Pakaian Adat Sumatera Selatan – 2 Jenis dan Makna Baju Adat Palembang

Sebagai karya budaya, pakaian adat hadir untuk mengekspresikan identitas, dan bisa juga menunjukkan status sosial, perkawinan dan agama. Setiap suku di Indonesia memilikinya, tidak terkecuali di Sumatera Selatan yang beribu kota Palembang. Jadi, mari kita mengenal Pakaian Adat Sumatera Selatan.

Pakaian adat, pakaian rakyat, busana daerah atau disebut juga pakaian tradisional, umumnya dikaitkan dengan wilayah geografis atau periode waktu dalam sejarah. Hal ini memungkinkan adanya pengaruh budaya luar yang turut mengambil bagian hingga suatu pakaian adat mencapai bentuk utuhnya.

Pada masa Kerajaan Sriwijaya, Palembang memiliki pelabuhan besar yang menjadi tempat persinggahan para pedagang dari luar termasuk Jawa, Cina dan Arab. Dalam sejarahnya, Palembang sempat kehilangan fungsi sebagai pelabuhan besar, penduduknya pun mengadopsi budaya Melayu pesisir, kemudian Jawa.

Dalam nuansa akulturasi yang kental, produk budaya di Sumatera Selatan terbentuk. Termasuk pada bahasa, gelar kebangsawanan, kesenian, serta pakaian adat tradisional. Aesan Gede dan Pak Sangkong adalah nama pakaian adat Palembang Sumatera Selatan yang akan kita kenal lebih dekat di artikel ini.

Perihal Pakaian Adat Tradisional Sumatera Selatan

Pakaian adat merupakan perlambang kebesaran sekaligus sebagai refleksi falsafah dan pandangan hidup, konsep dan gagasan serta tanggung jawab terutama pemimpinan suatu etnik, sub etnik. Secara fungsional, pakaian adat itu hanya (boleh) dipakai pada upacara tertentu (Mutia, 1996: 19).

Demikian juga dengan pakaian adat di Palembang, yakni Aesan Gede dan Pak sangkong, yang sejauh ini mewakili pakaian adat Provinsi Sumatera Selatan. Pakaian ini merupakan busana pengantin tradisional yang dikenakan pengantin dalam upacara adat perkawinan, pada sesi “penganten munggah“.

penganten munggah” merupakan puncak acara setelah sebelumnya telah melewati serangkaian tata upacara perkawinan adat Palembang. Di acara puncak inilah Aesan Gede dan Pak sangkong digunakan. Kedua pakaian pengantin ini memiliki keunikan tersendiri, meski juga memiliki kesamaan.

Aesan Gede

aesan” merupakan istilah dalam bahasa Palembang yang digunakan untuk menyebut busana atau pakaian. Adapun “gede” bermakna kebesaran. Seperti diisyaratkan oleh namanya, Aesan Gede merupakan pakaian tradisional Palembang yang menggambarkan kebesaran, sama halnya dengan Payas Agung Bali.

Konon, busana adat Sumatera Selatan ini merupakan peninggalan kerajaan Sriwijaya dan melambangkan betapa agungnya kerajaan tersebut. Melalui perpaduan warna merah jambu dan sulaman berwarna keemasan, Aesan Gede seolah meneguhkan julukan swarnadwipa (Pulau Emas) bagi Pulau Sumatera.

Nuansa yang dihadirkan oleh Aesan Gede demikian glamor dengan penambahan berbagai aksesoris. Beberapa kelengkapan Aesan Gede di antaranya karsuhun, kalung tapak jajo, selendang sawit, keris, pending, badong, sapu tangan segitigo, cenele atau terompah, gelang palak ulo, kecak dan sempuru, dll.

Pak Sangkong

Pak sangkong atau disebut juga Aesan Paksangko tidak semewah Aesan Gede, namun lebih mencitrakan keanggunan. Pengantin pria mengenakan songket lepus sulam emas yang dipadukan dengan jubah motif bunga emas, selempang dan celana. Adapun bagian kepala memakai songkok emas.

Sementara itu, pengantin perempuan dalam pakaian pengantin Palembang gaya Aesan Paksangko memakai baju kurung (dodot) berwarna merah bermotif taburan bintang emas. Mengenakan mahkota Aesan Paksangko sebagai penutup kepala, teratai penutup dada, serta kain songket bersulam emas.

Makna dan Kelengkapan Pakaian Adat Palembang

Baik pakaian adat Palembang gaya Aesan Gede maupun Aesan Paksangko, masing-masing sarat dengan makna simbolis yang mendalam. Semuanya itu terwakili dalam setiap bagian, baik yang pokok sampai aksesoris pelengkapnya. Berikut ini adalah rincian penjelasan makna di setiap bagiannya:

Kain Songket

Kain Songket merupakan kekhasan pakaian adat Sumatera Selatan. Motif yang digunakan umumnya motif tumpal atau motif geometris murni yang juga sering digunakan dalam Kain Batik. Dalam pakaian pengantin Palembang, motif garis zig-zag yang berdampingan dengan garis lurus.

Motif tersebut menggambarkan keramahan dan saling menghormati sesama manusia dan menjaga ketertiban (Sunaryo, 2009: 32). Bisa dimaknai bahwa motif kain songket secara simbolis menunjukkan bahwa masyarakat Palembang ramah, tertib dan saling menghormati satu sama lain.

Celano Sutra

Celano Sutra merupakan celana panjang berbahan sutra dengan di bagian bawahnya terdapat bordiran bunga bertangkai panjang. Motif bordiran ini lazim disebut motif sulur dan melambangkan kebahagiaan dan kemujuran atau perlambang harapan akan masa depan yang lebih baik.

Dodot

Dodot memiliki motif senada dengan songket yang bermotif tumpal. Sebagai pembeda, motif dodot berada di kanan dan kiri. Di posisikan seperti itu untuk melambangkan bahwa pengantin Palembang adalah makhluk sosial yang diharuskan ramah, tertib dan saling menghormati sesama.

Jubah

Ini merupakan akulturasi dari budaya Arab. Berupa baju panjang bertabur motif bunga teratai yang digambarkan seolah mengapung di air. Teratai sendiri identik dengan seni rupa Hindu Budha, agama masa lalu kerajaan Sriwijaya. Ini melambangkan kebahagian pengantin yang telah menikah.

Rompi

Rompi digunakan sebagai pakaian dalam laki-laki pada pakaian adat pak sangkong. Motifnya tunas tumbuhan dengan pola geometris zig-zag. Tunas adalah simbol agar manusia bermanfaat bagi yang lainnya, sementara motif zig-zag bermakna sama dengan motif songket dan dodot.

Baju Kurung

Baju kurung mendapatkan pengaruh dari budaya Melayu-Islam. Jika laki-laki memakai jubah, perempuan memakai baju kurung bermotif yang sama dengan jubah laki-laki. Bermotif taburan bunga sebagai simbol bahwa pengantin perempuan juga sedang berbahagia atas pernikahannya.

Kesuhun

Kesuhun untuk laki-laki hadir dalam dua motif. Satu bermotif cemen yang mewakili bahwa laki-laki harus berani dan bertanggung jawa. Motif kedua adalah bunga mawar yang melambangkan kesucian dan keagungan. Ini mencitrakan keanggunan dan keberanian laki-laki dalam keluarga.

Kesuhun untuk perempuan bermotif cen dan bunga. cemen dan cen mewakili kelamin laki-laki dan perempuan. Jadi motif cen melambangkan asal kehidupan. Simbol penghargaan terhadap perempuan sebagai pusat kehidupan. Bunga melambangkan kelembutan dan rasa kekeluargaan.

Tebeng Malu

Ini adalah penutup bagian samping kepala berupa sabuk yang dimaksudkan agar kedua pengantin tidak saling lirik. Adat Palembang menganggap tabu bagi mempelai untuk saling lirik, saling pandang dan berbicara selama prosesi di atas pelaminan berlangsung (Syarofie, 2007: 40).

Pending

Pending berarti ikat pinggang. Motifnya tumbuhan menjalar yang bermakna harapan masa depan yang lebih baik. Hal ini dimaksudkan bahwa pengantin laki-laki dan perempuan telah siap untuk menjalani kehidupan atau sebagai perlambang bagi pengukuhan kehidupan mereka.

Selendang Pelangi

Selendang pelangi bermotif geometris berupa garis lengkung (kebahagiaan) yang dikombinasikan dengan garis horizontal (ketenangan). Kombinasi motif tersebut melambangkan bahwa orang Palembang merasakan kebahagiaan dan ketenangan dalam kehidupan bermasyarakat.

Kelapo Setandan

Ini adalah hiasan bunga teratai yang bertangkai. Pada pakaian adat Palembang Sumatera Selatan untuk pengantin terdapat tujuh tangkai bunga teratai. Tujuh teratai bertangkai tersebut berarti pikiran perasaan, penglihatan, kebijaksanaan, kesadaran, kebesaran dan kemurnian.

Ketu

Ketu adalah mahkota berupa topi. Di bagian depannya terdapat hiasan geometris objek-objek alam, bagian samping berhias bunga cempaka dan bagian atas terdapat taburan bunga teratai. Motif-motif tersebut simbol kepemimpinan dan kecintaan laki-laki pada keluarga dan daerahnya.

Mahkota Pak Sangkong

Ini adalah mahkota pengantin perempuan yang dipakai di bagian kening dikaitkan ke belakang. Bermotif bunga teratai dan setangkai mawar. Motif dasarnya lingkaran. Secara keseluruhan, motif-motif tersebut menggambarkan kesucian dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Gandek

Penggunaannya sama dengan mahkota pak sangkong, namun gandek dipasang lebih dulu. Gandek dimaknai sebagai simbol bahwa perempuan yang terkesan pemikir. Motifnya bunga teratai, sehingga Gandek mengisyaratkan makna kesucian dari pemikiran perempuan Palembang.

Cempako

Cempako adalah bunga cempaka. Motif hias ini mensimbolkan keindahan dan keanggunan. Cempako mempunyai makna simbol bahwa masyarakat Palembang harus menjaga keindahan dan keanggunan perilakunya.

Sumping

Sumping merupakan hiasan bunga untuk menutupi telinga. Bunga sendiri melambangkan keindahan. Sehingga, Sumping mengusung makna simbol bahwa kehidupan harus mendengarkan segala hal yang baik-baik.

Gelung Malang

Gelungan rambut yang memberi kesan kerapian. Bentuknya garis horizontal melengkung lambang dari ketenangan dan kegembiraan. Gelung Malang bermakna bahwa perempuan Palembang adalah sosok yang anggun, mengutamakan kerapian dan tenang dalam menghadapi sesuatu.

Kembang Ure

Kembang Ure diletakkan di kepala bagian belakang yang bentuknya menyerupai rambut yang terurai. Berbahan pandan dan bunga warna-warni. Kembang Ure adalah simbol keanggunan perempuan Palembang yang juga mampu memperni warna tersendiri bagi keluarganya.

Terate

Terate merupakan penutup dada. Motifnya adalah bunga teratai yang berarti simbol kesucian dan keanggunan. Terate menggambarkan bahwa orang Palembang, baik laki-laki maupun perempuan haruslah mempunyai rasa kesabaran dan ketabahan hati dalam hal apapun.

Kalung Tapak Jajo

Di ujung kalung ini terdapat motif seperti kerbau. Kerbau merupakan binatang ternak yang bermanfaat bagi pertanian. Dalam ornamen Nusantara, motif kerbau umumnya digunakan sebagai lambang kesuburan, selain juga dipandang sebagai penolak sesuatu yang jahat.

Selempang Sawit

Selempang Sawit merupakan selempang yang digunakan di bahu, baik dalam pakaian adat untuk laki-laki maupun perempuan. Selempang ini merupakan simbol bahwa laki-laki dan perempuan sudah semestinya sejajar, tidak ada yang merasa tinggi maupun yang merasa rendah.

Kecak Bahu

Seperti namanya, Kecak Bahu merupakan hiasan yang dikenakan di bahu. Hiasan ini mempunyai makna simbol bahwa laki-laki dan perempuan Palembang seharusnya memiliki kekuatan dalam menjalani kehidupan.

Gelang dan Cincin

Gelang juga merupakan simbol dari keanggunan. Sementara itu, cincin sebenarnya biasa dipakai oleh perempuan yang sudah menikah. Namun, perkembangan zaman memungkinkan makna cincin menjadi lebih luas. Tidak sedikit yang memakainya sebagai hiasan semata.

Setangan

Setangan ini bentuknya persegi panjang yang menggabungkan garis vertikal dan horizontal. Maknanya ketegaran, kemuliaan dan ketenangan. Bagian depannya bermotif geometris zig-zag yang melambangkan semangat. Setangan mewakili ketegaran dan ketenangan hidup.

Cenele

Cenela merupakan sandal atau terompah. Mengusung fungsi dasarnya, Cenela merupakan perlambang bahwa dalam menjalani kehidupan, manusia haruslah mempunyai pelindung diri. Pelindung diri yang dimaksud adalah agama.


Demikian informasi perihal Pakaian Adat Palembang yang mewakili Pakaian Adat Tradisional Sumatera Selatan. Tentu, setiap daerah di Sumatera Selatan memiliki keunikan pakaian adat tersendiri. Namun, karena kurangnya informasi, semoga busana tradisional Palembang di atas mencukupi.

Referensi:

  1. jurnal.radenfatah.ac.id/inde…
  2. bsd.city/review-baju-adat-pa…
  3. img: fitri agung / CC BY 2.0 (dengan perubahan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *