Rumah Adat Kalimantan Selatan – 10+ Contoh Arsitektur Tradisional Kalsel

Berbicara mengenai corak kebudayaan di Kalimantan Selatan (Kalsel) berarti juga kita membahas kebudayaan masyarakat Banjar. Termasuk terkait dengan seni rupa trimatra atau rumah adat. Rumah adat Kalimantan Selatan pun beragam karena dalam kultur budaya Urang Banjar terdapat banyak jenis rumah adat.

Masyarakat Banjar memiliki lebih dari 10 jenis rumah tradisional atau rumah adat. Namun, Rumah Bubungan Tinggi adalah yang paling ikonik dan merupakan bentuk dari rumah kediaman raja. Bentuk rumah Banjar memang sarat dengan nuansa aristokrasi, dibedakan sesuai fungsi dan siapa yang mendiaminya.

Dalam artikel ini telah disertakan beberapa contoh rumah adat di Kalimantan Selatan dari masyarakat Banjar. Meski penjelasan setiap rumah kurang lengkap, namun sekiranya daftar ini bisa menjadi gambaran awal untuk kita mengenal rumah adat Kalsel. Demikian juga dengan gambar, belum mencakup semuanya.

Rumah Tradisional Adat Kalimantan Selatan

Rumah Bubungan Tinggi

Rumah Adat Kalimantan Selatan
credit: Alamnirvana, CC BY-SA 3.0

Masyarakat suku Banjar menyebut rumah tradisional mereka Rumah Baanjung. Dan, Rumah Bubungan Tinggi merupakan ikon dari Rumah Baanjung yang juga sebagai maskot rumah adat khas Kalsel. Di masa kerajaan Banjar, ini adalah istana raja. Bentuknya sekilas mirip rumah adat Betawi, namun bertipe panggung.

Ciri khas Rumah Baajung Bubungan Tinggi adalah menggunakan atap Sidang Langit tanpa plafon. Tangga untuk menaikinya selalu berjumlah ganjil dan pada paseban atau pamedangan terdapat lapangan yang berpagar Kandang Resi berukir. Selain itu, juga memiliki anjungan di sisi kanan dan kiri bangunannya.

Materialnya dari kayu. Kontruksinya terdiri dari bangunan induk yang memanjang ke depan dengan ruang-ruang yang terbagi berjenjang serta terdapat anjung di kanan kiri. Atapnya Sindang langit memanjang ke depan, atap Hambin Awan memanjang ke belakang, serta atap tinggi melancip yang disebut Bubungan Tinggi.

Rumah ini memiliki banyak ruang dengan tata ruang terbagi tiga, ruang terbuka, ruang setengah terbuka dan ruang dalam. Adapun bagian-bagian rumah, rinciannya sebagai berikut:

  • Surambi (muka dan sambutan): Surambi muka dilengkapi tempat air untuk membasuh berupa lumpangan dan guci.
  • Pamedangan: ruang terbuka berupa teras atau pendopo yang berada di bagian paling depan setelah tangga masuk.
  • Pacira:  Ruang untuk menyimpan alat-alat pertanian, tangkap ikan dan pertukangan. Ruang ini ada dua, luar dan dalam.
  • Panampik Kacil: Ruang tamu agak kecil (7×3 m) setelah pintu masuk. Lantainya lebih tinggi dari Pamedangan.
  • Panampik Tangah: Ruang tamu tengah yang lebih luas dengan lantai yang lebih tinggi dari ruangan sebelumnya.
  • Panampik Basar (Ambin Sayup):  ruang tamu utama. Juga, lantainya lebih tinggi dari lantai Panampik Tangah.
  • Palidangan (Ambin Dalam):  Ruang dalam dengan 8 tiang besar penopang atap. Lantainya sejajar dengan Ambin Sayup.
  • Panampik Dalam (Bawah): Ruang dalam dengan lantai lebih rendah dari Palidangan atau sejajar dengan Penampik Tangah.
  • Padapuran (Padu): Ruang belakang untuk memasak, mencuci piring dan pakaian. Lantai lebih rendah dari Penampik Bawah.

Ba’anjung Gajah Baliku

Rumah Adat Gajah Baliku Kalimantan Selatan
credit: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Dulu, rumah Baajung jenis ini merupakan rumah tinggal warit raja atau keturunan garis pertama sebagai calon pengganti sultan. Sepintas bentuknya nampak mirip Rumah Bubungan Tinggi. Perbedaannya ada di ruang tamu. Pada Rumah Bubungan Tinggi lantainya berjenjang, sedangkan di rumah ini tidak berjenjang.

Selain itu, atap ruang tamu pada Rumah Adat Gajah Baliku menggunakan konstruksi kuda-kuda dengan Atap Gajah (perisai). Dengan lantai datar menghasilkan bangun ruang yang disebut Ambin Sayup. Juga, memiliki anjung di kanan dan kiri bangunan yang menggunakan desain atap Pisang Sasikat (atap sengkuap).

Tidak ada Penampik Kacil di rumah ini, namun hanya ada Penampik Basar. Bagian lainnya mencakup Surambi Sambutan, Pamedangan, Paluaran atau Ambin Sayup (ruang tamu). Lalu, Palidangan (Ambin Dalam) yang diapit Anjung Kanan-Anjung Jurai Kanan dan Anjung Kiwa-Anjung Jurai Kiwa. Serta, Padapuran/Padu.

Rumah Adat Gajah Manyusu

Rumah Tradisional Gajah Manyusu Kalsel
credit: Alamnirvana, CC BY-SA 3.0

Gajah Manyusu merupakan istilah kolektif untuk menyebut rumah adat Banjar di Kalimantan Selatan yang bangunan induknya menggunakan atap perisai buntung. Awalnya, kediaman khas bangsawan ini berbentuk segi empat memanjang ke belakang yang bagian depannya menggunakan Atap Hidung Bapicik (perisai buntung).

Dalam perkembangannya ada tambahan anjung di sisi kanan dan kiri (letaknya agak ke belakang) bangunan atau hanya di salah satu sisi saja. Rumah dengan dua anjung namanya Rumah Gajah Manyusu Ba’anjung Dua. Rumah satu anjung dengan atap sengkuap dinamakan Rumah Gajah Manyusu Ba’anjung Pisang Sasikat.

Bentuk rumah ini banyak berubah, termasuk perubahan Anjung Kanan dan Anjung Kiwa yang atapnya disambung dengan atap jurai luar. Sehingga, istilahnya menjadi Anjung Jurai Kanan dan Anjung Jurai Kiwa. Lalu, ada juga Rumah Gajah Manyusu Ba’anjung Ambin Sayup yang kedua anjungnya memakai atap perisai.

Bentuk dasar rumah ini mencakup teras dengan 4 buah pilar penyangga emper depan yang beratap sengkuap. Pada sisi depan (tawing hadapan) terdapat tangga yang posisinya lurus ke depan. Urut dari depan ke belakang, ruang di rumah ini meliputi Surambi Sambutan, Pamedangan, Paluaran, Palidangan dan Padapuran.

Rumah Adat Balai Laki

Rumah adat Kalsel ini dalam sejarahnya merupakan hunian bagi para mentri dan punggawa. Dibangun dengan sisi panjang tegak lurus sejajar jalan. Memakai tipe atap pelana (atap gudang), tetapi atap pada anjung adalah atap sengkuap (Pisang Sasikat). Bentuknya mirip dengan Rumah Palimbangan namun lebih kecil.

Meski Rumah Palimbangan lebih megah, kedua jenis rumah ini sama-sama beratap pelana dengan Sungkul Atap bertatah. Bisa memakai anjung dengan bentuk berbeda. Dari depan ke belakang, ruang di Balai Laki mencakup Surambi Sambutan, Pamedangan, Paluaran, Palidangan (dengan anjung kanan-kiri), dan Padapuran.

Rumah Adat Balai Bini

Ruman Ba’anjung Balai Bini di masa Kesultanan Banjar menjadi kediaman para puteri Sultan dan inang pengasuh. Bangunan induknya menggunakan atap perisai (Atap Gajah). Sementara itu, anjungnya beratap sengkuap (Pisang Sasikat), sama halnya dengan atap pada ruang Pamedangan yang berpagar Kandang Rasi.

Dalam perkembangannya, rumah adat Kalimantan Selatan ini juga ada yang beratap seperti Joglo dengan tambahan atap Sindang Langit pada Surambinya. Dari depan ke belakang, Balai Bini mencakup Surambi Muka, Surambi Sambutan, Pamedangan, Paluaran, Palidangan (memakai tataban), Palidangan, dan Padapuran.

Rumah Adat Palimbangan

Rumah Adat Palimbangan Kalsel
credit: wikipedia, CC BY-SA 3.0

Pada masa Kesultanan Banjar, Palimbangan merujuk pada model rumah bagi para alim ulama dan saudagar besar. Bentuk rumahnya mirip dengan Balai Laki, namun lebih megah dan kebanyakan tidak memiliki anjung. Jika memakai anjung, atapnya atap pelana. Terasnya tertutup atap sengkuap Sindang Langit.

Dalam perkembangannya, atap teras juga melebar ke teras samping sampai di depan anjung dan membentuk atap jurai luar (Jurai Laki) pada ujung atap terasnya. Secara berurutan dari depan, Rumah Palimbangan Banjar terdiri atas Palatar Sambutan, Pamedangan, Paluaran, Palidangan, dan Padapuran atau Padu.

Rumah Adat Palimasan

Rumah Palimasan di Kesultanan Banjar mewakili rumah bendaharawan istana yang memelihara emas dan perak Kesultanan. Tempat penyimpanan barang-barang berharga ini memakai atap perisai (atap limas). Jika memakai anjung, atapnya juga atap perisai sehingga disebut Rumah Ba’anjung tipe Palimasan.

Bentuk rumah ini beragam. Sebutan lain Palimasan dengan anjung adalah Rumah Palimasan Ba’anjung Ambin Sayup. Jika ada dua rumah, namanya Rumah Palimasan Kambar Siam Ba’anjung Ambin Sayup. Ruangannya mencakup Serambu Muka dan Sambutan, Pemadengan, Paluaran, Palidangan, dan Padu.

Rumah Adat Cacak Burung

Rumah tradisional Kalimantan Selatan untuk rakyat biasa adalah Rumah Cacak Burung. Bangunan induknya memanjang ke belakang beratap pelana. Ada tambahan atap limas melintang menutupi ruang Palidangan beserta kedua anjungnya. Posisi nok (wuwungan) atap limas biasanya lebih tinggi dari nok atap pelana.

Bentuk bangunan Rumah Cacak Burung biasanya memiliki ukuran yang sama dengan rumah Balai Bini. Ruangan di rumah jenis ini terdiri dari Surambi Sambutan dengan 4 buah pilar, Pamedangan, Paluaran. Juga, ruang Palidangan yang terapit oleh Anjung Kanan dan Anjung Kiwa. Serta, ruang Padapuran atau Padu.

Rumah Adat Tadah Alas

Rumah Tadah Alas Kalsel
credit: wikipedia, CC BY-SA 3.0

Tadah Alas merupakan perkembangan dari rumah Balai Bini. Rumah Tadah Alas menambah satu lapis atap perisai untuk kanopi di bagian paling depan. Istilah “Tadah Alas” merujuk kanopi tersebut. Bentuknya segi empat memanjang dengan Surambi Pemadangan kecil menjorok ke depan dengan penopang 2 pilar.

Rumah Adat Joglo Gudang

Rumah Joglo Gudang adalah salah satu jenis rumah adat Kalimantan Selatan yang beratap limas. Terdiri atas 3 susunan atap limas berderet ke belakang dengan satu tambahan atap limas kecil untuk bangunan belakang (Padu). Nama lainnya adalah Rumah Bulat dan tanpa anjung seperti umumnya Rumah Banjar.

Meski sekilas mirip rumah Joglo di Jawa, Joglo Gudang menggunakan konstruksi rumah panggung kayu dengan teknik khas Banjar. Ruangan dalam rumah ini meliputi Surambi Sambutan, Pamedangan, Panurunan (ruang tamu), Paluaran (ruang keluarga), Palidangan. Serta, Panampik Dalam dan Padapuran/ Padu.

Rumah Adat Joglo Gudang

Rumah ini merupakan jenis terakhir dalam daftar rumah adat Kalimantan Selatan kali ini. Jika umumnya Rumah Banjar berdiri dengan sisi panjang di sejajar jalan, Rumah Bangun Gudang tegak lurus terhadap jalan. Atapnya berbentuk perisai dengan ruang serambi Pamedangan yang kecil di tengah-tengah.

Uniknya, di sisi kanan dan kiri Pamedangan tertutup dinding depan menyisakan bagian tengahnya. Rumah Gudang Bangun memiliki tiga buah pintu masuk, yakni di tengah, dan di samping kanan dan kiri Pamedangan. Tidak seperti Rumah Banjar pada umumnya, Gudang Bangun tidak menyertakan 4 buah pilar.


Demikian sekilas ragam rumah adat di daerah Kalimantan Selatan. Untuk memperkaya pengetahuan Anda tentang kebudayaan di Kalsel, baca juga Baju Adat Kalimantan Selatan dan Tarian Khas Kalimantan Selatan. Terkait rumah adat, sebelumnya juga telah dituliskan Rumah Tradisional Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *