Rumah Adat Bangka Belitung – 3 Jenis Arsitektur Tradisional Daerah Babel

Kebudayaan di Provinsi Bangka Belitung (Babel) banyak kemiripan dengan kebudayaan di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Karena sebelum tahun 2000, Babel merupakan bagian dari Sumsel. Begitu juga dengan rumah adat Bangka Belitung yang juga banyak mengadopsi Arsitektur Tradisional Adat Sumatera Selatan.

Sama halnya dengan rumah adat Sumsel, rumah adat atau rumah tradisional Babel memiliki beberapa ragam bentuk. Dengan tetap mengusung kekhasan arsitektur tradisional Melayu, setidaknya terdapat tiga jenis rumah adat di daerah Bangka Belitung. Di antaranya: Rumah Rakit, Rumah Limas, dan Rumah Panggung.

Artikel ini selanjutnya akan membahas rumah tradisional tersebut. Di antara ketiga jenis itu, Rumah Panggung atau Ruma Panggong sejauh ini menjadi yang paling ikonik mewakili rumah adat Bangka dan rumah adat Belitung. Selengkapnya, berikut penjelasan mengenai masing-masing rumah adat yang ada di Babel.

Ragam Rumah Adat di Provinsi Bangka Belitung

Rumah Adat Rakit Bangka Belitung

Rumah Rakit adalah bangunan tradisional yang terapung di atas rakit di pinggir sungai. Termasuk jenis rumah tertua dari daerah Sumatera Selatan, bahkan ada yang mengatakan sudah ada sejak zaman kerajaan Sriwijaya. Rumah Rakit Sumsel inilah yang melatar belakangi adanya bangunan Rumah Rakit di daerah Babel.

Nama rumah ini mewakili bentuk bangunan yang secara struktur dan bentuknya menyerupai bentuk rakit yang lengkap. Karena mengapung di atas air, rumah ini bukan hanya sebagai rumah tinggal. Ada beberapa rumah yang berfungsi ganda, bisa berpindah dan menjadi sarana transportasi dari satu tempat ke tempat lain.

Namun, kebanyakan Rumah Rakit adalah bangunan yang menetap. Menghadap ke daratan, terikat tali rotan yang terhubung ke tonggak di tepi sungai. Disangga juga oleh beberapa tiang yang tertancap ke dasar sungai. Materialnya adalah bambu dan kayu. Dahulu, atapnya yang berbentuk limas terbuat dari anyaman daun.

Rumah Adat Limas Bangka Belitung

Rumah adat Limas di Bangka Belitung juga mengadopsi gaya arsitektur rumah adat khas Sumatera Selatan. Bangunan tradisional jenis ini umumnya juga menjadi perlambang status sosial seseorang di masyarakat. Sebagian besar pemiliknya adalah keturunan kerajaan, pejabat pemerintahan, ataupun saudagar kaya.

Nama Limas mewakili atap rumah yang berbentuk limas dan memanjang mengacu pada gaya bangunan Melayu Bubung Panjang. Bahan utamanya adalah kayu, termasuk dindingnya yang terbuat dari papan kayu yang tersusun tegak. Untuk memasukinya, di sisi kanan dan kiri rumah adat Limas terdapat tangga masuk.

Salah satu keunikan Rumah Limas adalah Bengkilas, istilah yang mengacu pada ketinggian lantai yang tidak merata. Selain untuk membedakan derajat tamu, tingkatan lantai juga mewakili fungsi. Yang tertinggi untuk acara keluarga, sedangkan teras atau di lantai yang kedua biasanya untuk menjamu tamu istimewa.

Ruma Panggong (Rumah Panggung)

Saat ini, Ruma Panggong atau Rumah Panggung adalah rumah yang paling mewakili rumah adat Bangka Belitung sebagai salah satu identitas budaya daerah di sana. Ruma Panggong Bangka Belitung sebenarnya juga bisa disebut Rumah Limas karena atapnya berbentuk limas atau gudang yang memanjang ke belakang.

Seperti namanya, Ruma Panggong merupakan jenis rumah panggung. Bangunannya memadukan gaya arsitektur Melayu Awal, Melayu Bubungan Limas, dan Melayu Bubungan Panjang. Rumah Melayu Awal tersusun oleh material alami, seperti alang-alang, akar pohon, dedaunan, kayu, dan bambu. Tidak terkecuali rotan.

Atapnya tinggi dengan sedikit kemiringan pada bagian bangunannya. Sebelum ruang induk, ada tangga dan beranda yang luas. Tiangnya yang berjumlah 9 dan lantainya dari kayu, dindingnya bambu atau kulit kayu dan memiliki banyak jendela. Warna rumah ini adalah warna asli bahannya, tidak boleh di cat.

Bagian-Bagian Ruma Panggong Babel

Ruma Panggong merupakan rumah tempat tinggal. Baik di Pulau Bangka maupun di Pulau Belitung, rumah ini terdiri dari beberapa bagian. Di antaranya adalah bangunan utama, los, bangunan dapur, dan bangunan pendukung. Berikut adalah rincian unsur yang membangun masing-masing bagian dari Rumo Panggong.

  • Bangunan Utama: berbahan kayu, atapnya limas/gudang dan berbahan sirap. Pintu dan jendela berbentuk ram setengah, ventilasi (kembang banji) berupa pagar berlian, dan list plank berupa mata gergaji/tangga. Serta, bagian dalam tidak memiliki bilik/pakai kapstok/pakasi.
  • Bangunan Los: menggunakan bahan bangunan berupa kayu dengan bentuk atap menggunakan desain atap gudang
  • Bangunan Dapur: bahan bangunannya terbuat dari kayu, atapnya berbentuk limas/gudang terbuat dari sirap. Jendela dan pintunya berbentuk ram setengah ke atas. Ventilasi (kembang banji) berupa pagar berlian dan bangunan dalam tidak memakai bilik/kamar.
  • Bangunan Pendukung: Ini merupakan bagian dari rumah adat Bangka Belitung yang berada di luar. Contohnya adalah sumur dan kamar mandi yang ditempatkan di luar rumah.

Fungsi Ruang dalam Ruma Panggong

Ruma Panggong memiliki teras depan yang berfungsi sebagai tempat bersantai keluarga dan untuk menerima tamu biasa. Untuk menerima tamu khusus atau istimewa biasanya berada di ruang tengah. Ruang tengah juga mencakup tempat istirahat keluarga, ruang ibadah, serta aktivitas keluarga yang lainnya.

Selanjutnya, seperti fungsi umum dari ruang dapur, ruang dapur di Rumo Panggong merupakan tempat untuk memasak dan kegiatan sehari-hari di dapur, termasuk sebagai ruang makan. Lalu ada juga kulong (beruman), yakni sebuah tempat untuk menyimpan peralatan dan perlengkapan kegiatan sehari-hari.


Demikian sekilas tentang rumah adat di daerah Bangka Belitung. Khususnya untuk Rumo Panggong, kesimpulan di atas lebih banyak merujuk pada peraturan daerah mengenai rumah adat dan pakaian adat di Belitong, lihat di sini. Untuk kebudayan Babel yang lain, baca juga Kesenian Babel dan Baju Adat Babel.

sumber gambar: youtube.com/watch?v=eYVOiCPT4_c

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *