Pakaian Adat Jawa Tengah – 4 Pakaian Tradisional Disertai Makna Filosofisnya

Perihal budaya Jawa Tengah, kita akan berbicara banyak mengenai Surakarta (Solo). Dan pastinya juga menyinggung Yogyakarta. Termasuk juga busana adatnya yang khas Mataram. Meski mengalami banyak modifikasi, Pakaian adat Jawa Tengah tetap kental dengan budaya kerajaan yang pernah berjaya di Pulau Jawa tersebut.

Sehubungan dengan tradisi berbusana, sebelumnya juga telah dituliskan tentang Batik Solo dan Batik Jogja. Untuk kali ini, mari mencoba lebih dekat dengan busana tradisional Jawa Tengah. Sebagai bagian dari budaya, busana daerah Jawa Tengah sangat dipengaruhi budaya kerajaan Mataram Islam yang pernah menguasai wilayah ini.

Oleh karena itu, nuansa “gaya Surakarta” demikian mendominasi. Perbedaan mungkin terdapat di sebagian daerah, di Semarang atau di wilayah budaya Banyumasan misalnya. Namun perbedaannya tidak terlalu mencolok, secara keseluruhan sama. Berikut penjelasan mengenai pakaian adat Jawa Tengah beserta kelengkapannya.

Pakaian Adat Tradisional Jawa Tengah


Pakaian Adat Jawi Jangkep dan Kebaya

Pakaian Adat Jawa Tengah Jawi Jangkep
taldebrooklyn.com

Jawi Jangkep dan Kebaya merupakan pakaian adat yang secara khusus mewakili busana adat Jawa Tengah dan busana Jawa pada umumnya. Perbedaan di setiap daerah biasanya berkisar pada jarik yang memakai motif batik khas mewakili citarasa lokalnya. Juga pada aksesoris lain, misalnya blankon atau ikat kepala.

Jawi Jangkep

Jawa Jangkep merupakan pakaian adat Jawa Tengah untuk laki-laki. Sebelumnya, ini merupakan pakaian kaum bangsawan di keraton Surakarta yang dikenakan ketika menghadiri acara-acara keraton. Pakaian ini terdiri dari baju beskap bermotif kembang, kain jarik, stagen, blankon atau ikat kepala, cemila (alas kaki) dan keris.

Secara filosofis, setiap bagian dari Jawi Jangkep mengandung makna yang mendalam. Sebagai penutup kepala, blankon menyiratkan keteguhan berfikir dan tidak mudah terombang-ambing. Beskap dengan kancing di kanan kirinya mengisyaratkan bahwa laki-laki Jawa harus hati-hati memperhitungkan segala perbuatannya.

Sementara itu, penggunaan jarik dengan cara dilipat dipinggir secara vertikal diusahakan agar tidak terlepas dari wirunya atau lipatannya. Hal ini bermakna agar lelaki Jawa seharusnya cermat sehingga tidak keliru dalam melakukan sesuatu. Semua hal harus dipastikan benar jika menghendaki hasil yang baik.

Keris sendiri bisa dikatakan sebagai lambang lelaki Jawa. Dalam Jawi Jangkep, keris ditempatkan di bagian belakang pinggang untuk mengisyaratkan bahwa manusia harus senantiasa bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Mereka harus mampu membentengi diri dari segala bentuk godaan setan yang menyesatkan manusia.

Kebaya Jawa

Kebaya merupakan pakaian tradisional perempuan Jawa. Ada dua jenis kebaya dalam hal ini, pendek dan panjang. Kebaya pendek (kebaya Kartini) adalah busana sehari-hari. Biasanya terbuat dari bahan katun polos berwarna dan berhias bunga sulam. Dikombinasikan dengan jarik batik, kemben, serta sanggul atau konde.

Sedangkan Kebaya panjang digunakan untuk acara-acara adat atau resmi. Busana ini terbuat dari bahan brokat berwarna gelap dan berhias pita emas. Sekilas mirip kebaya labuh Melayu. Pelengkap sama dengan kebaya pendek. Khusus untuk pengantin biasanya ditambah tusuk konde emas dan untaian bunga melati di sanggul.

Kebaya Jawa merupakan pakaian adat Jawa Tengah yang secara filosofis melambangkan kepribadian perempuan Jawa, yang patuh, lemah lembut dan halus. Dalam pepatah Jawa, kebaya digambarkan dengan istilah “dowo ususe” atau panjang ususnya. Pepatah tersebut mewakili perempuan Jawa yang identik dengan kesabaran.

Kain Jarik yang dibebat sehingga membatasi gerakan tubuh menggambarkan perempuan Jawa sangatlah menjaga kesucian diri. Sementara stagen mewakili karakter mereka yang mudah menyesuaikan diri. Seiring perkembangan zaman, kini banyak modifikasi kebaya, sehingga ada istilah kebaya klasik dan kebaya modern.

Busana Pengantin Tradisional Surakarta

Busana Pengantin Solo Basahan
griyarahayu.com

Busana pengantin Surakarta merupakan salah satu yang terindah dan terlengkap di Indonesia. Setiap jenisnya menunjuk tahapan-tahapan tertentu, selain menunjukkan siapa pemakainya. Awalnya ini merupakan tata rias dan busana pengantin dalam Keraton Surakarta, kini banyak rakyat biasa yang mengenakannya.

Sebelum terjadinya Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang memisahkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, busana pernikahan adat Mataram adalah Paes Ageng. Namun karena busana tersebut menjadi milik Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta pun mendesain busana pengantinnya sendiri.

Busana pengantin yang kini turut mewakili kekhasan pakaian adat Jawa Tengah ini terdiri dari 2 jenis, yakni Busana Solo Basahan dan Busana Solo Putri. Masing-masing jenis busana tersebut memiliki arti perlambang, baik dalam tata rias wajah, penataan rambut dan tidak terkecuali juga dalam tata busananya.

Busana Solo Basahan

Busana kebesaran Surakarta yang dikenakan pengantin pada prosesi upacara panggih dan wilujengan (resepsi). Berupa dodot/kampuh berwarna gelap yang umumnya bermotif batik alas-alasan (binatang) dan tetumbuhan hutan. Melambangkan keberserahan diri atas kehendak Tuhan, kemakmuran dan kesuburan.

Selain menggambarkan kehidupan makmur, dalam Solo Basahan juga tertuang pelajaran-pelajaran bagi sepasang pengantin dalam membina rumah tangga. Agar menuai kesuksesan membentuk keluarga yang harmonis, sejahtera, selaras dengan alam, serta tetap berpegang teguh pada petunjuk Tuhan yang Maha Esa.

Penggunaan dodot bagi pengantin wanita dikombinasikan dengan kain cinde sekar abrit perlambang rajin bekerja dan kemandirikan. Ada juga udet (selendang kecil) yang juga bercorak cinde di bagian tengah melambangkan petunjuk Tuhan yang harus diikat kuat. Serta, selop lambang melangkah di jalan yang benar.

Bagian belakang kampuh dibentuk songgo bocong sebagai lambang bahwa nantinya sebagai istri, wanita harus hati-hati dalam perekonomian. Bagian pinggang dilingkarkan buntal atau rangkaian hias bunga bawang sebungkul. Terdiri dari daun-daunan yang masing-masing memiliki makna simbolis tersendiri.

Busana Basahan pengantin pria lebih sederhana, namun dengan motif dan warna senada dengan pengantin wanita. Dodot/kampuh yang melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Jika pengantin wanita menggunakan kain cinde, pengantin prianya menggunakan celana cinde, juga dengan warna dan motif senada.

Perbedaan mencolok antara pengantin pria dan wanita terletak pada penggunaan sabuk timang untuk busana pria. Sabuk timang ini dilengkapi dengan tiga buah ukup yang difungsikan untuk mengikat pinggang. Kelengkapan busana ini melambangkan sebuah permohonan agar kedua mempelai dapat bersatu selamanya.

Bagian belakang kampuh busana pria dibentuk ngumbar kunco yang melambangkan bahwa ia akan menjadi suami yang tidak boleh menyembunyikan sesuatu. Ada juga keris ladrang di bagian belakang kampuh. Selain melambangkan kekuatan jiwa, juga melambangkan sopan santun. Alas kakinya selop kakung bordir.

Busana Solo Putri

Pakaian adat Jawa Tengah khas pengantin Solo yang digunakan pada prosesi akad nikah. Bentuknya lebih sederhana daripada busana Solo Bawahan, namun memiliki kemiripan dalam penataan rias wajahnya. Kedua pengantinnya mengenakan busana dari bahan beludru berwarna hitam, kain jarik dan selop (alas kaki).

Kain kebaya beludru yang dikenakan wanita melambangkan kemewahan dan kecantikannya. Biasanya ada motif merak di bagian bawahnya yang melambangkan keindahan. Ini adalah kebaya panjang dengan bagian depan terdapat kutu baru yang dipasang bros renteng tiga sehingga terlihat indah dan elegan.

Hitam sebagai warna pakem mewakili keanggunan dan kekuatan. Meski demikian, saat ini juga ada warna lainnya, seperti merah, maroon, dan biru. Untuk bawahan adalah kain jarik. Pengantin putri juga mengenakan selop bordir berwarna sama dengan kebaya yang melambangkan melangkah di jalan yang benar.

Pengantin pria menggunakan beskap Langenharjan dengan dalaman baju teni warna putih. Kombinasi tersebut melambangkan ketulusan hati seorang pria untuk menikahi pengantin wanita. Ada juga stagen di bagian pinggang dilengkapi timang, perlambang agar kedua mempelai bisa bersatu selamanya.

Sebagai simbol kegagahan, kekuatan dan sopan santun, pengantin pria dilengkapi dengan keris Ladrang yang diberi bunga kolong keris. Keris yang berukir pendok di tangkainya tersebut diselipkan di bagian belakang sabuk. Alas kakinya adalah selop bordir berwarna senada dengan busana pengantinnya.


Demikian beberapa contoh busana adat Jawa Tengah. Jika Anda ingin lebih mengetahui perihal kebudayaan di Jawa Tengah, perlu juga kiranya membaca Ragam Alat Musik Tradisional di Jawa Tengah dan Tarian Tradisional Jawa Tengah. Atau, bisa juga membaca Sejarah Batik Pesisir Pekalongan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *