• sumber : baliskytour.wordpress.com

Drama Gong – Antara Teater Klasik dan Drama Modern

posted in: Bali, Drama, Seni dan Budaya | 0

Drama Gong adalah salah satu bentuk seni pertunjukan Bali yang memadukan unsur-unsur kesenian teater tradisional Bali dengan drama modern (teater modern barat). Disini, unsur teater modern lebih difokuskan pada tata dekorasi, sound effect, acting dan tata busana, sementara disisi lain dominasi kesenian klasik bali masih sangatlah kuat.

Oleh karena unsur teater klasik masih sangatlah kuat, kesenian ini lebih disebut sebagai drama klasik. Penamaan baru “drama klasik” menjadi Drama Gong pertama kali diganti oleh I Gusti Bagus Nyoman Panji. Pergantian nama tersebut merujuk pada dua unsur baku yakni Drama dan Gamelan Gong. Sebagai catatan, bahwa sebelum terciptanya seni drama ini, di Bali telah berkembang seni pertunjukan lain yakni Drama Jangger yang menjadi bagian dari Tari Jangger.

Istilah Drama Gong menjadi nama dari kesenian ini karena dalam hal pementasan, setiap gerak pemain serta peralihan suasana dramatis diiringi oleh Gamelan Gong atau Gong Kebyar. Ini merupakan kesenian yang memiliki usia relatif muda. Pertama kali diciptakan pada kisaran tahun 1966 oleh Anak Agung Gede Raka Payadnya yang berasal dari desa Abianbase (Gianyar). Sang pencipta kesenian pun mengakui bahwa drama ini diciptakan melalui percampuran drama tari tradisional seperti Sendratari, Arja dan Prembon serta Sandiwara yang dimaksudkan sebagai sebuah seni campuran modern.

Pagelaran Seni Drama Gong

Drama Gong biasanya menampilkan lakon-lakon yang bersumber pada cerita romantis seperti cerita Panji (Malat), Sampik Ingtai serta kisah-kisah sejenis termasuk yang berasal dari luar lingkungan Budaya Bali. Ditampilkan oleh para pemain yang berakting realistis dan bukan dengan tarian, menggunakan dialog-dialog verbal berbahasa Bali. Beberapa lakon penting dalam seni pertunjukan ini diantaranya: Raja Manis, Raja Buduh, Putri Manis, Putri Buduh, Raja Tua, Permaisuri, Dayang-dayang, Patih Keris, Patih Tua dan Dua Pasang Punakawan.

Seni Drama ini biasa ditampilkan oleh Masyarakat Bali sebagai keperluan Upacara Adat, Agama dan kegiatan sosial. Meskipun begitu Drama Gong adalah kesenian sekuler yang tidak menutup kemungkinan untuk ditampilkan pada kesempatan yang lain. Disebutkan juga bahwa, inilah seni pertunjukan yang pertama kali menerapkan “karcis” karena sebelumnya kesenian bagi masyarakat setempat tidaklah berbentuk komersial.

Drama Gong mengalami masa kejayaan pada kisaran tahun 1970, bahkan lebih populer ketimbang kesenian lain pada saat itu seperti Arja dan Topeng. Adapun popularitasnya mulai menurun dimulai pada pertengahan tahun 1980. Saat ini masih bisa dijumpai sekitar 6 buah Sekaa yang masih aktif diantaranya: Drama Gong Dewan Kesenian, Bintang Bali Timur, Duta Budaya Bali, Dwipa Sancaya dan lain-lain. Terakhir muncul Drama Gong Reformasi yang didukung oleh para bintang Drama Gong dari berbagai daerah di Bali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *