Pakaian Adat NTT – 9 Nama Busana Tradisional Khas Nusa Tenggara Timur

Karena menampung sejumlah suku bangsa asli, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki warna kebudayaan yang sangat beragam. Oleh karena itu sehubungan dengan pakaian adat NTT, masing-masing suku bangsa di sana memiliki pakaian adat yang berbeda satu sama lain.

Di antara banyaknya suku asli NTT, merujuk pada wikipedia, jumlah terbesar adalah suku Atoni atau Dawan. Kemudian suku Manggarai, suku Sumba, suku Lamaholot, suku Belu, suku Rote, dan suku Lio. Suku bangsa asli lainnya juga termasuk suku Sabu, suku Helong, dan masih ada lagi.

Berikut adalah daftar busana tradisional Nusa Tenggara Timur, namun tidak mencakup pakaian adat semua suku. Oleh karena kurangnya informasi, masing-masing pakaian adat di bawah ini hanya disertai dengan penjelasan singkat. Demikian pula dengan gambar yang menyertainya.

9 Pakaian Adat Nusa Tenggara Timur (NTT)

Pakaian Suku Atoni/Dawan

Busana Adat Suku Dawan NTT
credit: instagram/muntiaraflobamora

Pakaian adat NTT dari suku Atoni atau Atoin Meto atau Dawan bernama baju Amarasi. Lelakinya memakai selimut tenun ikat dan baju dojo. Pakaian tersebut dilengkapi dengan beberapa perhiasan berupa kalung, ikat kepala berhias mutiara, gelang timor, dan muti salak.

Sementara itu, kelengkapan busana tradisional untuk perempuan suku Atoni mencakup sarung kain tenun, selendang, dan baju kebaya. Sebagai pelengkap pakaian ini terdapat perhiasan kalung muti salak, hiasan kepala mirip gelang, sisir emas, serta tusuk konde.

Pakaian Suku Manggarai

Pakaian Adat Manggarai Nusa Tenggara Timur
credit: Fakhri Anindita, CC BY-SA 4.0

Kain songke merupakan syarat wajib dalam busana adat NTT khas Manggarai, baik pria maupun wanita. Untuk pria, kain tersebut dikombinasikan dengan ikat kepala bermotif songke, kemeja putih lengan panjang, selendang, dan tubirapa (kain kecil warna merah).

Pakaian tradisional Manggarai untuk kaum perempuan juga termasuk kain songke. Kain tersebut dirupakan dalam bentuk sarung. Kemudian memakai perhiasan kepala mirip mahkota bernama Balibelo yang terbuat dari logam emas. Serta, selendang dengan motif songke.

Baca juga: Tari Caci, Tarian Tradisional Khas Manggarai

Pakaian Suku Sumba

Pakaian Adat Suku Sumba NTT
credit: flickr/azizainunnajib, CC BY-ND 2.0

Busana tradisional masyarakat Sumba sederhana atau tidak banyak pernak-pernik. Lelakinya mengenakan hinggi atau kain lebar sebagai penutup badan. Ada juga tiara patang, yakni ikat kepala berjambul, serta kabiala atau parang, hiasan kanatar dan muti salak.

Sedangkan untuk wanita, pakaian adatnya mencakup sarung setinggi dada dan berselimut selendang kain toba dengan motif senada. Pakaian ini dilengkapi hiasan haikara (tiara polos) dan moraga di dahi. Ada pula mamuli (anting-anting keemasan) dan kalung emas.

Baca juga: Tradisi Pasola dan Nyale Khas Suku Sumba

Pakaian Suku Lamaholot

Busana Tradisional Lamaholot
credit: borowangak.files.wordpress.com

Nowin dan Kwatek adalah nama untuk pakaian adat NTT dari suku Lamaholot. Nowin adalah kain tenun khas kaum laki-laki dengan motif datar berupa garis-garis. Aksesorisnya adalah kenobo (ikat kepala), kalabala (gelang gading), lodang, dan pastipo (sejenis keris).

Kwatek untuk wanita meliputi tenapi yakni kain tenun ikat berbahan sutra yang umumnya bermotif kuntum bunga. Wanita juga memakai mahkota bulan di bagian kening, sidok (kalung manik-manik emas), lodang, kalla (gelang gading), anting-anting, dan cincin selaka.

Pakaian Adat Suku Belu

Tari Likurai
credit: pesona.travel

Seperti halnya suku-suku lain di NTT, suku Belu juga khas dengan kain tenunnya. Dalam bahasa mereka kain tenun sebagai pakaian adat disebut tais. Penggunaan tais untuk pria dan wanita berbeda motifnya. Tais pria biasanya bermotif garis vertikal, sementara kebanyakan tais bermotif kecil dan abstrak.

Dalam acara-acara adat, tais umumnya dilengkapi dengan berbagai hiasan. Misalnya dalam pernikahan, pengantin pria dan wanita memakai busana lengkap dengan hiasan kepala, kalung, giwang, dll. Dahulu, wanita yang sudah menikah memakai tato bermotif tertentu untuk melambangkan status sosial.

Pakaian Suku Rote

Busana Adat Tradisional Rote
credit: Tropenmuseum, CC BY-SA 3.0

Pakaian adat suku Rote NTT termasuk salah satu yang terkenal di Indonesia. Selain unik, busana tradisional ini juga memiliki nilai sejarah. Meski tetap khas dengan penggunaan kain tenun NTT, keunikan yang paling kentara terletak pada ti’i langga, yakni topi yang melengkapi pakaian adat tersebut.

Topi ti’i langga yang berbentuk melebar terbuat dari bahan daun lontar kering. Tidak lupa, terdapat tambahan ornamen menjulang mirip cula atau jambul setinggi kurang lebih 40-60 cm. Ti’i langga merupakan topi bagi kaum pria sebagai simbolisasi rasa percaya diri dan kewibawaan yang memakainya.

Pakaian Adat Suku Lio

Pakaian Adat Tradisional Suku Lio
credit: instagram/amazing_ende

Suku Lio memiliki karya tenun tersendiri yang sangat terkenal, yakni tenun ikat patola. Namun, kain ini secara tradisional khusus dibuat untuk kalangan kepala suku dan kerabat kerajaan. Saking istimewanya, kain ini sering dikuburkan bersama jenazah sebagai penutup jenazah seorang bangsawan atau raja.

Ciri khas tenun patola adalah bermotif daun, dahan, ranting, biawak, dan manusia. Motifnya berukuran kecil geometris tersusun membentuk jalur-jalur kecil berwarna merah/biru di atas kain berwarna gelap. Untuk wanita, umumnya terdapat hiasan berupa manik-manik dan kulit kerang di tepi kain tenunnya.

Pakaian Suku Sabu

Pakaian Adat Suku Sabu NTT
credit: Tropenmuseum, CC BY-SA 3.0

Selanjutnya, masyarakat suku Sabu juga memperkaya pakaian adat Nusa Tenggara Timur dengan keunikan tersendiri. Pakaian adat mereka terdiri dari dua jenis, yakni pakaian adat untuk pria dan pakaian adat wanita. Kaum wanita menggunakan kombinasi baju kebaya dan sarung dari kain tenun atau pending.

Sedangkan kaum pria memakai kemeja putih berlengan panjang, selendang dan bawahan. Selendangnya terbuat dari kain tenun yang terselempang pada bagian bahu. Selanjutnya, pria juga memakai ikat kepala yang terbuat dari emas, kalung muti salak dan perhiasan leher lainnya, serta sabuk berkantong.

Pakaian Suku Helong

Busana Adat Tradisional Helong NTT
credit: youtu.be/X9tl7KCeX-E

Pakaian tradisional suku Helong juga sangat khas meski tidak lepas dari kain tenun sebagai bagian pakaian adat. Kelengkapan busana khusus laki-laki, untuk bawahan berupa selimut besar yang terikat pada bagian pinggang. Atasannya adalah baju bodo, memakai ikat kepala, habas, dan kalung.

Untuk kaum wanita, pakaian adat Helong terdiri dari kebaya, kemben serta tambahan perhiasan kepala yang bentuknya mirip bulan sabit. Kelengkapan baju tradisional ini termasuk ikat pinggang emas, sarung tenun, kerabu (giwang atau anting-anting), serta kalung dengan bentuk seperti bulan.


Demikian sekilas tentang keragaman pakaian adat suku-suku di Nusa Tenggara Timur. Tentu, daftar di atas tidak mencakup semuanya dan penjelasannya pun jauh dari lengkap, semoga bermanfaat. Jika tertarik dengan produk kebudayaan masyarakat NTT, bisa juga membaca Daftar Tarian Daerah NTT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *