• sumber : www.infobudaya.net

Seni Jaranan Sentherewe, Tulungagung – Dinamis, Luwes dan Berenergi

posted in: Jawa, Jawa Timur, Seni dan Budaya, Tari | 0

Jaranan Sentherewe. Jaranan adalah salah satu kesenian yang cukup tersebar di beberapa daerah di Jawa Timur. Setidaknya, ada sekitar 34 daerah yang memiliki seni jaranan sendiri. Adapun persamaan dan perbedaan masing-masing akan selalu selaras dengan karakteristik budaya masyarakat dimana kesenian itu hidup dan berkembang. Sehubungan dengan ini, tersebutlah Jaranan Sentherewe dari Kabupaten Tulungagung sebagai salah satu jenis seni jaranan di Jawa Timur.

Seperti halnya dengan kesenian jaranan yang lain, Jaranan Senterewe juga merupakan seni tari yang dalam prakteknya menggunakan properti berupa kuda-kudaan yang terbuat dari bambu (jaran atau kuda kepang). Tarian ini menggambarkan prajurit berkuda yang sedang berlatih perang menguji ketangkasan, mahir dan kemudian diuji kembali untuk berburu binatang. Beberapa wujud binatang dalam Jaranan Sentherewe meliputi Celengan (Babi Hutan) dan Barongan sebagai penggambaran ular naga.

Selain itu, Jaranan Sentherewe juga tidak terlepas dari kuatnya aroma mistis. Pertunjukan biasanya selalu diawali dengan mantra-mantra, memakai sarana sesaji (sajen), hingga pada puncaknya sering terjadi adegan kerasukan (ndadi). Sotren atau kekuatan ghaib yang diperoleh dari makam leluhur (danyang) memasuki properti jaran kepang, celengan, barongan, serta salah satu alat musik pengiring yang disebut kendang. Hal ini diyakini sebagai pelindung dan kekuatan kesenian ini.

Seni jaranan ini menghadirkan gerak yang lebih dinamis ketimbang jenis jaranan yang berkembang sebelumnya, Jaranan Jawa dan Jaranan Pegon. Gerakan pada Jaranan Senterewe merupakan perpaduan gerak Tari Remo, Jaranan Pegon, dan Jaranan Jawa. Oleh karena kedinamisan dan keterbukaan, jaranan ini lebih diterima dan dikatakan paling banyak penggemarnya dibanding kesenian yang lain. Selain di daerah asalnya, Jaranan Sentherewe juga tersebar ke daerah Trenggalek, Kediri dan Blitar.

Perihal namanya, istilah Sentherewe berasal dari dua nama jenis tumbuhan yang banyak ditemukan di wilayah Tulungagung. “senthe” adalah sejenis talas yang apabila dimakan akan menimbulkan rasa gatal. Adapun “rawe” adalah jenis tumbuhan liar yang apabila daunnya mengenai kulit manusia akan menimbulkan rasa gatal. Penamaan ini merujuk pada sifat gerak tari yang cenderung lincah dan dinamis, sehingga penari yang menari diibaratkan orang yang makan senthe dan terkena daun rawe.

Sejarah Perkembangan Jaranan Sentherewe

Dalam sejarahnya, sebelum lahir Tari Jaranan Sentherewe, di Tulungagung telah hidup dan berkembang dua jenis kesenian Jaranan, yakni Jaranan Pegon dan Jaranan Jawa. Kesenian jaranan setidaknya telah ada di Tulungagung sejak tahun 1949. Dimulai dari lahirnya Jaranan Jawa, kemudian disusuloleh lahirnya Jaranan Pegon. Masing-masing memiliki ciri khas tersendiri, baik dalam hal gerak, kostum dan pengiring tari.

Pada akhir tahun 1970-an, kedua jenis jaranan yang tersebut di atas mulai surut popularitasnya. Selanjutnya, pada tahun 1980 dibentuklah jenis jaranan baru dengan nama Sentherewe. Citarasa baru dari kesenian jaranan ini pun disambut baik oleh masyarakat, terbukti secara serempak grup-grup kesenian jaranan yang telah ada membuat format Jaranan Senterewe.

Pada awalnya, Jaranan Sentherewe dimainkan oleh para seniman Ludruk. Oleh karena itu, gerakan tari diambil dari vokabuler gerak Tari Remo Jawa Timur, termasuk kostum dan kendangnya juga mirip Tari Remo. Sebagai pembeda adalah properti yang berupa jaran kepang dan pecut (cemeti). Dalam perkembangan selanjutnya, gerak jaranan ini mendapat pengaruh juga dari ragam gerak Jaranan Jawa dan Jaranan Pegon.

Pengaruh gerakan dari Tari Remo, Jaranan Jawa dan Jaranan Pegon menjadikan gerakan Jaranan Senterewe menjadi lebih dinamis, sehingga lebih menyerupai gerak kuda. Seiring perkembangannya, perubahan juga terjadi pada kostum dan iringan yang lebih menyesuaikan dengan perkembangan jaman atau menurut selera kesenian. Meskipun begitu, ciri khas seni jaranan ini tetaplah dipertahankan.

Popularitas Jaranan Sentherewe pernah semakin kuat, sehingga dikatakan memiliki penggemar paling banyak jika dibandingkan dengan kesenian lainnya. Perkembangan jaranan ini turut menunjukkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kedinamisan suatu kesenian dalam upaya mereka melestarikan seni tradisi. Popularitas jaranan ini juga ditandai penyebarannya ke daerah Trenggalek, Kediri dan Blitar.

Beberapa faktor yang membuat kesenian ini sangat berkembang, diantaranya;

  1. Bersifat terbuka dan menerima pengaruh luar yang positif, seperti masuknya musik dangdut, campursari, fragmen Kethoprak dan Ludruk.
  2. Bersifat luwes, dapat dipentaskan dimana saja, baik di arena terbuka maupun diatas panggung. Waktu dan lama pertunjukan bisa menyesuaikan, baik siang maupun malam.
  3. Bersifat dinamis. Gerakannya padat, gagah, lincah dan berirama. Kaya akan olah gerak dan adegan yang beragam, seperti adegan ndadi, barongan dan celengan.
  4. Penari muda. Oleh karena gerakan yang cenderung berenergi dan luwes, para penari umumnya remaja. Hal ini turut memperngaruhi semangat masyarakat untuk menyaksikannya.

Seperti umumnya kesenian tradisional lain, Jaranan Sentherewe juga harus menghadapi arus globalisasi untuk mempertahankan keberadaannya. Agar bisa bersaing dengan budaya pop yang berkembang di masyarakat, berbagai upaya dilakukan, termasuk menambah sajian seni lainnya. Berbagai jenis tarian, lawakan, drama setidaknya pernah menghiasi pertunjukannya.

Upaya terus dilakukan seiring surutnya tingkat kepuasan masyarakat. Ketika Kethoprak dan Ludruk tidak lagi diminati, harus ada alternatif baru untuk menarik minat penonton. Maka, dalam perkembangan berikutnya perubahan dan variasi banyak dilakukan, termasuk merubah sajian musik dan mengawinkan kesenian ini dengan dangdut sebagai sajian yang tengah populer. Selain itu perubahan juga terjadi pada gerak dan lagu-lagunya.

Kegigihan kesenian ini untuk sekedar bertahan juga terlihat saat dunia industri hiburan semakin marak. Kesenian rakyat yang awalnya disajikan di halaman, kini mulai pindah ke dapur rekaman. Hal ini turut mengikis makna sosial dari jaranan sebagai kesenian warisan leluhur. Penyajian dalam bentuk VCD, membuat masyarakat sudah tidak lagi berkumpul untuk menikmatinya. Mereka cukup membeli dan menikmatinya dirumah masing-masing.

Kondisi sebagian besar kesenian tradisional di Indonesia, umumnya memprihatinkan, tidak terkecuali Kesenian Jaranan Sentherewe. Melihat kenyataan tersebut, sudah semestinya kita, terutama masyarakat Tulungagung berupaya untuk mengembalikan kesenian ini pada keadaan semula. Perubahan mungkin terjadi, namun sangat diharapkan tidak mengurangi fungsi sosial sebagai satu kesatuan antara masyarakat dan keseniannya.

Artikel ini dirangkum dari jurnal yang berjudul “Popularitas Kesenian Jaranan Sentherewe di Kabupaten Tulungagung” karya Nur Rokhim. Untuk memperkaya pengetahuan Pembaca mengenai kesenian ini, bisa juga membacanya melalui tautan referensi yang telah disediakan dibawah ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *