Tarian Sulawesi Tengah – Daftar 10 Nama Tari Khas Dari Sulawesi Tengah

Tarian Sulawesi Tengah. Tercatat ada 15 kelompok etnis atau suku yang merupakan penduduk asli Sulawesi Tengah. Bisa dibayangkan betapa keragaman budaya senantiasa mewarnai kehidupan masyarakatnya. Selain itu keberadaan suku-suku pendatang juga turut mewarnai kebudayaan di sana. Akulturasi dan asimilasi pun terjadi hingga tercipta corak budaya yang khas.

Sebagai penggal budaya, kesenian di Sulawesi Tengah juga sangat bervariasi menyesuaikan citarasa seni masing-masing sukunya. Selain musik dan syair, masyarakat tradisi di sana juga kaya tarian tradisional. Pada awalnya tarian-tarian yang ada berfungsi ritual. Kemudian ada beberapa di antaranya yang dikembangkan dalam bentuk yang lebih populer dan lebih berfungsi profan.

Sesuai dengan judulnya “Tarian Sulawesi Tengah“, artikel ini akan menyajikan beberapa contoh tarian daerah dari Sulawesi Tengah. Tentu, tidak mencakup semua tari tradisional yang ada, mengingat keragaman suku yang mendiami provinsi beribukotakan Kota Palu ini. Di sini, setidaknya telah ada 10 tarian daerah Sulawesi Tengah yang telah dilengkapi penjelasan singkatnya.


Tarian Sulawesi Tengah


Tari Balia

Tari Balia - Tarian SulTeng
sumber : etnis.id

Balia merupakan Tarian Sulawesi Tengah khas Suku Kaili. Sebuah tarian ritual untuk memuja dewa-dewa dan roh nenek moyang. Meski Islam telah masuk dan menjadi agama mayoritas, keyakinan terhadap hal-hal gaib sehubungan leluhur masih sangat kental. Tari Balia merupakan upaya pengakuan terhadap kekuatan yang dianggap suci, yang dianggap bisa mendatangkan berkah dan musibah.

Dalam prakteknya, Balia merupakan tradisi penyembuhan. Masyarakat Kaili menyakini bahwa musibah penyakit datang karena manusia gagal menjaga keharmonisan hubungan dengan penguasa alam. Oleh mereka penguasa alam dipersonifikasikan dalam bentuk leluhur dan dewa-dewa. Ketika datang suatu penyakit, cara menyembuhkannya adalah dengan memuja-muja lagi dewa yang memberi sakit.

Tarian ini biasa dilakukan ketika upaya medis tak berhasil menyembuhkan. Diadakan di rumah pemujaan yang disebut Lobo, baik oleh individu maupun kelompok. Sebagai tarian ritual, selain ada rupa sesajen, tari ini dimulai dengan pembacaan mantra untuk memanggil roh leluhur. Prosesinya bisa berlangsung hingga tujuh hari tujuh malam dengan penyembelihan hewan sebagai acara puncaknya.


Tari Dero

Tari Dero - Tarian Khas Sulawesi Tengah
sumber : @revina.lalape

Tari Dero atau Madero adalah salah satu tarian tradisional Sulawesi Tengah yang berasal dari Kabupaten Poso. Lahir sebagai tradisi Suku Pamona yang melambangkan suka cita atau untuk mewakili ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas semua hal yang telah diberikanNya. Tarian ini sering kali ditampilkan di berbagai pesta adat, upacara adat ataupun saat pesta panen raya.

Selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, Tarian Dero dianggap pemersatu karena biasa dilakukan bersama-sama. Tanpa memandang latarbelakang, baik miskin maupun kaya semuanya saling berpegangan tangan menari bersama. Dalam tarian ini, nuansa kerukunan dan persahabatan demikian kentara. Bagi kaum muda, tarian ini juga menjadi kesempatan mencari pasangan hidup.

Seperti halnya Balia, Dero berkaitan dengan kepercayaan lama Suku Pamona sebelum memeluk agama Kristen. Mulanya, tarian ini disajikan ketika pasukan perang pulang dari Pengayauan (penggal kepala). Mengayau dilakukan sebagai penolak bala ketika terjadi musibah panen gagal atau ada masyarakat yang meninggal. Tengkorak kepala manusia itu diletakkan di tengah Lobo dan mereka menari melingkarinya.


Tari Raego
Tari Raego - Tari Tradisional SulTeng
sumber : youtube.com

Raego atau Rego atau Raigo merupakan bentuk seni yang memadukan tarian dan syair tradisional. Kesenian ini hidup dan berkembang di lingkup masyarakat Suku Kulawi, Suku Kaili, dan Suku Bada. Dalam formasi melingkar tarian ini disajikan dengan menyanyikan syair-syair panjang dalam bahasa Uma tua. Bahasa ini merupakan bahasa daerah kuno yang sudah tidak digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Syair Raego sangat bervariasi karena disesuaikan dengan acara dimana kesenian ini ditampilkan. Jika dimainkan setelah panen, maka syairnya tentang proses membuka ladang, menanam, menyiangi, hingga memanen. Adapun jika Raego ditampilkan untuk menghibur salah satu keluarga yang berkabung, syairnya berkisar tentang siklus hidup manusia serta menceritakan kebaikan orang yang mati saat masih hidup.

Bagi masyarakat pendukungnya, Raigo diyakini lahir dan berkembang melalui proses mitos. Kemudian menjadi ritual yang diwujudkan dalam bentuk gerakan dan ungkapan yang bernilai sakral dan magis. Gambaran tentang kemenangan dalam usaha, ungkapan kegembiraan dan rasa syukur melalui tari dan syair yang berisikan pemujaan terhadap Sang Pencipta. Tari ini lebih banyak dihadirkan tanpa iringan musik.


Tari Torompio

Tari Torompio - Tarian Daerah Sulawesi Tengah
sumber : @inho_salamander

Selain Dero, Tarian Daerah Sulawesi Tengah yang berasal dari Suku Pamona adalah Tari Torompio. Dalam bahasa Pamona, Torompio berarti “Angin Berputar”. Torompio sendiri merupakan tarian pergaulan tradisional yang melambangkan para remaja yang sedang dimabuk asmara. Disajikan dengan iringan gong, gendang, karatu (gendang duduk), dan gitar. Para penarinya menari sambil menyanyikan syair lagu tentang asmara.

Dalam sejarahnya, Torompio lahir di zaman penjajahan Jepang di Indonesia terutama di Tanah Poso saat pembukaan jalan Takolekaju. Tari ini diyakini pertama kali lahir di Desa Taripa di Pamona Timur. Pada tahun 1943 atas jasa Almarhum Bapak T. Lanipa, seorang guru di desa tersebut, tarian ini menjadi populer. Sejak saat itu, tari ini terus dikembangkan dan dilestarikan hingga saat ini.


Tari Pamonte

Tari Pamonte dari Sulawesi Tengah
sumber : @rangga_luku

Tarian Sulawesi Tengah selanjutnya adalah Tari Pamonte atau Tari Pomonte dari Parigi, Kabupaten Donggala. Pomonte berasal dari dua kata dalam bahasa Kaili Tama, yakni “Po” yang berarti pelaksana dan “Monte” berarti tuai (menuai). Jadi, Pomonte artinya penuai. Dinamakan seperti itu karena tari ini tercipta berdasarkan kebiasaan wanita di Kabupaten Donggala yang hidup bertani, khususnya di desa asal tarian ini.

Tari Pomonte dikreasikan oleh Hasan M. Bahsyuan tahun 1957 dan diperagakan oleh 21 penari wanita. Kemudian ada yang dibuat untuk ditarikan 16 orang, lalu dirubah lagi menjadi 17 orang. Ketiga versi ini tidak hilang dan bisa dipilih sesuai kemampuan. Perubahan terjadi lagi tahun 1968 dengan menghilangkan properti seperti toru (topi), alu, dan bakul (bingga). Saat ini penari hanya memakai toru dan selendang.


Tari Peule Cinde

Tari Peule Cinde - Tarian Sulawesi Tengah
sumber : youtube.com

Tari Peule Cinde juga merupakan Tarian Khas Sulawesi Tengah yang diciptakan oleh Hasan M. Bahsyuan. Peule Cinde merupakan tari penyambutan yang difungsikan untuk menyambut tamu kehormatan. Salah satu kekhasan tari ini adalah puncak tariannya yang mana penarinya menaburkan bunga bagi para tamunya.


Tari Pontanu

Apabila Tari Pomonte menggambarkan kebiasaan wanita Donggala dalam bertani, Tari Pontanu menggambarkan kebiasaan lain mereka yakni menenun. Pontanu menyajikan ragam gerak yang mencoba menggambarkan aktivitas para penenun Sarung Donggala, yakni jenis sarung khas dari Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Tari ini sering ditampilkan untuk menyambut tamu, festival budaya dan promosi wisata.

Dalam prakteknya, Pontanu dibawakan oleh setidaknya 4 penari wanita. Mereka memulai tari dengan gerak yang dikreasikan, sebelum kemudian mempertunjukkan gerak seolah sedang menenun. Adapun pada babak akhir mereka mengibarkan sarung layaknya bendera seolah memamerkan hasil karya tenunannya. Sebagai musik pengiring digunakan Ngongi (sejenis Gong) dan Ganda (sejenis Gendang)


Tari Baliore

Banyak di antara tarian dari Sulawesi Tengah menggambarkan kegembiraan sehubungan dengan pesta panen padi. Selain sebagian tari yang telah disebutkan di atas, ada juga Tarian Baliore. Tari ini lebih menggambarkan keindahan gadis-gadis yang tengah bergembira menyambut panen tiba. Mereka menari dengan lincahnya dengan diiringi oleh tetabuhan gendang.


Tari Posisani

Tari Posisani merupakan tarian pergaulan tradisional Sulawesi Tengah yang menggambarkan keceriaan kaum muda di saat pesta. Mereka bergembira bersama sambil menari dan menyanyi. Tari ini juga sering kali menjadi ajang mencari jodoh karena di dalamnya para penari saling berkenalan satu sama lain. Istilah Posisani sendiri memiliki arti perkenalan.


Tari Mo Ende

Di Kabupaten Poso ada Suku Lore yang juga memiliki tarian khasnya. Salah satunya adalah Tari Mo Ende yang terlahir sebagai hiburan di masa-masa terhimpit ketika Jepang menjajah wilayahnya. Tari ini mencoba menggambarkan kehidupan remaja yang penuh kegairahan dan potensi. Tari Mo Ende ditarikan oleh 8 hingga 12 orang penari dalam formasi lingkaran. Sebagai pengiring digunakan Gendang, Gong dan Juk (Keronco).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *