Rumah Adat Sumatera Selatan – 7 Bangunan Rumah Tradisional di Sumsel

Perihal kebudayaan Sumatera Selatan, kita bisa mengacu pada Batanghari Sembilan, yang secara fisik mewakili sungai-sungai besar di Sumsel. Berbagai produk budaya di sana berakar dari budaya Batanghari Sembilan, termasuk rumah adat Sumatera Selatan, rumah tradisional bagi kelompok etnik di hulu dan hilirnya.

Orang-orang Uluan (Ulu) yang mendiami hulu Batanghari Sembilan, setidaknya terdiri dari 3 etnis besar, yakni Komering, Basemah dan Rejang. Sub-etnis dari Komering dikatakan masih satu rumpun dengan Lampung Saibatin. Sementara itu, sub-etnis dari Basemah dan Rejang cukup terkait dengan masyarakat di Bengkulu.

Orang-orang Iliran (Ilir) adalah etnis-etnis di hilir Batanghari Sembilan, yakni di Kota Palembang. Rumah Limas, Rumah Rakit dan Rumah Gudang merupakan contoh rumah tradisional Sumsel bagi orang Iliran. Adapun rumah adat orang Uluan umumnya disebut Rumah Ulu, namun masing-masing unik dalam penamaannya.

Di bawah ini akan dijelaskan secara singkat masing-masing rumah tradisional atau rumah adat Sumatera Selatan, baik arsitektur rumah tradisional Palembang maupun ragam jenis Rumah Ulu. Di antaranya ada Rumah Limas, Rumah Rakit, Rumah Cara Gudang, Ghumah Baghi, Baghi Semende dan Rumah Komering.

Daftar Rumah Adat Tradisional Sumatera Selatan


Rumah Rakit

Rumah Rakit Palembang Sumatera Selatan
credit: Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures, CC BY-SA 3.0

Rumah Rakit merupakan rumah tempat tinggal terapung di air yang dibangun di atas sebuah rakit. Rakit yang digunakan bisa berupa rangkaian balok-balok kayu maupun bambu. Ini merupakan rumah tinggal tetap sehingga pada keempat sudutnya dipasang tiang agar bangunannya tidak berpindah-pindah tempat.

Bahkan, untuk memperkuat tiang tersebut, digunakan juga jalinan rotan besar sebagai tali untuk diikatkan pada suatu tonggak di tepian sungainya. Rumah ini bentuknya persegi panjang, namun karena selisih ukuran panjang dan lebarnya sedikit, sehingga bentuknya lebih terlihat seperti bujur sangkar.

Bentuk Rumah Rakit sederhana dengan atap berupa atap kajang, sebagian orang menyebutnya atap cara gudang. Umumnya rumah hanya terdiri dari dua bagian dengan dua buah pintu, satu mengarah ke tepi, satunya mengarah ke tengah sungai. Jendela diletakkan di kanan-kiri, ada juga yang searah pintunya.

Agar terhubung dengan daratannya, digunakanlah sebuah jembatan dari rangkaian kayu atau bambu. Dahulu, rumah tradisional Palembang ini diperuntukan bagi pendatang asing agar pihak kesultanan dapat dengan mudah memantau pergerakan pendatang. Namun, penduduk setempat ada juga yang memilikinya.

Rumah Limas

Rumah Adat Palembang Sumatera Selatan
credit: flickr/baka_neko_baka/CC BY 2.0

Disebut Rumah Limas karena atap rumah tradisional daerah Iliran ini berbentuk limas. Bentuk yang lebih umum adalah Limasan Gajah Njerum dikarenakan bentuk bangunannya adalah empat persegi panjang. Rumah ini berdiri di atas tiang dengan lantai berundak (2-4 buah) yang dibentuk persegi panjang juga.

Bahan dasarnya adalah kayu, seperti kayu petanang dan unglen, serta kayu merawan sebagai bahan pembuatan kekijing atau lantainya. Di muka rumah ini terdapat tangga (kanan-kiri) yang anak tangganya berjumlah ganjil (diyakini membawa keberkatan). Di sekitar tangga terdapat tempayan air untuk mencuci kaki.

Rumah Limas ada yang memiliki teras, ada yang tidak. Dinding bagian muka tidak berjendela, hanya ruji-ruji kayu berukir tembus. Jendela ditempatkan di kanan-kiri di setiap lantai. Antara lantai (bagian muka) dan bagian tengah terdapat beberapa kiyam (penyekat) yang masing-masing bisa diangkat ke atas seperti pintu.

Bagian tengah biasanya terdiri dari beberapa kekijing. Dan, terdapat lemari dinding yang biasanya memiliki dua kamar atau amben di sisi kanan-kirinya. Bagian belakang adalah ruang dapur. Bagian ini ada yang dibuat menyatu dengan rumah, ada juga yang terpisah. Jika terpisah, maka diberi tangga di kanan-kirinya.

Rumah Limas pada awalnya merupakan rumah adat Palembang yang dijadikan tempat tinggal para bangsawan di sana. Namun, seiring dengan meluasnya pengaruh Kesultanan Palembang hingga ke daerah Ulu, maka rumah jenis ini pun bisa dijumpai juga di daerah Ulu. Banyak juga yang berdampingan dengan Rumah Ulu.

Rumah Gudang

Rumah Cara Gudang Sumatera Selatan

Rumah Gudang atau disebut juga Rumah Cara Gudang bentuknya panjang seperti gudang. Seperti halnya Rumah Limas, atap rumah ini juga berbentuk limas, namun menggunakan Limas Bapangan seperti bangunan tradisional Jawa. Lantai rumah ini dibuat tidak berundak, seperti adanya kekijing pada Rumah Limas.

Ini juga tergolong rumah panggung karena berdiri di atas tiang. Dan, berbahan kayu serupa yang digunakan untuk membangun Rumah Limas. Memiliki tangga (anak tangganya ganjil) di kanan-kiri garang (bagian depan) sebelum memasuki beranda. Garang memiliki dua dinding dan umumnya diberi ruji berukir.

Sebagai bangunan induk, beranda berbentuk bujur sangkar dengan tiga bidang dinding yang juga diberi ruji berukir. Dinding keempat merupakan dinding rumah itu sendiri. Jendela baru ditemukan di kanan-kiri ruang tengah (ruang utama) dan ruang belakang yang terdiri dari kamar, dapur serta ruang makan.

Karena beratap limas, kadang Rumah Gudang disebut Rumah Limas Gudang. Ada juga yang atapnya mirip perisai. Ini adalah rumah rakyat dan banyak ditemui di banyak daerah. Dulunya, kolong rumah digunakan sebagai gudang atau kandang ternak, namun sekarang banyak yang dimodifikasi sebagai ruang tambahan.

Ghumah Baghi

Rumah Adat Besemah Sumatera Selatan
credit: Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures, CC BY-SA 3.0

Ghumah Baghi atau Rumah Ulu Basemah merupakan rumah khas suku Basemah di daerah Pagar Alam. Berjenis rumah panggung dengan jarak ketinggian lantai dengan tanah berkisar 1,5 meter. Tiang penyangga tidak ditanam, melainkan didudukkan di umpak batu. Tiang-tiang disusun mengikuti geografi tanah pegunungan.

Bentuk bangunannya persegi beratap tinggi mirip trapesium, sedikit melengkup, namanya piabung. Ghumah Baghi memiliki 4 jenis, di antaranya Tatahan (berbahan kayu dengan ukiran di dinding luar), Kilapan (dari kayu, namun tanpa ukiran), Padu Kingking (paduan kayu dan bambu), dan Padu Ampagh (dari bambu).

Ghumah Baghi memiliki 3 ruangan, yakni beruge (garang), sengkar bawah, dan sengkar atas. Beruge merupakan bagian luar yang terhubung dengan tangga. Beruge dibatasi oleh dinding berpintu dengan sengkar bawah di dalam rumah. Sengkar bawah dan sengkar atas terpisah berdasarkan ketinggian lantai.

Karena berada di daerah pegunungan, Rumah Ulu Basemah didesain minim ventilasi. Ini dimaksudkan agar ruangan menjadi lebih hangat karena umumnya hanya difungsikan untuk istirahat di malam hari. Ketika siang hari, rumah ini jarang dihuni karena semua orang sibuk bekerja di ladang atau sawah.

Baghi Semende

Rumah Adat Muara Enim Sumsel
credit: titasyahputri.blogspot.com

Suku Semende merupakan sub-etnis suku Basemah. Mereka sebagian besar mendiami daerah Muara Enim. Oleh karena itu, bentuk rumah adat suku Semenda memiliki kemiripan dengan Ghumah Baghi. Rumah Ulu Semende atau disebut juga Baghi Semende bisa dikatakan sebagai transformasi dari Ghumah Baghi.

Kemiripan bentuknya terlihat pada atap yang sedikit melengkung. Bedanya, Baghi Semende memiliki bangunan tambahan yang dibatasi sekat. Juga, memiliki jendela. Rumah Tunggu Tabang adalah nama lainnya, karena rumah ini dipindahtangankan berdasarkan adat Tunggu Tabang yang menganut sistem matrilineal.

Rumah Ulu Ogan

Rumah Ulu Ogan Sumsel
credit: Rochelimit, CC BY-SA 4.0

Suku Ogan juga merupakan sub-etnis dari suku Besemah, sehingga rumah adatnya juga dikatakan transformasi dari Rumah Ulu Besemah. Suku Ogan memberi penambahan atap tritisan ke depan maupun ke samping sesuai penambahan ruang yang ada. Atap di area tritisan ditopang oleh tiang-tiang yang tinggi.

Karena ada penambahan tritisan, maka tiang-tiang Rumah Ogan jumlahnya lebih banyak dan terlihat lebih tinggi. Atap utama rumahnya juga tidak melengkung serta tidak memiliki perbedaan ketinggian lantai antar ruangnya. Rumah Ogan banyak tersebar di tepian Sungai Ogan, khususnya di Ogan Komering Ulu (OKU).

Rumah Komering

Rumah Ulu Komering Sumsel
credit: Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures, CC BY-SA 3.0

Mengakhiri daftar rumah adat Sumatera Selatan, ada Rumah Ulu Komering yang merupakan rumah tradisional suku Komering di tepian Sungai Komering. Rumah ini beratap pelana tanpa lekukan. Memiliki persilangan listplank di kedua ujung atapnya. Ini juga merupakan rumah panggung, namun dengan tiang yang ditanam.

Sub-suku dari suku Komering, yakni suku Ranau juga memiliki rumah adat tersendiri yang dinamakan Lamban Tuha. Juga berjenis rumah panggung beratap pelana kuda yang tinggi dengan kemiringan 45 derajat. Lantainya papan yang memanjang ke belakang. Rumah ini relatif tahan gempa karena memiliki 2 pondasi.

Keunikan lain dari Rumah Lamban Tuha adalah ruang yang lebih banyak ketimbang Rumah Ulu lainnya. Terdiri dari 7 ruang, yakni Kebik atau teras dengan tangga di sisi kanan, Parogan atau ruang tamu biasa, Lapang Unggak atau ruang tamu resmi yang kadang memiliki lebing sebagai kamar tidur laki-laki.

Selanjutnya ada Lapang Tengah yang lebih privat, terpisah ketinggian lantai dan dinding. Lapang Tengah adalah tempat berkumpul keluarga dan memiliki lebing serta pagu hantu untuk menyimpan barang penting. Ada juga Ruang Doh (dapur) serta Garang Lepau yakni teras samping dengan tangga hubung ke Lapang Tengah.


Demikian 7 contoh rumah adat tradisional di Sumatera Selatan disertai penjelasan singkatnya. Jika tertarik untuk lebih mengetahui ragam kebudayaan di Sumatera Selatan, bisa juga melihat Daftar Tarian di Sumatera Selatan dan Makanan Khas Sumatera Selatan. Atau, baca Ragam Pakaian Adat Palembang.

Referensi:

  1. repositori.kemdikbud.go.id…
  2. id.wikipedia.org/wiki/Arsite…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *