Pakaian Adat Kepulauan Riau – 2+ Pakaian Tradisional Khas Melayu Kepri

Berbicara mengenai pakaian adat Kepulauan Riau (Kepri) berarti pula membahas pakaian dalam kebudayaan Melayu. Sehingga secara umum, tradisi berbusana masyarakat Kepri memiliki kemiripan dengan busana adat Riau. Mirip juga dengan sejumlah daerah yang kebudayaan masyarakatnya dipengaruhi oleh budaya Melayu.

Meski demikian, produk kebudayaan Kepri juga mendapat pengaruh dari budaya etnis lain karena Kepulauan Riau juga merupakan provinsi multietnis. Serta, tidak menutup kemungkinan dipengaruhi oleh kebudayaan Eropa. Hal ini senada dengan ungkapan Raja Ali Haji dalam kitabnya “Kitab Pengetahuan Bahasa” (1858).

“Adapun pakaian orang melayu dari pada dahulu, sehelai seluar dipakai di dalam, kemudian barulah memakai kain bugis atau sutera, labuhnya hingga lepas lutut, kira-kira sepelempap. Kemudian barulah memakai ikat pinggang, terkadang di luar kain, dan boleh pula di dalam kain. Setelah itu barulah memaki baju “Belah Dada” namanya atau “Baju Kurung” kemudian disisipkan keris. Sebelah keris kepalanya keluar dan tiada meniarap dan sapu tangan, bertanjak. Adapun seluar terkadang seluar ketat berkancing kakinya. Syahdan pada penglihatan mataku sangatlah tampan orang-orang Melayu memakai cara Melayu yang dahulu-dahulu, tiada bengis rupanya. Adapun sekarang ini, yakni masa aku mengarang kitab ini, maka tiadalah aku lihat lagi pakaian orang Melayu seperti pakaian adat istiadat lama, bercampur baur dengan kaidah pakaian orang Inggris dan Holanda”. (1)

Selain itu, wilayah Kepri yang berupa kepulauan juga turut menghadirkan keunikan pakaian adat masing-masing daerahnya, yang terdiri dari 5 kabupaten dan 2 kota. Namun, selanjutnya artikel ini lebih membahas Teluk Belanga dan Kebaya Labuh yang sejauh ini mewakili kekhasan pakaian adat daerah Kepulauan Riau.

Pakaian Adat Tradisional Kepulauan Riau

Kebaya Labuh (Pakaian Adat Wanita)

Kebaya Labuh adalah jenis baju kurung khas wanita Melayu. Desainnya longgar pada lubang lengan, perut, dan dada. Bentuknya memanjang sejajar pangkal paha atau menjuntai menutupi bagian lutut. Sebagaimana kebaya, baju ini umumnya memiliki 3 kancing depan sehingga bagian bawahnya terbuka dan melebar.

Konon, Kebaya Labuh termasuk jenis baju kurung tertua yang tetap ada hingga saat ini. Dahulu, ini merupakan pakaian dalam upacara kebesaran Melayu dalam lingkup kerajaan. Saat ini penggunaan baju ini biasanya pada upacara adat, seperti upacara pernikahan atau untuk acara-acara yang bersifat resmi lainnya.

Kebaya Labuh padu padan dengan kain songket atau bisa juga kain batik sebagai bawahan sarungnya. Sebagai kelengkapan pakaian pengantin tradisional Melayu, baju ini lebih indah dengan banyak aksen hiasan, seperti selendang, bros, ikat pinggang. Tidak lupa memakai gandik, semacam mahkota hiasan kepala.

Busana adat pengantin Kepulauan Riau lazimnya berwarna kuning keemasan. Warna kuning menggambarkan kekuasaan dan kemegahan. Selain pengantin, dengan fungsi dan makna tersendiri, ada juga busana berwarna merah yang menggambarkan kebahagiaan dan keberanian, serta warna hijau yang berarti kesetiaan.

Dalam pemakaiannya, pakaian adat tradisional Kepulauan Riau memiliki tata cara tertentu. Sebagai misal adalah cara mengikat kain bawahan berbeda antara seorang, baik laki-laki maupun perempuan, yang belum menikah dan sudah menikah. Ikatan sisi kiri berarti belum menikah, ikatan sisi kanan berarti sudah menikah.

Teluk Belanga (Pakaian Adat Pria)

Jika wanita Melayu Kepri memakai Kebaya Labuh, kaum prianya memakai Teluk Belanga. Uniknya, ada sebagian orang Melayu yang hanya mengenal Teluk Belanga. Masyarakat Melayu Pontianak misalnya, hanya mengenal Teluk Belanga pria dan Teluk Belanga wanita. Teluk Belanga sendiri juga merujuk pada baju kurung.

Baju kurung awalnya memang merupakan jenis pakaian laki-laki dan perempuan. Dulu, masyarakat Melayu hanya mengenakan penutup tubuh bagian bawah saja, termasuk kaum perempuannya. Dalam karya kesusastraan Sejarah Melayu (Malay Annals), baju kurung hadir seiring masuknya Islam pada kisaran tahun 1400.

Teluk Belanga dalam pakaian adat laki-laki Kepulauan Riau hadir dengan warna polos, seperti hitam, abu-abu, atau warna lain yang netral. Bagian atas berupa baju berlengan panjang dengan penggunaan kancing yang telah baku. Bisa memakai satu kancing (tulang belut), tiga dan lima kancing (cekak musang).

Penggunaan kancing tersebut memiliki makna tersendiri. Satu kancing bermakna tauhid, tiga kancing mewakili Allah, Muhammad, dan Adam, sedangkan lima kancing simbol dari rukun Islam. Selanjutnya, bagian bawah busana Teluk Belanga adalah celana panjang yang berwarna sama dengan bajunya.

Celana panjang kemudian berpadu dengan sarung atau selendang songket yang melingkari pinggang sebatas lutut. Selain itu, ada juga penutup kepala. Untuk upacara adat, penutup kepalanya disebut tanjak yang berbahan kain songket dan berbentuk segi empat. Terkadang, ada juga yang memakai songkok atau peci.

Selebihnya, pakaian laki-laki dalam adat pernikahan lebih semarak dengan penambahan berbagai aksesoris atau perhiasan. Memakai kalung, pengging atau ikat pinggang, serta selempang yang terselampir pada sisi kanan bahu. Lengkap juga dengan senjata berupa keris untuk melambangkan kewibawaan dan kegagahan.

Pakaian Adat Kepulauan Riau Lainnya

Selain Kebaya Labuh dan Teluk Belanga, terdapat beberapa jenis baju kurung dalam kelengkapan busana adat tradisional Kepulauan Riau. Ada istilah baju cekak musang, baju gunting Cina dan baju telepuk. Ada juga kain cual Anambas, serta sejumlah wastra batik dengan motif dan warna khas Kepulauan Riau.

Beberapa jenis penutup kepala pria, seperti ketu, kopiah dan songkok. Untuk penutup dan hiasan kepala kaum wanita, terdapat pasiani atau penutup dahi, sunting Melayu atau hiasan mahkota, tudung manto atau kerudung. Serta, tusuk cempaka emas yang juga merupakan salah satu hiasan kepala wanita Melayu.


Demikian sekilas perihal pakaian adat tradisional daerah Kepulauan Riau. Baca juga Tarian Tradisional Daerah Riau dan Kepri. Mengenai keragaman busana adat Melayu lainnya, Anda bisa membaca Pakaian Adat Daerah Jambi dan Busana Khas Melayu Deli. Atau, lihat Baju Adat Palembang Sumatera Selatan.

img credit: ragam.cahunnes.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *