• sumber : pinterest.nz/pin/495396027744719793/

Kancet Lasan (Tari Enggang) – Gambaran Kehidupan Burung Enggang

Tari Kancet Lasan. Selain Kancet Ledo dan Kancet Patatai, Suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur juga memiliki Tari Enggang atau Tari Burung Enggang. Tari yang dalam bahasa lokalnya disebut Kancet Lasan ini sangatlah erat kaitannya dengan burung enggang (rangkong). Bagi masyarakat Dayak Kenyah, keberadaan burung enggang sangatlah dihormati dan dimuliakan. Adapun tarian ini tercipta untuk merepresentasikan kehidupan sehari-hari burung tersebut.

Dalam kepercayaan masyarakat Dayak Kenyah, burung enggang mewakili sejarah keberadaannya. Mereka percaya bahwa leluhur mereka berasal dari langit dan turun ke bumi menyerupai burung enggang. Oleh karena itu, burung yang termasuk dalam spesies dilindungi ini sangat dikeramatkan dan dijadikan simbol keagungan dan kepahlawanan dengan julukan Panglima Burung. Sementara itu, Tari Kancet Lasan merupakan simbol penghormatan Dayak Kenyah terhadap asal usul leluhur mereka.

Selain dimaknai sebagai penghormatan terhadap leluhur Dayak Kenyah, ada juga yang berpendapat bahwa Kancet Lasan juga mewakili kebiasaan masyarakat Dayak secara umum. Dalam sejarahnya, Suku Dayak dikenal suka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain secara berkelompok. Hal ini salah satunya disebabkan oleh sering terjadinya peperangan antar suku, sehingga kebanyakan mereka menjalani hidup secara nomaden, tidak terkecuali orang-orang Kenyah.

Untuk menggambarkan keseharian burung enggang, maka Tari Kancet Lasan mengusung gerak dasar perumpamaan burung tersebut. Konsep gerakannya sendiri terbagi menjadi tiga kelompok, diantaranya Nganjat, Ngasai, dan Purak Barik. Nganjat adalah gerakan utama yang menjadi ciri khas tarian Dayak yang menyerupai burung enggang. Ngasai adalah gerakan yang mewakili gaya terbangnya, sementara Purak Barik adalah gerakan berpindah tempat.

Oleh karena pentingnya kesenian ini dalam budaya Dayak, Tari Kancet Lasan seolah menjadi tarian wajib dalam setiap even, termasuk dalam upacara adat Dayak atau pada acara-acara kebudayaan di Indonesia. Meski dalam perkembangannya, tari ini tidaklah terlepas dari beberapa perubahan, namun filosofinya tetaplah sama. Secara keseluruhan, nilai yang terkandung adalah sebagai bahasa budaya dan mempererat persaudaraan antar suku bangsa di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *