Pakaian Adat Sumatera Barat – 3+ Nama Busana Tradisional Minangkabau

Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) adalah rumah bagi suku Minangkabau. Sebagai etnis penganut matrilineal terbesar dunia, kebudayaan Minang unik dan kaya. Berbagai produk budaya Sumatera Barat terlahir seiring kesejarahan mereka. Hal ini, salah satunya, terlihat dari pakaian adat Sumatera Barat yang beraneka rupa.

Keberagaman pakaian adat Minangkabau lebih terlihat pada pakaian pengantin tradisionalnya. Terdapat lebih dari 10 jenis busana pengantin, karena hampir setiap kabupaten dan kota di Sumatera Barat memiliki busana tersendiri. Perbedaan busana ini merujuk pada pembagian beberapa adat nagari Sumatera Barat.

Terlepas dari pakaian dalam upacara pernikahan, masyarakat Minang Sumatera Barat juga telah mengklasifikasi busana adat mereka. Berikut ini adalah daftar beberapa jenis atau nama pakaian adat Sumatera Barat beserta kelengkapan busana dan penjelasan singkatnya, meski tidak mencakup semuanya.

Pakaian Adat Tradisional Sumatera Barat

Pakaian Adat Pria Minangkabau

Busana Tradisional Minangkabau Sumbar
credit: Isna On/Off, CC BY-NC-ND 2.0

Pakaian kebesaran pria dalam kebudayaan Minang bernama Pakaian Penghulu. Penggunaan pakaian ini tidak sembarangan dan harus sesuai dengan tata cara adat. Tidak semua orang bisa memakainya, karena ini merupakan pakaian seorang penghulu. Pakaian khusus yang bukan pakaian sehari-hari ini terdiri dari:

Destar

Deta atau destar adalah kelengkapan busana berupa penutup kepala. Bentuknya bermacam-macam, tergantung siapa pemakainya, kedudukannya atau daerahnya. Lilitan destar untuk seorang penghulu mewakili isi dari kepala penghulu. Kerut destar mengisyaratkan banyaknya undang-undang yang harus diketahui dan diamalkan.

Ketika destar dikembangkan, kerutnya melebar. Ini melambangkan penghulu harus luas pemahamannya sehingga mampu melaksanakan tugas. Selebihnya, kerut destar juga bermakna bahwa sebelum berbicara atau berbuat, penghulu hendaknya mengerutkan kening atau berfikir dan tidak tergesa-gesa dalam bertindak.

Baju Penghulu

Kelengkapan pakaian adat Sumatera Barat ini berwarna hitam dan melambangkan kepemimpinan. Pada lengan terdapat benang makau (benang besar terapit benang kecil) maknanya orang besar memiliki pengiring. Leher bajunya mengandung makna bahwa penghulu memiliki alam yang lapang dan buminya luas.

Sarawa

Celana penghulu. Celana yang besar ukuran kakinya dan bermakna kebesaran dalam memenuhi segala panggilan dan menjadi panutan dalam hidup bermasyarakat maupun sebagai pemangku adat. Kebesaran tersebut hanya terbatasi oleh murah dan mahalnya hati dan perbuatan penghulu pada yang berpatutan.

Sasampiang

Sasampiang adalah kain yang penggunaannya sama seperti pakaian baju teluk belanga. Warna umumnya merah mewakili keberanian. Biasanya juga berhias benang makau kecil-kecil simbol ilmu dan keberanian menjunjung kebenaran. Bentuknya yang indah bermakna hati yang kaya, namun juga miskin di atas yang benar.

Cawek

Ini adalah ikat pinggang dari kain, terkadang sutra. Panjang lebarnya harus imbang atau lima banding satu hasta dengan ujung memakai jumbai serta hiasan pucuk rebung. Maknanya, seorang penghulu haruslah cakap dan mampu mengikat anak kemenakan secara halus dan dengan tenang mendapatkan akan budinya.

Sandang

Setelah mengenakan desta, baju, celana dan sasampiang, maka penghulu memakai sandang, yakni kain persegi empat pada bahu. Sandang melambangkan bahwa seorang penghulu haruslah siap sedia menerima anak kemenakan yang telah kembali dari keingkaran serta bersedia tunduk pada kebenaran menurut adat.

Keris

Senjata ini terselip pada pinggang. Hanya penghulu yang memakainya karena merupakan lambang kebesaran baginya. Peletakannya pun ada aturan, yakni condong ke kiri sehingga tidak mudah mencabutnya. Ini bermakna bahwa penghulu harus berfikir dahulu, tidak tergesa-gesa dalam menghadapi suatu persoalan.

Tungkek

Tungkek berarti tongkat bagi penghulu. Penggunaan tongkat sebagai kelengkapan busana penghulu bukan menunjukkan bahwa seorang penghulu sudah tua umurnya, melainkan penghulu haruslah dituakan oleh kaum, suku dan nagarinya. Penghulu didahulukan selangkah, ditinggikan seranting.

Pakaian Adat Perempuan Minang

Nama Pakaian Adat Sumatera Barat
credit: Doni Ismanto, CC BY 2.0

Sehubungan dengan pakaian tradisional perempuan Minang, ada istilah “Limpapeh Rumah nan Gadang” sebagai lambang kebesaran perempuan Minangkabau. Limpapeh adalah sebutan untuk tiang tengah dari suatu bangunan yang menjadi pusat kekuatan tiang-tiang lainnya. Tiang penentu kokoh tidaknya suatu bangunan.

Limpapeh menjadi gambaran bagi perempuan karena dalam budaya Minangkabau, perempuan adalah tiang kokoh dalam rumah tangga. Sementara itu, pakaian Limpapeh Rumah Nan Gadang tidak sama di setiap nagari. Namun, ada juga sifat umum yang menandai busana tradisional Sumatera Barat ini, sebagai berikut:

Baju Batabue

Baju bertabur benang emas yang mewakili kekayaan alam Minang. Banyaknya ragam dan corak menggambarkan masyarakat Minang yang beragam namun tetap bernuansa adat Minangkabau. Baju ini juga memiliki minsie (bis tepi) yang mengisyaratkan luasnya makna demokrasi, meski tetap dalam batas tertentu.

Tengkuluk

Tingkuluak atau Tengkuluk merupakan kelengkapan pakaian adat perempuan Sumatera Barat berupa hiasan kepala yang berbentuk runcing dan bercabang. Penutup kepala ini mengandung pengertian bahwa Limpapeh Rumah Nan Gadang Minangkabau tidak boleh menjunjung beban, khususnya untuk beban yang berat.

Lambak

Lambak atau sarung untuk wanita bermacam-macam, ada yang bersongket, lajur dan ada juga yang berikat. Sarung ini berfungsi menutupi bagian tertentu agar terlihat sopan dan tertib. Susunannya bergantung pada situasi dan kondisi, terkadang berbelah dan bersusun di belakang, serta ada juga yang di depan.

Selempang

Selempang dalam busana tradisional Minangkabau mengandung pengertian atau menunjukkan tanggung jawab seorang Limpapeh Rumah Nan Gadang. Tanggung jawab terhadap anak cucunya serta kewaspadaan terhadap segala kemungkinan, baik yang terjadi saat ini maupun untuk masa yang akan datang.

Dukuah

Dukuah merupakan hiasan berupa kalung. Setiap nagari dan luhak Minangkabau memiliki dukuah yang bermacam-macam, ada kalung perada, cekik leher, daraham, manik pualam, kaban, dan dukuh panyiaram. Kalung ini melambangkan seorang Limpapeh berpendirian kokoh dan senantiasa dalam lingkaran kebenaran.

Galang

Galang atau gelang juga beragam, seperti galang bapahek, galang ula, kunci maiek, galang basa, dan galang basa. Gelang mengisyaratkan bahwa dalam mengerjakan sesuatu harus sesuai dengan kemampuan. Ada juga kiasan “Nak cincin galanglah buliah”(ingin cincin gelang yang dapat)” rezeki datang melebihi yang diingini.

Pakaian Pengantin Sumatera Barat

Pakaian Adat Pengantin Padang Sumbar
credit: Mamasamala, CC BY-SA 3.0

Seperti yang dikatakan sebelumnya, pakaian adat pengantin Sumatera Barat sangat beragam. Dan, perbedaan biasanya berdasarkan pada pembagian beberapa adat nagari. Dalam hal ini kebudayaan Minangkabau tetap kental mendominasi, meski beberapa bagian ada juga yang mengadopsi budaya luar.

Busana adat pengantin dari Kurai Bukittinggi menampilkan kombinasi warna merah dan keemasan, adapun busana pengantin Kota Padang banyak mendapat pengaruh budaya Eropa dan Tiongkok. Sementara itu, warna hitam dan bordiran emas mendominasi pakaian pengantin tradisional Kota Solok.

Meski juga berwarna hitam, busana pengantin Kabupaten Solok lebih kaya nuansa emasnya ketimbang busana Kota Solok. Adapun Solok Selatan, pakaian pengantinnya sederhana dengan hiasan selendang oranye terang. Satu kesamaan dari pakaian adat pengantin Sumatera Barat adalah penggunaan Suntiang.

Pengantin Sijunjung juga memakai busana warna hitam, namun corak dan warna lebih beragam, serta aksesori dan motif merah kuning. Berbeda dengan busana pengantin Sumatera Barat lainnya, pengantin Pasaman Barat bernuansa biru. Adapun Pesisir Selatan lebih terang dengan paduan warna yang kontras.

Pengantin Payakumbuh, busananya simpel dengan warna merah untuk wanita dan hitam untuk pria. Serta, tidak memakai banyak aksesori keemasan. Hiasan kepalanya dari kain songket berbentuk mirip atap Rumah Gadang. Busana pengantin Pasaman memadukan emas dan merah dengan Suntiang yang besar.

Pakaian pengantin tradisional daerah Lima Puluh Kota adalah baju kurung basiba dengan kain songket. Warna busananya lebih lembut dengan corak cenderung keperakan. Selebihnya, pakaian pengantin tradisional Sawah Lunto memiliki ciri khas berupa kebaya panjang dan penggunaan sarung.


Demikian sekilas tentang pakaian adat Minangkabau Sumatera Barat. Untuk menambah pengetahuan mengenai produk budaya masyarakat Minang, bisa juga membaca Daftar Tarian Khas Sumatera Barat. Atau, lihat juga Ragam Seni Tradisi Minangkabau. Semoga bermanfaat dan terima kasih atas kunjungannya!

Referensi:

  1. id.wikipedia.org/wiki/Bu…
  2. wolipop.detik.com/wed…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *