• sumber : www.indonesiakaya.com

Seni Rampak Gendang – Sajian Musik Tradisi Khas Suku Sunda

posted in: Jawa, Jawa Barat, Musik, Seni dan Budaya | 0

Rampak Gendang (Rampak Kendang). Masyarakat Sunda di Jawa Barat dikenal sangat kaya akan budaya. Sebagian besar kebudayaan Sunda lahir dan dominan di wilayah Parahyangan atau Priangan. Wilayah bergunung-gunung yang luas wilayahnya mencapai seperenam Pulau Jawa ini didominasi oleh suku Sunda yang kreatif sehingga banyak menghasilkan karya seni yang khas. Diantara banyaknya kesenian yang lahir di wilayah Priangan, tersebutlah karya seni kreasi musik bernama Rampak Gendang.

“Rampak” adalah istilah dalam bahasa Sunda yang berarti serempak atau secara bersama-sama. Gendang atau kendang merupakan instrumen dalam Gamelan Jawa dan Gamelan Degung yang salah satu fungsi utamanya adalah mengatur irama. Dapat diartikan bahwa Rampak Kendang adalah sajian musik tradisi yang melibatkan banyak kendang dimainkan oleh banyak pemain secara bersama-sama. Meski berjumlah banyak, bunyi yang dihasilkan sama saja namun serentak dibunyikan secara bersamaan.

Rampak Gendang sangat dikaitkan dengan bunyi tetabuhan kendang yang lahir sebelumnya, yakni Kendang Penca. Apabila Rampak Kendang menyajikan banyak kendang dalam bunyi sama yang cenderung berenergi dan bersemangat, Kendang Penca hanya terdiri dari dua perangkat yang saling mengisi. Kedua kendang tersebut melahirkan bunyi yang berbeda untuk menghasilkan harmoni yang kemudian ditimpali alunan terompet dan diakhiri oleh bunyi bende pada setiap akhir lagu tepukan.

Kedang Penca merupakan sumber inspirasi bagi kelahiran Rampak Gendang, selain pukulan tepak kendang Jaipong yang dijadikan pola tabuhan pokoknya. Dalam sejarahnya, kesenian ini tercipta sebagai karya seni kreasi baru yang lahir hampir bersamaan dengan seni tari Jaipongan. Alat musik lain yang mewarnai pertunjukan Rampak Kendang adalah terompet dan gamelan berlaras salendro yang terdiri dari bonang, rincik, saron, peking, demung, kenong, gong, dan rebab.

Penyajian Rampak Gendang

Para pemainnya terdiri dari pemain kendang dan pengrawit gamelan. Pemain kendang biasanya paling sedikit 5 orang dan pernah mencapai jumlah 100 orang lebih. Masing-masing memainkan kendang indung (besar) dan 2 kendang kulanter (kecil) dengan menempati barisan paling depan dalam formasi yang diatur sedemikian rupa agar terlihat oleh penonton. Mereka menggunakan pakaian khusus bermotif Sunda dengan warna yang menarik dan cenderung berseragam.

Adapun para pengrawit, dengan menggunakan busana takwa lengkap dengan sinjang dan udeng (ikat kepala) mereka menempati posisi dibelakang atau disamping pemain kendang. Aba-aba gending dari para pengrawit gamelan akan memulai aksi pemain gendang, memainkan komposisi lagu tabuhan secara bersama-sama. Secara berbarengan atau bergantian mereka menggerakkan tangan, kepala , serta badan. Bahkan tidak jarang mereka berteriak atau diam serentak bersama-sama.

Rampak Gendang biasa digelar untuk mengisi berbagai acara atau resepsi, baik di gedung maupun di panggung khusus. Lama pertunjukan selalu bergantung pada alokasi waktu yang disediakan, biasanya antara 3-10 menit. Meski hanya sebagai hiburan, kesenian ini turut merepresentasikan kebersahajaan suku Sunda. Kaya akan nilai-nilai filosofis sebagai cerminan masyarakat Sunda yang guyup dan harmonis berlandaskan pada sifat kegotong-royongan dan keceriaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *