Tarian Daerah Papua – Daftar 10 Nama Tarian dari Papua Untuk Diketahui

Tarian Daerah Papua. Eksotika negeri ini sangatlah kentara di ujung timurnya, di Tanah Papua. Wilayah Papua milik Indonesia yang kini terbagi menjadi dua provinsi, Papua dan Papua Barat, ini sangatlah molek dalam banyak hal.

Selain keindahan alam, budaya dari keragaman suku yang mendiaminya telah melahirkan banyak kesenian. Tribal arts yang indah dan telah mendunia itu dibuat oleh suku Asmat, Ka moro, Dani, dan Sentani. 4 suku bagian dari 255 suku asli Papua.

Tifa merupakan alat musik khas Indonesia bagian Timur, termasuk Papua. Ada juga Noken, kerajinan tas tradisional Papua yang telah ditetapkan sebagai salah satu warisan dunia. Selain yang telah disebutkan, suku di Papua juga kaya tari-tarian.

Artikel ini memuat beberapa nama tarian dari Papua. Tarian Papua sangat banyak karena setiap suku memiliki tariannya sendiri. Di sini hanya disajikan sebagian kecil saja, setidaknya ada 10 tarian daerah Papua dengan disertai penjelasan singkatnya.


Daftar 10 Tarian Daerah Papua


1. Tari Selamat Datang

Tari Selamat Datang
sumber : pesona.travel

Tari Selamat Datang bisa dikatakan sebagai tarian dari Papua yang paling populer. Sebuah kesenian yang mewakili kearifan dan budaya luhur orang Papua. Seperti diisyaratkan namanya, ini merupakan tari penyambutan. Disajikan untuk menyambut tamu kehormatan.

Meski ada yang bilang bahwa tarian ini berasal dari Papua Timur. Namun, setiap daerah menarikannya dan memberi penyebutan tersendiri dalam bahasa mereka. Suku Malamoi di Sorong, Papua Barat menamakan tarian ini Nanini yang berarti “Kemari, Kemari Bersama”.

Tarian Selamat Datang merupakan visualisasi dari rasa hormat dan juga sebagai tanda bahwa tamu telah diterima. Para penarinya yang pria dan wanita menari gembira. Mereka membawakan gerakan penuh semangat, dinamik hingga terciptalah sajian yang menarik.

Selain gerakan, keunikan lain dari tari ini adalah busana dan aksesoris yang dikenakan penarinya yang pastinya khas Papua. Sebagai pengiring tarian digunakan perpaduan alat musik tradisional dan modern. Ada gitar, ukulele, tifa, dan bass akustik.


2. Tari Yospan

Tari Yospan - Tarian Daerah Papua
sumber : thegorbalsla.com

Tari Yospan adalah tari persahabatan atau tari pergaulan muda-mudi Papua. Satu di antara tarian Papua paling populer yang sering meramaikan acara-acara adat, penyambutan tamu, serta festival budaya. Bahkan sering tampil di berbagai negara.

Yospan merupakan singkatan dari Yosim dan Pancar, dua tarian khas Papua. Yosim mirip dengan Polonaise, tarian lambat dari Polandia. Tari Yosim ini berasal dari Sarmi, kabupaten di pesisir utara Papua. Ada juga yang mengatakan berasal dari Teluk Saireri.

Sementara itu, Pancar adalah tari yang berkembang pada awal 1960-an di Biak Numfor dan Manokwari. Nama awalnya adalah Pancar Gas. Tari Yospan sendiri dalam prakteknya ditarikan oleh lebih dari satu orang. Gerakannya semangat, dinamik dan menarik.


3. Tari Musyoh

Tari Musyoh - Tarian Papua
Tari Musyoh adalah satu dari sekian tarian dalam kebudayaan rakyat Papua yang paling memanifestasikan sistem kepercayaan mereka. Tari Musyoh adalah tarian adat Papua sebagai upaya pengusiran arwah orang yang meninggal karena kecelakaan.

Ketika ada seorang warga Papua yang meninggal akibat kecelakaan, umumnya masyarakat Papua meyakini bahwa arwah yang bersangkutan tidaklah tenang. Melalui keyakinan tersebut, lahirlah Tari Musyoh sebagai jalan untuk menenangkan arwah atau ruhnya.

Sama seperti kebanyakan tarian tradisional Papua yang pada umumnya, Tarian Musyoh diringi oleh Tifa. Sebagai pembeda dengan Tari Perang Papua, tari ini tidak menggunakan tombak atau alat perang lainnya sebagai properti tariannya.


4. Tari Wutukala

Tari Wutukala - Tarian dari Papua
sumber : www.kamerabudaya.com

Secara umum gerakan dari tarian khas Papua adalah penuh dengan nuansa semangat, dinamis dan menarik. Selain tari yang telah disebutkan di atas, ada juga Tari Wutukala, tarian tradisional suku Moy di Sorong, kota terbesar di Provinsi Papua Barat.

Secara garis besar, tarian ini merupakan ungkapan rasa syukur suku Moy atas berkat Tuhan yang diberikan pada mereka. Menariknya, keberlimpahan berkat itu dihadirkan dalam inovasi perburuan ikan. Jika dulu menggunakan tombak, kini menggunakan akar tuba.

Tari ini diperagakan secara bersama-sama oleh pria dan wanita. Di mulai dari para pria yang membentuk formasi dan menari menggambarkan perburuan ikan. Di susul kemudian oleh para wanita dengan membawa Noken, untuk menampung hasil perburuan.

Digambarkan mereka mulai kesulitan jika menggunakan tombak saja. Ditaburkanlah akar tuba halus sebagai racun ringan untuk membuat ikan pusing agar mudah didapat. Intinya, tarian ini menunjukkan bahwa suku Moy selalu siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan.


5. Tari Sajojo

Tar Sajojo - Tarian Daerah Papua
sumber : youtube.com

Sajojo merupakan tari pergaulan yang penuh keceriaan, menggambarkan semangat kebersamaan & gotong royong masyarakat Papua. Kental dengan nuansa keceriaan dan bisa ditarikan oleh siapa saja, baik pria maupun wanita.

Dalam fungsinya, Sajojo juga sebagai cara bagi masyarakat Papua untuk menyampaikan pesan selamat datang kepada para tamu kehormatan. Sering juga ditampilkan di berbagai upacara adat, hiburan, maupun acara dalam rangka promosi wisata.

Keunikan tari ini khususnya pada hentakan kaki dan gerakan badan yang dinamis. Jumlah penarinya bisa genap atau ganjil dan tidak dibatasi. Ditarikan oleh laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda. Dimana saja, di luar mapun di dalam ruangan.

Istilah Sajojo diambil dari lagu pengiringnya yang berjudul “Sajojo”. Sajojo merupakan lagu daerah Papua yang menceritakan tentang seorang gadis yang diidolakan dan dicintai di kampungnya. Perihal sejarahnya, tari ini telah ada sejak tahun 1990-an.


6. Tari Kafuk
Tari Kafuk - Tarian Adat Papua
sumber : brilio.net

Oleh karena besarnya nilai penghormatan terhadap tamu, masyarakat Papua memiliki banyak ragam tari penyambutan. Salah satunya adalah Tari Kafuk, tarian adat Papua Barat. Sama seperti tarian penyambutan lainnya, ini merupakan ungkapan rasa suka cita.

Dalam tarian ini, belasan penari dari berbagai usia menari dengan mengenakan pakaian adat senada. Para perempuannya mengayunkan tangan seolah mengajak bermain. Sementara itu, para pria meregangkan barisan dan tamunya berada di antara mereka.

Sambil menari, mereka mengarak tamu keliling kampung. Sampai di tengah kampung, formasinya berubah melingkar seiring kepala suku keluar. Tamunya tetap di tengah penari, diucapkanlah ungkapan “Siau Tayunu Foo siau…” yang bermakna selamat datang.


7. Tari Perang Papua

Tari Perang Papua
sumber : iyakan.net

Setiap suku di Indonesia memiliki tarian perangnya sendiri, tidak terkecuali masyarakat di Papua. Tari Perang Papua merupakan tarian tua. Tarian klasik sejak ribuan tahun yang lalu bahkan dikatakan sebagai peninggalan masa prasejarah Indonesia.

Dalam fungsinya, konon tarian khas Papua Barat ini merupakan perlambang betapa kuat dan gagahnya orang Papua. Disinyalir, tarian ini dulunya menjadi bagian dari upacara adat ketika hendak melangsungkan peperangan antar suku dan kelompok.

Tari Perang adalah dibawakan oleh para penari pria secara berkelompok, mulai dari 7 orang atau lebih. Mereka menari diiringi oleh suara genderang dan lantunan lagu perang. Gerakannya khas bersemangat seperti prajurit yang akan menuju medan perang.

Gerakan tari sangat unik, bervariatif dan enerjik untuk mengisyaratkan kepahlawanan dan kegagahan rakyat Papua. Selain pada gerakan penari dalam memainkan senjata yang dibawanya, keunikan tari ini juga terlihat pada busana para penarinya, khas Papua.


8. Tari Suanggi

Tari Suanggi
sumber : macam-macam-tarian-daerah.blogspot.com

Suanggi merupakan salah satu nama tarian adat Papua Barat yang kental dengan nuansa magis dan mistis. Tari ini mengisahkan tentang seorang laki-laki yang ditinggalkan mati oleh istrinya karena menjadi korban angi-angi (roh jahat).

Masyarakat Papua Barat menggunakan istilah Suanggi untuk menyebut roh jahat (kapes) yang belum mendapat kenyamanan di alam baka. Roh-roh ini diyakini suka merasuki tubuh wanita. Wanita yang berhasil dirasuki disebut Kapes Fane atau kapes Mapo.

Kapes Fane terkadang juga disebut perempuan Suanggi. Keberadaannya suka mencelakakan orang lain. Dari fenomena ini, para tetua pun melakukan Mawi untuk mengetahui siapa sebenarnya perempuan itu. Jika diketemukan, maka akan dibunuh dan dibedah perutnya.

Singkat kata, kepercayaan masyarakat Papua pada keberadaan Suanggi tersebut dirangkum dan direkam dalam bentuk seni pertunjukan. Dikenallah Tari Suanggi yang secara turun temurun di pelihara dan senantiasa dilestarikan hingga saat ini.


9. Tari Magasa
Tari Magasa
sumber : www.indonesiakaya.com

Tari Magasa merupakan tarian daerah Papua khas suku Arfak, suku asli yang mendiami pegunungan Arfak Manokwari. Di sebut juga Tari Ular merujuk pada barisan para penarinya yang umumnya muda-mudi itu memanjang menyerupai ular.

Meski difungsikan sebagai tarian penyambutan, Magasa memiliki nilai yang mendalam perihal suku Arfak yang merayakan kemenangan atas perang. Setiap bagian tari, khususnya pada gerakannya mengisyaratkan persatuan, saling menghormati perbedaan.

Para penari menarikannya dalam posisi berselingan antara pria dan wanita. Mereka menari saling bergandengan tangan dan saling berhimpitan. Gerakannya sederhana dan berulang, bersemangat penuh penghayatan. Tari ini diiringi lagu tanpa musik.


10. Tari Seka

Tari Seka
sumber : sdm.data.kemdikbud.go.id

Tari Seka merupakan salah satu tarian daerah Papua, khususnya di selatan Papua yang meliputi wilayah Timika, Kaimana dan Fakfak. Sebuah tarian pesisir yang melambangkan rasa syukur kepada Sang Pencipta karena keberlimpahan hasil panen.

Selain itu, Tari Seka juga sering mewarnai prosesi adat pernikahan, yaitu menghantarkan gadis ke calon mempelai laki-laki. Namun, seiring waktu berjalan, tarian ini juga difungsikan sebagai tari pergaulan dan tari penyambutan tamu.

Di Kaimana, suku Napiti dan Suku Miere, tarian ini masih tetap lestari dalam denyut aktivitas sehari-hari. Di sisi lain Suku Kamoro menghidupkan tarian ini untuk melambangkan semangat ketika akan berperang, pada waktu lampau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *