Korrie Layun Rampan – Sang Mutiara Sastra Dari Kalimantan

posted in: Biografi, Sastrawan | 0
Durasi baca : 17 menit
Biografi Korrie Layun Rampan
sumber : undas.co

Korrie Layun Rampan

Korrie Layun Rampan adalah salah satu sastrawan Indonesia yang bersinar, terlebih ketika buku tebalnya menjadi penanda lahirnya Sastrawan Angkatan 2000. Angkatan sastra yang menjadi tempat bertemunya karya sastra yang sangat berani dan vulgar dengan karya sastra islami yang menawarkan kesantunan dan bersih dari citra erotis.

Korrie adalah mutiara sastra dari Kalimantan. Seorang sastrawan dan kritikus yang produktif, kaya akan cerpen, novel, puisi, kritik dan esai. Selain Emha Ainun Nadjib, ia adalah salah satu contoh benih yang telah tumbuh dari Persada Studi Klub dalam bimbingan seorang sastrawan misterius, Umbu Landu Paranggi.

Korrie Layun Rampan terlahir pada tanggal 17 Agustus 1953 di Samarinda, Kalimantan Timur. Ia adalah seorang putra dari keluarga pegawai negeri. Ayahnya, Paulus Rampan adalah seorang pensiunan tentara berpangkat sersan, sementara ibunya bernama Martha Renihay. Semenjak kecil, Korrie adalah seorang anak yang berprestasi. Menjalani pendidikan dasarnya hanya empat tahun dan lulus tahun 1964.

Oleh karena prestasi baiknya juga, Korrie melanjutkan sekolah di SMP hingga perguruan tinggi berbekal beasiswa dari Pemerintah Daerah Tingkat I Kalimantan Timur. Lulus SMA di Samarinda tahun 1970, selanjutnya pindah ke Yogyakarta untuk melanjutkan studinya di Universitas Gadjah Mada. Awalnya, ia memilih Jurusan Kuangan dan Perbankan sampai sarjana muda, kemudian beralih ke Fakultas Sosial Politik.

Pada tahun 1973, tepatnya pada tanggal 10 Juli, Korrie Layun Rampan menikah dengan Hernawati K.L. Keduanya dikaruniai enam orang anak, diantaranya Anthoni Ardhy Rampan, Evita Feirin Rampan, Riena Dyaningtyas Rampan, Eliade Rinding Rampan, Dayeng Rinding Rehinay Rampan dan yang terakhir adalah Amalia Rinding Rehinay Rampan.

Kecintaannya terhadap dunia sastra telah dimulai sejak kelas IV SD, melalui kegemarannya membaca banyak karya sastra. Tenggelamnya Kapal van der Wijk, sebuah novel karya Buya Hamka telah berhasil menggugah hati seorang Korrie untuk mulai menulis. Ketika di SMP, beberapa majalah sastra telah dibacanya, termasuk majalah Sastra, Horison, Cerpen, Budaya Jaya, dan Indonesia.

Di SMA, ia semakin giat dalam bersastra. Menulis puisi di majalah dinding sekolahnya, hingga mengisi siaran khusus sastra “Pancaran Sastra” di RRI Studio Samarinda. Eksistensi kesastraannya semakin terlihat saat berkuliah di Yogyakarta, dimana ia bergabung dengan Persada Studi Klub (PSK) atau juga populer dengan sebutan Universitas Malioboro di bawah bimbingan Umbu Landu Paranggi.

Terhitung sejak kisaran tahun 1972, Korrie Layun Rampan sudah menjadi penulis produktif. Tulisan-tulisannya kerap di muat di berbagai koran dan majalah,seperti Kompas, Berita Buana, Suara Karya, Sinar Harapan, Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, dan Horison. Menariknya, karya-karyanya yang tersebar itu kemudian dibukukan dalam judul “Pejalanan Sastra Indonesia” dan diterbitkan oleh Penerbit Gunung Jati di tahun 1983.

Bentuk perhatiannya kepada sastra juga diwujudkan dengan mendirikan Yayasan Arus sebagai wadah untuk menerbitkan karya-karya sastra. Selain itu, Korrie juga memiliki ruang khusus di rumahnya untuk dokumentasi sastra dengan mengoleksi sekitar 25.000 judul buku. Selain buku, majalah dan kliping sastra, ia juga mengoleksi buku bidang sosiologi, antropologi dan biografi tokoh-tokoh terkenal. Roman Melayu-Tionghoa yang terbit sebelum abad XIX menjadi buku tertua dalam koleksinya.

Korri Layun Rampan terkenal sangat produktif dan tidak hanya di dunia sastra. Selain sebagai sastrawan dan aktif di bidang penerbitan, ia juga seorang guru, dosen, jurnalis, penyiar di RRI dan TVRI Stasiun Pusat. Sejak tahun 1978-2001, ia menjadi bagian dari beberapa penerbit. Diawali dengan bekerja di penerbit Cypress, Sinar Harapan, Sarinah hingga menjadi pemimpin redaksi surat kabar Sentawar Pos (Barong Tongkok, Kutai Barat, Kalimantan Timur).

Di dunia pendidikan, selain mengajar di Universitas Sendawar, Melak, Kuta Barat, Korrie juga mendirikan Rumah Sastra KLR yang berfokus pada masalah pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga remaja. Ada juga universitas KLR di Samarinda. Tidak berhenti disitu, Korrie juga aktif di dunia politik, hingga menjadi anggota DPRD Kutai Barat periode 2004-2009, sebagai Ketua Komisi 1 dan bertugas sebagai jurnalis dan duta budaya. Di bidang sosial, ia menjadi Ketua Bidang Seni Budaya Dewan Adat Dayak.

Penghargaan untuk Korrie Layun Rampan

Aktivitasnya di dunia sastra telah menghantarkan beberapa penghargaan terhadapnya. Novelnya yang berjudul Upacara dan Api Awan berhasil memperoleh Hadiah Sayembara Roman DKJ 1976 dan 1978. Kumpulan puisinya berjudul Cuaca di atas Gunung dan Lembah (puisi anak-anak) mendapatkan hadiah sejak dinobatkan sebagai kumpulan puisi terbaik tahun 1984 oleh Yayasan Buku Utama.

Penghargaan lain yang diperolehnya sampai tahun 2012 berjumlah sekitar 16 buah penghargaan, diantaranya Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (2006), Hadiah Pelopor Sastra Kalimantan Timur dari Pemerintah Kota Balikpapan (2009), Hadiah Citra Darma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional RI (2010), Penghargaan dari Pemerintah daerah Provinsi Kaltim (2012), dan Penghargaan dari Komunitas etnis Dayak Benuaq (2012).

Karya-karya Korrie Layun Rampan

Kumpulan cerpen diantaranya:

  1. Matahari Makin Memanjang, 1986, Jakarta: Bahtera Jaya
  2. Perhiasan Bumi, 1986, Jakarta: Bahtera Jaya
  3. Ratapan, 1989, Jakarta: Balai Pustaka
  4. Perjalanan Guru Sejarah, 1983, Jakarta: Bahtera Jaya
  5. Kekasih, 1981, Ende: Nusa Indah
  6. Tak Alang Kepalang, 1993, Jakarta: Balai Pustaka
  7. Malam Putih, 1983, Jakarta: Balai Pustaka
  8. Perhiasan Matahari, 1989, Jakarta: Balai Pustaka
  9. Perhiasan Bulan, 1988, Ende: Nusa Indah
  10. Kayu Naga, 2007

Kumpulan puisi diantaranya:

  1. Matahari Pingsan di Ubun-Ubun
  2. Alibi
  3. Cermin sang Waktu
  4. Mata dan Sawan

Kritik dan esai diantaranya :

  1. Cerita Pendek Indonesia Mutakhir: Sebuah Pembicaraan, 1982, Jakarta: Nur Cahaya
  2. Puisi Indonesia Mutakhir Sebuah Perkenalan, 1980, Jakarta: Nur Cahaya
  3. Kesusasteraan Tanpa Kehadiran Sastra, 1984, Jakarta: Yayasan Arus
  4. Jejak Langkah Sastra Indonesia, 1986, Ende: Nusa Indah.

Cerita anak diantaranya :

  1. Nyanyian Tanah Air, 1981, Jakarta: Cypress
  2. Pengembaraan Tonsa di Posa, 1981, Jakarta: Sinar Harapan
  3. Pohon Raksasa di Rimba Raya, 1983, Jakarta: Cypress
  4. Mulawarman Bersama 25 Pahlawan Kalimantan, 1985, Jakarta: Cypress.

Kumpulan Puisi Korrie Layun Rampan

Ku Tempuh Jalan-jalan Lengang
Kutempuh jalan-jalan lengang, derita-Mu
menghadang
Demikian tertib nasib menyalib
Dari pusat hari-hari-Mu yang rumit

Kutempuh jalan-jalan sepi, cinta mekar dalam
bunga-bunga sunyi
Hidup berbeban juang, sepanjang tubir hari-hari
yang garang
Tak berdalih, antara derita dan ketawa
Makna hidup latah cinta, gelepar-Mu yang
menggemuruh di dada

1974

Z
Siapakah yang pulang dengan langkah masai
menyandang duka Adam yang pertama
mengempang arus sungai, membadung nasibnya?

Iakah itu pelancong tak bernama.
Menyusur semenanjung tenggara
istirah ke sini. Menawarkan senja dalam desau prahara
setelah lelah mengedangkan jaring nasib melawan bencana

Siapakah masih mengaliri aku, o, sungai derita
rakit-rakit sarat biduk-biduk dan tongkang, detak jantung luka
memeram musim memberat mengimpikan birahi pada pulungnya
lakah itu yang menggedor pintu dan jendela
malam-malam begini. Dukakah itu duka dunia
menyusur sungaiku yang terus mengaliri dasar jiwa

Siapakah yang pulang dengan langkah masai
menyandang duka Adam yang pertama
mengempang arus sungai, membadung nasibnya?

1974

Perjalanan Ini
Perjalanan ini
menyusuri langsai-langsai kehidupan
menyusuri luka demi luka
menyusuri gigiran abad padang-padang lengang
menyusuri matahari
dan lautan abadi dahsyat sunyi

Perjalanan ini
menyusuri pantai sukma demi sukma
menyusuri geliat urat-urat hari
menyusuri dasar telaga lembah jiwa
dan tanah hitam coklat merah
sepanjang rentangan tali benang-benang nurani

Perjalanan ini
menyusuri perigi dunia terik kering
adalah jiwa kita yang lelah

Perjalanan ini
menyusuri bumi pahit manis dan langit asing
adalah kita yang sempoyongan menyandang berjuta beban

Perjalanan ini
menyusuri hutan bentangan sepi bentangan api
adalah kita yang menyandang luka dan seribu jalan
adalah kitayang mendukung senja dan sejuta salib
hitam

1974

Bunga-bunga Daun Luruh
Bunga-bunga daun luruh
Halaman ditinggal adzan
jalanan senyap lubuk terpendam
Ke ujung tangisan

Suara menyapa dalam luruhan
Beranda sunyi menatap halaman
Apakah engkau apakah bosan
Yang setia berdiri di sisi kesepian

Bunga-bunga daun luruh
Halaman itu sunyi ditinggal diam
Pelangi mencium lubuk dan kolam
Kita pun di sini ngungun dalam gerimis duka jatuh
Menghitung-hitung sukma hari-had dekat dan jauh

1974

Senja Di Parangtritis
Sayap-sayap camar, gaung-Mu berkabar
Serpotong awan luka
menyingkap wajah-Mu bercadar

Bias larut. Legam laut dan senja tertawa
Ada yang luruh di dada. Busuran ujung langit terbakar
Suratan-Mu mistery beribu khabar

Riap sunyi bayang-bayang. Menyusup bendul luka
Di pantai Nyai Roro Kidul. Menanti kekasih pawang
Dengan sekepal jampi mantera

1973

Sang Waktu Pun Terbangun
Sang waktu pun terbangun dengan 100 matahari
Dan kucuran darah dari nganga liang-liang luka
Ketika ludah-ludah dunia yang amis
Jatuh rimis pada wajah-wajah kita yang terbakar

Sang waktu pun terbangun dalam angin runcing
Dalam suara gaib lorong-lorong hampa dan bahana cahaya
Ketika kapal-kapal kita pun merapat di dermaga luka
Dari suatu petang entah di mana

Sang waktu pun terbangun dengan 1000 bianglala
Dan nanah-nanah darah Semesta
Karena 29 anak panah
Merobek rahim jantung lukanya

Sang waktu pun terbangun dalam erangan ombak-ombak dunia
Dalam bayang bulan hitam ketika mega jatuh senja
Sang waktu pun terbangun dalam rabu dan nyali kita
Ketika bahana terakhir menikam dinding-dinding sukma semesta
Ketika di meja sebuah kitab terbuka siap dengan daftar nama-nama

1973

Kita
Manusia
Tanah
Bungkah-bungkah kata
Adam dan Hawa

Manusia
Tulang-tulang kapur tanah kubur
Rumput bunga layu
Tetes waktu berlalu

Manusia
Domba-domba di padang tanpa gembala
Tersesat sendiri
Ke ujung yang sunyi

Manusia
Tanah
Bungkah-bungkah kata
Adam dan Hawa

1973

Kota Kita Disini
Kota kita di sini
Dijilat ruh-ruh hidup dan mati

Kota kita di sini
Petak-petak pahir manis dan asam
Menderu diketermanguan
Berpeluh manik-manik logam

Kota kita di sini
Diri kehidupan yang gelisah
Memanjat rumah demi rumah

1973

Tarakan
Pulau kecil mendongak langit
Dan mengaca taut yang tertawa
Angin di bandar dan pawang
Membaca mantera buaya

Tambur perang di dadanya
Mengetuk-ketuk jantung luka

1973

1973
Antara baunan jejak-jejak waktu
Dan 1.000.000 luka bayang
Kitalah musafir hilang
Mencari gelepar sisa pagi

Adalah perih luka
Garaman cuka peristiwa-peristiwa hari
Adalah 1001 tangan topan
Memukul jantung pelabuhan penghabisan

Tinggal torehan-torehan impian
Pada wajah dan seluruh tubuh
Bersimbah darah dan peluh

1973

Ku Tulis
Kutulis dalam senyum
Hari-hari yang ranum
Sekepal puisi cinta
Membantun sukma kehidupan

Kutulis dalam tangis
Hari-hari yang manis
Sekepal puisi cinta
Gairah dada remaja

Kutulis dalam tawa
Hari-hari berlumur duka
Sekepal puisi cinta
Melayah bicara

1973

Dalam Rimba Kehidupan
Hutan daun-daun pohon
Menjangan di sisi telaga
Ada jerit dari rahim bumi tertahan
Geliat menjangan diterkam lawan

Bundakah itu atau langit pemberi kehidupan
Atau Kau atau siapa bersisi api sunyi
Kegelisahan ini adalah pertempuran
Bila reda bila gapai penghabisan

Jauh ada senyap dekat sukma dedaunan
Desah bisik-bisik musim ke ujung kehidupan
Gelepar sayap rantai dari lubuk jauhari
Ke rongga telaga itu jerit yang sunyi

Menjangan, telaga, dedaunan hijau
Sejuta senja terbantun
Kau dan aku dalam ngungun waktu
Kau dan aku

1973

Dalam Kirap Sayap Waktu
Dalam kirai sayap waktu
Engkaukah di situ
Suara samar lirih
Seakan-akan merangkai tasbih

Gugusan kebun apel
Suara serangga
Meramu kehidupan

Seekor serangga
Meramu daun hijau
Seekor serangga
Membangunkan rumahnya

1973

Doa Seorang Bocah Tuna
Berikan padaku pagi
Cahaya dan kebun bunga
Sungai membelah cakrawala
Lubuk-Mu kaca

Berikan padaku siang
Terik didih warna kehidupan
Benua jauh dan tanjung pulau
Tugu-Mu yang kukuh di tengah desau

Berikan padaku senja
Cangkir kopi, perapian dan buku tua
Kacara rabun dan pantai sejarah
Bukit-Mu megah

1973

Puisi
Jalan ini berdebu, kekasih
Terbentang di padang rasa
Enam belas matahari memanah dari enam belas ufuk
Siang pun garang sepanjang kulminasi

Bahak malam mengikut pelan langkah tertatih
Ketipak bulan putih
Di taman kekasih

Pengantinku
Antara kerikil dan pasir merah
Tersembunyi jejak-jejak yang singgah

1973

Mahakam
Senja pun membenam dalam tragedi
Abad ini
jalan ini semakin sunyi
Tapi kita tak sampai-sampai juga

Angin dari relung itu
Semakin runcing
Dan menciptakan garis ungu

Haruskah ke arah lain jalan pantai
kita kawinkan sepi
Antara dua badai?!

Tualang panjang ini
Semakin jauh semakin lengang
Langkah pun lelah menapak juang

Lalu kelepak yang menjauh
Longsong itu
Tanggalan pun jatuh

Tinggallah gerimis renyai
Dan bait-bait sunyi
Ketika jam pun sampai
Menunjuk-nunjuk tempat sepi

1974

Gerimis Pagi Ini
Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis zaman
Ketika sekawanan burung luka
Mencakar tangkai jantung derita

Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis insani
Karena rahang-rahang kemerdekaan
Disekap moncong-moncong pertikaian
Dan tersumpal luka yang tak kunjung tersembuhkan

Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis kita
Karena di tengah kelu dan borok dunia
Tuhan tetap mengulurkan berjuta sauh cinta

1974

Di Tengah Galau Riuh Rendah Abad Ini
Aku terbanting atas lantai kehidupan
Karena beban seribu jalan
Sukmaku yang gelisah resah
Merangkai sajak tak tersua
Sementara tangan tegang kaku menyandang sunyi
Membusur panah ke jantung waktu
Cintaku yang perih dalam pusat pusaran segala rindu

Memang laut-Mu teramat dalam terduga segala cinta
Dataran lekang kemarau menunggu waktu demi waktu
Adakah kita mampu menyimak segala rahasia
Yang bermain antara gelap dan denyar cahaya?

Adalah semuanya berpulang kepada janji, kepada sunyi
Cinta yang memahat-mahat setiap bait abadi
Bagai hujan yang setia mencuci lantai bumi
Menyelesaikan sebait puisi

Aku terbanting di atas lantai kehidupan
Rebah di tengah galau riuh rendah abad ini
Dan luka-luka

1974

Ketika Soli Deo Glaria Hampir Penghabisan
Kampar waktu pun menghanyutkan kita
Dalam arus zaman
Selalu tiran berceloteh dengan makna ganda
Seakan pelog-pelog burung malang atas ranting yang rapuh
Terus memasang sarang dalam bringas angin puyuh

Di jingga transisi ini
Dewa-dewa mabuk matahari
Mentalkinkan riwayat
Menggiring gamelan yang tiba-tiba
mengatmosfirkan sunyi
Mencuci kemarau pekat

Di aula ini di depan audensia
Terdampar kampar waktu
Dan di tengah padang celoteh aneh ini
Kita saling tuding-menuding
Dalam lilitan benang mursal
Sementara di arah lain angin bangkit membagal
Pantai niskala. Terkesiap kita tiba-tiba

Tiba-tiba hingar. Ruang: Mahsyarl

(Selalu tertawa waktu membujuk-bujuk senja
Sambil membetulkan jam yang buru-buru
menunjuk-nunjuk jadwal)

1973

Kota
Kotaku di sini
Gemuruh yang sunyi
Belantara kembara
ke dasar sukma
ke dalam

Kotaku di sini
Bermatahari berbulan
Di bendulnya aku berdiri
Mengaca diri kehidupan
ke lubuk-Mu dalam

Kotaku di gemuruh dada
Di ujung sukma
Megah
Api nur di sana
BaQa
Kotaku, kota kita
Kota umat
Ke mana suatu kali nanti kita berangkat

1973

Dari A Ke Z
Lengan-lengan yang capai
Suara gaib itu
Pohon-pohon kadasai
Berjajar membisiki waktu

Ujung cakrawala
Daun violet sayap rama-rama
Sepotong bulan sabit
Mengintip celah-celah luka berdarah

Riap lalang dan kaki-kaki kerbau
Lumpur rawa dan suara serangga
Gigir bukit yang sunyi
Menanti teka-teki

1973

Engkau Dan Aku
Dahulu kita bertikai
Antara jalanmu jalanku
Sekarang kita sampai
Antara dua siku

Dahulu engkau ke sana
Aku pun melangkah ke anu
Sang Kala memutar kompas di belakang kita
Sekarang engkau dan aku

Engkau memetik melati
Aku menyiapkan api
Engkau menangis di sini
Aku tak tahu akan pergi

Pintu belantara itu terbuka
Burung-burung rimba berkeliaran
Kita telah sampai di ujung jalan
Memandang tamasya di sana

Siapakah engkau siapakah aku
Siapakah kita yang tersedu di ujung jalan itu

1973

Cermin
Ada sejuta serigala
Memburu di cermin wajah kita
Lapar dan ganas
Gagak-gagak menyanyi ke arah rimba
Seperti menyayat-nyayat daging kita

Matahari meratap
Dalam remukan-remukan cermin dingin
Telaga mengaca darah hitam
Ada luka yang mengucur darah

Kita ditinggal ngungun bayang cermin ini
Serigala-serigala melulung
Gagak-gagak berteriak
Darah tetap mengucur dari luka demi luka
Kita tiba-tiba pecah dan terserak dalam cermin
wajah-wajah kita

(0, Yang Ada
Kita hanya berteriak, “aduh!” dan meraba-raba)

1973

Rahasia
Seperti sejumlah kata
Yang menggelepar ke luar
Meniti buih demi buih
Dunia yang terlantar

Seperti sejumlah musim
Yang kering, basah, dan mandi cahaya
Merangkak pada sumbu
jantung kita

Seperti sejumlah risau, benci dan cinta
Yang berpendar pada waktu
Menggaram akar-akar nafsu
Antara Adam lagu impian ziarahmu

Seperti sejumlah kata
Yang menyalin nama-nama
Meniti buih demi buih
jiwa kita

1973

Surat
Surat ini
Kembang merah dalam hijau
Di bibir danau

Surat ini
Bunga putih dalam biru
Mekar di dasar benua
Dada penyair yang gelisah

Surat ini
Lukisan hari demi hari
Bisik riuh sukma kehidupan
Ke gigir telaga pualam

Surat ini
Untaian kalung khatulistiwa
Yang terserak di antara kita

1973

Sepasang Burung
(Sepasang burung menyerbu pucuk-pucuk bakau
Sepasang burung berlagu menghalau kemarau)

Tinggal gemuruh. Gemuruh hari
Tinggal terik yang keluh kesah
Sepasang dua sejoli
Memandang awan singgah

(Sepasang burung melayah cemara-cemara kota
Sepasang burung berkisah tentang senja)

1972

Adakah Engkau Tetap Disana
Adakah engkau tetap di sana
Memandang awan raib dan pasir penuh bulan
Adakah engkau tetap di sana
Memandang teka-teki nasib ini
Memandang gelepar sayap kata-kata
Yang disusun menurut abjad dengan raji dan setia

Adakah engkau tetap di sana
Memandang kelabu kota dan bumi yang gempita
Memandang burung dan dentur ombak dari rahim telaga
Yang menderu tak kenal waktu mendepak bingkai pematang kita

Adakah engkau tetap di sana
Memandang dan memandang lagi
Memandang bayang-bayang yang dihalau kemarau

Memandang senjakala
Dan iringan sayap-sayap kelelawar
Yang memintas-mintas senja samar

1972

Perjalanan
Bayangan kekasih yang tulus
Pergi bersama matahari
Bumipun pupus segala tuntas dan aus
Juga sunyi nyanyian kudus
Siapa yang menyeru dari balik hari
Mengetuk lukuk likukan nurani
Segala hanyut : jiwa dan hati
Tuhanku yang di pintu menanti ?
Irama yang salih menyeru malam putih
Gadiskukah yang di sana melambai sayup
Aku terhenyak aku masih merangkai tasbih
Menyisir peluru menyisih dosa hujan yang kuyub
Pada meja aku menghabiskan gelas
Tuak dan Tuhan dan kekasih yang tak ternoda
Menyanyikan keras-keras firman dari kitab pada nabi
Seru-Mu dari sunyi : ‘Fajar ! Fajar ! Matahari !’
Aku Memilih
Aku memilih tanah
Tapi ayahku berang
Ia memberiku sungai,
“Datangi sumbernya di udik sana,
Yang mancur di antara akar dan batu-batu.”

Aku memilih arus
Tapi abang memberiku air
“Ikuti arusnya sampai muara,”
Suaranya menghentak jiwa.

Aku ragu saat kudengar suara ibu
Yang mana harus kupilih
Muara atau sumbernya.

“Kau harus pilih kehidupan,”
ibuku tersenyum sambil meraba cahaya harapan
Aku gagu melangkah di antara tasik dan pegunungan
Di manakah kehidupan?

Adikku berseru, “Kau harus pilih hati dan cinta
Sumber segala cahaya.”

Di antara enggan dan keinginan
Aku bertanya rumah cinta
Di mana?

“Yang bersih hanya kasih,”
Kakekku berkata menunjukkan benih
Aku tengadahkan dada
“Di sini?” aku menunjukkan kepala

“Bahagia selalu ada di dalam sepi dan ramai,”

Nenekku menimpali sambil membersihkan kuali
Adakah kehidupan berbiak di antara tungku
Di dasar nyala api?

Aku menyusuri segala mula jadi
Fajar di kaki: di mataku jalan panjang sekali!

Elegi
Gerimis pun memahat-mahat kaca
jendela. Dan di luar pintu
kita masih setia menunggu
musim tak lalu !
Bunga-bunga. Aromanya mengeras
di atas lanyai bumi
Dan kematian selalu memanggil-manggil
usia ! dari balik jendela
nestapa. Mengelupas kita dalam dingin menggigil
Betapa pahit dosa dan cinta
di mulut kita
yang dikunyah : darah
Di jendela tinggal matahari.
Berahi dan bunga sepi.
Menunggu Malam Disini
Menunggu malam di sini
Menunggu laut dan pantai legam
menunggu matahari
Dan seluruh gambar perwujudan

Menunggu malam di sini
menunggu genderang pembebasan
Yang ditabuh ruh-ruh
Dari puncak seribu menara

Menunggu malam di sini
Menunggu kapal-kapal dan sampan nelayan
Menunggu gelepar camar dan harum sayap rama-rama
Serta angin yang membersihkan pelabuhan di malam sisa

Menunggu malam di sini
Menunggu warna-warna mimpi
Yang dipukuli ombak
Menunggu malam di sini
Menunggu bisik-bisik harap
Menunggu langit pijaran api
Dan suara-suara gaib
Melayah ombak yang dahaga sendiri

1972

Serenade Hampir Penghabisan
Dari pantai itu masih terdengar ujung siul
Dan lagu burung menyambut matahari dan mega timbul

Adalah taman dan bulan mengeras pada padas
Dan sepotong sajak dari bait terlepas

Selebihnya tapak kaki pada pasir tertimbun
Ketika angin mati gemetar menyinggahi rumpun

1973

Pintu
Pintu biru diketuk dari luar
Siapakah yang berdiri di situ
Dengan suara yang lirih samar

Kujenguk dari jendela bersama angin gemetar
Hanya sebuah kenangan yang luka
Bernyanyi, bernyanyi ke ujung apar

1973

Serulingmukah Menghancurkan Tongkang
Serulingmukah menghanyutkan tongkang
Menggapai sungai
Menambur di arus deras
Menghamburkan lagu ke cakrawala bebas

Segala perih dini hari
Membersihkan beranda
Tanpa restu
Bayang wajahmu yang menunggu

Kelap-kelip mimpi yang diburu
Seperti penantian
Seperti perkawinan
Rahasia kado kehidupan

Waktu pun memuja
Sunyi yang tua
Segalanya padang rawa
Kematian tanpa kata-kata

Perpisahan tiada
Perih nadi, arus, dan air
Lidah yang dahaga
Duka anyir

Serulingmukah mengalun dalam tongkang
Mendarah luka
Segala fana menderai sungai
Menunjuk-nunjuk pelayaran muara

Upacara Bulan
Upacara bulan di ranting-ranting jiwa
Memelihara serangga
Lalu matahari esok hari
Mendirikan kemah-kemah semut api

Para bidadari menarikan birahi
Di gerbang-gerbang kehidupan
Kaudengar ketukan demi ketukan
Di pintu-pintu hati kita?

Yang diserukan sauh pada lautan
Kapal dermaga kita
Yang diserukan mercusuar
Nyawa cinta yang gemetar!

Adakah kaudengar telepon hati
Yang berbicara tentang kejujuran budi
Dunia kita
Tentang sakit dan derita?

Upacara matahari di pusaran waktu
Memelihara padi
Di ladang-ladang berdarah
Di kota-kota kesangsian

Kecemasan purba melekat di dahi dan ubun kita
Tanda di pundak-pundak sejarah
Kaulihat langit merendah
Menyerbumu dengan kesangsian derita!

Roh Angin
Roh angin mencari akar pohon
Yang tertanam di pusat bumi
Sementara pohon-pohon hilang dari rimba
Meninggalkan luka zaman

Musik tanah menangisi kuburan
Menangisi gurun padang kesuburan
Kesetiaan diuji dunia yang tuli dan buta
Lewat derita dan kematian

Roh malam memburu sayap rindu
Mengejar kereta pulang
Sayup lagu “gugur bunga”
Tak alang kepalang

Tangkai-tangkai rahasia
Menulisi kegelapan tebing
Di nisan-nisan di batu-batu
Mengurai kecewa

Di halaman yang beku oleh derita
Roh pagi bangkit bersama cinta
Memanggilmu dalam doa
Mengubur luka

Roh segala roh bersatu dalam jiwa
Berenang bersama anak-anak bulan
Melepas lambaian keranda ke wilayah gulita
Mengusap tolakan gerimis keabadian!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *