Pura Ulun Danu Beratan, Bali – Indahnya Harmoni Alam, Budaya dan Religi

Pura Ulun Danu Bratan. Tentu saja, Bali tetap sebagai primadona keindahan Indonesia. Tempat ketika semua orang memiliki banyak alasan untuk betah berlama-lama. Yang pasti, Bali bukan hanya tentang pantai yang sibuk dengan hiruk-pikuk pelancong dunia.

Pulau Dewata ini juga tentang ketenangan melalui harmoni alam yang berpadu dengan kedalaman budaya dan kesejarahannya. Pura Ulun Danu Beratan, salah satu tempat yang benar-benar mewakili hal itu.

Kompleks candi air yang berada di tepian Danau Bratan ini adalah satu di antara sembilan pura kahyangan jagat yang mengelilingi Bali. Termasuk sebagai pura terpenting bagi masyarakat Hindu Bali.

Danau Beratan sendiri dikenal sebagai “gunung suci” di kawasan yang sangat subur pada ketinggian 1.200 mdpl. Selain penting bagi sisi religiusitas, secara keseluruhan kawasan ini juga penting bagi irigasi khas Bali, Subak.

Bagi pecinta keindahan, Bedugul adalah kawasan wisata dengan kemolekan alam yang benar-benar sempurna. Kawasan indah ini meliputi desa Bedugul, Candikuning, Pancasari, Pacung dan Wanagiri.

Memadukan ketenangan danau dengan lanskap pegunungan Bali. Terkhusus obyek utamanya, Pura Ulun Danu Beratan. Estetika adalah sesuatu yang teramat dimanjakan dalam hal ini. Jadi, lanjutkan membaca untuk memahami budaya dan sejarahnya.

Pura Ulun Danu Bratan Bali
sumber : balidirections.com

Lebih Dekat: Pura Ulun Danu Beratan

Ketika merujuk pada lontar babad Mengwi. Jejak arkeologi yang ditemukan di halaman depan Pura Ulun Danu Bedugul berupa sarkofagus dan papan batu. Hal ini mengisyaratkan lokasi ini telah difungsikan sebagai tempat ritual sejak zaman Megalitikum atau sekitar 500 SM.

Kedua artefak yang dimaksud bisa ditemukan di bagian babaturan (halaman depan Pura). Selanjutnya, sebelum mendirikan Pura Taman Ayun. I Gusti Agung Putu sebagai pendiri Kerajaan Mengwi, terlebih dahulu membangun Pura di ujung Danau Beratan.

Wisata Pura Ulun Danu Bratan Bedugul
sumber : @vera_bertran

Sejauh ini tidak ada penjelasan dalam babad Mengwi mengenai kapan tepatnya raja tersebut mendirikan Pura Ulun Danu. Penjelasan yang ada lebih pada pendirian Pura Taman Ayun dengan upacaranya pada hari Anggara Kliwon Medangsia, tahun Saka 1556 (1634 Masehi).

Dari penjelasan di atas, ada kemungkinan Pura di Danau Beratan dibangun sebelum tahun Saka 1556. Konon, sejak didirikannya Pura, Kerajaan Mengwi menjadi tentram dan sejahtera. Sehingga masyarakat menjuluki I Gusti Agung Putu sebagai “I Gusti Agung Sakti“.

Keberadaan Pura ini di empon oleh empat satakan dari desa-desa di sekitarnya. Desa tersebut di antaranya Candikuning (5 Bendesa Adat), Bangah (3 Bendesa Adat), Antapan (4 Bendesa Adat), dan Baturiti (6 Bendesa Adat).

Bersama pemerintah daerah, Desa Adat setempat telah mengelola kompleks pura ini selama bertahun-tahun. Pura ini difungsikan sebagai tempat umat Hindu untuk menghadap Tuhan dalam manifestasi Tri Murti (Brahma, Wisnu dan Siwa).

Dalam hal ini, pengharapan umat Hindu adalah kesuburan tanah, kemakmuran, kesejahteraan manusia. Tidak terkecuali kelestarian alam semesta. Pura Ulun Danu Beratan meliputi lima Pura dan satu buah Stupa Buddha.

Untuk diketahui, Meru dengan sebelas atap didedikasikan untuk Siwa dan istrinya, Parwati. Sementara Buddha pun memiliki tempat dalam kuil Dewa Hindu tersebut. Lebih rinci mengenai kelima Pura dan satu Stupa Buddha sebagai berikut :

Pura Penataran Agung

Pura ini bisa dilihat ketika melewati Candi Bentar saat menuju Beratan. Tempat memuja kebesaran Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Tri Purusha Siwa (Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa). Pemujaan untuk memohon anugerah kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan manusia, serta keseimbangan alam semesta.

Pura Dalem Purwa

Didalamnya terdapat 3 pelinggih utama. Pertama, Pelinggih Dalem Purwa untuk memuja Dewi Durga dan Dewa Rudra sebagai sumber kemakmuran. Kedua, Bale Murda Manik (Bale Pemaruman) digunakan untuk parum atau rapat.

Adapun pelinggih yang ketiga, Bale Panjang menjadi tempat meletakkan sarana persembahan upacara. Semua Pelinggih menghadap ke arah timur di tepi selatan Danau Beratan.

Pura Taman Beji

Digunakan untuk melakukan upacara Ngebejiang, yakni ritual penyucian sarana upacara dengan memohon tirta (air suci). Juga merupakan tempat melaksanakan Upacara Melasti. Sebuah ritual pembersihan dan penyucian umat Hindu Bali, khususnya bagi masyarakat di sekitar Danau Beratan.

Pura Lingga Petak

Pura inilah yang sering disebut sebagai Pura Ulun Danu Bratan dan dipercaya sebagai sumber utama air kesuburan Danau Beratan. Di dalamnya terdapat sebuah sumur suci dan keramat yang menyimpan Tirta Ulun Danu (Air Suci Ulun Danu).

Selebihnya, di Pura ini juga bisa didapati Lingga berwarna putih yang diapit oleh batu merah dan batu hitam. Ada juga 2 Pelinggih, yakni Pelinggih Meru Tumpang Solas dan Pelinggih Meru Tumpang Telu.

Pura Prajapati

Pura yang berada di bawah pohon beringin ini difungsikan sebagai tempat beristananya Dewi Durga. Menghadap ke arah barat dan menjadi Pura yang pertama kali dilihat setelah melewati pembelian tiket masuk. Sebelum masuk ke area Danau Beratan.

Stupa Buddha

Keberadaan sebuah Stupa Buddha adalah wujud keselarasan hidup beragama. Di kompleks Pura Ulun Danu Bratan, Stupa Buddha menghadap ke arah selatan dan berada diluar area utama kompleks.


Aktivitas Wisata di Pura Ulun Danu Bratan

Ketika berkunjung ke Pura Ulun Danu Beratan, bisa dipastikan Anda benar-benar sibuk mengingat banyaknya aktivitas yang bisa dilakukan. Hanya saja, sejenak terpesona adalah ide yang sempurna.

Harga Tiket Masuk Pura Ulun Danu Bratan Bali
sumber : @natyahotelandresort

Lihat dan hayati sekeliling dan jujurlah bahwa sudah semestinya Anda mensyukuri diberi kesempatan menikmati alam budaya semolek ini. Mengamati setiap sudut keindahannya. Merasakan kesejukan udaranya, mengagumi budayanya. Ataupun, tenggelam dalam nuansa religiusitas yang ada.

Seperti halnya obyek wisata pada umumnya, Pura Ulun Danu juga memungkinkan setiap pengunjung lebih manja menikmati liburan mereka. Anda bisa berwisata air. Mengarungi danau nan eksotik ini menggunakan speed boat, pedal boat, ataupun jukung yang terkesan lebih tradisional.

Suka memancing? Memancinglah sembari menunggu anggota wisata lain berbahagia dengan cara mereka. Di kompleks wisata Pura Ulun Danu Beratan, wisatawan juga bisa menikmati pengalaman lain dengan mengabadikan keberadaan bersama aneka fauna eksotis.

Layanan foto profesional dengan senang hati melayani setiap pengunjung untuk berfoto. Bersama Albino, Python, Chameleon, Eagle, Big Hornbill, Owls dan lain sebagainya. Apabila beruntung, Anda juga akan melihat kawanan rusa di tempat ini.


Fasilitas di Pura Ulun Danu Bratan Bedugul

Sebagai salah satu obyek wisata populer di Pulau Bali, Pura Ulun Danu Bratan memiliki fasilitas yang memadai. Ada fasilitas penunjang berupa speed boat, pedal boat dan perahu tradisional yang biasa disebut Jukung.

Di sini juga ada dua tempat makan yang menyajikan hidangan Barat, China dan Indonesia dengan harga yang bersahabat. Fasilitas yang lebih lengkap, terutama menjadi satu area parkir yang sangat luas.

Di area tersebut terdapat beragam fasilitas untuk kebutuhan dasar. Termasuk toilet, tempat makan dan minuman, ATM, serta pusat oleh-oleh dan suvenir khas Bali. Bagi yang ingin menginap disekitar obyek wisata banyak tersedia hotel dan villa.


Harga Tiket Masuk Pura Ulun Danu Bratan

Biaya masuk ke obyek wisata ini sangatlah bervariasi yang umumnya bergantung jenis wisatawannya. Berikut ini adalah daftar harga tiket retribusi beserta biaya parkir kendaraannya :

KeteranganHarga
Anak-anak (domestik)RP 15.000
Dewasa (domestik)RP 20.000
Anak-anak (mancanegara)RP 25.000
Dewasa (mancanegara)RP 50.000
Parkir MotorRP 2.000
Parkir MobilRP 5.000
Parkir BusRP 10.000
Penginapan Terdekat Lihat Daftar
Note: harga tidak selalu akurat, bisa berubah sewaktu-waktu.

Peta Lokasi & Rute Pura Ulun Danu Beratan

Pura Ulun Danu Beratan terletak kurang lebih 45 km dari Tabanan. Jika dari Denpasar jaraknya berkisar 56 km atau 70 km dari Kuta. Baik dari Kuta maupun Denpasar rutenya kurang lebih sama. Anda bisa melalui Jl Denpasar – Singaraja, Jalan Raya Denpasar, ataupun melalui Jl I Gusti Ngurah Rai.

Durasi dari Kuta berkisar 2 jam, dan dari Denpasar berkisar 1,5 jam. Jika dari Singaraja, dibutuhkan sekitar 1 jam. Bisa melalui Jalan Raya Bedugul-Singaraja ataupun Jalan Singaraja-Gilimanuk.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *