Pakaian Adat Kalimantan Selatan – 9 Jenis Busana Tradisional Khas Banjar

Corak kebudayaan di Kalimantan Selatan (Kalsel) terwakili oleh budaya suku Banjar sebagai suku yang mendominasi provinsi tersebut. Pakaian adat merupakan salah satu identitas budaya. Sehingga, berbicara mengenai pakaian adat Kalimantan Selatan berarti pula membahas pakaian atau busana adat Banjar.

Secara umum kebudayaan suku Banjar berakar dari kebudayaan Dayak Kaharingan. Setelah raja Banjar memeluk Islam pada tahun 1526 dan terjadi pengislaman massal, kebudayaan lama disunting sesuai aturan Islam. Proses ini juga yang selanjutnya turut menghadirkan keragaman bentuk busana adat di sana.

Artikel ini selanjutnya berisi ragam pakaian adat Kalimantan Selatan khas Banjar. Tidak mencakup semuanya, hanya beberapa di antaranya. Masing-masing jenis busana tradisional yang tercantum hanya disertai dengan penjelasan singkat. Adapun untuk gambar pakaian, hanya bisa menyertakan gambar seadanya.

Ragam Pakaian Adat Banjar Kalimantan Selatan

Pakaian Adat Miskat Banjar

Baju Miskat Banjar Kalimantan Selatan
credit: Tropenmuseum, CC BY-SA 3.0

Baju Miskat (Baju Muskat) merupakan pakaian resmi bagi Sultan Banjar atau kepala daerah penggantin sultan (ronggo) setelah kerajaan Banjar dihapus Belanda. Warnanya hitam dengan hiasan benang emas di tepi. Kelengkapannya adalah salawar dandang atau celana dengan garis tepi, keris, sabuk, tali wanang, dan selop.

Baju Adat Kubaya Basawiwi

Pakaian Kubaya Basawiwi Kalimantan Selatan
credit: Tropenmuseum, CC BY-SA 3.0

Disebut juga baju kubaya basujab, merupakan pakaian adat Kalimantan Selatan khas perempuan Banjar. Ciri kebaya ini adalah sawiwi atau sujab, yakni variasi kain memanjang di bagian depan selebar 10 cm. Pasangan baju ini adalah tapih batik bakurung dari Pekalongan, gelang kaki, kalung marjan dan kalung samban.

Baju Adat Kubaya Rangkap Dua

Ini adalah salah satu jenis baju tradisional ibu-ibu muda suku Banjar ketika menghadiri upacara sosial. Namun dalam perkembangannya, banyak juga wanita-wanita dewasa dan remaja yang memakai pakaian jenis ini. Pakaian tradisional Kalimantan Selatan ini terdiri dari dua lapis baju kebaya, bagian luar dan bagian dalam.

Pakaian Adat Baju Kurung Basisit

Busana Tradisional Suku Banjar Kalsel
credit: Yudi Yusmili, CC BY 3.0

Salah satu busana adat perempuan Kalimantan Selatan ketika menghadiri upacara resmi. Ciri khas baju ini pada bagian leher dan tangan terdapat tali pengikat (penyisit). Kelengkapan busananya adalah tapih lasem, tapih pagatan, dan tapih air guci. Sementara itu, pasangannya adalah tapih batik bakurung Pekalongan.

Pakaian Baju Layang Khas Banjar

Tari Radap Rahayu
sumber : @senibudayakalsel

Pakaian adat Kalimantan Selatan selanjutnya adalah Baju Layang. Salah satu pakaian adat tradisional bagi perempuan Banjar yang baru menginjak remaja. Baju ini tipis dan memiliki belahan di samping bahu. Pada perkembangannya, saat ini Baju Layang merupakan pakaian bagi para penari Tari Radap Rahayu.

Pakaian Adat Pengantin Kalimantan Selatan

Pakaian Adat Banjar Kalimantan Selatan
credit: instagram.com/ompall_pictures

Masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan memiliki 4 jenis pakaian adat pengantin. Di antaranya adalah bagajah gamuling baular lulut, baamar galung pancar matahari, babaju kun (kwa kun) galung pacinan. Serta, babaju kubaya panjang. Berikut adalah penjelasan mengenai busana pengantin Banjar tersebut:

Bagajah Gamuling Baular Lulut

Pakaian adat Kalimantan Selatan khas Banjar ini merupakan busana pengantin klasik. Telah ada sejak zaman kerajaan Hindu di Kalimantan Selatan. Pengantin laki-laki mengenakan baju lengan pendek tanpa kerah yang berhias manik-manik. Ada juga kain motif kelapang, kalung samban, ikat pinggang dan penutup kepala.

Sedangkan busana pengantin perempuan terdiri dari udat atau kemben dan selendang penutup bagian dada. Juga, memakai ikat pinggang serta hiasan kepala berupa konde. Kondenya berhias mahkota, kuncup bunga melati dan kembang goyang. Untuk busana bawahan menggunakan kain panjang motif halilipan.

Baamar Galung Pancar Matahari

Pakaian adat Kalimantan Selatan yang berkembang sejak berdirinya kerajaan Islam di Kalimantan Selatan dan pengaruh Islam dalam kebudayaan Banjar. baamar atau amar merupakan mahkota kecil bagi pengantin wanita. Mahkota ini disebut sunting dalam kebudayaan masyarakat Melayu di Pulau Sumatera.

Selain memakai amar sebagai ciri khas, kelengkapan busana pengantin wanita adalah baju poko lengan pendek berhias rumbai manik-manik. Serta, kida segi lima untuk menutup dada. Pengantin pria memakai kemeja lengan panjang dengan renda di bagian dada dan memakai tali wenang sebagai ikat pinggang.

Babaju Kun (Kwa Kun) Galung Pacinan

Baju pengantin tradisional Banjar ini mencerminkan adanya pengaruh budaya luar dalam kebudayaan Banjar. Pengaruh tersebut masuk melalui kedatangan pedagang Gujarat dan China di Kalimantan Selatan. Model pakaian ini sekilas mirip dengan busana pengantin Betawi dan busana pengantin Semarang, Jawa Tengah.

Pengantin pria memakai kopiah alpe berlilit surban atau tanjak laksamana. Pria juga memakai kalung ronce bunga melati di lehernya. Pengantin wanita memakai kebaya lengan panjang model cheong sam lengkap dengan payet emas berbentuk bunga teratai. Bawahannya memakai rok panjang berhias manik-manik.

Pakaian Adat Babaju Kubaya Panjang

Babaju Kubaya Panjang merupakan busana pengantin Banjar yang telah dimodifikasi sehingga terlihat lebih modern. Busana ini merupakan turunan dari pakaian pengantin tradisional sebelumnya, yakni Baamar Galung Pancar Matahari. Kedua baju ini terlihat mirip, namun Babaju Kebaya Panjang terlihat lebih modern.


Demikian sekilas perihal ragam busana atau pakaian adat tradisional Kalimantan Selatan. Apabila ingin mengetahui produk kebudayaan masyarakat suku Banjar lainnya, Anda bisa membaca Tarian Daerah Kalimantan Selatan. Atau, jika ingin melihat daftar pakaian adat daerah di Indonesia lainnya, lihat di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *