• sumber : balidirections.com

Pura Ulun Danu Beratan, Bali – Harmoni Alam, Budaya & Religi

posted in: Bali, Sejarah, Wisata | 0

Pura Ulun Danu Bratan. Tentu saja, Bali tetap sebagai primadona keindahan Indonesia. Tempat ketika semua orang memiliki banyak alasan untuk betah didalamnya. Bali bukan hanya tentang pantai yang sibuk dengan hiruk-pikuk pelancong dunia, namun juga perihal ketenangan melalui harmoni alam yang berpadu dengan kedalaman budaya dan kesejarahannya. Pura Ulun Danu Beratan benar-benar mewakili hal itu. Datanglah segera ke Candikuning, Baturiti, Tabanan, Bali.

Disebutkan bahwa Pura Ulun Danu Bratan adalah satu diantara sembilan pura kahyangan jagat yang mengelilingi Bali, salah satu pura terpenting bagi masyarakat Hindu di Pulau Dewata ini. Sebuah kompleks candi air yang berada di tepian Danau Bratan. Danau ini sendiri dikenal sebagai “gunung suci” di kawasan yang sangat subur pada ketinggian 1.200 mdpl. Selain penting bagi sisi religiuitas, secara keseluruhan kawasan ini juga penting bagi irigasi khas Bali, Subak.

Bagi pecinta keindahan, Bedugul yang meliputi desa Bedugul, Candikuning, Pancasari, Pacung dan Wanagiri adalah kawasan wisata dengan kemolekan alam yang benar-benar sempurna. Memadukan ketenangan danau dengan lanskap pegunungan Bali, terkhusus obyek utamanya adalah Pura Ulun Danu sendiri. Estetika adalah sesuatu yang teramat dimanjakan dalam hal ini. Jadi, lanjutkan membaca untuk memahami budaya dan sejarahnya.

Lebih Dekat Dengan Pura Ulun Danu Bratan

Ketika merujuk pada lontar babad Mengwi, jejak arkeologi yang ditemukan di halaman depan Pura Ulun Danu Bedugul adalah berupa sarkofagus dan papan batu. Hal ini mengisyaratkan lokasi sebagai tempat Pura berdiri telah difungsikan sebagai tempat ritual sejak zaman Megalitikum atau sekitar 500 tahun sebelum Masehi. Kedua artefak yang dimaksud bisa ditemukan di bagian babaturan (halaman depan Pura).

Selanjutnya, sebelum mendirikan Pura Taman Ayun, I Gusti Agung Putu sebagai pendiri kerajaan Mengwi terlebih dahulu membangun Pura di ujung danau Beratan. Sejauh ini tidak ada penjelasan dalam babad Mengwi mengenai kapan tepatnya raja tersebut mendirikan Pura Ulun Danu. Penjelasan yang ada lebih pada pendirian Pura Taman Ayun dengan upacaranya pada hari Anggara Kliwon Medangsia, tahun Saka 1556 (1634 Masehi).

Dari penjelasan diatas, Pura Ulun Danu ada kemungkinan dibangun sebelum tahun Saka 1556. Diceritakan, sejak didirikannya Pura, kerajaan Mengwi menjadi tentram dan sejahtera sehingga masyarakat menjuluki I Gusti Agung Putu sebagai “I Gusti Agung Sakti“. Keberadaan Pura ini di empon oleh empat satakan dari desa-desa disekitarnya, meliputi Candikuning (5 Bendesa Adat), Bangah (3 Bendesa Adat), Antapan (4 Bendesa Adat), dan Baturiti (6 Bendesa Adat).

Bersama pemerintah daerah, Desa Adat setempat telah mengelola kompleks pura ini selama bertahun-tahun. Pura yang berada di areal “Daya Tarik Wisata Ulun Danu Beratan” ini menjadi tempat umat Hindu Bali maupun Indonesia untuk menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa dalam manifestasi Tri Murti (Brahma, Wisnu dan Siwa). Dalam hal ini, pengharapan umat Hindu adalah kesuburan tanah, kemakmuran, kesejahteraan manusia, serta tidak terkecuali kelestarian alam semesta.

Pura Ulun Danu Beratan meliputi lima Pura dan satu buah Stupa Buddha. Untuk diketahui, Meru dengan sebelas atap didedikasikan untuk Siwa dan istrinya, Parwati, sementara Buddha pun memiliki tempat dalam kuil Dewa Hindu tersebut. Lebih rinci mengenai kelima Pura dan satu Stupa Buddha sebagai berikut :

  • Pura Penataran Agung : Pura ini bisa dilihat ketika melewati Candi Bentar saat menuju Beratan. Difungsikan sebagai tempat memuja kebesaran Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Tri Purusha Siwa (Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa). Pemujaan dimaksudkan untuk memohon anugerah kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan manusia, serta keseimbangan alam semesta.
  • Pura Dalem Purwa : Didalamnya terdapat 3 pelinggih utama. Pertama, Pelinggih Dalem Purwa untuk memuja Dewi Durga dan Dewa Rudra sebagai sumber kemakmuran. Kedua, Bale Murda Manik (Bale Pemaruman) digunakan untuk parum atau rapat. Ketiga, Bale Panjang yang menjadi tempat meletakkan sarana persembahan upacara. Semua Pelinggih menghadap ke arah timur ditepi selatan Danau Beratan.
  • Pura Taman Beji : Pura ini digunakan untuk melakukan upacara Ngebejiang yakni ritual penyucian sarana upacara dengan memohon tirta (air suci). Selain itu, Pura ini juga difungsikan sebagai tempat melaksanakan Upacara Melasti atau ritual pembersihan dan penyucian umat Hindu Bali, khususnya bagi masyarakat disekitaran Danau Beratan.
  • Pura Lingga Petak : Pura inilah yang sering disebut sebagai Pura Ulun Danu Bratan dan dipercaya sebagai sumber utama air kesuburan Danau Beratan. Di dalam Pura ini terdapat sebuah sumur suci dan keramat yang menyimpan Tirta Ulun Danu (Air Suci Ulun Danu). Selebihnya, di Pura ini juga bisa didapati Lingga berwarna putih yang diapit oleh batu merah dan batu hitam. Ada juga 2 Pelinggih, yakni Pelinggih Meru Tumpang Solas dan Pelinggih Meru Tumpang Telu.
  • Pura Prajapati : Pura yang berada di bawah phon beringin ini difungsikan sebagai tempat beristananya Dewi Durga. Pelinggih ini menghadap ke arah barat dan menjadi Pura yang pertama kali dilihat setelah melewati pembelian tiket masuk, sebelum masuk ke area Danau Beratan.
  • Stupa Buddha : Keberadaan sebuah Stupa Buddha adalah wujud keselarasan hidup beragama. Di kompleks Pura Ulun Danu Bratan, Stupa Buddha menghadap ke arah selatan dan berada diluar area utama kompleks.

Aktivitas di Pura Ulun Danu Bratan

Ketika Pembaca berkunjung ke Pura Ulun Danu Beratan, bisa dipastikan Anda benar-benar sibuk mengingat banyaknya aktivitas yang bisa dilakukan. Hanya saja, sejenak terpesona adalah ide yang sempurna. Lihat dan hayati sekeliling dan jujurlah bahwa sudah semestinya Anda mensyukuri diberi kesempatan menikmati alam budaya semolek ini. Mengamati setiap sudut keindahannya, merasakan kesejukan udaranya, mengagumi budayanya, ataupun tenggelam dalam nuansa religiusitas yang ada.

Selanjutnya, seperti halnya obyek wisata pada umumnya, Pura Ulun Danu juga memungkinkan setiap pengunjungnya lebih manja menikmati liburan mereka. Anda bisa berwisata air, mengarungi danau nan eksotik ini menggunakan speed boat, pedal boat, ataupun jukung yang terkesan lebih tradisional. Suka memancing? Lakukanlah kegiatan itu area pancing yang telah disediakan sembari menunggu anggota wisata lain berbahagia dengan cara mereka.

Di kompleks wisata Pura Ulun Danu Beratan, Anda juga bisa menikmati pengalaman lain dengan mengabadikan keberadaan bersama aneka fauna eksotis. Layanan foto profesional akan dengan senang hati melayani setiap pengunjung untuk berfoto dengan Albino, Python, Chameleon, Eagle, Big Hornbill, Owls dan lain sebagainya. Apabila beruntung, Anda juga akan melihat kawanan rusa ditempat ini. Selebihnya, bersantai dan bermalas-malasan di taman juga bisa dipertimbangkan.

Fasilitas di Pura Ulun Danu Bratan

Sebagai salah satu obyek wisata populer di Pulau Bali, Pura Ulun Danu Bratan telah lengkap dengan fasilitas yang memadai. Sebelum ini juga sudah disebutkan perihal adanya fasilitas penunjang wisata berupa speed boat, pedal boat dan perahu tradisional yang biasa disebut Jukung. Disini juga ada dua tempat makan yang menyajikan hidangan Barat, China dan Indonesia dengan harga yang bersahabat.

Fasilitas yang lebih lengkap, terutama menjadi satu area parkir yang sangat luas. Disinilah tempat Anda bisa menemukan beragam fasilitas untuk kebutuhan dasar, termasuk toilet, tempat makan dan minuman, ATM, hingga sebagai tempat mendapatkan oleh-oleh dan suvenir khas Bali. Bagi yang ingin menginap disekitaran obyek wisata banyak tersedia hotel dan villa.

Harga Tiket Masuk Pura Ulun Danu Beratan : Biaya masuk ke obyek wisata ini sangatlah bervariasi yang umumnya bergantung jenis wisatawannya. Berikut ini adalah daftar harga tiket retribusi beserta biaya parkir kendaraannya :

Anak-anak (domestik) RP 15.000
Dewasa (domestik) RP 20.000
Anak-anak (mancanegara) RP 25.000
Dewasa (mancanegara) RP 50.000
Sepeda motor RP 2.000
Mobil pribadi RP 5.000
Bus RP 10.000

Rute & Maps Pura Ulun Danu Bratan

Pura Ulun Danu Beratan terletak kurang lebih 45 kilometer dari Tabanan. Sementara itu, jika dari Denpasar jaraknya berkisar 56 kilometer atau 70 kilometer dari Kuta. Baik dari Kuta maupun Denpasar arah jalan kurang lebih sama yakni bisa melalui Jl Denpasar – Singaraja, Jalan Raya Denpasar, ataupun melalui Jl I Gusti Ngurah Rai. Durasi dari Kuta berkisar 2 jam, dan dari Denpasar berkisar 1,5 jam. Adapun bagi Anda yang datang dari Singaraja membutuhkan waktu sekitar 1 jam, bisa melalui Jalan Raya Bedugul-Singaraja ataupun Jalan Singaraja-Gilimanuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *