Tarian Sulawesi Utara – Daftar 10 Nama Tarian Daerah dari Sulawesi Utara

Tarian Sulawesi Utara. Masing-masing provinsi di Indonesia memiliki etnisitas cenderung heterogen. Kenyataan itu, salah satunya yang memperkaya corak kebudayaan suatu daerah. Demikian halnya di Sulawesi Utara (Sulut). Meski suku pribumi tetap mewakili kekhasan Sulut, pengaruh budaya pendatang juga turut mewarnainya. Tidak terkecuali budaya sisa-sisa penjajahan di masa lalu.

Pengaruh tersebut bisa dilihat dari produk budaya yang ada. Lebih kentara dalam kesenian, khususnya Seni Tari sebagai bentuk seni yang banyak ragamnya. Setidaknya ada 14 suku bangsa di Sulut dan Minahasa menjadi yang paling mendominasi, baik dalam jumlah maupun budayanya. Selain memiliki kedekatan dengan Maluku, budaya Minahasa juga bersinggungan dengan budaya Eropa (Portugis-Spanyol).

Selain itu, ada Suku Bolaang Mongondow, Suku Sangihe, Suku Talaud, Suku Siau dan suku lainnya di Sulawesi Utara. Masing-masing suku tersebut turut andil mengukuhkan citarasa budaya di provinsi yang beribukota Manado ini. Seni budaya Sulut sangat banyak, namun artikel ini fokus pada ragam seni tarinya, itupun tidak semuanya. Di sini hanya dimuat 10 tarian dari Sulawesi Utara beserta penjelasan singkatnya.


Daftar 10 Tarian Sulawesi Utara


Tari Maengket

Tari Maengket - Tarian Sulawesi Utara
sumber : @bennyjmamoto

Maengket merupakan tarian daerah Sulawesi Utara khas Suku Minahasa. Sebuah tarian kelompok berpasangan, umumnya 12 pasang penari pria dan wanita. Mereka menari sambil menyanyi dipimpin oleh seorang wanita yang disebut kapel. Istilah Maengket berasal dari kata “engket” yang berarti bergerak bersama.

Maengket telah menjadi bagian budaya masyarakat Minahasa sejak mereka mengenal pertanian. Pada mulanya hanya berupa nyanyian-nyanyian sakral yang dimaksudkan untuk kepentingan-kepentingan khusus. Terlahir dalam lingkup masyarakat petani sebagai bagian dari upacara padi yang sakral.

Dalam tari ini dikenal tiga jenis penyajian, yakni Maowey Kamberu, Marambak, dan Lalayaan. Ketiga jenis dibedakan oleh tema dan hanya Maowey Kamberu yang berkaitan dengan pertanian. Marambak bertemakan seputar pembangunan rumah baru, sementara Lalayaan lebih kepada tarian pergaulan muda mudi.


Tari Kabasaran

Tari Kabasaran Minahasa
sumber : merahputih.com

Kabasaran merupakan karya besar tou Minahasa yang telah menjadi identitas budaya, selain Tari Maengket dan Tari Pisok. Salah satu tari tradisional Sulawesi Utara yang bertemakan perang atau tari keprajuritan. Tarian Kabasaran mencoba mewakili citra kesatria Minahasa yang memiliki sifat jantan dan berani.

Istilah Kabasaran berasal dari “Kawasalan“. Awal katanya adalah wasal (wasar) yakni kata yang digunakan untuk menyebut ayam jantan yang telah dipotong mahkotanya agar lebih galak ketika menyabung. Tarian ini memang menyajikan gerak imitatif seperti menirukan gerakan dua ayam jantan yang sedang bertarung.

Kabasaran sering dikaitkan dengan Tari Cakalele Maluku. Mungkin karena dalam penyajiannya ada satu babak yang istilahnya sama, namun pengertiannya berbeda. Karena bertemakan perang, para penari yang membawakannya dipersenjatai pedang atau tombak. Umumnya dipertunjukkan saat mengawal tokoh penting Minahasa, juga sebagai tari penyambutan atau saat pesta adat.


Tari Tatengesan
Tari Tatengesan - Tarian dari Sulawesi Utara
sumber : www.seputarsulut.com

Masyarakat Minahasa memiliki banyak sekali tarian. Satu di antaranya adalah Tari Tatengesan. Namanya diambil dari nama desa kelahirannya, yakni Desa Tatengesan dan mengisahkan cerita rakyat di desa tersebut. Tentang perjuangan masyarakat desa melawan bajak laut Mindanou dari perairan Filipina.

Tari ini pertama kali dipentaskan saat memperingati terbentuknya desa Tatengesan di tahun 1983. Memadukan nilai sejarah dengan tradisi budaya Minahasa yang diekpresikan melalui tata gerak dan karakteristik dalam 9 gerakan. Musik pengiringnya adalah Kolintang, Tambur, Suling, Tetengkoren, dan Momongan.

Oleh Taman Budaya Sulawesi Utara, Tari Tatengesan telah diolah sehingga menjadi sejenis sendratari. Sendratari Tatengesan diperankan oleh pria dan wanita secara berkelompok dengan melibatkan 9 orang atau lebih. Selain di desa asalnya di Kabupaten Minahasa Tenggara, Tatengesan juga bisa didapati di Manado.


Tari Uwela

Tari Uwela - Tarian Daerah Sulawesi Utara
sumber : sanggarkitawaya.wordpress.com

Tari Uwela merupakan tarian dari Suku Bolaang Mongondow. Sejenis tari kerakyatan yang hanya ditampilkan dalam acara-acara khusus. Seperti ketika ada pengerjaan kebun atau suatu acara yang membutuhkan banyak orang. Fungsinya tersebut terkait erat dengan sejarah yang mengawali terbentuknya tarian ini.

Ada suatu kisah tentang pembangunan jembatan oleh penduduk Bolaang Mongondow. Karena melibatkan bahan kayu yang besar dan berat, maka merekapun bekerja secara gotong-royong dengan satu orang menjadi kapel (komandan). Ia memerintah menggunakan istilah “helaan” dan dijawab “hela” secara serentak oleh yang lain.

Uniknya, jawaban serentak itu diucapkan secara berirama. Lahirlah istilah “uwela” menyesuaikan lafal khas Bolaang Mongondow. Istilah ini berarti “tarik” dalam bahasa Indonesia. Singkat cerita, jadilah Tari Uwela dengan 5 pasang atau lebih penari ditambah satu orang sebagai kapelnya.

Di dalam tari ada syair Uwela-Aina Uwela. Lagu ini menjadi sambutan serentak para penari setelah sang kapel selesai membacakan bait-bait sastra. Gerakan tari yang dihadirkan cenderung berulang-ulang. Tari ini juga diiringi alat musik khas Bolaang Mongondow, seperti Bonsing, Tantabua, Dadalo, Tababo, Galantung dan Tambor.


Tari Tumatenden

Tari Tumatenden - Tarian Sulawesi Utara
sumber : youtube.com

Tari Tumatenden merupakan Tarian Daerah Sulawesi Utara yang pernah masuk dan tercatat dalam museum rekor dunia Indonesia (MURI). Pemecahan rekor tersebut diperoleh setelah Tarian Tumatenden dibawakan oleh 2.400 penari pada tahun 2011. Bertempat di Lapangan Megamall Manado dalam rangka HUT ke-8 Pasific TV.

Tumatenden terkait dengan cerita rakyat Minahasa dari sub-etnis Tonsea di Minahasa Utara. Kisahnya mirip legenda Jaka Tarub dengan 7 bidadari di Tanah Jawa. Namun di Tonsea, ada 9 bidadarinya. Tumatenden adalah 9 pancuran bidadari yang hingga saat ini ada dan dipelihara. Kisah legenda ini diabadikan, salah satunya dalam bentuk tarian.


Tari Kabela
Tari Kabela Tari Tradisional Sulawesi Utara
sumber : tiarafitra.wordpress.com

Tarian Sulawesi Utara selanjutnya merupakan salah satu dari ragam tarian Bolaang Mongondow, yakni Tari Kabela. Dalam bahasa setempat tari penyambutan tamu ini disebut juga boyo-boyo yang berarti tempat sirih pinang. Sebelum tamu menyampaikan maksud dan tujuan, tuan rumah biasa menyuguhkan sirih pinang.

Kabela merupakan kotak yang berisi pinang, sirih dan cengkeh. Di bagian luar kabela dihias dengan manik-manik yang berbentuk simbol geometrik. Kotak yang melekat dalam budaya penerimaan tamu inilah yang kemudian dirupakan dalam bentuk seni tari yang secara simbolis mengukuhkan besarnya penghormatan.

Tari Kabela dibawakan oleh 3 hingga 9 penari perempuan. Mereka menari dalam durasi sekitar 7 menit dengan diiringi musik dan lagu tradisional Suku Bolaang Mongondow. Menariknya, kini dalam kota Kabela tidak lagi berisi sirih pinang, melainkan bunga-bunga yang nantinya ditaburkan pada tamu yang datang.


Tari Pisok

Tari Pisok Minahasa
sumber : youtube.com

Selain Tari Kabasaran dan Tari Maengket, tari tradisional yang telah menjadi identitas budaya bersama suku Minahasa di Sulawesi Selatan adalah Tarian Pisok. Sebuah tari pergaulan kerakyatan yang diperkirakan muncul sekitar tahun 1940.

Sebagai identitas budaya Minahasa, eksistensi tarian ini tetap lestari dan sering ditampilkan di berbagai acara. Pada tahun 2004, Tarian Pisok pernah dijadikan salah satu filateli (perangko) Indonesia, bersama produk kebudayaan lain yang ada di Indonesia.

Tarian Pisok mencoba melukiskan kehidupan dari kawanan burung Pisok atau burung Gereja. Kehidupan burung Pisok cukup mewakili kehidupan masyarakat Minahasa. Meski terbagi menjadi 8 sub suku dengan bahasa yang berbeda-beda, mereka selalu hidup rukun.


Tari Gunde

Tari Gunde
sumber : youtube.com

Tarian khas Sulawesi Utara lainnya adalah Tari Gunde, tarian tradisional kebanggaan masyarakat Sangihe Talaud. Sebuah tari sakral sebagai persembahan kepada Genggona Langi (Tuhan Yang Maha Kuasa). Ini merupakan tarian adat yang sempat menjadi tari istana hingga kemudian kembali menjadi milik rakyat.

Tarian Gunde telah demikian mentradisi dalam perannya yang menjadi bagian dari berbagai upacara adat. Semuanya serba adat, termasuk busananya yang disebut Leku Tepu. Gunde bukanlah tari yang dikembangkan. Namun dijaga, dilestarikan dan dipertahankan sesuai bentuk keasliaannya, karena sifatnya yang sakral.

Dalam Tari Gunde, disajikan gerakan-gerakan sederhana. Penarinya adalah 13 orang wanita dengan seorang pemimpin tari yang disebut Patangataseng. Mereka menari dengan lemah gemulai untuk melambangkan kehalusan budi dan keagungan wanita Sangihe Talaud. Tarian mereka harmoni bersama iringan lagu Sasambo serta alat musik Tagonggong.


Tari Katrili
Tari Katrili
sumber : www.indonesiakaya.com

Umumnya, tari tradisional Minahasa senantiasa melekat menggambarkan corak hidup masyarakat yang agraris. Namun tidak semuanya begitu, salah satunya dicontohkan oleh Tari Katrili yang biasanya dipentaskan oleh muda mudi. Tari yang mentradisi sebagai jejak persinggungan budaya Minahasa dengan budaya Eropa, yakni Portugis-Spanyol.

Kultur Eropa kentara dalam Katrili. Dalam buku Sejarah dan Kebudayaan Minahasa oleh Jessy Wenas, disebutkan nama tarian ini berasal dari bahasa Eropa, yaitu Quadrille. Tari ini memiliki dua jenis langkah, yaitu Waltz irama 3/4 dan Gallop langkah 2/4, dengan aba-aba komando dilakukan oleh pemimpin tari dalam bahasa Perancis.

Katrili berasal dari Lalaya’an ne Kawasaran, yaitu tarian dengan formasi dua baris saling berhadapan dan bertukar tempat. Di masa pendudukan Spanyol di Minahasa, tarian adat ini berubah menjadi tari pergaulan, dikenal dengan nama Lansee. Ditarikan oleh pria dan wanita berpasangan yang bergerak berputar dan bertukar posisi.

Penari perempuannya mengenakan gaun dan laki-lakinya mengenakan jas yang lekat pengaruhnya dengan kebudayaan Eropa. Tarian ini dipimpin seorang Kapel atau Katapel yang memberi aba-aba kepada para penari untuk melakukan gerakan tertentu. Dalam iringan alat musik tradisional Minahasa, Katrili sering dipentaskan dalam berbagai acara.


Tari Mesalai

Selain Tari Gunde, masyarakat di Kepulauan Sangihe Talaud juga memiliki Tari Mesalai. Dulu, tari ini merupakan bagian dari suatu ritual untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Genggona Langi Duatung Saluruang (Tuhan Yang Maha Tinggi Penguasa Alam Semesta). Seiring perkembangannya, juga digunakan sebagai pelengkap dari upacara adat dan syukuran lainnya.

Tari Mesalai disajikan secara berpasangan antara penari pria dan wanita. Mereka mengenakan baju adat Sangihe Talaud, Leku Tepu. Pengiring tari adalah tegonggong yang dipadukan dengan sasambo. Sasambo adalah lagu pujian yang berisi ajaran tentang baik dan buruk, hubungan antarmanusia, manusia dengan Sang Pencipta, dan manusia dengan alam lingkungannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *