• sumber : tobadetour.com

Fahombo (Lompat Batu) – Tradisi Ritual Pendewasaan Suku Nias

posted in: Sumatera, Sumatera Utara, Tradisi | 0

Lompat Batu (Fahombo). Suku Nias yang ada di Pulau Nias, Sumatera Utara merupakan salah satu masyarakat di Indonesia yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang sangat tinggi. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik yang hingga kini jejaknya masih bisa dijumpai berupa ukiran pada batu-batu besar. Budaya tersebut juga tetap lestari dalam rupa tradisi, salah satunya adalah Fahombo atau yang lebih dikenal sebagai tradisi lompat batu.

Fahombo atau Hombo Batu atau dalam bahasa Indonesia berarti “Lompat Batu” merupakan olahraga tradisional khas Suku Nias. Tradisi yang awalnya merupakan ritual pendewasaan bagi masyarakat Nias ini telah menjadi obyek wisata tradisional unik dan teraneh di dunia. Dikatakan aneh karena mereka harus melompati susunan bangunan batu setebal 40 cm dan setinggi 2 meter. Tradisi ini telah berlangsung berabad-abad, bahkan konon sudah ada sejak zaman megalitik.

Sejak usia 7 tahun pemuda Nias biasanya telah berlatih dengan melompati tali. Secara bertahap ketinggian tali semakin meningkat seiring bertambahnya usia mereka. Setidaknya sejak usia 10 tahun, setiap pemuda akan bersiap untuk mendapatkan giliran “fahombo” mereka. Secara tradisi, beginilah cara mereka meraih status kedewasaan. Hal ini turut menandakan bahwa mereka telah siap berperang dan memikul tanggung jawab laki-laki dewasa.

Dalam adat Nias, tradisi lompat batu ini dianggap sangatlah serius. Pemuda Nias akan mencoba untuk melompati bangunan batu. Bangunan itu berbentuk seperti monumen piramida dengan permukaan atas datar setinggi tidak kurang 2 meter, dengan lebar 90 cm dan panjang 60 cm. Selain diharuskan sanggup melompati batu, pemuda harus memiliki teknik mendarat, karena jika posisi mendaratnya salah, dapat menyebabkan cedera otot dan patah tulang.

Meskipun begitu, pada kenyataannya tidak semua pemuda Nias mampu melompati batu tersebut walaupun sudah berlatih keras sejak kecil. Masyarakat setempat menyakini bahwa selain dengan latihan yang keras, kemampuan untuk melakukan Fahombo juga melibatkan unsur magis dari roh nenek moyang. Hal ini juga dikaitkan dengan sistem pewarisannya dari generasi ke generasi di masing-masing keluarga dari ayah ke anak lelakinya.

Sejarah Tradisi Lompat Batu

Tradisi lompat batu ini merupakan tradisi yang sangat tua, bahkan konon dikatakan telah ada sejak zaman megalitik. Belum ada kejelasan tentang sejarah awalnya, namun ada yang mengatakan bahwa Fahombo muncul dari kebiasaan perang antar suku-suku Nias. Suku-suku Nias dikenal memiliki karakter yang kuat dan keras karena mewarisi budaya para pejuang. Mereka sering berperang lantaran terprovokasi dendam, perbudakan, atau perbatasan tanah.

Karena kondisi yang rentan perselisihan tersebut, akhirnya masing-masing desa membentengi wilayah masing-masing dengan bambu setinggi 2 meter. Dari sinilah cikal bakal Fahombo dengan fungsinya sebagai persiapan perang. Adapun tradisi melompati batu bermula ketika Nias dipimpin oleh bangsawan-bangsawan dari strata Balagu. Untuk menentukan layak tidaknya pemuda Nias menjadi prajurit, selain harus memiliki fisik yang kuat, bela diri, dan ilmu hitam, mereka harus mampu melompati batu bersusun setinggi 2 meter tanpa menyentuh permukaan batu tersebut.

Seiring perkembangan zaman, meski tradisi ini tetap lestari, namun tidak lagi difungsikan sebagai persiapan perang. Saat ini, tradisi Fahombo Batu lebih difungsikan untuk ritual khas masyarakat Nias saja. Meski terkesan unik dan aneh bagi sebagian orang, tradisi ini masih sering dilakukan dan menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke Nias. Desa Bawomataluo di Nias Selatan merupakan salah satu desa yang hingga saat ini masih menjalankan tradisi lompat batu ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *