Dramatari Srandul – Salah Satu Dramatari Tradisional dalam Budaya Jawa

Dramatari Srandul. Salah satu kesenian tradisional dalam budaya masyarakat Jawa yang berbentuk dramatari adalah Srandul. Kesenian Srandul sangatlah unik dan menarik karena identik dengan tata busana yang terkesan sangat sederhana dan bahkan cenderung rompang-ramping.

Srandul merupakan bentuk kesenian yang lebih menggambarkan keadaan batin masyarakat ketika menghadapi keadaan dan situasi yang tak menentu. Istilah Srandul sendiri berasal dari serandhil (bahasa jawa) yang berarti rompang-ramping, compang-camping, pating sranthil atau tidak karuan.

Di beberapa daerah pendukung kesenian ini, pertunjukan Serandul terselenggara dengan tujuan yang berbeda. Di satu sisi berfungsi sebagai pembakar semangat perjuangan rakyat dalam menghadapi penjajah, sedang di sisi yang lain ada juga yang memanfaatkannya sebagai hiburan semata.

Salah satu pembeda yang cukup kentara adalah tata busana. Jika bertujuan membakar semangat juang, kostum cenderung compang-camping dan pemain mengenakan topeng. Sedangkan untuk hiburan, kostumnya berupa pakaian sehari-hari orang desa dengan tambahan sedikit make-up.

Dalam Pertunjukannya, Srandul biasanya melibatkan 15 orang. Ada yang terdiri dari pria dan wanita, ada juga yang hanya melibatkan pemain laki-laki saja. Dari jumlah tersebut, sembilan orang merupakan pemain dan enam orang lainnya merupakan pemain musik pengiring kesenian ini.

Sebelum pertunjukan mulai, terlebih dahulu tersaji bunyi-bunyian dari alat musik Gamelan seperti kendang, terbang dan Angklung. Dialog yang ada di dalam dramatari ini menggunakan percakapan dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas selanjutnya lebih berupa serangkaian gerak tari.

Sejarah Dramatari Srandul

Dalam sejarahnya, seni pertunjukan ini terlahir dari gairah juang para pengikut setia Pakubuwono VI dalam menghadapi penjajah belanda. Berawal pada kisaran tahun 1830, ketika pihak Kolonial Belanda menahan dan mengasingkan Pakubuwono VI di Pulau Ambon.

Para pengikut setianya kemudian banyak yang bertahan hidup di pedesaan dan bertani, meskipun begitu semangat juang mereka tetap berkobar. Secara tersembunyi, mereka menciptakan dramatari untuk menumpahkan segala uneg-uneg batin berkaitan dengan buruknya dampak dari penjajahan Belanda kala itu.

Dalam kesenian yang umumnya terselenggara di malam hari tersebut, mereka tampil dengan menggunakan pakaian compang-camping dengan wajah yang tertutup topeng. Demikianlah kurang lebih sejarah awal mula Dramatari Srandul di Jawa seperti yang dikemukakan oleh Darsiti Soeratman.

One Response

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *