Guro-Guro Aron – Tradisi Pesta Kerja Tahun Suku Karo Di Sumatera Utara

Guro-guro Aron. Masyarakat Karo di Sumatera Utara memiliki cara unik untuk meluapkan kegembiraan. Mereka menari dan bernyanyi, bersukaria sepenuhnya dalam sebuah tradisi kesenian bernama Guro-guro Aron. Sebuah pesta yang dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa syukur pada Sang Pencipta atas keberlimpahan hasil bumi yang mereka terima.

Guro-guro” berarti senda gurau atau bermain-main, sementara “Aron” mewakili anak perana (pemudi ) dan singuda-nguda (pemuda) yang dalam tradisinya mereka mengerjakan ladang bersama-sama dalam satu kelompok kerja. Kesenian ini terkait erat dengan siklus pertanian suku Karo dan biasa digelar pada saat Kerja Tahun (masa akhir panen).

Dalam prakteknya, kesenian ini menampilkan sepasang penyanyi pria dan wanita yang disebut perkolong-kolong. Sembari para biduan tersebut menyanyi, semua panitia atau tamu undangan diajak menari di atas panggung. Suasananya semakin meriah dengan iringan Gendang Karo, yakni Gendang Lima Sendalen. Sering juga kesenian ini disebut Gendang Guro guro Aron.


Penyajian Guro-guro Aron

Setiap produk budaya masyarakat Indonesia sebagai besar telah mengalami perubahan, termasuk dalam penyajiannya, tidak terkecuali Gendang Guro-guro Aron. Umumnya pengiring acara adalah Gendang Lima Sendalen yang terdiri dari Sarune, Gendang Singindungi, Gendang Singanaki, Gong dan Penganak (gong kecil).

Untuk beberapa tahun belakangan ini, kesenian ini lebih banyak diiringi oleh organ tunggal (kibot) atau setidaknya dikombinasikan dengan Gendang Lima Sendalen. Perkolong-kolong sebagai bagian yang selalu ada akan menyanyi dan menari. Selain suaranya bagus, mereka juga akan saling beradu pantun, juga lawakan.

Lagu-lagu yang dinyanyikan sesuai dengan acara yang telah tertata oleh kelaziman yang ada. Umumnya diawali dengan lagu “Pemasu-masun” yang liriknya berisi doa mendoakan agar segenap peserta acara diberikan kelimpahan rahmat, kesehatan, serta kedamaian hidup oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Di saat perkolong-kolong bernyanyi, semua diajak menari diatas panggung. Lagu yang dibawakan selanjutnya disesuaikan permintaan dan diikuti oleh tarian dari masing-masing “marga” yang hadir. Penari haruslah berpasangan, termasuk bagi yang belum menikah. Momen inilah yang kemudian menjadi ajang perjodohan.

Setelah semua marga Karo, dan semua yang menjadi bagian telah mendapat bagian menari, maka kedua biduan diadu bernyanyi dan saling berbalas pantun. Sesi ini biasanya digelar menjelang tengah malam dan merupakan puncak acara dari Guro-Guro Aron.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *