• sumber : banyumaskab.go.id

Perlon Unggahan, Jawa Tengah – Tradisi Ramadhan Kaum Bonokeling

posted in: Jawa, Jawa Tengah, Tradisi | 0
Durasi baca : 4 menit

Perlon Unggahan. Masyarakat tradisional Indonesia adalah masyarakat yang berbudaya. Bahkan dikatakan budaya telah menyentuh seluruh aspek dan dimensi cara pandang, sikap hidup serta aktualisasi kehidupan mereka. Kebudayaan tersebut kemudian turut menciptakan beragam tradisi sebagai kebiasaan yang berlangsung sejak lama dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sebagai misal adalah tradisi oleh masyarakat Islam Jawa dalam menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan.

Tradisi Ramadhan dalam masyarakat Islam di Pulau Jawa sendiri sangat banyak macamnya. Beberapa yang telah ditulis disini adalah Tradisi Megengan, Dugderan, Baratan dan Nyadran. Selain yang telah disebutkan, masih banyak tradisi unik yang dilakukan orang-orang Jawa menjelang bulan puasa nan sakral tersebut, salah satunya adalah Perlon Unggahan. Sebuah tradisi unik yang dilakukan kaum Bonokeling di desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Perlon Unggahan merupakan tradisi tahunan yang dilakukan sepekan sebelum bulan Ramadhan. Sebuah tradisi selamatan dengan berkunjung ke makam leluhur, yakni Kyai Bonokeling yang ada di desa Pekuncen. Tradisi ritual ini merupakan bagian dari ajaran Kejawen dari pengikut Bonokeling yang lazim disebut sebagai anak-putu (anak cucu) Bonokeling. Berbekal keyakinan yang kuat, mereka dengan ikhlas melaksanakannya meski harus berjalan puluhan kilometer.

Pelaksanaan Tradisi Perlon Unggahan

Dalam prakteknya, para kaum Bonokeling dari berbagai daerah akan berjalan kaki menuju Desa Pekuncen dengan membawa berbagai macam hasil bumi dan sayur-sayuran. Di masa awal, perjalanan itu dilakukan dengan tanpa menggunakan alas kaki. Seiring dengan berjalannya waktu ada toleransi yang mempersilahkan anak-putu Bonokeling untuk menggunakan alas kaki berupa sandal jepit. Setibanya, mereka pun disambut dan apa yang dibawa akan diterima oleh para tetua desa agar diolah untuk acara selamatan esok harinya.

Setelah tertib antri bersilaturahmi dengan tetua (suwon), kaum pria beristirahat untuk persiapan ritual yang disebut dengan neduh. Acara ini biasanya di dilakukan sekitar jam 2 pagi dengan dipimpin oleh juru kunci makam Bonokeling. Dalam acara tersebut, mereka melantunkan harapan kepada Tuhan yang maha kuasa agar seluruh proses Perlon Unggahan berjalan dengan baik. Ketika hari semakin terang, tuan rumah mulai sibuk mempersiapkan ubo rampe atau makanan untuk upacara syukuran, yakni puncak ritual Perlon Unggahan.

Disembelilah berbagai jenis hewan ternak mulai dari ayam, kambing hingga sapi dari hasil sumbangan masyarakat yang nantinya dijadikan olahan makanan becek sebagai sajian makan bersama. Salah satu keunikan dari proses penyiapan makanan itu adalah hanya kaum pria saja yang diijinkan melakukannya. Disisi lain, dengan urutan kaum wanita terlebih dahulu, anak-cucu Bonokeling mempersiapkan diri dengan berziarah ke makam Kyai Bonokeling. Mereka melakukan penghormatan untuk menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.

Oleh karena ini merupakan tradisi selamatan, satu hal yang menarik adalah makanan. Puluhan jenis makanan itu setidaknya dikelompokkan menjadi dua, sesaji dan ubo rampe. Makanan sesaji (sajen) umumnya terdiri dari rujak degan, ketan kuning, ketan merah, kolak, apem, pisang raja, ingkung dan nasi uduk. Sementara itu, untuk makanan sebagai ubo rampe lebih beragam dengan 14 menu yang terdiri dari berbagai semur, oseng tempe, sayur pindang, tahu dan tempe bacem, rempeyek dan lain-lain.

Makanan yang telah siap kemudian di bawa, dimasukkan dan disusun di jodang, paling depan untuk ubo rampe dan terakhir untuk sajen. Jodang akan melewati proses doa terlebih dahulu yang dipimpin oleh imam desa. Selain jodang, ada juga gunungan makanan yang kesemuanya dibawa menuju balai desa. Selanjutnya dilakukan arak-arakan kirab menuju makam sewu untuk melaksanakan ritual Nyadran yang dilanjutkan dengan makan bersama.

Sebagai penutup, seperti halnya Tradisi Grebeg di Yogyakarta, disini juga ada acara berebut gunungan makanan. Umumnya para pengikut ajaran Bonokeling percaya, apa yang tersedia di jodang dan gunungan mengandung keberkahan.

Perihal Sosok & Ajaran Bonokeling

Bonokeling hanyalah sebuah panggilan untuk mewakili sosok panutan yang misterius. Saking misteriusnya, tidak diketahui wajah yang sebenarnya, bahkan tidak ada yang tahu riwayat dan ajaran-ajarannya. Informasi perihal Bonokeling hanya disampaikan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Ada yang mengatakan, beliau adalah orang pertama yang menyebarkan Islam di Jatilawang dengan memadukan ajaran Islam dengan budaya kejawen yang dianut oleh warga.

Ada juga informasi yang menyebutkan bahwa Bonokeling adalah sosok tokoh dari Pasirluhur. Pasirluhur sendiri merujuk pada perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat, sebagai sisa kerajaan Pasirluhur di wilayah Banyumas dan Cilacap. Sisa-sisa peninggalan yang dimaksud termasuk berbagai tradisi yang tetap dilestarikan hingga saat ini, salah satunya adalah ritual berjalan kaki menggunakan pakaian serba hitam menuju pemakaman leluhur di Desa Pekuncen.

Disebutkan juga, kedatangan Kyai Bonokeling ke Desa Pekuncen adalah dalam rangka “among tani” atau membuka lahan pertanian. Dalam prosesnya, sebagai sosok muslim, Bonokeling membuka lahan pertanian sambil menyebarkan ajaran Islam. Seperti umumnya, para pendakwah Islam di masa lalu, Kyai Bonokeling menyebarkan Islam dengan mengakomodasi nilai budaya lokal yang sudah ada (akulturasi budaya).

Hanya saja, ada kemungkinan ajaran tersebut belumlah sempurna ketika beliau wafat, sehingga yang lebih menonjol saat ini adalah hasil dialog antara berbagai ajaran, Islam, Hindu-Budha, dan agama lokal. Perihal ajaran Islam sendiri, yang tertanam sebatas kepercayaan terhadap keesaan Tuhan, yang mana para pengikut Bonokeling dalam setiap lelakunya meminta segala sesuatunya hanya kepada Allah SWT.

Sejauh ini, keberadaan Kyai Bonokeling yang berkaitan dengan kerajaan Pasirluhur masih perlu ditelusuri lebih lanjut karena tidak adanya bukti tertulis yang bisa dijadikan landasan kebenarannya. Yang pasti, berbagai pantangan dan syarat dari para leluhur terpatri dengan sangat kuat dalam ajaran Kejawen pengikut Bonokeling atau yang dikenal sebagai anak-putu Bonokeling. Dengan niat yang kuat, mereka ikhlas melaksanakan semua ajaran leluhur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *