• sumber : metrobali.com

Dramatari Arja – Kesenian Tradisional Bali

posted in: Bali, Drama, Sejarah, Seni dan Budaya, Tari | 0

Dramatari Arja adalah salah satu kesenian tradisional Bali, sebuah dramatari khas Bali yang dialognya ditembangkan secara Macapat. Dramatari Arja bisa digolongkan sebagai teater berjenis musical form yakni opera atau seni drama yang mempergunakan seni suara sebagai pengungkap cerita. Tembang dan instrumental merupakan bagian yang paling dominan pada kesenian ini dan memang setiap pengungkapan dramatisasi pasti menggunakan tembang dan instrumen.

Merujuk pada buku Ensiklopedia Tari Bali karya I Made Bandem. Secara etimologi istilah Arja diduga berasal dari istilah dalam bahasa Sansekerta yakni “Reja” yang mendapat awalan “A” sehingga menjadi kata Areja. Oleh karena kasus pembentukan kata, istilah Areja berubah menjadi Arja yang berarti “sesuatu hal yang mengandung keindahan”.

Lakon Dramatari Arja

Cerita Panji atau Malat menjadi lakon utama dalam kesenian ini. Kemudian seiring perkembangannya lahir pula sejumlah cerita seperti Bandasura, Pakang Raras, Linggar Petak, I Godongan, Cipta Kelangen, Made Umbara, Cilinaya dan Dempu Awang.

Ada juga beberapa cerita rakyat seperti Jayaprana, Sampik Ingtai, Basur dan Cupak Grantang. Disamping itu Arja juga membawakan beberapa lakon yang diangkat dari cerita Mahabharata dan Ramayana.

Meskipun membawakan lakon-lakon yang beragam, Arja biasanya tetap menampilkan tokoh-tokoh utama diantaranya Inya, Galuh, Desak (Desak Rai), Limbur, Liku, Panasar, Mantri Manis, dan Mantri Buduh. Tidak ketinggalan dua pasang punakawan atau Panasar kakak beradik yang masing – masing terdiri dari Punta dan Kartala.

Sejarah Dramatari Arja

Kesenian ini diperkirakan muncul pada kisaran tahun 1820-an di masa pemerintahan Raja Klungkung yang bernama I Dewa Agung Sakti. Menjelang berakhirnya abad 20 lahirlah Arja Muani, dimana semua pemainnya pria, sebagian memerankan wanita. Arja ini disambut dengan sangat antusias oleh masyarakat, terutama karena menghadirkan komedi segar.

Setidaknya ada tiga fase penting yang menandai perkembangan Dramatari Arja, diantaranya:

  1. Arja Doyong yang dimainkan oleh satu orang tanpa iringan Gamelan.
  2. Arja Gaguntangan yang dimainkan oleh lebih dari satu pemain dengan iringan Gamelan gaguntangan
  3. Arja Gede yang dibawakan oleh 10 hingga 15 pemain dengan struktur pertunjukan baku seperti yang berlaku hingga saat ini.

Gamelan Gaguntangan sebagai iringan kesenian ini adalah Gamelan yang memiliki suara lirih dan merdu sehingga mampu memberikan keindahan tembang yang dilantunkan oleh penari.

Drama Tari Arja menjadi sebuah kesenian yang sangat populer di kalangan Masyarakat Bali. Setiap kabupaten di Bali sejak dulu telah memiliki kesenian ini yang khas. Arja mengalami perkembangan pesat terlebih pada kisaran tahun 1920-1960an dimana dramatari ini menjadi tontonan sekaligus hiburan utama masyarakat.

Namun seperti halnya kebanyakan kesenian tradisional yang lainnya, eksistensi Arja pun semakin surut disebabkan oleh pola hidup serta kebiasaan masyarakat yang cenderung berubah seiring perkembangan zaman. Bahkan tidak jarang, setelah ditinggalkan oleh para generasi emasnya, sangat sulit ditemukan seniman yang memiliki bakat sekaligus niat untuk melanjutkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *