• sumber : kamerabudaya.com

Perang Pandan – Tradisi Unik di Desa Tenganan, Bali

posted in: Bali, Sejarah, Tradisi | 0
Durasi baca : 3 menit

Perang Pandan. Bali adalah sebuah wilayah di Indonesia yang akan selalu menarik untuk dibahas, terlebih berkaitan dengan tradisi dan budaya yang menyertainya. Sebuah pulau yang terlanjur menjadi primadona dari setiap sudut yang menjadi bagiannya. Dalam hal ini, Kabupaten Karangasem adalah salah satu sudut yang paling menonjol memperkaya citarasa Budaya Bali.

Di Karangasem, desa Tenganan adalah sebuah desa adat yang cukup kental dengan Tradisi & Budaya yang tetap lestari. Disamping menjadi tempat lahirnya Tari Mabuang Mulan Daha yang begitu sakral, desa Tenganan juga memiliki tradisi unik yakni Tradisi Perang Pandan.

Perang Pandan atau biasa disebut dalam bahasa Bali sebagai Mekare-kare merupakan tradisi upacara tahunan yang telah berlangsung turun temurun. Seiring dengan populernya Budaya Tenganan, tradisi ini pun menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang ke Bali.

Sejarah Tradisi Perang Pandan

Disebutkan bahwa Tradisi Mekare-kare digelar sebagai penghormatan bagi Dewa Indra. Bagi Masyarakat Tenganan perihal pemahaman Hindu terdapat pembeda dari umat Hindu pada umumnya. Masyarakat Tenganan percaya bahwa Dewa Indra adalah Dewa tertinggi dan bukan seperti paham Tri Murti yakni Brahma, Wisnu dan Siwa. Masyarakat Tenganan menyakini bahwa Dewa Indra adalah dewa dari segala dewa yang juga diyakini sebagai Dewa Kemakmuran.

Sehubungan dengan hal itu, Tradisi Mekare-kare sangatlah dikaitkan dengan cerita yang turut membentuk Sejarah Desa Tenganan. Disebutkan bahwa dahulu desa ini dan sekitarnya pernah diperintah oleh seorang raja yang bernama Maya Denawa. Maya Denawa adalah raja yang terkenal lalim dan melampaui batas. Raja tersebut bahkan berani menyebut dirinya Tuhan dan melarang masyarakat yang ada dibawah kekuasaannya menjalankan ritual keagamaan.

Para Dewa pun mengutus Dewa Indra sebagai panglima perang untuk turun ke bumi dan mengakhiri keangkaramurkaan yang terjadi. Maya Denawa juga terkenal sebagai raja sakti yang mampu mengubah diri menjadi berbagai bentuk, sehingga terjadilah peperangan sengit yang pada akhirnya dimenangkan oleh Dewa Indra. Sebuah penghormatan kemudian diberikan oleh Rakyat Tenganan kepada Dewa Indra dengan bentuk Upacara Perang Pandan.

Pelaksanaan Tradisi Perang Pandan

Upacara Perang Pandan adalah ritual keagamaan yang oleh Masyarakat Tenganan biasa dilangsungkan pada Sasih Kalima atau bulan kelima dalam penanggalan Bali. Tradisi ini menjadi bagian dari Upacara Sasih Sembah yakni Upacara Keagamaan Terbesar di Desa Tenganan. Tradisi Mekare-kare menjadi sebuah simbol pertempuran antara prajurit dari Dewa Indra melawan Maya Danawa.

Perang Pandan menjadi unik karena menggunakan properti Pandan berduri berukuran besar. Pertarungan dimulai dengan bunyi Gamelan Selondang sebagai penanda. Selanjutnya para pria, baik remaja maupun anak-anak bertarung ditengah arena yang telah disediakan. Mereka bertelanjang dada bertarung satu lawan satu bersenjatakan pandan berduri yang dibentuk menyerupai Gada. Bertarung sambil menari, bergiliran kurang lebih selama 3 jam.

Tradisi Perang Pandan biasanya digelar didepan balai pertemuan desa atau Bale Patemu pada kisaran jam 2 siang. Tradisi ini semakin menarik karena seluruh warga akan memakai pakaian adat Tenganan yakni kain tenun pengringsingan. Dalam duel yang terjadi, selalu didapati luka gores akibat pandan berduri, luka tersebut selanjutnya diobati dengan ramuan tradisional berbahan kunyit.

Karena kuatnya penghormatan terhadap Dewa Indra, seluruh Masyarakat melakukan Upacara Mekare-kare ini dengan ikhlas, gembira dan dilaksanakan semeriah mungkin meski dalam tradisi ini mereka harus berdarah-darah akibat dari pandan berduri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *