Pakaian Adat Aceh – 2 Jenis Busana Adat Suku Aceh dan Kelengkapannya

Pakaian adat Aceh sangat beragam, karena provinsi yang berjuluk Serambi Mekah ini memiliki lebih dari sepuluh suku bangsa asli. Setiap suku memiliki adat istiadat tersendiri sehingga pakaian tradisionalnya pun berbeda. Meski demikian, persinggungan budaya juga memungkinkan adanya sejumlah persamaan.

Di antara banyaknya suku yang mendiami provinsi Aceh, suku Aceh merupakan yang terbesar (sekitar 70%). Oleh karenanya, kebudayaan suku ini sangatlah mendominasi lanskap budaya Aceh. Demikian juga dengan busana adat tradisional mereka yang secara umum turut mewakili pakaian adat tradisional Aceh.

Pakaian tradisional suku Aceh pun banyak macamnya. Namun yang terkenal adalah pakaian adat Ulee Balang, yang awalnya merupakan busana khas keluarga raja. Seiring berjalannya waktu, jenis pakaian ini menjadi pakaian adat tradisional Aceh dan banyak dikenakan dalam berbagai upacara adat Aceh.

Busana adat Ulee Balang terdiri dari 2 jenis, yakni Linto Baro atau pakaian adat untuk laki-laki dan Daro Baro atau pakaian adat untuk perempuan. Selain mendapat pengaruh kebudayaan Melayu dan kebudayaan Islam, dalam busana ini juga terdapat sentuhan kebudayaan Cina. Berikut adalah penjelasan singkatnya:

Pakaian Adat Tradisional Suku Aceh

Pakaian Linto Baro

Pakaian Adat Linto Baro Aceh
credit: MutiaNurdin / CC BY-SA

Linto Baro adalah pakaian tradisional kaum pria Aceh ketika menghadiri acara yang bersifat resmi, seperti kegiatan pemerintahan dan upacara adat. Ada perkiraan bahwa busana ini telah ada sejak zaman kesultanan Perlak, kerajaan Islam yang pernah menguasai wilayah Peureulak, Aceh Timur antara tahun 840-1292 M..

Terlihat bahwa kebudayaan Islam sangat mendominasi desain Linto Baro. Dalam wujudnya, busana ini terdiri dari kupiah meukeutop (penutup kepala khas Aceh), baju meukesah, dan celana sileuweu. Selebihnya, terdapat juga senjata tradisional khas Aceh, yakni siwah atau rencong yang terselip pada bagian pinggang.

Penutup kepalanya, meukeutop terbuat dari kain katun yang mengkombinasikan warna kuning, hijau, merah, dan hitam. Warna hijau sebagai warna ke-Islam-an menggambarkan kedamaian. Kuning mewakili kebangsawanan dan keagungan, merah berarti berani, dan hitam (bagi orang Aceh) melambangkan kerakyatan.

Pada bagian atas meukeutop terdapat tampoek, yakni perhiasan berbahan emas. Terkadang juga berhias permata kecil. Bagian depannya terdapat ija teungkulok, kain tenun tradisional bersulam emas yang salah satu ujung kainnya mencuat ke atas. Juga, ayeum gumbak, hiasan keemasan yang menggantung di sisi kanan.

Selanjutnya, untuk bagian tengah dari Linto Baro adalah baju meukeusah yang berbahan tenunan kain sutra (umumnya berwarna dasar hitam). Selain kerakyatan, warna hitam juga bermakna kebesaran. Bentuk kerah bajunya yang bersulam emas merupakan hasil asimilasi budaya Aceh dan budaya Tiongkok.

Pakaian adat Aceh ini juga termasuk celana sileuweu atau celana cekak musang khas Melayu. Sama seperti baju meukeusah, celana ini berbahan katun dan berwarna hitam. Untuk memperindah, terdapat lilitan sarung songket sutra pada pinggang. Ija lamugap, ija krong atau ija sangket adalah sebutan sarung tersebut.

Terdapat juga senjata tradisional khas Aceh yang terselip di pinggang. Terkadang menggunakan rencong, kadang juga siwah yang bentuknya lebih besar, lebih panjang dan lebih mewah. Jika rencong bergagang melengkung, gagang siwah berbentuk bulat, ujungnya besar dan rata. Gagang siwah berhias permata.

Pakaian Daro Baro

Pakaian Adat Aceh
credit: pixabay/saifulmulia

Daro Baro atau Peukayan Daro Baro adalah pakaian adat untuk perempuan Aceh. Berbeda dengan Linto Baro yang banyak mengandung warna hitam, Daro Baro hadir dengan warna yang lebih beragam, seperti hijau, merah, kuning dan ungu. Selain itu, Daro Baro memiliki banyak aksesoris untuk memperindah pakaiannya.

Dalam Peukayan Daro Baro, terdapat baju kurung yang desainnya banyak mendapat pengaruh kebudayaan Arab, Melayu dan Cina. Ukuran baju kurung ini cukup longgar agar bisa menutupi lekuk tubuh sang pemakainya. Baju ini berbahan dasar sama dengan Linto Baro, yakni tenunan kain sutra dengan motif dari benang emas.

Pada kerah terdapat boh dokma (perhiasan khas Aceh). Selanjutnya, ada juga sarung songket menutupi bagian pinggul. Untuk mengencangkan, songket berpadu dengan taloe ki leng patah sikureueng (tali pinggang) berbahan perak atau emas. Daro Baro juga memakai celana cekak musang, namun warnanya lebih beragam.

Busana Aceh untuk wanita ini berhias aneka perhiasan, salah satunya adalah Patam Dhoe (mahkota). Bagian tengah mahkota terdapat kaligrafi lafadz Allah dan Muhammad serta motif bungoh kalimah mengelilinginya. Maknanya adalah wanita yang memakainya telah menikah dan telah menjadi tanggung jawab suaminya.

Agar semakin terlihat indah, wanita yang mengenakan Daro Baro juga memakai taloe tokoe bieung meuih, yakni sebuah kalung emas. Selain terlihat mewah, kalung ini juga unik karena memiliki enam batu yang berbentuk hati dan satu yang berbentuk kepiting. Selebihnya, terdapat perhiasan subang atau anting-anting.


Demikianlah sekilas informasi mengenai pakaian adat tradisional suku Aceh. Untuk lebih lanjut mengetahui perihal seni dan budaya Aceh, baca juga Daftar Tarian Tradisional Aceh dan Daftar Alat Musik Tradisional Aceh. Atau, lihat juga Ragam Pakaian Adat Tradisional Nusantara. Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *