Pakaian Adat Gorontalo – 2 Nama Baju Tradisional Khas Daerah Gorontalo

Gorontalo merupakan rumah bagi salah satu suku tertua di Indonesia, yakni Suku Gorontalo. Dan, termasuk 19 daerah adat di Nusantara. Kebudayaan di sana senantiasa lestari terjaga. Demikian pula dengan pakaian adat Gorontalo, sejarah yang panjang telah mencipta tradisi berbusana yang khas sebagai identitas kedaerahan.

Julukan “Bumi Serambi Madinah” bagi provinsi Gorontalo maupun ibu kotanya, Kota Gorontalo, turut mengisyaratkan bahwa kebudayaan Islam begitu kental mewarnai kebudayaan masyarakatnya. Pengaruh budaya Islam juga kuat mempengaruhi bentuk baju adat suku Gorontalo. Makuta dan Biliu nama busananya.

Makuta dan Biliu merupakan sepasang baju adat laki-laki dan perempuan. Selain menjadi baju pengantin dalam pernikahan adat, pakaian tradisional ini juga sering tampil dalam Festival Saronde. Festival Saronde sendiri telah masuk dalam kalender pariwisata nasional. Berikut ini adalah penjelasan mengenai baju adat tersebut.

Ragam Pakaian Adat Daerah Gorontalo

Daftar Nama Pakaian Adat di Indonesia
credit: instagram.com/windypasambuna

Makuta, Baju Adat Laki-Laki

Busana adat laki-laki Gorontola setidaknya ada dua macam, yakni payunga tilabatayila dan paluwala atau makuta. Pakaian makuta menjadi yang paling populer mewakili pakaian adat Gorontalo. Dalam pernikahan adat, makuta dipakai saat mopopipide (bersanding), sedangkan payunga tilabatayila dipakai saat akad nikah.

Terdapat 3 aksesoris yang menjadi ciri dari pakaian makuta, selain mengenakan baju raja (boo takuwa daa) dan celana raja. Aksesoris pertama adalah tudung makuta, penutup kepala unik yang bentuknya mirip bulu unggas. Menjulang dan melengkung ke arah belakang. Nama lain dari tudung ini adalah laapia bantali sibi.

tudung makuta secara filosofis mewakili sifat ideal seorang suami sebagai pemimpin keluarga yang berwibawa, memiliki jiwa kepemimpinan dan juga memiliki sifat kelembutan. Aksesoris kedua adalah bako yang berupa kalung keemasan sebagai simbol bahwa seorang laki-laki telah memiliki sebuah ikatan pernikahan.

Selanjutnya ada aksesoris pasimeni atau hiasan pada baju. Hiasan ini melambangkan kehidupan berumah tangga yang semestinya penuh kedamaian, harmonis dan terhindar dari perkelahian yang bakal menimbulkan keretakan. Aksesoris lain adalah ikat pinggang (bintolo dan etango) serta jambiya (pedang kebesaran).

Biliu, Baju Adat Perempuan

Pakaian pengantin adat perempuan Gorontalo juga ada beberapa macam. Saat acara sesepsi memakai pakaian mandipungu dan ketika akaji atau akad nikah memakai pakaian wolimomo. Sedangkan untuk pakaian ketika mopopipide (bersanding), perempuan memakai pakaian bili’u sebagai pasangan pakaian makuta laki-laki.

Pakaian bili’u tampak indah dan mewah dengan busana utama yang terdiri dari galenggo atau baju kurung berlengan panjang, oyilomuhu atau rok dalam. Serta, bide atau alumbu yakni busana luar berupa kain penuh dengan ornamen keemasan. Bagian dadanya lapisan tambahan dengan ornamen kuning keemasan.

Beragam aksesoris melengkapi pakaian kebesaran perempuan Gorontalo ini dan masing-masing mengandung makna yang mendalam. Pada bagian kepala terdapat baya lo baute yang berupa ikat kepala menjadi simbol kewajiban seorang istri, tuhi-tuhi atau hiasan dengan 7 buah galah mewakili 7 kerajaan besar di Gorontalo.

Masih di bagian kepala, tepatnya di ubun-ubun, ada lai-lai (bulu unggas) melambangkan budi luhur, kesucian dan keberaniaan perempuan. Aksesoris selanjutnya adalah bouhu walu wawu dehu atau kalung keemasan mewakili ikatan kekeluargaan yang nantinya akan terjalin antara pengantin pria dan pengantin wanita.

Ada juga kecubu yang melambangkan kekuatan istri dalam menghadapi kehidupan. entango yang bermakna seorang istri yang menjalankan syariat Islam dan memiliki sifat kesederhanaan. Lalu, pateda atau gelang keemasan melambangkan benteng diri dari sifat-sifat tercela dan loubu di jari kelingking simbol ketelitian.

Aksesoris pakaian adat bili’u yang tersebut di atas belumlah mencakup semuanya, khususnya untuk aksesoris yang menghiasi bagian kepala perempuan. Setiap hiasan berupa tangkai atau aksesoris lain yang menghiasi kepala memiliki nama yang berbeda dan masing-masing aksesoris pun mengandung makna tersendiri.


Demikian sekilas tentang ragam jenis busana atau pakaian adat tradisional khas Gorontalo. Artikel lain mengenai karya seni dan budaya masyarakat Gorontalo, baca juga Tarian Khas Daerah Gorontalo. Untuk busana adat lain di Sulawesi, baca Pakaian Tradisional Sulawesi Barat dan Pakaian Tradisional Sulaweai Tenggara.

sumber gambar atas: instagram.com/epilog_pictures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *