• sumber : twitter.com/indoexcursions/status/922729080599875585

Jaranan, Jawa Timur – Kesenian Tua Lambang Kekuatan & Kesetiaan

posted in: Jawa, Jawa Timur, Seni dan Budaya, Tari | 0

Kesenian Jaranan. Mungkin sebagian pembaca sudah sangat akrab dengan “Seni Jaranan”, apalagi jika tengah dihadapkan pada pertanyaan mengenai “Contoh Kesenian Tradisional Jawa”. Meskipun pada kenyataannya penamaan dari kesenian ini pada masing-masing daerah terdapat perbedaan. Namun hampir kesemuanya memiliki citarasa yang sama dan selalu diidentikan dengan peng-istilah-an “Kuda Buatan/Mainan“.

Memang begitulah adanya, istilah Jaranan sendiri berasal dari bahasa jawa, “jaran” yang berarti Kuda, sedangkan akhiran “-an” dimaknai sebagai bukan sungguhan atau hanya sekedar mainan/buatan. Jadi, kesenian ini bisa diartikan sebagai suatu seni yang dalam pelaksanaannya menggunakan properti kuda buatan. Adapun mengenai bahan baku properti tersebut sangat beragam dan bergantung pada kreativitas masyarakat daerah pendukungnya.

Sementara itu, mengenai pemilihan “kuda” bukannya tanpa makna. Dalam budaya Jawa, jaran atau kuda merupakan binatang simbol kekuatan, lambang keperkasaan dan lambang kesetiaan. Ketika manusia menggunakan kuda sebagai kendaraannya, maka manusia digambarkan sedang berjuang menempuh kehidupan untuk mencapai tujuan hidupnya.

Sejarah Kesenian Jaranan

Kesenian Jaranan di Jawa Timur sendiri memiliki sejarah yang cukup tua, seni pertunjukan tradisional ini diketahui telah ada sejak zaman Kerajaan. Dahulu seni pertunjukan yang ada dibagi menjadi dua kategori, yakni seni pertunjukan di istana (court performing arts) dan seni pertunjukan rakyat yang disebut fallo performing art (Soedarsono, 2002: 3).

Lebih detail lagi mengenai perbedaan tersebut seperti diungkapkan oleh Pigeaud, bahwa seni pertunjukan istana adalah seni yang hidup, tumbuh dan berkembang di kalangan istana. Sedangkan seni pertunjukan rakyat adalah seni pertunjukan yang berkembang di kalangan rakyat diantara seni tersebut adalah Jaran Kepang atau Jaranan (Pigeaud,  1938).

Jaranan adalah salah satu seni tradisional yang cukup tersebar di Propinsi Jawa Timur. Terdapat sekitar 34 daerah di Jawa Timur yang memiliki Seni Jaranan yang mana Nama, Bentuk dan Fungsi pertunjukannya memiliki persamaan dan perbedaan pada masing-masing daerah. Perbedaan dan persamaan tersebut akan selalu selaras dengan karakteristik budaya masyarakat dimana kesenian tersebut hidup dan berkembang.

Dari beberapa daerah yang ada di Jawa Timur yang di dalamnya terdapat Kesenian Jaranan, didapati beberapa nama-nama seni Jaranan. Beberapa diantaranya adalah Jaranan Buto, Kuda Lumping, Jaranan Jur, Jaran Kepang, Jaran Dor, Jaranan Senterewe, Kepang Dor, Jaranan Pogokan, Jathilan, Jaran Bodhag, Tari Turonggo Yakso, Jaranan Pegon serta Jaranan Campursari .

Perbedaan nama juga diikuti oleh perbedaan bentuk dan fungsi. Adapun persamaan yang ada biasanya berkisar pada tempat dan arena pertunjukan yang sebagian besar di gelar di pentas terbuka dengan penonton berada disekelilingnya. Ketika difungsikan sebagai sarana ritual, seni tari ini biasanya dilakukan dengan berkeliling desa.

Ritual-ritual yang didalamnya terdapat Seni Jaranan biasanya berkisar pada selamatan bersih desa dari “Pageblug” yang dimaknai sebagai segala marabahaya atau penganggu desa. Pageblug diyakini oleh masyarakat setempat akan mengganggu kehidupan mereka.

Struktur Pertunjukan Kesenian Jaranan

Persamaan lain pada kesenian ini di masing-masing daerah adalah struktur pertunjukan, yang mana baik daerah satu dengan yang lainnya memiliki kemiripan dalam hal tersebut. Secara umum struktur pertunjukan Seni Jaranan di Jawa Timur adalah sebagai berikut:

  • Bukak Kalangan : Sebelum Jaranan dimulai, acara biasanya diawali dengan hadirnya Pawang (Pemimpin Pertunjukan). Pawang membawa cemeti (Cambuk) yang di cambukkan ke tanah dengan berkeliling mengitari area pertunjukan. Kegiatan tersebut dijadikan penanda bahwa acara akan segera dimulai juga sebagai lambang perlindungan pada area pentas dari berbagai gangguan, baik gangguan dari mahluk yang tak tampak maupun gangguan yang ditimbulkan oleh manusia.
  • Tarian Jaranan : Tari ini biasanya ditampilkan oleh 4 penari yang menggunakan kuda tiruan. Dua kuda berwarna putih dan dua lainnya berwarna hitam sebagai lambang keadaan yang selalu berlawanan di dunia. Tari jaranan juga dibagi menjadi tiga adegan yakni :
    • Pertama : Adegan Solah Prajuritan dimana semua penari menari bersama laksana prajurit yang siap untuk berperang.
    • Kedua : Adegan Solah Perang yang mana para prajurit berkuda berperang melawan Barongan atau Macanan serta Celeng (Penari yang menggunakan kostum menyerupai Babi Hutan). Peperangan tersebut semuanya dimenangkan oleh para penari berkuda sebagai simbol bahwa pertentangan antara baik dan buruk akan selalu dimenangkan oleh kebaikan.
    • Ketiga : Adegan Solah Krida yang digambarkan sebagai keberhasilan seseorang dalam memerangi segala rintangan dalam kehidupannya.
  • Tari Macanan atau Barongan : Setelah Tarian Jaranan selesai, kemudian dilanjutkan dengan munculnya penari yang menari dengan menggunakan kostum menyerupai macan. Macan atau harimau dalam hal ini disimbolkan oleh masyarakat sebagai lambang energi negatif.
  • Tari Celengan : Tari ini merupakan penanda akhir dari Kesenian Jaranan. Penari dengan menggunakan busana menyerupai celeng (babi hutan) menari-nari mengikuti iringan musik. Perwujudan celeng secara etimologi dimaknai oleh masyarakat sebagai Nyelengi atau Menabung sebagai lambang energi positif agar manusia senantiasa untuk selalu ingat terhadap kebutuhan hidup yang akan datang.

Pakem dalam Kesenian Jaranan

Perkembangan zaman seiring dengan perubahan pemikiran di masyarakat memungkinkan apa saja yang telah tertata di masa lalu harus berubah. Harus senada dengan selera masyarakat berbudaya modern yang cenderung menghendaki semuanya serba instan dan praktis. Keadaan tersebut sangat berdampak pada kebanyakan kesenian tradisional, terkhusus dalam hal ini adalah Kesenian Jaranan di Jawa Timur.

Kesenian yang dapat tetap hidup adalah kesenian yang mampu beradaptasi dengan budaya modern. Teramat miris memang, ketika melihat masyarakat yang hampir kesemuanya memiliki kecenderungan dan lebih memilih hiburan-hiburan modern yang kering tanpa makna. Perlahan tapi pasti segala bentuk seni dan budaya tradisional yang sangat sarat dengan makna dan filosofi kearifan harus terkikis habis dan punah.

Meskipun begitu adanya, jika memang untuk mempertahankan kesenian tradisional harus dikembangkan dan beradaptasi dengan selera modern, sangatlah diharapkan tetap mempertahankan intisari serta nilai-nilai yang terkandung dari suatu seni tradisi. Setidaknya sekedar untuk menjaga pelestariannya.

Dalam hal Kesenian Jaranan di Jawa Timur, perlu mempertahankan unsur pakem yang ada. Diantaranya adalah pola lantai panjer papat, prapatan, puteran dan lanjaran.

  • Panjer papat : Pola lantai dengan posisi penari berada pada empat sudut. Menggambarkan empat sudut mata angin yang diibaratkan panjer atau pusat kehidupan. Mengisyaratkan kemanapun manusia berjalan dalam kehidupan ini harus tetap ingat pada sang pencipta.
  • Prapatan : Penari Jaranan bergerak saling bertukar tempat. Gambaran tentang manusia akan selalu bergerak dalam kehidupan ini. Makna dari pergerakan itu adalah bahwa manusia saling membutuhkan satu sama lain sehingga harus saling membantu untuk memperoleh ketentraman hidup.
  • Puteran : Penari berputar seolah memutari kiblat yang menjadi simbol dunia. Mengandung makna bahwa manusia harus menyeimbangkan kehidupannya.
  • Lanjaran  : Penari dalam satu garis sebagai gambaran sebuah kesatuan yang bermakna bahwa manusia harus menyatu dalam wujud batiniah dan rohaniah.

Kesenian Jaranan adalah suatu seni yang dalam bentuknya lebih mengutamakan unsur keseragaman gerak. Disini pola gerak serta komposisi pola lantai telah ditata sedemikian rupa dengan pertimbangan nilai estetik dan unsur pakem yang ada. Memang benar bahwa pergeseran bentuk tidaklah dapat dihindari pada kesenian yang ingin bertahan hidup dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Hanya saja diharapkan bahwa perubahan atau pergeseran bentuk tidaklah mengikis unsur-unsur tradisi. Perubahan yang diterapkan semata-mata sebagai upaya mempertahankan jati diri dari kesenian tersebut. Dapat diartikan bahwa segala modifikasi haruslah diimbangi dengan kesadaran akan pakem- pakem tradisi yang harus dipertahankan agar nilai-nilai budaya bangsa yang ditampilkan dalam kesenian ini tetap terjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *