Batik Aceh – Sekilas Perihal Wastra Batik Bermotif Aceh dan Keunikannya

Batik Aceh. Kain Batik adalah salah satu di antara kain dekoratif khas Indonesia yang keindahannya telah dikenal dunia. Sejak tahun 2009, UNESCO telah menetapkan batik sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia.

Tidak hanya di Jawa, wastra atau kain tradisional ini juga tersebar di seantero Nusantara. Di Aceh misalnya, terdapat ratusan jenis motif batik. Hal ini dikarenakan batik di Aceh tidak memiliki pakem seperti umumnya batik di Pulau Jawa.

Oleh karena itu motif batiknya selalu berkembang. Dalam satu kabupaten/kota di Aceh, bisa ditemukan kurang lebih 20 jenis batik bermotif Aceh. Sementara itu, Provinsi Aceh sendiri wilayahnya mencakup 23 kabupaten dan kota.

Secara umum, Batik Aceh unik karena menampilkan unsur alam dan budaya serta sarat dengan falsafah kehidupan. Terkesan glamor karena menawarkan paduan warna-warna berani, seperti merah, hijau, kuning dan lain sebagainya.

Di antara banyaknya motif batik yang ada, yang terkenal dan paling diminati adalah motif batik rencong, pintu Aceh dan gayo. Selain itu ada juga motif batik tolak angin, bungo jeumpa, awan meucanek, awan berarak, serta motif pucok reubong.

Setiap motif mengusung makna tersendiri. Motif pintu dengan ketinggian rendah seperti halnya di Rumah adat Aceh, melambangkan orang Aceh tidak mudah terbuka dengan orang asing. Namun sekali kenal, bisa seperti saudara sendiri.

Motif tolak angin mewakili banyaknya ventilasi udara Rumah adat Aceh. Hal ini melambangkan bahwa orang Aceh mudah menerima perbedaan. Adapun motif bunga jeumpa mewakili bunga nan indah yang banyak tumbuh di wilayah Aceh.

Selain itu, motif batik yang ada juga diperkaya dengan ragam hias berbentuk sulur, melingkar dan juga garis. Melalui ragam hias tersebut terlihat kuatnya pengaruh budaya Islam, karena memang produk budaya Aceh selalu identik dengan Islam.

Dalam sejarah perkembangannya, industri batik di sana sempat mati suri di era 90-an. Selanjutnya bangkit kembali selepas bencana tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004. Kini sudah sekitar 400 motif batik yang siap dipasarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *