• sumber : kratonpedia.com

Srandul – Dramatari Tradisional Jawa Tengah

Drama Tari Srandul. Salah satu kesenian tradisional Jawa yang berbentuk drama tari adalah Srandul. Kesenian Srandul sangatlah unik karena identik dengan tata busana yang sangat sederhana dan cenderung rompang-ramping.

Dikatakan bahwa Srandul adalah bentuk kesenian yang lebih menggambarkan keadaan batin masyarakat ketika menghadapi keadaan dan situasi yang tak menentu. Istilah Srandul sendiri berasal dari Serandhil (bahasa jawa) yang berarti rompang-ramping, compang-camping, pating sranthil atau tidak karuan.

Di beberapa daerah pendukung kesenian ini, Serandul dipentaskan dengan tujuan yang berbeda. Disatu sisi ditujukan sebagai pembakar semangat perjuangan rakyat dalam menghadapi penjajah, disisi yang lain ada juga yang memanfaatkannya sebagai hiburan semata.

Salah satu pembeda yang cukup kentara adalah tata busana yang digunakan. Jika digunakan untuk membakar semangat juang, kostum cenderung compang-camping dan para pemain menggunakan topeng. Adapun jika digelar hanya sebagai hiburan, kostum yang digunakan adalah pakaian sehari-hari orang desa dengan tambahan sedikit make-up.

Dalam Pertunjukannya, Srandul biasanya melibatkan 15 orang. Ada yang terdiri dari pria dan wanita, ada juga yang dimainkan oleh pemain laki-laki saja. Dari jumlah tersebut, 9 orang ditunjuk sebagai pemain dan 6 orang lainnya adalah pemusik.

Sebelum dimulainya pertunjukan, terlebih dahulu dimainkan bunyi-bunyian dari alat musik seperti kendang, terbang dan angklung. Dialog dalam dramatari ini menggunakan percakapan dalam kehidupan sehari-hari, aktivitas selebihnya dirupakan dalam rangkaian gerak tari.

Sejarah Drama Tari Srandul

Dalam Sejarahnya, seni pertunjukan ini terlahir dari gairah juang para pengikut setia Pakubuwono VI dalam menghadapi penjajah belanda. Dimulai pada kisaran tahun 1830, saat Pakubuwono VI di tahan dan diasingkan ke Pulau Ambon oleh Belanda.

Para pengikut setianya kemudian banyak yang bertahan hidup di pedesaan dan bertani, meskipun begitu semangat juang mereka tetaplah berkobar. Secara diam-diam mereka menciptakan dramatari dengan tujuan untuk menumpahkan segala uneg-uneg batin mereka berkaitan dengan buruknya dampak dari penjajahan belanda kala itu.

Dalam kesenian lebih digelar dimalam hari tersebut, mereka menggunakan pakaian compang-camping dan bertopeng. Demikianlah sejarah awal mula kesenian Serandul seperti dikemukakan oleh Darsiti Soeratman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *