Tarian Daerah Gorontalo – Berikut Daftar Nama Tari dari Provinsi Gorontalo

Tarian Daerah Gorontalo. Seperti halnya provinsi lain di Indonesia, Gorontalo juga memiliki produk budaya dengan ciri khasnya tersendiri. Islam, sebagai agama mayoritas Suku Gorontalo sangatlah mempengaruhi kehidupan budaya mereka, termasuk dalam hal berkesenian.

Secara umum aktivitas berkesenian di Gorontalo difungsikan, di antaranya untuk penyambutan tamu, penobatan, perkawinan, dan pemakaman. Masyarakat Gorontalo memiliki seni bela diri yang khas, yakni Langga. Ada juga Tanggomo, sastra lisan berirama berbahasa Gorontalo.

Selain yang telah disebutkan, masih banyak produk seni yang senantiasa berkembang. Suku Gorontalo juga memiliki banyak ragam tari-tarian. Beberapa di antaranya akan disebutkan dalam artikel ini dengan disertai penjelasan singkatnya.


Daftar Tarian Daerah Gorontalo


Tari Dana-Dana

Tari Dana-Dana
sumber : infopublik.id

Dana-Dana adalah seni budaya asli masyarakat Gorontalo. Sejenis tari pergaulan yang secara keseluruhannya menggambarkan keakraban muda-mudi. Selain gerakannya yang dinamis dalam iringan gambus dan rebana, nuansa keakraban juga terwakili oleh syair bertemakan cinta, atau petuah-petuah pergaulan remaja.

Dalam fungsinya, tarian Dana-Dana bisa menjadi tari penyambutan dan tari perayaan. Sebagai tari penyambutan disajikan untuk menyambut tamu, sedangkan tari perayaan dipersembahkan saat ada perayaan tertentu, seperti pernikahan, pagelaran seni budaya dan lain sebagainya.

Dalam sejarahnya, Tari Dana Dana hadir pada tahun 1525 Masehi atau seiring masuknya agama Islam ke Gorontalo. Untuk pertama kalinya, tarian kerakyatan ini ditampilkan pada acara pernikahan Raja Sultan Amay dengan Putri Owotango.

Di masa awal tarian ini hanya dibawakan oleh kaum penari laki-laki saja, 2-4 orang. Hal ini berkaitan dengan ketatnya ajaran Islam dan norma adat-istiadat masyarakat Gorontalo pada waktu itu. Seiring perkembangan, akhirnya juga bisa ditarikan berpasangan dengan wanita.


Tari Elengge
Tari Elengge
sumber : @cunalfred

Tarian daerah Gorontalo selanjutnya adalah Tari Elengge, yang namanya diangkat dari nama bunyi alu. Di ujung alat penumbuk padi tersebut disisipkan sepotong kayu pada lubang yang dibentuk segi empat. Ketika digerakkan akan mengeluarkan bunyi yang disebut ele-elenggengiyo atau mo’elengge.

Tari Elengge menggambarkan nuansa kegotong-royongan muda-mudi ketika bersama-sama menumbuk padi menggunakan lesung atau dalam bahasa Gorontalo disebut didingga dan anak lesung yaitu (wala’o didingga). Ketika musim panen tiba, sambil bercanda muda-mudi menumbuk padi sampai jadi beras.

Busana penarinya adalah busana rakyat. Selain didingga dan wala’o didingga, ada juga properti tari lain, yakni wontuwo (tolu). Tarian ini dibawakan oleh tiga pasang putra dan putri atau lebih. Selain iringan musik tradisional Gorontalo, ada juga syair pengiring yang berjudul “Elengge


Tari Saronde

Tari Saronde
sumber : @paneofiqih25

Tari Saronde merupakan tarian Gorontalo sebagai bagian dari rangkaian upacara perkawinan adat Gorontalo. Dulunya, tari ini menjadi media pengenalan calon istri yang diistilahkan dengan Molihe Huali. Sang mempelai pria menari, sedangkan calon istrinya menampakkan diri sedikit agar dia bisa melihatnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, tarian Saronde berkembang fungsinya sebagai tari hiburan yang dipertunjukkan untuk berbagai acara. Perkembangan juga terjadi pada komposisi penarinya. Saat ini, tarian ini lebih sering disajikan secara berpasangan oleh penari pria dan penari wanita.

Para penarinya mengenakan busana khas Gorontalo lengkap dengan selendang sebagai atributnya. Sekitar 3-6 pasang penari membawakan tarian ini dengan iringan musik rebana dan lagu yang khas Saronde. Gerakan pada tari ini lebih didominasi oleh ayunan tangan dan kaki.


Tari Biteya

Tari Biteya
sumber : youtube.com

Tari Biteya merupakan tarian dari Gorontalo karya dari Bapak Umar Djafar (almarhum) sekaligus dengan lagu pengiringnya yang berjudul sama dengan nama tarinya. Selanjutnya, tarian ini dikembangkan lagi oleh seniman tari Bapak Wazir Antuli dan Bapak Kum Eraku.

Istilah Biteya berasal dari kata bite yang berarti dayung. Biteya bisa dimaknai dayunglah sampai ke tempat tujuan. Penamaan ini berkaitan dengan apa yang digambarkan dalam tarian ini, yakni mengisahkan tentang kehidupan nelayan, mulai dari persiapan sampai pada proses penangkapan ikan.

Dalam prakteknya, tarian Biteya melibatkan 5-7 pasang penari putra dan putri. Mereka mengenakan busana kaum nelayan yang didominasi warna hitam. Mereka juga mengenakan ikat kepala, sarung di pinggang dan memakai tolu. Perpaduan musik etnis dan modern mengiringi tarian ini.


Tidi (Tarian Klasik Gorontalo)

Istilah Tidi bisa dikatakan mewakili tarian klasik dalam budaya Gorontalo. Baik busana, gerak, formasi, serta properti tariannya sarat nilai sehingga tidak boleh diubah. Jenis tarian ini ada sejak masa pemerintahan Raja Eyato atau ketika agama Islam menguat di Kerajaan Gorontalo.

Tari Tidi Daa
sumber : @putriekahmad

Sejalan dengan falsafah adat bersendi syara’, dan syara’ bersendikan Kitabullah (Al-Quran) maka setiap bagian yang membentukan Tidi haruslah disesuaikan dengan nilai agama Islam. Harus mengandung nilai moral dan nilai pendidikan.

Sehubungan dengan nilai-nilai tersebut, dikenallah lima keterikatan. Keterikatan dalam menjalankan syariat Islam, sebagai ratu rumah tangga, kekerabatan (keluarga, tetangga, dan masyarakat), pergaulan sehari-hari. Serta keterikatan hak dan kewajiban rumah tangga.

Ketika merujuk pada buku “Mengenal Tarian Daerah Tradisional dan Klasik Gorontalo” karya Farha Daulima dan Reiners Bila, disebut ada tujuh macam Tidi yang berkembang di Gorontalo. Di antaranya ada Tidi Da’a, Tidi Lo Polopalo, Tidi Lo Tihu’o, Tidi Lo O’ayabu, Tidi Lo Tonggalo, Tidi Lo Malu’o, dan Tidi Lo Tabongo.


Tari Langga Buwa

Tari Langga Buwa
sumber : www.pidii.info

Tari Langga Buwa merupakan tarian daerah Gorontalo yang gerakannya diambil dari seni bela diri tradisional, yakni Langga (tanpa senjata) dan Longgo (dengan senjata). Kedua jenis seni bela diri tersebut dilakukan kaum laki-laki, sementara Langga Buwa menggambarkan aktivitas beladiri perempuan.


Demikian artikel mengenai tarian dari Gorontalo. Tentu, artikel ini sangat tidak mewakili secara keseluruhan dari tari yang ada di provinsi yang dijuluki “Bumi Serambi Madinah” tersebut. Khususnya untuk jenis tarian klasik Gorontalo, hanya disebutkan namanya saja. Untuk menambah wawasan perihal budaya di Gorontalo, baca juga Tradisi Tumbilotohe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *