Pakaian Adat Sumatera Utara – 7 Contoh Busana Adat Tradisional SUMUT

Setiap suku di Indonesia memiliki busana adat tersendiri sebagai upaya mengekspresikan identitas kebudayaan mereka. Demikian halnya dengan pakaian adat Sumatera Utara yang juga beragam, karena provinsi yang beribu kota Medan ini merupakan provinsi multietnis. Lebih dari delapan suku asli yang mendiami wilayahnya.

Suku Batak, secara kolektif mengidentifikasikan rumpun suku-suku yang mendiami sebagian besar wilayah Sumatera Utara. Suku Toba, Karo, Mandailing, Angkola, Simalungun, dan Pakpak termasuk dalam kategori Batak. Namun, masing-masing suku tersebut memiliki keunikan budaya, termasuk pakaian adatnya.

Selanjutnya, ada juga suku Melayu Deli dan Langkat yang pastinya menawarkan kekhasan busana adat tersendiri. Suku Nias yang mendiami Kepulauan Nias pun demikian. Berikut ini adalah daftar yang mencakup 7 contoh dari pakaian adat tradisional Sumatera Utara (SUMUT) disertai dengan penjelasan singkatnya.

Pakaian Adat Tradisional Sumatera Utara

Pakaian Adat Batak Toba

Pakaian Adat Batak Toba Sumatera Utara
credit: flickr/ccdoh1, CC BY-NC-ND 2.0

Busana adat Sumatera Utara dari masyarakat Batak Toba secara tradisional menggunakan kain Ulos khas Toba. Seiring perkembangan zaman dan seiring kebaya menjadi busana nasional Indonesia, wanita Toba pun mulai memakai kebaya untuk bajunya. Demikian juga dengan busana pria yang kini memakai setelan jas.

Meski begitu, Ulos tetap hadir mewakili keunikan busana Toba. Selain bilulu na torang (kebaya hitam), wanita Toba mengenakan ulos ragi hotang untuk bawahan dan selendang. Sedangkan ulos untuk pria adalah ulos ragi hotang untuk selendang, gondit (ikat pinggang ulos), dan seba-seba, yakni ulos penghias bagian bawah.

Pada busana wanita terdapat sortali atau ikat kepala ulos berhias tembaga sepuh emas atau kuningan. Bagian depan sortali (kening atas), terdapat tiga lembar daun sirih. Rambut disanggul dan berhias ulos bintang maratur. Selain itu, ada borgut atau kalung, gelang, cincin, anting-anting, serta tas Ulos tempat sirih.

Tidak seperti busana wanita, meski juga menggunakan sejumlah perlengkapan dan perhiasan, busana pria terlihat sederhana. Aksesorisnya berupa sortali dan ikat kepala ulos bintang maratur. Untuk perhiasannya, laki-laki memakai kalung borgut, tas sandang dari labu, tunggal panaluon (tongkat khas toba), dan cincin.

Pakaian Adat Simalungun

Pakaian Tradisional Simalungun
credit: Situs Berita, CC BY-SA 4.0, edited

Pakaian adat tradisional Sumatera Utara, khususnya dalam kebudayaan Batak, banyak menggunakan kain Ulos. Meski demiian, masing-masing sub-suku memiliki istilah tersendiri dalam penyebutan kain tenun khas Sumatra Utara tersebut. Masyarakat Batak Simalungun misalnya, yang menyebut Ulos dengan sebutan hiou.

Sehubungan dengan busana adat Simalungun, hiou hadir dalam berbagai bentuk. Untuk penutup kepala, penutup badan bagian atas dan bawah, penutup punggung, dll. Gotong atau penutup kepala pria Simalungun awalnya berbentuk destar berwarna gelap, namun kemudian berubah bentuk menjadi mirip tengkuluk Melayu.

Sebagai perlengkapan busana, hiou memiliki nama dan jenis yang berbeda-beda. Untuk wanita, penutup kepala disebut bulang, penutup badan atas sebutannya suri-suri, bagian bawah ragipanei atau jabit jika merujuk pakaian sehari-hari. Ada juga istilah tolu sahundulan, yakni hoiu dalam rupa pakaian adat pengantin.

Pakaian Adat Suku Karo

Pakaian Adat Tradisional Suku Karo
credit: Alleybamboes, CC BY-SA 4.0

Masyarakat Karo menyebut pakaian adat mereka uis gara atau uis adat Karo. Uis berarti kain dan Gara berarti merah. Nama tersebut mengisyaratkan bahwa warna merah mendominasi busana adat Karo, selain juga ada warna hitam dan putih. Terkesan mewah karena berhias ragam tenunan dari benang emas dan perak.

Meski masuk dalam klasifikasi Batak, suku Karo unik dalam banyak hal. Demikian juga dengan uis gara yang berbeda dengan ulos Batak, meski kedua jenis kain ini merupakan kain tenun seperti songket. Fungsi umum dari uis gara adalah pakaian resmi dalam kegiatan adat dan budaya, seperti pesta adat Guro-Guro Aron.

Uis Gara memiliki banyak jenis sesuai fungsinya dan mengandung nilai filosofis yang mendalam. Setiap perlengkapan busana, baik pria maupun wanita memiliki nama tersendiri. Mulai dari penutup kepala, selendang, penutup badan atas dan bawah, sarung, dll. Namanya pun disesuaikan dengan upacara adatnya.

Pakaian Adat Mandailing

Contoh Busana Pengantin Mandailing
credit: Rinrais, CC BY-SA 4.0

Pakaian adat Sumatera Utara khas Mandailing juga menggunakan ulos. Salah satu yang paling unik adalah bentuk bulang atau mahkota dalam busana pengantin wanita Mandailing. Bulang ini berbentuk tanduk bertingkat yang berlapis emas. Konon, jumlah tingkatan bergantung pada jumlah hewan yang akan disembelih.

Kekhasan pakaian adat Mandailing untuk pria juga terletak pada penutup kepalanya yang disebut ampu. Dahulu, ampu adalah penutup kepala kebesaran para raja Mandailing dan Angkola (kedua suku ini memiliki banyak kesamaan). Warna hitamnya bernuansa magis, sedangkan hiasan emas menjadi simbol kebesaran.

Pakaian Adat Suku Nias

Pakaian Adat Suku Nias Sumatera Utara
credit: Lili Aini, CC BY-SA 4.0

Pakaian adat tradisional Suku Nias adalah Baru Oholu untuk laki-laki dan Oroba Si’oli untuk perempuan. Baik pakaian adat untuk laki-laki maupun untuk perempuan lebih didominasi oleh warna kuning atau emas. Warna utama tersebut berpadu dengan beberapa warna lain, seperti hitam, merah, dan putih.

Setiap warna mengandung nilai filosofis, begitu pula dengan coraknya. Warna kuning bercorak persegi empat (ni’obakola) dan pola bunga kapas ni’obowo gafasi) menggambarkan kejayaan, kekayaan, kemakmuran dan kebesaran. Karena itu, busana adat dengan warna dan corak tersebut sering dipakai oleh para bangsawan.

Merah dengan corak segitiga (ni’ohulayo/ ni’ogöna) merupakan busana khas prajurit yang menggambarkan darah, keberanian, dan kapabilitas mereka. Warna hitam mewakili busana rakyat yang menyimbolkan ketabahan dan kewaspadaan. Warna putih simbol kesucian dan kedamaian untuk para pemuka agama.

Pakaian Adat Suku Pakpak

Busana Adat Suku Pakpak Sumatera Utara
credit: uksu.itb.ac.id

Suku Pakpak memiliki pakaian adat yang juga unik. Laki-laki mengenakan baju merapi-api yang berhias manik-manik (api-api). Baju yang umumnya berbahan beludru ini bentuk lehernya bulat dan berwarna hitam. Penutup bagian bawah berupa celana panjang berwarna hitam tanggung mirip dengan celana silat atau karate.

Laki-laki juga memakai oles sidosdos (sarung), borgot atau kalung berlapis emas atau perak dengan rangkaian 32 keping, ujungnya berbentuk kepala kerbau. Ada juga sabe-sabe atau hiasan bahu, rempur riar atau pisau bersarung lapis emas, rante abak atau ikat pinggang, ucang (tas) dan tongket atau tongkat.

Busana perempuannya juga berupa baju merapi-api warna hitam dengan bentuk leher segitiga. Selain itu, mengenakan sarung (oles perdabaitak), saong (tutup kepala), kalung leppa-leppa, ikat pinggang rante abak, rabi munduk (pisau dengan ujung melingkar kecil ke atas, gagangnya berukir dan dililiti emas).

Selebihnya, perlengkapan busana perempuan juga mencakup papuren atau sumpit dari anyaman pandan berlapis manik-manik, dan culapah yakni kotak tembakau kecil dari emas dan perak. Juga, terdapat kancing emas berbentuk bulat yang fungsinya bukan sebagai mana mestinya, hanya murni sebagai hiasan semata.

Pakaian Adat Melayu Deli

Pakaian Adat Melayu Deli Sumut
credit: Alberttito, CC BY-SA 4.0

Selanjutnya, masyarakat Melayu Deli juga menawarkan warna budaya yang khas melalui bahasa, maupun pakaian adat tradisionalnya. Meskipun memiliki banyak kesamaan dengan busana Melayu pada umumnya, busana tradisional Melayu Deli tetap unik, khususnya warna yang menyesuaikan dengan daerah asalnya.

Warna biru mewakili busana daerah Hamparan Perak, warna hijau untuk daerah Binjai. Dan, warna kuning untuk busana Melayu Medan. Selain menjadi kekhasan masyarakat Medan, pakaian Melayu Deli warna kuning dulunya merupakan busana keluarga kerajaan karena warna ini menggambarkan kemuliaan.

Pakaian Melayu Deli juga memiliki klasifikasi tersendiri. Busana pengantin, tidaklah sama dengan busana rakyat biasa, demikian pula dengan busana Jaka Dara. Busana pengantin wanita terlihat indah dengan hiasan bunga aster merah putih dengan jurai bunga sedap malam. Ada juga yang menggunakan bunga ros.

Pengantin wanita mengenakan sunting gerak gempa, bermahkota dan memakai selendang tule (tile) pada bagian belakang bahu dan punggung. Sedangkan yang paling khas dari pengantin laki-laki adalah tengkulok atau destar sebagai penutup kepalanya, selain memakai kain balut dari pinggang hingga paha.

Untuk Jaka Dara, Jaka mengenakan teluk belanga, berkopiah dan kain plekat. Adapun Dara berbaju panjang benang suring/rubiah berlengan lebar, kain plekat untuk bawahan dan berselendang tipis tule. Dara memakai kerabu, kalung, kancing baju 3 susun, sedangkan untuk hiasan rambutnya adalah setangkai bunga. (1)


Demikian sekilas perihal keragaman pakaian adat tradisional Sumatera Utara. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kebudayaan masyarakat suku Batak, suku Melayu dan suku Nias, lanjutkan dengan membaca Daftar Rumah Adat Sumut. Atau, bisa juga melihat ragam Tarian Tradisional Daerah Sumatera Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *