Tarian Daerah Jambi – Berikut Daftar 10 Nama Tarian Khas Provinsi Jambi

Tarian Daerah Jambi. Tari merupakan kesenian yang bisa dikatakan paling banyak ragamnya. Dalam fungsi yang bermacam-macam, masing-masing provinsi di Indonesia memiliki tarian tersendiri, tidak terkecuali Provinsi Jambi.

Tarian Jambi merupakan produk budaya dari suku-suku yang mendiaminya. Di antara banyaknya suku yang ada, Suku Kerinci dan Suku Melayu sangat mendominasi dalam hal kebudayaan, termasuk melahirkan banyak tari-tarian.

Dalam artikel ini telah disajikan contoh tarian dari Jambi. Tidak mencakup semua, setidaknya ada 10 nama tarian Jambi yang telah disertai penjelasan singkatnya. Jika tertarik, sebelumnya juga telah diposting Daftar Tarian Daerah Sumatera Barat.


Daftar 10 Tarian Daerah Jambi


Tari Sekapur Sirih

Tari Sekapur Sirih
sumber : budaya-indonesia.org

Tari Sekapur Sirih merupakan salah satu tarian tradisional Jambi yang difungsikan untuk menyambut tamu kehormatan. Beberapa sumber mengatakan bahwa tarian ini diciptakan pertama kali tahun 1962 oleh Firdaus Chatap, seorang seniman ternama di Jambi.

Biasanya tari ini dibawakan oleh 9 penari perempuan yang dikawal oleh 2 penari laki. Ada juga 1 penari laki-laki yang bertugas membawa payung. Para penari mengenakan baju adat Jambi, properti yang digunakan di antaranya cerano berisi daun sirih, payung dan keris.

Sajian tarian Sekapur Sirih terkesan anggun melalui kelembutan dan kehalusan gerak yang menggambarkan ungkapan rasa putih hati masyarakat dalam menyambut tamu mereka. Keindahan gerak tersebut menyatu dengan syair dan musik langgam khas Melayu.

Meski dikenal sebagai tarian Daerah Jambi, Sekapur Sirih juga bisa ditemukan di wilayah Riau dan Kepulauan Riau. Bahkan, tarian ini juga terkenal di Malaysia dan menjadi sebuah tarian wajib yang disajikan untuk menyambut tamu-tamu besar.


Tari Selampit Delapan

Selampit Delapan - Tarian Daerah Jambi
sumber : explorejambi.com

Selampit Delapan merupakan salah satu nama tarian Jambi yang populer, selain Tari Sekapur Sirih. Untuk pertama kalinya, tarian ini diperkenalkan oleh M. Ceylon, seorang koreografer senior asal Padang Sidempuan yang bertugas di Dinas Kebudayaan Jambi tahun 1970-an.

Perihal namanya, “Selampit Delapan” merujuk pada properti berupa 8 tali. Karena ada 8 tali, tarian ini pun melibatkan 8 orang penari. Di awal penciptaannya, tali yang digunakan adalah sumbu kompor. Melalui saran O.K. Hundrik, tali tersebut kemudian diganti dengan selendang.

Tari Selampit Delapan merupakan tarian pergaulan. Silang begantung delapan selendang menjadi simbol bahwa bergaul harus saling bergantungan satu sama lain, saling tali temali rasa kekeluargaan. Dengan musyawarah dan kegotong royongan sebagai falsafah hidup masyarakat Melayu Jambi.


Tari Inai

Tari Inai - Tarian Khas Jambi
sumber : kesenianjambi.wordpress.com

Tarian daerah Jambi selanjutnya adalah Tari Inai, sebuah tarian sakral bagian dari upacara pengantin masyarakat Melayu. Tidak hanya di Jambi, tarian ini juga bisa dijumpai di daerah-daerah Melayu lainnya. Bahkan, dulunya tarian ini lebih banyak ditemukan di daerah-daerah di Provinsi Kepulauan Riau.

Tarian Inai di masing-masing daerah Melayu sangatlah unik, baik ragam, gerak, hingga perlengkapan tari yang digunakan. Di Jambi, tarian ini sering dibawakan secara berpasangan, meski kadang-kadang juga ada yang dibawakan secara tunggal. Umumnya penarinya adalah laki-laki dan gerakannya bersumber dari gerakan silat.

Dalam pelaksanaannya, sehubungan dengan upacara adat pengantin, tari ini biasa dibawakan malam hari selepas Sholat Isya. Tarian ini menjadi bagian penting dalam acara memberi tanda kepada pengantin. Pada tahun 2017 yang lalu, Tari Inai diusulkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) nasional.


Tari Tauh (Rantau Pandan)
Tari Tauh - Tarian dari Jambi
sumber : @taujambi

Tari Tauh merupakan tarian tradisional Jambi yang berasal dari Desa Rantau Pandan, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Tarian yang diwariskan turun temurun ini menggambarkan pergaulan muda mudi. Biasa disajikan ketika menyambut Rajo, Berelek Gedang, dan Beselang Gedang (gotong royong menuai padi).

Dalam pelaksanannya, empat pasang laki-laki dan perempuan berpakaian Melayu menari diiringi Kelintang Kayu, Gong, Gendang, dan Biola yang mengalunkan Krinok dan pantun-pantun anak muda. Durasi penyajian tarian tak menentu, yakni tergantung kepada panjangnya pantun yang dibawakan.


Tari Rentak Besapih

Tari Rentak Besapih
sumber : www.jambinetwork.com

Tarian khas Jambi yang terkait erat dengan sejarah Jambi adalah Tari Rentak Besapih. Semenjak dahulu Jambi dikenal sebagai kota perdagangan, hal inilah yang membuat provinsi ini memiliki keragaman suku yang mendiaminya. Keragaman tersebut kemudian direpresentasikan dalam tarian ini.

Sehubungan dengan hal itu, Rentak Besapih menyajikan rentak langkah dari berbagai etnis menjadi suatu kesatuan utuh. Nuansa keakraban, kerja sama dan saling tolong menolong tergambar dengan baik dalam gerak tari yang digarap dalam bentuk tarian khas Melayu Jambi.

Tari ini disajikan oleh 8-10 penari berpakaian adat Melayu Jambi disertai hiasan kepala dan kain tenun Melayu. Tarian ini hidup secara turun temurun dan biasanya digelar untuk memeriahkan pesta rakyat. Sayangnya, saat ini Rentak Besapih termasuk dari salah satu tari yang mulai jarang dipertunjukkan.


Tari Rentak Kudo

Rentak Kudo - Tarian Daerah Jambi
sumber : @ma_nurulhuda_sedati

Tari Rantak Kudo atau Rentak Kudo adalah tarian daerah Jambi yang berasal dari Hamparan Besar Tanah Rawang (Hamparan Rawang), Sungaipenuh, provinsi Jambi. Tari ini adalah budaya asli masyarakat Kerinci yang awalnya menjadi bagian dari perayaan sakral untuk merayakan hasil panen padi.

Disebut Rantak Kudo karena gerakan kaki penari berhentak-hentak dan hentakannya seakan-akan senada dengan bunyi hentakan kaki Kuda. Sebagai bagian dari upacara yang sakral, tari ini difungsikan sebagai sarana memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, ketika Masyarakat Kerinci dilanda musim kemarau panjang.


Tari Nitih Naik Mahligai
Tari Nitih Naik Mahligai
sumber : galerifotoedwin.blogspot.com

Selain Rentak Kudo, tarian Kerinci yang juga bersifat sakral adalah Niti Mahligai atau Nitih Naik Mahligai. Tarian ini termasuk dari salah satu jenis Tari Asik dalam kebudayaan masyarakat Kerinci. Tarian Asik merupakan jenis tarian upacara yang berkaitan dengan pemujaan roh nenek moyang.

Masing-masing Tari Asik memiliki fungsi yang berbeda-beda. Tari Nitih Mahligai dulunya digunakan untuk penobatan seorang raja. Hal ini telah juga diisyaratkan oleh namanya, “Niti” artinya berjalan di atas suatu benda, “Naik” berarti menuju ke atas, dan “Mahligai” berarti tahta atau istana.

Seiring perkembangannya, sekarang tarian ini lebih difungsikan sebagai tari penyambutan tamu-tamu besar pemerintah, sering kali juga disajikan pada acara Festival Peduli Danau Kerinci (FPDK). Tari ini dibawakan oleh penari perempuan dengan iringan musik gong, seruling, dan rebana.


Tari Kubu

Tari Kubu
sumber : www.indonesiakaya.com

Suku Anak Dalam atau Orang Rimba atau yang lebih populer disebut Suku Kubu merupakan suku bangsa minoritas yang hidup di perbatasan antara Jambi dan Sumatera Selatan. Mereka hidup secara semi-nomaden di sekitar hutan Taman Nasional Bukit 12.

Dalam kehidupan budaya Suku Kubu dikenal upacara pengobatan tradisional yang khas dan magis. Sebuah upacara penyembuhan dan pengusiran roh jahat, karena mereka percaya bahwa orang yang sakit tubuhnya adalah orang yang tengah dirasuki roh jahat.

Upacara tersebut kemudian menginspirasi lahirnya suatu bentuk tari kreasi, yakni Tari Kubu. Lima penari laki-laki dan lima penari perempuan menarikannya. Dengan memakai busana khas Suku Kubu, mereka membawakan gerakan yang bertumpu pada gerak tangan dan hentakan kaki.

Pada bagian akhir, digambarkan bagaimana seorang yang sakit diangkat beramai-ramai, didoakan dengan mantra-mantra, setelah sebelumnya diberi ramuan obat. Tarian ini disajikan dengan iringan alat musik tradisional seperti kendang, perkusi, dan kecrek.


Tari Rangguk
Tari Rangguk
sumber : @imo_nunic

Tarian dari Jambi lainnya adalah Tari Rangguk yang juga merupakan produk budaya dari masyarakat Kerinci. Konon, tarian ini berawal dari ide seorang ulama di Dusun Cupak. Sekitar abad ke-19, dikisahkan ulama tersebut menunaikan ibadah haji. Selain menyempatkan diri mendalami agama, ulama tersebut juga belajar kesenian tradisional Arab.

Ketika pulang, sang ulama mulai berdakwah menyebarkan agama Islam kepada masyarakat Kerinci. Agar menarik perhatian, beliau berdakwah sambil memainkan alat musik rebana yang diikuti dengan gerakan menganggukkan kepala dan melantunkan pantun dan pujian kepada Allah. Aktivitas kesenian inilah yang kemudian dikenal dengan Tari Rangguk.

Seiring perkembangannya, Tari Rangguk tidak lagi difungsikan sebagai media dakwah saja, namun sebagai pertunjukan hiburan. Jika untuk hiburan penari memainkan rebana dalam posisi melingkar. Adapun jika untuk menyambut tamu kehormatan, penari memainkannya dalam posisi berdiri. Tari ini biasanya jurut turut memeriahkan Festival Danau Kerinci.


Tari Kisan

Tari Kisan
sumber : youtu.be/AtFWmRU2yh0

Tari Kisan merupakan tarian khas Jambi yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Bangko, Provinsi Jambi. Pencipta aslinya tidak diketahui, namun tari ini telah ditata ulang oleh Daswar Edi pada tahun 1980 dan Darwan Asri pada tahun 1983. Tarian yang menggambarkan kegiatan mengolah padi menjadi beras ini dibawakan oleh penari remaja putri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *