Pakaian Adat Sulawesi Utara – 4 Nama Baju Tradisional Khas Daerah Sulut

Menempati ujung utara Pulau Sulawesi, provinsi Sulawesi Utara (Sulut) yang beribu kota Manado didiami oleh beberapa suku dengan kebudayaan yang beragam. Kondisi geografis yang juga mencakup kepulauan turut memungkinkan adanya perbedaan. Demikian pula dengan Pakaian adat Sulawesi Utara, pun banyak macamnya.

Suku Minahasa dengan konsentrasi mendekati 50% dari keseluruhan penduduk, cukup mendominasi corak kebudayaan Sulut. Lalu, masyarakat Sangir-Talaud yang menempati wilayah kepulauan juga memiliki budaya yang unik. Begitu pula dengan suku Mongondow yang dulunya memiliki kerajaan Bolaang Mongondow.

Artikel ini akan membahas pakaian adat suku-suku di Sulawesi Utara yang tersebut di atas. Termasuk juga busana adat dari suku Gorontalo yang jumlahnya cukup besar di sana. Mungkin tidak lengkap, pun belum mencakup semuanya, namun sekiranya cukup sebagai gambaran awal untuk kita mengenal busana adat Sulut.

Ragam Pakaian Adat Daerah Sulawesi Utara

Pakaian Adat Suku Minahasa

Pakaian Adat Minahasa Sulawesi Utara
credit: instagram.com/protokol_komunikasipimpinan

Dulu, kaum wanita Minahasa sehari-hari memakai wuyang, sejenis kebaya yang terbuat dari kulit kayu. Ada juga gaun pasalongan rinegetan berbahan tenunan bentenan. Kaum pria memakai baju karai tanpa lengan terbuat dari ijuk dan baju baniang lengan panjang dan berkerah. Celananya sederhana, bisa pendek atau panjang.

Ketika pengaruh budaya Cina dan Eropa masuk, pakaian Minahasa pun mengalami perubahan. Kebaya dan rok wanita cukup beragam ditambah adanya kain batik Cina motif burung dan bunga. Laki-laki tetap memakai baju baniang namun modelnya berubah menyerupai jas tutup. Baju tersebut padu padan dengan celana panjang.

Tonaas Wangko dan Walian Wangko

tona’as wangko merupakan nama pakaian adat Sulawesi Utara khas Minahasa. Busana ini berupa kemeja dengan potongan lurus lengan panjang. Bentuk kerahnya tinggi, bajunya memiliki kancing namun tanpa saku. Warnanya hitam dan berhias motif padi warna keemasan di sepanjang belahan depan, leher dan ujung lengan.

Kelengkapan tona’as wangko mencakup penutup kepala atau topi yang khas berwarna merah dengan motif hiasan tepi bunga padi senada dengan motif yang ada pada bajunya. Pada perkembangan berikutnya, terdapat pula busana walian wangko sebagai hasil modifikasi dari busana tona’as wangko sebagai busana pria.

walian wangko hadir dengan warna putih dan berhias motif bunga padi. Kelengkapan baju ini mencakup topi porong nimiles yang terbentuk dari lilitan dua kain warna merah hitam dan kuning keemasan. Secara filosofis, penutup kepala tersebut menjadi perlambang penyatuan langit dan bumi, alam dunia dan alam baka.

Busana walian wangko juga tersedia untuk kaum wanita. Dalam hal ini, wanita memakai kebaya panjang tak berkerah dan kancing. Warnanya putih dan ungu dengan hiasan motif bunga terompet. Juga, memakai sarung batik warna gelap, mahkota (kronci), sanggul, selempang warna kuning dan merah, kalung leher, dan selop.

Pakaian Adat Sangihe Talaud

Baju Adat Sangihe Sulawesi Utara
credit: Alffian, CC BY-SA 4.0

Pakaian adat Sulawesi Utara dari masyarakat Sangir-Talaud bernama laku tepu, yakni baju panjang bagi pria dan wanita. Perbedaan antara baju pria dan wanita terletak pada ukuran panjang baju. Baju wanita panjangnya sampai di bawah lutut dengan bagian bawah memakai rok atau kain sarung berwarna senada.

Sementara itu, busana laki-laki mencakup baju dengan panjang, ada yang hanya sebatas lutut dan ada yang panjangnya mendekati telapak kaki. Bagian bawahnya berupa celana panjang berwarna senada dengan bajunya. Pakaian adat laku tepu umumnya berwarna mencolok, seperti merah, ungu, kuning tua, atau hijau tua.

Dahulu, laku tepu berbahan kain kofo yang terbuat dari serat manila hennep dan serat kulit kayu. Warna merah didapat dari cairan air nira, sedangkan warna lain berasal dari daun-daunan atau akar-akaran. Untuk saat ini kain kofo sudah tergantikan oleh bahan lain yang sesuai, namun warnanya tetap mengacu tradisi.

Penggunaan laku tepu dalam upacara adat seperti pernikahan, biasanya diperlengkap dengan berbagai aksesoris. Untuk pengantin pria, kelengkapan busananya meliputi soko u wanua (kalung panjang), keris, salikuku (ikat pinggang), dan ikat kepala segitiga yang ujungnya menjulang di bagian depan kepala.

Kelengkapan untuk pengantin wanita mencakup topo-topo (sunting) menghiasi konde di kepala, gelang, anting-anting dan soko u wanua (kalung panjang bersusun tiga). Dan, memakai bawandang liku atau selendang yang tersampirkan di bahu kanan melingkar ke kiri, satu ujung terurai ke tanah, ujung lainnya dipegang.

Dalam laku tepu, keberadaan ikat kepala sangat istimewa karena melambangkan status atau kedudukan seseorang pria di masyarakat. Sebagai misal, paporong datu buwawina merupakan ikat kepala raja atau pejabat pemerintahan. Adapun paporong tingkulu menandai pemakainya tidak memiliki kedudukan di masyarakat.

Sebagaimana ikat kepala pria, selendang wanita juga mengandung makna simbolis mewakili status sosial. Seorang permaisuri memakai selendang kaduku berbahan kain kofo berwarna kuning tua dan merah. Untuk selendang kaum bangsawan, pemakaiannya hanya dengan menyampirkan selendang di bahu sebelah kanan.

Pakaian Adat Suku Mongondow

Pakaian Tradisional Mongondow
credit: instagram.com/milasngkaeng

Baju adat tradisional suku Mongondow terbuat dari lanut atau serat kulit kayu atau pelepah nenas. Olahan lanut selanjutnya ditenun menjadi kain hingga akhirnya berbentuk sebuah busana yang utuh. Apabila kita amati, busana tradisional masyarakat Mongondow bentuknya mendapat pengaruh dari busana adat Melayu.

Busananya bermacam-macam bergantung siapa yang memakainya. Kaum bangsawan lebih beragam karena terkait dengan upacara dalam lingkar hidup mereka. Busana bekerja berbeda dengan busana pengantin, bahkan busana untuk upacara kehamilan dan kematian pun memiliki perbedaan, termasuk juga busana bayi.

Lalu, ada busana kohongian yang merupakan busana adat penikahan bagi mereka yang status sosialnya setingkat di bawah bangsawan. busana simpal untuk pernikahan orang-orang dari golongan pendamping pemerintah. busana kerja guha-ngea bagi pemangku adat saat upacara kerajaan. Ada juga busana rakyat biasa.

Untuk busana pengantin, secara umum pengantin pria memakai kemeja baju kurung dengan celana piyama berwarna mencolok. Memakai ikat pinggang dan keris. Untuk pengantin wanita, memakai kebaya atau salu dan sarung kotak-kotak. Sanggulnya berhias bulu burung, bunga, dan sunting emas berbentuk rantai kembang.

Pakaian Adat Suku Gorontalo

Pakaian Adat Gorontalo
credit: instagram.com/epilog_pictures

Selain di provinsi Gorontalo, suku Gorontalo di Sulawesi Utara juga cukup besar jumlahnya. Baju adat mereka yang terkenal bernama makuta dan biliu. makuta adalah busana pria berupa baju dan celana raja dan tudung makuta. Ciri khas lainnya adalah bako atau kalung keemasan dan pasimeni atau hiasan pada bajunya.

Pasangan makuta adalah biliu untuk wanita. Terdiri dari galenggo (baju kurung lengan panjang), oyilomuhu (rok dalam), dan bide atau busana luar yang penuh dengan ornamen keemasan. Busana biliu terlihat sangat indah dan megah karena menyertakan banyak aksesoris. Selengkapnya baca di Baju Adat Daerah Gorontalo.


Demikian sekilas tentang keragaman busana atau pakaian adat daerah Sulawesi Utara. Artikel lain sehubungan dengan karya seni dan budaya masyarakat Sulut, baca Tarian Khas Daerah Sulut. Untuk baju adat daerah lainnya, baca juga Pakaian Tradisional Sulawesi Tenggara dan Pakaian Tradisional Kalimantan Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *