Rumah Adat Kalimantan Tengah – Rumah Betang Kalteng dan 7 Contohnya

Semua suku Dayak di Kalimantan secara tradisi memiliki rumah adat yang hampir sama. Rumah Adat Betang atau Rumah Panjang adalah nama umum bagi rumah suku Dayak, meski ada juga nama lain dalam penyebutannya. Terkait rumah adat Kalimantan Tengah (Kalteng), berarti juga membicarakan Rumah Betang.

Di Kalimantan Tengah, nama lain rumah ini adalah Lewu. Lazimnya, Rumah Betang mewakili rumah tinggal suku Dayak yang hidup di sekitar hulu sungai. Mereka hidup secara komunal di rumah itu. Penghuninya bisa mencapai puluhan keluarga. Oleh karena penghuninya banyak, rumah tradisional ini pun besar dan panjang.

Ciri Rumah Betang Suku Dayak Kalimantan

Seperti umumnya rumah tradisional adat di Indonesia, Rumah Betang berbentuk panggung. Besar dan memanjang, bisa mencapai hampir 200 meter. Lebarnya berkisar 10-30 meter, tingginya 3-7 meter. Tidak hanya rumah tinggal, Rumah Betang merupakan rumah suku karena penghuni rumah dipimpin oleh kepala suku.

Rumah Betang dengan bentuk panggung bertujuan menghindari kemungkinan luapan air karena rumah ini dibangun di pinggiran aliran sungai. Bentuk panggung juga berfungsi untuk menghindari serangan binatang buas maupun musuh. Atapnya menggunakan atap jengki dan berbentuk atap pelana yang memanjang.

Dalam proses pembangunannya, sebagian suku Dayak menerapkan sejumlah aturan adat. Misal, hulu haruslah searah dengan matahari terbit dan hilirnya searah dengan matahari terbenam. Persyaratan tersebut secara simbolis mewakili upaya keras bertahan hidup mulai dari matahari terbit hingga terbenamnya matahari.

Contoh Rumah Adat di Kalimantan Tengah

Di artikel ini telah tersaji beberapa contoh Rumah Lewu atau Rumah Adat Betang di Kalimantan Tengah. Masing-masing hanya disertai dengan penjelasan singkat. Belum mencakup semua rumah tradisional atau rumah adat di Kalteng. Ada 7 contoh rumah adat yang tersebar di provinsi tersebut, sebagai berikut:

Rumah Betang Tumbang Gagu

Disebut juga Betang Antang Kalang, rumah ini berada di desa Tumbang Gagu, Kotawaringin Timur. Berdiri pada tahun 1870 dan baru ditempati 1878 karena lama pengerjaannya mencapai 7 tahun. Panjang rumah adat ini adalah 47,47 meter dengan lebar 15,50 meter. Setidaknya enam kepala keluarga menempati rumah ini.

Rumah Betang Pasir Panjang

Berlokasi di wilayah Kotawaringin Barat, Rumah Betang di Desa Adat Pasir Panjang unik dengan atap yang tinggi. Tangga untuk memasukinya berada ada yang di samping dan ada juga di depan rumah. Selain besar, rumah adat Kalimantan Tengah ini juga terlihat cukup tinggi dengan kolong panggung yang luas.

Rumah Adat Betang Toyoi

Salah satu rumah tradisional bersejarah di Kalteng, Betang Toyoi berlokasi di Desa Tumbang Malahui. Ada 6 keluarga yang menempati, rumah ini berdiri sejak tahun 1869. Hingga akhir 1950an, suasananya masih ramai karena ditinggali 30 keluarga. Panjang rumah 36 meter, lebar 9,5 meter, dan tingginya sekira 4 meter.

Rumah Adat Betang Sei Pasah

Nama lain rumah ini adalah Rumah Betang Manggatang Utus. Rumah tradisional khas suku Dayak Ngaju yang menempati daerah Sei Pasah, Kapuas Hilir, Kalteng. Ini adalah rumah tua yang dipugar karena rumah asli telah lapuk dan menyisakan tiangnya saja. Fungsinya beralih menjadi museum benda-benda bersejarah suku Dayak.

Rumah Betang Tumbang Bukoi

Rumah adat Kalteng di Desa Tumbang Bukoi ini juga merupakan hasil pemugaran karena sulit menemukan Rumah Betang yang masih asli. Meski demikian, rumah ini masih sesuai dengan rumah adat aslinya dengan material utama kayu ulin. Sesuai fungsi awalnya, di sini masyarakat Dayak melakukan berbagai aktivitas.

Rumah Adat Betang Tambaba

Sebagai salah satu cagar budaya provinsi Kalimantan Tengah, Rumah Adat Betang di Desa Tambaba terlihat masih asli dengan arsitektur yang masih terjaga. Bagian-bagian di dalam rumah ini juga masih sama seperti dulu.  Nuansa kehidupan budaya masyarakat suku Dayak amat kental terasa jika kita mengunjunginya.

Rumah Betang Tumbang Anoi

Rumah Betang Tumbang Anoi di Damang Batu merupakan rumah adat etnis Dayak Ot Danum. Bangunan yang kini tinggal replikanya ini adalah tempat bersejarah yang menandai akhirnya tradisi Mengayau. Pada tahun 1894, di sinilah 152 suku Dayak bertemu demi mengakhiri tradisi memenggal kepala musuh tersebut.


Demikian sekilas artikel tentang contoh rumah adat di Kalimantan Tengah. Terkait Rumah Betang di provinsi yang berbeda, baca juga Rumah Tradisional Kaltim dan Rumah Tradisional Kalbar. Jika ingin lebih mengenal karya kebudayaan di Kalteng, lihat juga Baju Adat Kalimantan Tengah dan Tarian Khas Daerah Kalteng.

  1. img source: Mirzasofyan, CC BY-SA 4.0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *