Dhandhangan (Dandangan) – Tradisi Ramadhan khas Kudus, Jawa Tengah

Dhandhangan. Bulan Ramadhan merupakan momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Muslim di Indonesia. Beragam tradisi bisa kita temukan di berbagai daerah dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan, salah satunya di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Di daerah tersebut terdapat tradisi unik untuk menandai datangnya Bulan Puasa Ramadhan, masyarakat menyebutnya dengan nama Dhandhangan (Dandangan). Tradisi Dhandhangan di Kudus merupakan festival penyambut Ramadhan yang bermula dari masa Sunan Kudus.

Sejarah Tradisi Dhandhangan

Sejatinya, budaya Dandangan merupakan peristiwa pengumuman awal bulan Ramadlan dengan pemukulan bedhug sebagai penandanya. Dalam sejarah, Tradisi Ramadhan ini untuk pertama kali terselenggara pada tahun 1459H (454M).

Saat itu masyarakat dan para santri berkumpul di depan Masjid Menara Kudus. Mereka menunggu Sunan Kudus (Syeikh Dja’far Sodiq) menyampaikan keputusan awal puasa. Setelah itu bedug Masjid Menara Kudus dipukul. Bunyi bedug “dang….dang….dang” menjadi asal usul nama Dhandhangan.

Melihat keramaian masyarakat pada masa penantian pengumuman puasa, para pedagang memanfaatkannya dengan berniaga di sekitaran Masjid Menara Kudus. Dari sini masyarakat Kudus pun mengenalnya sebagai pasar malam yang akan selalu ada setiap menjelang bulan Ramadhan.

Lama kelamaan kebiasaan tersebut menjadi pusat niaga berbagai hasil kerajinan lokal seperti kerajinan gerabah dan lain sebagainya. Tentunya seiring perkembangan tradisi Dandangan hingga sekarang yang semakin ramai, produk-produk niaga yang ada semakin bervariasi.

Dalam perkembangannya, pekan Dhandhangan Kudus juga sebagai pusat kebudayaan. Selain visualisasi sejarah Dandangan, suasana dalam tradisi ini semakin meriah dengan adanya festival rebana, pawai (kirab) budaya, dan beragam atraksi menarik lainnya.

Di samping itu juga bisa kita dapati kesenian yang menjadi ciri khas dari tradisi ini yakni keberadaan Barongan Gembong Kamijoyo. Ini merupakan pemeran utama seni Barongan khas Kabupaten Kudus. Singo Barong yang jejuluk atau yang bergelar Gembong Kamijoyo.

Tradisi Dhandangan di Kota Kudus setiap tahunnya pasti akan selalu bertambah ramai. Harapannya adalah bisa membawa manfaat yang besar serta iklim religius yang semakin kental bagi masyarakat. Terutama semangat atau spirit yang tinggi dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Tradisi bernuansa religi ini tidak hanya melibatkan masyarakat dan para santri yang berasal dari Kota Kudus saja. Masyarakat dari daerah sekitarnya seperti Kendal, Semarang, Demak, Pati, Jepara, Rembang, bahkan sampai Tuban, Jawa Timur pun datang dan ikut memeriahkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *