Dramatari Arja Bali – Pengertian, Sejarah Perkembangan, Lakon, Pengiring

Dramatari Arja merupakan dramatari tradisional Bali yang dialognya ditembangkan secara Macapat. Sebuah teater musical form atau seni drama dengan seni suara sebagai pengungkap cerita. Tembang dan instrumental sangat dominan dan memang setiap pengungkapan dramatisasi menggunakan tembang dan instrumen.

Merujuk buku Ensiklopedia Tari Bali karya I Made Bandem. Secara etimologi istilah Arja berasal dari istilah dalam bahasa Sansekerta yakni “Reja” yang mendapat awalan “A” sehingga menjadi kata Areja. Karena kasus pembentukan kata, istilah Areja lalu berubah menjadi Arja yang berarti “sesuatu yang mengandung keindahan”.

Lakon dalam Dramatari Arja

Cerita Panji atau Malat adalah lakon utama dalam Arja. Selanjutnya seiring perkembangan, lahir juga beberapa cerita lain seperti Bandasura, Pakang Raras, Linggar Petak, I Godongan, Cipta Kelangen, Made Umbara, Cilinaya dan Dempu Awang. Ada juga cerita rakyat seperti Jayaprana, Sampik Ingtai, Basur dan Cupak Grantang.

Dramatari Arja juga membawakan lakon dari cerita Mahabharata dan Ramayana. Meski lakonnya beragam, Arja biasanya tetap menampilkan tokoh-tokoh utama seperti Inya, Galuh, Desak (Desak Rai), Limbur, Liku, Panasar, Mantri Manis, dan Mantri Buduh. Juga, dua punakawan (panasar) kakak beradik, Punta dan Kartala.

Sekilas Tentang Sejarah Arja

Kesenian ini kira-kira muncul pada tahun 1820-an di masa pemerintahan Raja Klungkung, yakni I Dewa Agung Sakti. Menjelang berakhirnya abad 20, lahirlah Arja Muani yang semua pemainnya pria, sebagian memerankan wanita. Masyarakat sangat antusias dengan kesenian ini, terutama karena menghadirkan komedi segar.

Setidaknya, ada tiga fase penting yang menandai perkembangan Dramatari Arja dalam kebudayaan Bali, yakni:

  1. Dramatari Arja Doyong yang melibatkan satu orang pemain tanpa iringan gamelan.
  2. Arja Gaguntangan, pemainnya lebih dari satu dengan iringan Gamelan Gaguntangan.
  3. Arja Gede yang melibatkan 10-15 pemain dengan struktur pertunjukan baku seperti yang berlaku saat ini.

Gamelan Gaguntangan, sebagai alat musik pengiring kesenian ini merupakan jenis ensambel Gamelan Bali yang terkenal karena dapat menghasilkan suara yang lirih dan merdu. Oleh karena kemerduan suaranya, gamelan ini mampu memberikan keindahan pada tembang-tembang yang dilantunkan oleh pemain Dramatari Arja.

Dalam perkembangannya, Dramatari Arja menjadi kesenian yang sangat populer di kalangan masyarakat Bali. Setiap kabupaten di Bali sejak dulu telah memiliki kesenian ini yang khas. Arja mengalami perkembangan pesat terlebih pada tahun 1920-1960an yang mana Arja menjadi tontonan hiburan utama bagi masyarakat.

Namun seperti kesenian tradisional yang lainnya, eksistensi Arja pun semakin surut lantaran pola hidup serta kebiasaan masyarakat yang cenderung berubah seiring perkembangan zaman. Bahkan sepeninggal para generasi emasnya, sangat sulit ditemukan seniman yang memiliki bakat sekaligus niat untuk melanjutkannya.


Referensi:

  1. babadbali.com/seni…
  2. id.wikipedia.org/wik…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *