Gebug Ende – Seni Tradisi Adu Ketangkasan di Seraya, Karangasem, Bali

Gebug Ende Seraya. Seni di Bali, terutama tari pada dasarnya adalah seni keagamaan. Setiap upacara keagamaan di Bali, selalu berkaitan dengan kesenian atau setidaknya ada nilai-nilai seni di dalamnya. Dalam prakteknya, tarian ritual Bali tidak terlalu mementingkan keindahan bentuk tarinya, namun lebih kepada tujuan persembahannya.

Dari sekian wilayah di Bali, Karangasem cukup menonjol menunjukkan keunikan budaya dan religiusitas Bali. Di sanalah, tepatnya di Desa Tenganan, tempat lahir Tari Mabuang yang sakral. Di desa itu pula lahir Perang Pandan untuk mengagungkan dewa Indra. Sehubungan dengan tarian perang dan pemujaan dewa Indra, ada juga Gebug Ende di desa Seraya.

Gebug Ende adalah tarian ritual kerakyatan yang telah mentradisi bagi masyarakat di Desa Seraya, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. Sajian adu ketangkasan yang diperagakan oleh kaum laki-laki bersenjatakan tongkat pemukul rotan dan perisai atau tameng. Kesenian ini serupa dengan Presean di Lombok, ada ikatan sejarah di antara keduanya.

Secara etimologi berdasarkan kamus Bali-Indonesia, kata gebug berarti memukul dengan alat, misalnya tongkat. Ketika kata tersebut diberi awalan ma-, menjadi magebug, maknanya lebih merujuk pada permainan pukul-pukulan dengan setangkai rotan dan tameng untuk menangkis. Sementara itu, ende berarti perisai dari kulit, salah satu properti dalam permainan ini.


Sejarah Tari Gebug Ende Seraya

Pada awalnya, permainan yang dikenal juga dengan nama Gebug Seraya ini hanya berupa atraksi mengadu kekuatan saja. Seiring perkembangan, kemudian gerak pemainnya diperindah dengan gerakan tari sehingga menjadi suatu jenis tari. Dalam fungsinya, tarian Gebug Ende merupakan bagian dari upacara meminta hujan ketika berlangsung musim kemarau panjang.

Gebug Ende merupakan tradisi yang sudah lama ada dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Seni tradisi ini hidup seiring kepercayaan masyarakat pada eksistensinya yang diyakini dapat membantu masalah kemarau berkepanjangan. Terlepas dari fungsinya yang sakral, kini tarian ini sering juga diselenggarakan untuk memeriahkan HUT RI.

Tidak diketahui pasti bagaimana awal sejarah Gebug Ende. Sejumlah sumber mengaitkannya dengan Presean di Lombok, NTB. Seperti diketahui, Bali dan NTB dulunya sama-sama menjadi bagian dari Provinsi Sunda Kecil. Meski kemudian secara politis keduanya terpisah, ada ikatan sejarah dan budaya di antara suku-sukunya. Khususnya dengan Suku Sasak di Pulau Lombok.

Ada yang menyebut bahwa Gebug Seraya dibawa warga Karangasem yang memiliki hubungan erat dengan suku Sasak. Ada juga yang mengatakan tari Gebug ditiru dari Peresean. Merujuk pada sejarah, sejak abad ke-17 terjalin hubungan antara kerajaan Karangasem dengan kerajaan Pejanggik di Lombok. Sehingga ada kemungkinan tari Gebug asal-mulanya berasal dari Lombok.

Pada kisaran abad ke-16, ketika terjadi konflik yang menyebabkan jatuhnya kerajaan Pejanggik, warga Seraya ikut berperang sebagai prajurit Karangasem. Dikatakan bahwa mereka tertarik dengan permainan rakyat Lombok yang didalamnya terdapat unsur kekebalan dan keberanian, yakni Presean. Di desa mereka seni adu ketangkasan tersebut diberi nama magebug.

Dugaan bahwa Gebug Ende berasal dari Peresean diperkuat oleh banyaknya kesamaan di antara keduanya. Sama-sama menggunakan tongkat rotan dan perisai dari kulit sapi atau kerbau. Keduanya juga memiliki fungsi ritual yang sama, yakni untuk memohon hujan. Sebagai pembeda, perisai di Presean bentuknya persegi panjang, sementara di Gebug Ende berbentuk lingkaran.


Penyajian & Aturan-Aturan Gebug Ende

Tarian ini bisa dipertunjukkan di mana saja asalkan medannya datar dan lapang. Biasanya ada pembatas arena, bisa berupa tali atau pagar bambu. Permainannya biasa dimulai dengan ritual permohonan oleh para juru banten agar semuanya bisa berjalan dengan lancar. Permainan dibuka dengan ucapan selamat datang serta pembekalan agar para pemain menekankan kejujuran dan sportifitas.

Selain para pemain, ada peran wasit yang disebut saya (baca:saye) untuk memimpin pertandingan. “saya” juga yang mengawali memperagakan tarian Gebug Ende dan memberitahukan uger-uger (batasan) yang harus ditaati para pemain. Misalnya; pemain hanya boleh memukul di atas pinggang sampai kepala. Tidak boleh memukul di bawah pinggang sampai kaki.

Di tengah arena terdapat sebuah rotan sebagai garis batas yang digunakan membagi lapangan menjadi 2 bagian. Para pemain tidak diizinkan memukul lawan melewati pembatas rotan tersebut. Kali pertama diawali dengan kelompok anak-anak, setelahnya baru ada giliran untuk kelompok dewasa. Tidak ada perbedaan aturan antara anak-anak dan dewasa.

Dalam permainan ini, tidak ada batasan waktu khusus untuk menentukan selesainya pertandingan. Permainan bisa selesai jika ada satu pemain yang terdesak. Tarian ini sangat menekankan kekuatan fisik untuk melakukan pukulan serta kelincahan menangkis pukulan. Karena kelestariannya, Gebug Ende kini telah dikenal hingga mancanegara, sama halnya dengan Presean.


Properti, Busana & Musik Pengiring

Untuk properti, digunakan pemukul rotan panjangnya sekitar 1,5 meter dan Ende atau perisai kulit berbentuk budar berdiameter sekitar 60 cm. Dalam hal tata busana, jika Gebug Ende untuk keperluan ritual, kostum pemainnya sangat sederhana. Pemain hanya mengenakan destar atau ikat kepala berwarna merah, kain atau kamben, serta saput hitam putih (poleng).

Adapun jika disajikan untuk tujuan hiburan, kostum penari bisa lebih bervariasi. Lebih ditata serta memperhatikan unsur-unsur keindahan. Mengenakan udeng prada, celana beludru, kain prada, sabuk prada, gelang kana, serta selendang. Untuk memaniskan suasana, biasanya juga ada penari perempuan yang mengenakan kain prada, angkin, selendang dan hiasan kepala.

Sebagaimana seni tari pada umumnya, penyajian Gebug Seraya juga diiringi musik untuk menambah semarak serta membangun suasananya. Tetabuhan atau musik pengiring untuk tarian ritual biasanya terdiri dari ceng-ceng rincik, tawa-tawa, empat buah reong, suling dan kempur. Jika untuk hiburan, pengiringnya adalah Gambelan Bali, Gong Kebyar misalnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *