Tarian Sulawesi Barat – Daftar 9 Nama Tarian Daerah dari Sulawesi Barat

Tarian Sulawesi Barat. Masyarakat Sulawesi Barat (Sulbar) cukup terkait dalam banyak hal dengan masyarakat di Sulawesi Selatan (Sulsel). Tidak terkecuali dalam hal kebudayaan. Hal ini dikarenakan, Sulbar dulunya merupakan bagian dari Sulsel. Provinsi Sulawesi Barat baru terbentuk tahun 5 Oktober 2004. Mamuju adalah ibu kotanya.

Meskipun secara politis Sulbar dan Sulsel diberi sekat, Suku Mandar sebagai etnis terbesar di Sulbar terikat historis dan kultural dengan Suku Mandar di Sulsel yang jumlahnya juga cukup besar. Demikian pula dengan Suku Toraja yang menempati urutan kedua sebagai etnis terbesar di Sulbar, sebagian besarnya menempati Kabupaten Mamasa.

Dengan demikian, produk budaya berupa kesenian suku-suku di Sulbar mungkin bisa juga ditemukan di Sulsel. Termasuk juga tarian-tarian tradisionalnya. Di bawah ini adalah daftar Tarian Sulawesi Barat. Tidak mencakup semuanya, hanya sebagian kecil saja. Sebagai informasi tambahan, baca juga Daftar Tarian Daerah Sulawesi Selatan.


Daftar 9 Tarian Sulawesi Barat


Tari Bamba Manurung

Tari Bamba Manurung
sumber: youtube.com

Bambu Manurung dikenal sebagai tarian Sulawesi Barat yang hidup di masyarakat ibu kotanya, Mamuju. Cukup sering tarian ini dilibatkan dalam berbagai pesta adat di Mamuju. Penarinya semuanya perempuan. Mereka menari cantik dihadapan tokoh adat dan penghulu.

Busana yang digunakan adalah pakaian adat Sulawesi Barat. Memakai Baju Badu serta berhias aksesoris bunga beru-beru (melati) di bagian kepalanya. Sama halnya dengan Tarian Pattudu yang akan dibahas di bawah, tarian ini juga menggunakan properti berupa kipas.


Tari Bulu Londong

Tari Bulu Londong
sumber: disparsulbar.com

Tarian Daerah Sulawesi Barat selanjutnya adalah tarian masyarakat di Kabupaten Mamasa, Bulu Londong namanya. Sejenis tarian perang sebagai penggambaran kegembiraan karena telah memenangkan suatu pertempuran. Penarinya berbusana dan bersenjata layaknya prajurit di masa lalu.

Seiring tidak adanya peperangan, tarian ini pun kehilangan fungsi awalnya. Karena eksistensinya hampir punah, masyarakat dan budayawan setempat pun menghidupkannya kembali sebagai apresiasi budaya lokal. Hanya saja, fungsinya berubah menjadi tari penyambutan. Sering mewarnai Rambu Tuka’, acara adat yang sifatnya gembira.


Tari Ma’Bundu

Tari Ma’Bundu adalah bentuk kreasi dari tarian perang yang dipadukan dengan beberapa tarian Tradisional. Tarian ini lahir dalam lingkup budaya masyarakat di daerah Kalumpang dan Bonehau, dua kecamatan yang ada di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

Sebagai tarian perang, Ma’Bundu terinsipirasi dari cerita perang di masa lalu. Suatu tradisi dimana orang-orang saling beradu ketangkasan dan kekebalan terhadap senjata-senjata tajam. Pihak yang meraih kemenangan akan membawa ulu tau, yakni kepala lawan yang dipenggalnya.

Dalam prakteknya, tarian ini melibatkan personil sebanyak 10 orang yang mengenakan pakaian kebesaran yang disebut Bei. Busana ini berhias ukir-ukiran yang terbuat dari kerang kecil. Di bagian kepalanya ada topi bertanduk dan palo-palo. Memakai gelang (potto balussu) serta tombak.


Tari Mamose

Mamose adalah nama dari tarian adat masyarakat Tangkou Budong-budong di Kabupaten Mamuju Tengah. Penarinya lazim disebut pamose yang dengan kelihaiannya menari memainkan parang. Sangat atraktif, terutama ketika parang ditebas-tebaskan ke tubuh tanpa ada luka sedikitpun.

Adegan itu berlangsung menghibur dalam balutan alunan kendang. Ada saat musik berhenti, salah satu pamose akan menghadap raja atau tobara (tetua adat) yang saat ini diwakili pejabat pemerintah. Mereka datang mengucapkan kesetiaan dan mohon izin melanjutkan pertunjukan.

Tarian Mamose merupakan bagian dari ritual adat Mamose yang awalnya rutin digelar 3 kali dalan setahun. Namun, seiring berjalannya waktu hanya digelar 2 kali saja. Ritual ini adalah warisan nenek moyang yang awalnya dilaksanakan saat pesta panen atau saat akan memasuki hutan.


Tari Mappande Banua

Tarian Tradisional Sulawesi Barat lainnya adalah Tari Mappande Banua atau disebut juga Macceraq Banua. “Mappande” berarti memberi makan dan “banua” berarti kampung. Bisa diartikan bahwa ini merupakan kesenian yang disajikan saat acara makan-makan yang melibatkan penduduk kampung.

Dalam sejarahnya, Tarian Sulawesi Barat yang bernuansa mistis ini biasanya dilaksanakan sebelum ritual pelantikan raja. Sebelum dimulai ada prosesi penyembelihan kerbau yang diambil darahnya dari daun telinganya. Darah kerbau tersebut kemudian dipercikkan ke delapan arah mata angin.


Tari Pallake

Pallake - Tarian Sulawesi Barat
sumber: youtube.com

Pallake merupakan satu di antara sekian tarian dari Sulawesi Barat yang bertemakan perang. Namanya berasal dari kata dasar “lake” yang berarti tanduk. Di awal sejarahnya, Tari Pallake ditampilkan saat upacara pelantikan raja ataupun ketika upacara penjemputan panglima dari medan perang.

Untuk saat ini, tarian tradisional bagi masyarakat adat Pappuangan Padang ini difungsikan sebagai hiburan berupa seni pertunjukan. Tidak jarang, tari ini juga ditampilkan untuk memeriahkan upacara atau pesta adat, seperti khitanan ataupun perkawinan.


Tari Patuddu

Pattudu - Tarian Tradisional Sulawesi Barat
sumber: @fyan.ilbas73

Tari Patuddu merupakan tari penyambutan khas masyarakat Mandar, Sulawesi Barat. Penarinya biasanya adalah beberapa gadis cantik. Mereka menari gemulai menampilkan citra kecantikan perempuan Mandar. Untuk saat ini, sering juga tarian ini dibawakan oleh anak-anak.

Sebagai tari penyambutan, Tari Patuddu hadir sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan kepada tamu yang datang. Menariknya, tari ini adalah seni yang dulunya ditampilkan untuk menyambut balatentara Balanipa yang pulang dari pertempuran melawan Kerajaan Passokorang.

Dulu, penarinya adalah putra-putri sekurang-kurangnya berjumlah 14 orang. Lemah gemulai penari perempuannya berpadu dengan tabuhan gendang dan gong. Sementara penari putranya memainkan tombak dan perisai layaknya prajurit yang berada dalam peperangan.


Tari Sayyang Pattudu

Sayyang Pattudu - Tarian Daerah Sulawesi Barat
sumber: pesonamandar.com

Sayyang Pattudu adalah suatu bentuk kesenian khas Mandar yang disajikan dalam perayaan atau syukuran atas khatambya seorang anak dalam membaca Al-Quran. Sayyang Pattudu berarti kuda menari. Terkadang ada yang menyebutnya to messawe merujuk pada orang yang mengendarainya.

Sayyang Pattudu biasanya diadakan setahun sekali. Acaranya cukup meriah berupa arak-arakan kuda yang menari mengikuti irama tabuhan rebana dan untaian pantun khas Mandar. Kudanya pun dihias sedemikian rupa hingga terlihat sangat menarik sepanjang mengelilingi desa.


Tari Toerang Batu

Toerang Batu - Tarian Sulawesi Barat
sumber: kompadansamandar.blogspot.com

Banyak tarian dari Sulawesi Barat yang dulunya berkaitan dengan peperangan. Jika tari-tarian perang sebelumnya lebih ditujukan untuk menyambut prajurit dari medan perang. Hal ini berbeda dengan Tari Toerang Batu yang dulunya diperagakan saat akan berangkat berperang.

Sebagaimana tarian tradisi lain, Toerang Batu awalnya sakral karena menjadi bagian penting dalam ritual menjelang perang. Biasanya menjelang digelar tarian Toerang, selalu diadakan upacara persembahan sesaji berupa telur ayam dan nasi ketan empat warna.

Untuk pelestariannya, penerus tarian ini, Hasan Dalle berharap tarian tradisional ini bisa bertahan menjadi salah satu kekayaan budaya Mandar dan aset berharga pariwisata Sulawesi Barat. Kini tarian ini biasa ditampilkan sebagai tari penyambut tamu terhormat di Polewali Mandar.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *