• sumber : warisanbudaya.kemdikbud.go.id

Randai, Sumatera Barat – Buah Kemesraan Budaya Melayu & Minang

Kesenian Randai. Dalam kesejarahan budaya Minangkabau, dikenal beberapa seni tradisional yang berbentuk drama. Selain drama toonel atau basandiwara yang dikemudian hari turut melahirkan Tari Payung, ada juga kesenian Randai yang merupakan teater tradisional rakyat Minangkabau. Kesenian ini juga sebagai bentuk permainan tradisional yang tumbuh, hidup dan berkembang di lingkungan masyarakat di Nagari-Nagari dalam wilayah Minangkabau di Sumatera Barat.

Randai adalah karya seni unik yang dalam prakteknya menggabungkan berbagai unsur seni, seperti drama, tari, musik, sastra serta bela diri silat. Selain memuat pesan-pesan moral dan pendidikan, Randai juga mengandung unsur historis karena sebagian besar lakon adalah cerita klasik tentang kesejarahan Minangkabau. Pada tahun 2017 yang lalu, seni pertunjukan ini termasuk yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia oleh Kementrian Pedidikan dan Kebudayaan.

Setidaknya ada dua unsur pokok dalam kesenian Randai. Pertama, unsur penceritaan (kaba) yang dipaparkan melalui gurindam, dendang dan lagu dengan diiringi oleh alat musik tradisional Minang seperti salung, rebab, bansi, rebana dan lain-lain. Kedua, unsur laku dan gerak atau tari yang dibawakan melalui galombang yang bersumber dari gerakan silat tradisi Minang dengan berbagai variasi sesuai dengan gaya silat di masing-masing daerah.

Sebagai sebuah drama, kesenian Randai dimainkan oleh beberapa orang berkelompok atau beregu. Dengan dituntun oleh seorang janang, para pemain membawakan cerita yang diambil dari kenyataan hidup yang ada di masyarakat. Beberapa cerita populer yang sering dibawakan meliputi Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga dan lain sebagainya. Kesenian ini difungsikan sebagai hiburan yang biasa diadakan dalam pesta rakyat atau pada hari raya Idul Fitri.

Asal-Usul Istilah Randai

Oleh karena tidak ada yang benar-benar tahu mengenai makna istilah Randai yang sebenarnya, beragam pendapat pun mewarnai asal dan pengertian istilah ini. Setiap pendapat selalu disesuaikan dengan persepsi dan interpretasi seseorang terhadap wujud kesenian tersebut.

Ada yang mengatakan, Randai berasal dari kata andai atau handai. Pemaknaan ini merujuk pada penutur dialog dan para pemain yang menggunakan pengandaian atau perumpamaan untuk mewakili cerminan kehidupan dalam masyarakat. Ada juga yang berpendapat bahwa Randai berasal dari kata rantai yang merujuk pada formasi pemain yang membentuk lingkaran saling terhubung bagaikan rantai.

Pendapat lain adalah Randai berasal dari kata bahasa Arab, rayan-li-da-i. Lebih dekat dengan kata da-i ahli dakwah tarekat Naqsyabandiyah. Pendapat ini mewakili galombang atau gerakan-gerakan tari dalam Randai yang bersumber dari gerakan pencak silat tradisional Minangkabau yang erat hubungannya dengan gerakan ritual kaum Naqsyabandiyah.

Sumber yang lain mengatakan bahwa sebelum randai yang berbentuk teater, telah ada kesenian bernama serupa, randai Lu Ambek di Pariaman dan randai Ilau di Saning Bakar. Keduanya termasuk seni tari yang dimainkan oleh beberapa orang dalam formasi melingkar. Mereka menari dengan gerakan-gerakan seperti pencak silat sambil bernyanyi dan bertepuk tangan.

Sepertinya, randai dalam bentuk tari yang tumbuh lebih dulu telah memberi pengaruh pada randai dalam bentuk teater yang tumbuh kemudian. Sehingga istilah tarian randai selanjutnya juga digunakan untuk sebutan atau penamaan randai dalam bentuk teater. Penjelasan lebih terperinci, lihat disini.

Sejarah Kesenian Randai

Seperti umumnya kesenian tradisional di Indonesia, Randai memiliki kesejarahan yang panjang. Kesenian ini lahir untuk kemudian mengalami akulturasi atau pembauran dengan budaya lain yang masuk dan berkembang di Sumatera Barat. Dalam hal ini, kehadiran teater komedi bangsawan Melayu pada kisaran tahun 1924 memberi pengaruh besar pada pembentukan Randai.

Melalui budaya imigran tersebut, dikomposisikanlah oleh masyarakat setempat vokabuler kesenian yang sudah ada menjadi suatu bentuk teater rakyat. Meskipun begitu, tetap saja kesenian pribumi yang telah ada sebelumnya tidak kalah penting dalam pembentukan Randai. Bahkan, seni sastra dan silat Minangkabau adalah bibit yang menumbuhkan kesenian Randai.

Sebelum teater Randai terbentuk, ada tradisi sastra lisan yang disebut kaba atau bakaba. Dengan cara berkeliling, seorang tukang cerita membawakan kaba untuk mengisi upacara-upacara tradisional seperti sunatan, perkawinan, pendirian rumah gadang dan lain sebagainya. Awalnya kaba dibawakan secara monolog, namun seiring perkembangannya juga diiringi musik tradisional seperti rebab dan kecapi.

Selain tradisi bakaba, seni bela diri Minang juga mengalami perkembangan dalam penyajian. Utamanya sejak politik kekerasan Belanda di tahun 1930-an yang melarang masyarakat melakukan latihan bela diri. Sebagai gantinya, penggiat seni ini pun menyamarkan unsur bela dirinya. Mereka hanya menampilkan bunga-bunga silat dalam formasi melingkar sambil bernyanyi dan tepuk tangan. Dari sini lahirlah tari Randai.

Proses perkembangan kedua seni pribumi tersebut juga diwarnai hadirnya teater Bangsawan Melayu pada tahun 1920-an yang disambut baik di Tanah Minang. Seiring dengan kemesraan budaya Melayu dan budaya Minang, bermula dari pasar malam di Payakumbuh pada tahun 1932 lahirlah Randai dalam bentuk teater. Kesenian ini berawal dari ide penyusunan kaba, pencak silat, sewah, gelombang dan tari randai dalam acara yang diistilahkan Fanncy Fair tersebut.

Ratius, seorang pemain pertama dalam randai Simarantang menyatakan bahwa teater randai pertama tumbuh di Labuah Basilang Payakumbuh menampilkan cerita Cindua Mato. Kelompok tersebut bubar kemudian lahir kelompok lain di Koto Nan Gadang Payakumbuh tahun 1935 dengan menampilkan cerita Simarantang. Randai Simarantang inilah yang kemudian berpengaruh pada pertumbuhan kesenian Randai di nagari-nagari dalam daerah Sumatera Barat.

Dalam proses terbentuknya kesenian Randai, pengaruh teater komedi bangsawan Melayu cukup kentara dalam hal penokohan dan pembabakan penyajian kaba. Kedua unsur seni tersebut sebelumnya tidak dikenal dalam khasanah kesenian rakyat Minangkabau. Hingga saat ini, kesenian Randai tetap lestari dan masih digemari, terutama di daerah pedesaan yang lazim disebut Nagari (negari) sesuai pembagian daerah di Minangkabau.

Penyajian Kesenian Randai

Dalam penyajiannya, telah disepakati oleh para pakar randai bahwa kesenian Randai mempunyai unsur pokok diantaranya cerita, dialog, akting, gurindam dan galombang. Meski boleh dikembangkan, semua unsur tersebut tidak bisa ditiadakan agar kesenian ini tetap dikatakan sebagai teater Randai. Oleh karena itu, pengembangan cerita dalam kesenian ini tetap mengakar pada budaya Minangkabau.

Secara historis, cerita dalam Randai tidak selalu bersumber pada kaba. Hal ini terlihat pada cerita randai Simantarang, Angkupalo Sitalang, Intan Sari Dewi atau selainnya yang lebih mengungkapkan kejadian atau fenomena sosial. Dari sini, dimungkinkan bahwa cerita Randai bisa tetap baru dan segar karena disusun berdasarkan fenomena kehidupan masyarakat masa kini.

Sebagai media komunikasi sastra, randai hadir dengan tiga bentuk gaya sastra dalam cerita yang dibawakannya. Pertama, pantun berkait (pantun tikam jajak) dimana baris pertama dan kedua adalah sampiran yang isinya tetap mengandung sesuatu yang relevan dengan isi cerita. Selain itu, baris pertama pantun berikut adalah kelanjutan ungkapan baris keempat dalam pantun sebelumnya.

Kedua adalah pantun lepas. Sebuah pantun yang memiliki baris pertama dan kedua sebagai sampiran, namun isinya benar-benar lepas dan tidak terkait dengan isi cerita. Ketiga, tidak lagi sebuah pantun namun berbentuk rangkaian kata dengan kandungan makna tertentu. Meskipun begitu, gaya ini tetap terkait dengan ketentuan pantun A-B A-B atau A-A bagaikan sebuah syair.

Sejak Sarasehan randai 1972, telah ditetapkan tiga irama dendang untuk gurindam. Ketiga irama tersebut diantaranya, Dayang Daini untuk gurindam persembahan, Simantarang untuk legaran pertama, dan dendang Simantarang Tinggi (Palayaran) pada bagian penutup. Selain yang disebutkan, bisa dipergunakan irama yang disesuaikan dengan lingkungan masyarakat tradisional Minang seperti saluang, salawat dulang, indang, dikie dan lain-lain.

Sementara itu, dialog dan akting dalam randai umumnya berbentuk balabeh silat. Hal ini selaras dengan gaya dialog randai yang bersumber pada gaya berpantun dan berpasambahan. Sayangnya, fenomena lain turut mewarnai perkembangan randai dalam penggarapannya. Dewasa ini, ada juga gaya dialog yang tidak bersumber pada gaya berpantun, cenderung tidak sama dan tidak serasi.

Dalam hal gelombang randai, umumnya mengusung gaya gerak pencak silat dari gerak gelombang randai khas Minang. Adapun seiring perkembangannya ada masa dimana penggarapan lebih fokus pada tapuak galembong dan penampilan gerakan-gerakan joged. Ada yang menyayangkan penggarapan ini akan mengikis atau mengabaikan kekuatan dan keunikan gerak gelombang randai sebagai teater rakyat Minangkabau.

Bentuk Gerak Gelombang Randai

  • Gerak Vibrasi : Penggunaan gerak getar yang terdapat dalam ragam gerak balah karambia dan tupai bagaluik. Disebut juga gerak perkusi sarat dengan pengulangan pola gerak secara tepat dan cepat.
  • Gerak Berputar : Gerakan memutar tubuh atau bagian tubuh yang diputar ke kiri dan kekanan. Penggunaan gerak ini dapat ditemukan dalam gerak basioyak atau gerak tangan bungo ketek dan gadang dalam Tari Piring.
  • Gerak Mengayun : Penggunaan gerakan ini seperti terlihat pada ragam gerak babuai yang seolah mengayun atau menimang seorang bayi yang sedang di gendong. Ada pengulangan yang teratur seperti gerak bandul jam.
  • Gerak Jatuh Bangun : Penggunaan gerak seperti ini bisa dilihat pada ragam gerak injak baro. Gerakan jatuh dan bangkit kembali dalam berbagai bentuk posisi badan dengan tempo dan kecepatan yang gesit.
  • Gerak Patah-Patah : Gerak seperti ini bisa dijumpai dalam ragam gerak Tari Minang yang cenderung berkarakter kuat, tajam dan dinamis. Umumnya dapat dilakukan sebagian atau seluruh anggota tubuh.
  • Gerak Tegang Kendor : Gerakan ini difungsikan sebagai penyambung frase-frase gerak. Sangat dipengaruhi oleh kontrol penggunaan tenaga atau intensitas dan kualitas. Dapat dilakukan dalam berbagai bentuk dan posisi.
  • Gerak Mengalir : Gerakan seperti ini lebih banyak ditemukan dalam gerak Tari Melayu yang cenderung lembut dan halus. Dalam galombang randai, gerak ini mengutamakan penekanan emosi yang tetap, mengalir tanpa aksen dan tekanan.
  • Gerak Lokomotor : Gerakan seperti ini biasanya sering dilakukan dalam gerakan berpasangan gerak serang dan tangkis. Lebih mengutamakan kecepatan tinggi dengan perubahan bentuk yang berbeda-beda.
  • Gerak Melayang : Gerakan yang mencoba melepaskan diri dari gravitasi bumi. Sebagai misal adalah gerak melompat dalam ragam gerak tagak itiak. Gerakan seperti ini dapat dilakukan dalam berbagai bentuk dan posisi.
  • Gerak Membumi : Penggunaannya bisa dilihat pada posisi berdiri dengan pitunggue, dimana kedua kaki ditekuk sehingga posisi badan menjadi lebih rendah. Gerakan seperti ini biasanya terdapat dalam gerak-gerak tari tradisi.
  • Gerak Menahan : Gerakan meloncat ke udara untuk kemudian bertahan sejenak di puncak ketinggian locatan. Memiliki tingkat kualitas dramatik yang kuat yang biasa dilakukan dalam menahan gerakan berpasangan, serang dan tangkis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *