceh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *