Tarian Kalimantan Timur – Daftar 10 Nama Tarian Daerah Kalimantan Timur

Tarian Kalimantan Timur. Berbagai macam suku bangsa telah mendiami wilayah Kalimantan Timur. Orang-orang Jawa menjadi yang paling dominan dibanding suku-suku lainnya, termasuk jika dibandingkan dengan suku pribumi aslinya, Suku Kutai dan Suku Dayak.

Dominasi suku-suku pendatang memungkinkan proses asimilasi tak terhindarkan, khususnya untuk suku melayu asli Kalimantan Timur, yakni Suku Kutai. Hal ini, salah satunya dikarenakan orang-orang Kutai banyak mendiami wilayah pesisir dan perkotaan.

Meski demikian, Suku Kutai dan Suku Dayak tetap mewakili citarasa budaya di Kalimantan Timur. Suku Dayak tetap kuat memegang kekhasan Kalimantan dalam segala aspek kehidupan. Suku Kutai sendiri masih mempertahankan beberapa produk budaya peninggalan kerajaan Kutai Kartanegara.

Setelah sebelumnya dituliskan perihal Tarian Daerah Kalimantan Selatan dan Tarian dari Kalimantan Barat. Artikel ini akan membahas tarian dari Kalimantan Timur, sebagai salah satu produk budaya yang paling banyak ragamnya di provinsi tersebut.

Tarian daerah Kalimantan Timur sangat banyak jumlahnya, sehingga tidak memungkinkan untuk dituliskan semuanya dalam satu artikel. Setidaknya telah ada 10 nama tarian daerah Kalimantan Timur yang disertai penjelasan singkatnya.


Daftar Tarian Kalimantan Timur


Tari Gantar

Tari Gantar - Tarian Kalimantan Timur
sumber : kamerabudaya.com

Tari Gantar merupakan tari pergaulan muda-mudi oleh Suku Dayak Benuaq dan Suku Dayak Tunjung yang ada di Kabupaten Kutai Barat. Sebuah ekspresi kegembiraan serta keramah-tamahan mereka ketika menyambut tamu, baik wisatawan atau orang-orang yang dihormati.

Tarian yang pada awalnya menjadi bagian upacara panen padi ini kental nuansa keakraban. Hal itu terlihat ketika para penari mengajak para tamunya ikut menari. Versi lain menyebutkan bahwa tarian ini dulunya diperagakan untuk menyambut para pahlawan dari medan perang.

Tarian Gantar terbagi menjadi tiga jenis, yakni Gantar Rayatn, Gantar Busai, dan Gantar Senak dan Kusak. Selain memiliki tiga jenis tarian, ada legenda yang menyelimuti asal-usul Tari Gantar. Baca informasi selengkapnya melalui tautan di bawah ini :

Baca juga : Perihal Sejarah, Legenda dan Jenis-jenis Tarian Gantar


Tari Enggang

Kancet Lasan - Tarian dari Kalimantan Timur
sumber : pinterest.nz/pin/495396027744719793/

Tarian Adat Kalimantan Timur selanjutnya merupakan tarian dari Suku Dayak Kenyah, yakni Tari Enggang. Tari yang dalam bahasa lokalnya disebut Kancet Lasan ini sangat erat hubungannya dengan burung enggang (rangkong).

Burung enggang sangatlah dimuliakan oleh masyarakat Dayak Kenyah. Mereka percaya bahwa leluhur mereka berasal dari langit dan turun ke bumi menyerupai burung enggang. Tarian ini tercipta untuk merepresentasikan kehidupan sehari-hari burung tersebut.

Untuk menggambarkan keseharian burung enggang, maka Tari Kancet Lasan mengusung gerak dasar perumpamaan burung tersebut. Oleh karena pentingnya kesenian ini dalam budaya Dayak, Tari Kancet Lasan seolah menjadi tarian wajib dalam setiap even.

Baca juga : Antara Suku Dayak Kenyah dan Tarian Burung Enggang


Tari Hudoq
Hudoq - Tarian Daerah Kalimantan Timur
sumber : wabain17.blogspot.com

Tarian Daerah Kalimantan Timur lain dari masyarakat sub-etnis Dayak adalah Hudoq. Tarian festival bertopeng dan berkostum yang dipertunjukkan sebagai ungkapan rasa syukur juga doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sehubungan dengan tanam dan panen padi.

Hudoq berarti menjelma. Menjelma menjadi burung sehingga menggunakan topeng burung. Dikatakan juga bahwa Hudoq merujuk pada 13 jenis hama perusak tanaman. Dalam tarian ini digambarkan bagaimana dua manusia Hudoq mengejar dan membasmi Hudoq hama.

Sesuai tradisi, festival Hudoq digelar setiap tahun ketika selesai menanam padi, antara bulan Sepetember-Oktober. Secara turun-temurun Hudoq digelar secara berpindah-pindah, dari desa ke desa lain. Melibatkan seorang pawang dalam pelaksanaan upacaranya.


Tari Kancet Papatai

Kancet Papatai - Tarian Adat Kalimantan Timur
sumber : cikal01.blogspot.com

Kancet Papatai merupakan tarian perang Suku Dayak Kenyah. Karena popularitasnya, tarian inilah yang mewakili tari perang Kalimantan Timur. Sebuah seni tari yang berkisah tentang pahlawan suku Dayak Kenyah dalam menghadapi musuh-musuhnya.

Oleh karena bertemakan perang, tidak ada gerak lemah gemulai di dalamnya. Gerakan yang dihadirkan cenderung lincah, gesit dan penuh semangat. Semakin berapi-api ketika diwarnai teriakan khas Dayak dalam adegan peperangan yang diperagakan penari.

Secara keseluruhan, tarian ini mewakili keperkasaan dan keberanian kaum laki-laki Dayak Kenyah. Perang adalah sebuah keniscayaan bagi bertahannya suatu suku, dan Kancet Papatai merupakan bentuk pertahanan diri yang dikemas dalam bentuk seni.

Baca juga : Sejarah, Penyajian, dan Properti Tari Kancet Papatai


Tari Ganjur

Tari Ganjur - Tarian Daerah Kalimantan Timur
sumber : wikipedia.org

Tari Ganjur atau Tari Ganjar Ganjur merupakan tarian Kalimantan Timur yang merupakan hasil akulturasi kebudayaan Kutai-Jawa. Dalam sejarahnya, pada masa pemerintahan Maharaja Sultan, Kerajaan Kutai Kartanegara pernah berinteraksi dengan Kerajaan Majapahit.

Sisi akulturasi dengan kebudayaan Jawa, salah satunya terlihat pada alat musik gamelan yang mengiringi Tarian Ganjur. Ada demung, saron, bonang, gender, dan juga kendang yang sama persis dengan perangkat Gamelan Jawa.

Tari Ganjur merupakan tarian sakral yang disajikan pada acara-acara khusus. Selain untuk penyambutan tamu agung, penobatan Sultan Kutai, keberadaannnya juga menjadi bagian dari rangkaian tirual Bepelas dalam Festival Erau.

Penarinya adalah pria dan wanita kerabat dari Keraton Kutai. Penari pria biasa diistilahkan dengan “Beganjar” dan penari wanitanya “Beganjur”. Ganjur sendiri merujuk pada properti sejenis gada kayu berlapis kain yang digunakan dalam tarian ini.


Tari Kancet Ledo
Tari Kancet Ledo
sumber : www.pictasite.com

Kancet Ledo atau juga dikenal sebagai Tari Gong merupakan tarian Kalimantan Timur yang juga dari Suku Dayak Kenyah. Tarian ini dipertunjukkan saat upacara menyambut tamu agung, termasuk untuk menyambut kelahiran seorang bayi kepala suku mereka.

Tari Kancet Ledo adalah tarian yang sarat akan makna. Sebuah penggambaran tentang kelembutan seorang wanita. Kecantikan, kepandaian, serta kelemah-lembutan wanita diungkapkan secara manis di atas sebuah gong. Karena itu disebut juga Tari Gong.

Tarian ini ditampilkan dalam kesederhanaan. Hal itu cukup terlihat pada gerak dan musik pengiringnya. Hanya ada beberapa segmen gerakan tubuh yang cenderung di ulang-ulang, terlebih ketika penari bersiap menuju, di atas maupun saat turun gong.

Baca juga : Kancet Ledo – Gambaran Kelembutan Wanita Dayak Kenyah


Tari Datun Julud

Tari Datun
sumber : mediaindonesia.com

Masyarakat Dayak Kenyah dikenal memiliki banyak ragam tari. Selain yang telah disebutkan di atas, ada lagi tarian Datun Julud atau Kancet Datun Julud. Salah satu tarian wajib Dayak Kenyah yang selalu ditampilkan dalam beragam upacara adat mereka.

Tari ini biasa diperagakan oleh penari wanita, bisa perorangan maupun berkelompok. Tarian Datun Julud biasanya disajikan untuk memeriahkan hari-hari besar ataupun untuk merayakan kedatangan pelawat ke Rumah Panjang terutama pelancong dari luar negeri.

Ketika di persembahkan di Rumah Panjang, penarinya akan menari mengelilingi ruai Ketua Kampung. Mereka menari dengan lemah gemulai, terkadang juga bertempo cepat, melenggok dan mengayunkan tangan. Properti yang digunakan adalah bulu burung enggang.


Tari Topeng Kutai

Tari Topeng Kemindu
sumber : www.kamerabudaya.com

Tari Topeng Kutai merupakan salah satu tarian Kutai yang disajikan untuk kalangan keraton saja. Ditarikan oleh penari-penari tertentu sebagai hiburan bagi keluarga kerajaan. Selain itu, juga biasa dipertunjukkan saat penobatan Raja, perkawinan, kelahiran dan penyambutan tamu keraton.

Tari Topeng Kutai terbagi dalam beberapa jenis. Di antaranya ada Tari Topeng Penembe, Topeng Kemindhu, Tpeng Patih, Topeng Temenggung, Topeng Kelana, Topeng Wirun, Topeng Gunung Sari, Topeng Panji, Topeng Rangga, Topeng Togoq, Topeng Bota, dan Topeng Tembam.

Dalam sejarahnya, tarian-tarian ini terkait hubungan dengan seni tari dalam Kerajaan Singosari dan Kerajaan Kediri. Hanya saja, gerak tari dan irama Gamelan pengiring sedikit berbeda dengan tari di dua kerajaan Jawa tersebut. Selebihnya, cerita dan kostumnya hampir sama.


Tari Bangun

Tari Bangun merupakan tarian mistis pemujaan roh sebagai usaha untuk mengobati orang sakit. Tari yang diperagakan oleh wanita yang disebut Bangun ini bisa ditemukan di wilayah Tidung, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur.

Dalam prakteknya, si Bangun menari sambil memegangi kipas di tangan kanan dan selendang di tangan kirinya. Setelah membawakan beberapa gerakan, ia membaringkan tubuhnya dan ditutup kain kuning. Ia akan menari lagi setelah bangun dalam keadaan kerasukan.

Upacara pengobatan ini sendiri biasanya berlangsung 3-7 hari. Menurut kepercayaan, sewaktu menari roh penari keluar dari tubuhnya dan digantikan oleh roh-roh jin sahabat penari yang didatangkan dengan cara membakar kemenyan.

Setelah upacara selesai, diadakan selamatan untuk memenuhi keinginan roh yang sebelumnya datang untuk membantu pengobatan tadi. Tarian ini memiliki tiga bentuk ; Ngala Bedua’ (mengambil semangat si sakit), Betujul (memberi makan yang gaib), dan Persembahan.


Tari Persembahan Kutai

Tari Persembahan Kutai
sumber : backpackerjakarta.com

Tari Persembahan merupakan tari penyambutan tamu khas Melayu. Sebagai sub-etnis Melayu, Suku Kutai juga memiliki tarian itu namun dengan keunikannya sendiri. Tari Persembahan Kutai tidak menggunakan sirih seperti yang biasa terlihat pada tarian yang ada di Sumatera.

Dalam Tari Persembahan Kutai, penggunaan sirih yang merupakan simbol penghormatan itu diganti dengan penebaran beras kuning oleh para penarinya. Mereka membawanya dalam sebuah cawan yang untuk selanjutnya ditebarkan ke arah para tamu yang hadir.

Di masa lalu, tari ini hanya ditarikan oleh putri-putri keraton dalam upacara penyambutan resmi di keraton. Seiring perkembangannya, kemudian dipertunjukkan juga di luar keraton agar tetap lestari. Seperti umumnya tarian Kutai, pengaruh budaya Jawa cukup kuat dalam tarian ini.


Tari Ngerangkau

Tari Ngerangkau adalah salah satu tarian Kalimantan Timur dari Suku Dayak Benua dan Tunjung. Tarian sakral yang mengundang roh orang yang sudah mati untuk diajak menari bersukacita dengan keluarga pada saat dilaksanakan pesta.

Penarinya adalah pria dan wanita dewasa dari pihak keluarga, tidak ada batasan jumlah penarinya. Tari ini dilakukan di tempat orang yang melaksanakan hajat atau upacara, saat malam hari, biasanya menjelang tengah malam sampai dini hari.

Mereka menari penuh khidmat dan selama menari sang pawang menceritakan riwayat kehidupan dari orang yang telah meninggal tersebut. Tarian ini dimulai ketika sang pawang (sentangis) sudah memberikan izin, biasanya di mulai dari keluarga tertua pangkat dan derajatnya.

Tarian diiringi oleh alat musik tibuh, gong, kendang besar dan kelentangan. Selain itu, ada semacam alat peraga yang digunakan dan mempunyai suara yang ritmis sifatnya, yaitu antan atau alu yang dihentakkan dan dirapatkan hingga mengeluarkan suara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *