Rumah Adat Jakarta – 4 Jenis Arsitektur Bangunan Tradisional Khas Betawi

Berbicara mengenai rumah adat Jakarta berarti membahas arsitektur tradisional dalam kebudayaan etnis Betawi. Dalam hal budaya, masyarakat Betawi sangatlah terbuka terhadap pengaruh luar. Sebagian besar karya budaya Betawi pun tercipta melalui proses akulturasi. Hal ini juga terlihat pada rumah tradisional Betawi.

Rumah adat atau rumah tradisional sendiri termasuk salah satu unsur identitas pendukung suatu kebudayaan. Arsitektur rumah ini tumbuh dan berkembang mengiringi pertumbuhan suku yang bersangkutan. Di bangun dengan cara yang sama dari generasi ke generasi tanpa atau sedikit sekali mengalami perubahan.

Sehubungan dengan rumah adat Jakarta atau rumah Betawi, dalam artikel ini telah disajikan beberapa contoh jenis atau bentuk arsitektur rumah tradisional khas Betawi. Termasuk juga penjelasan singkat mengenai ragam hias dan aturan, khususnya terkait pantangan dalam membangun rumah dalam budaya Betawi.

Arsitektur Rumah Adat Betawi Jakarta

Rumah Adat Kebaya Jakarta
credit: youtube.com

Seperti halnya rumah tradisional lain, rumah adat di Jakarta memanfaatkan berbagai material alam. Atapnya genteng atau anyaman daun kiraiyang. Kayu gowok atau kayu kecapi untuk kuda-kuda dan gording. Balok tepi, khususnya di atas dinding luar memakai kayu nangka tua, sedangkan kaso dan reng dari bambu.

Dinding bagian depan berbahan kayu gowok atau kayu nangka, dinding lainnya dari anyaman bambu. Daun pintu dan jendelanya rangka kayu dengan jalusi horisontal. Pondasi rumah berbahan batu kali dengan sistem umpak di bawah setiap kolom. Landasan dinding dari pasangan batu bata dengan kolon kayu nangka tua.

Oleh karena pengaruh modern, saat ini banyak juga rumah adat di Jakarta yang berdinding tembok. Jika dulu berlantai tanah, kini sudah berlantai keramik atau setidaknya plesteran semen. Rumah tradisional suku Betawi Jakarta terlihat sederhana namun tetap apik karena bangunan rumahnya dikelilingi oleh pagar kayu.

Bentuk tradisional rumah adat Jakarta sifatnya lebih terbuka menerima pengaruh luar. Hal ini terlihat dari pola tapak dan ruang dalam, sistem struktur, bentuk, detail, dan ragam hiasnya. Rumah Betawi juga tidak memiliki arah mata angin serta tidak ada bangunan tertentu yang menjadi orientasi atau pusat perkampungan.

Rumah Betawi umumnya memiliki tata letak yang hampir sama. Mencakup ruang depan untuk tamu, ruang tengah (berisi kamar tidur, kamar makan dan tempat penyimpanan), dan ruang belakang untuk memasak. Untuk kamar tidur, ada yang tertutup dan ada yang terbuka. Sebagian rumah juga ada yang hanya memiliki dua ruang.

Secara umum, rumah tradisional Betawi terbagi dalam 3 jenis berdasarkan bentuk dan struktur atapnya. Di antaranya adalah rumah Gudang, Rumah Joglo, dan yang terakhir adalah Rumah Bapang atau yang populer dengan nama Rumah Kebaya. Masing-masing rumah tersebut memiliki ciri tersendiri, berikut ini penjelasannya:

Rumah Gudang

Rumah adat Betawi jenis ini berbentuk segi empat memanjang dari depan ke belakang. Atap rumah umumnya berbentuk pelana, namun ada juga yang atapnya berbentuk perisai. Kedua jenis atap tersebut sama-sama terdiri dari kerangka kuda-kuda dengan penambahan satu eleman atap yang disebut dengan jure atau jurai.

Struktur rumah Gudang memiliki sistem yang cukup kompleks. Sudah memakai dua buah batang tekan miring yang saling bertemu pada anger, istilah Betawi untuk menyebut batang tarik tegak. Pada bagian depan rumah juga terdapat atap miring (topi/dak/markis). Fungsinya adalah menahan cahaya matahari atau tempias hujan.

Rumah Gudang merupakan salah satu jenis rumah tradisional Betawi Jakarta yang pada zaman dahulu banyak terdapat di daerah pedalaman. Rumah ini tampak masih asli dan belum mendapat pengaruh budaya luar. Lokasinya yang terpencil di pedalaman membuat rumah ini jauh dari kemungkinan percampuran budaya.

Rumah Joglo

Rumah tradisional Jakarta ini bentuknya mendapat pengaruh kuat oleh arsitektur bangunan dalam kebudayaan Jawa, lihat Rumah Joglo di Jawa Tengah. Meski demikian, tetap saja terdapat perbedaan. Jika Rumah Joglo Jawa memakai sistem struktur temu gelang atau payung, Rumah Joglo Betawi menggunakan kuda-kuda.

Menariknya, sistem kuda-kuda dalam arsitektur Rumah Joglo khas Betawi jenisnya adalah kuda-kuda timur. Ciri khas kuda-kuda ini tidaklah mengenal batang-batang diagonal seperti terlihat di kuda-kuda barat yang diperkenalkan oleh Belanda. Hal ini juga yang membedakan Rumah Joglo dengan Rumah Gudang.

Meski berdenah bujur sangkar, yang membentuk rumah adalah 4 persegi panjang yang salah satu garisnya memanjang dari kiri ke kanan ruang depan. Sepenggal bagian ruang depan diatasi oleh terusan dari atap joglo. Ruang depan diatapi terusan dan ruang utama diatapi joglo secara keseluruhan membentuk bujur sangkar.

Rumah Kebaya

Rumah Bapang atau Rumah Kebaya merupakan rumah adat resmi yang mewakili rumah adat Betawi Jakarta. Ciri khas utamanya adalah bentuk atap yang menyerupai pelana dilipat. Bentuk atap ini jika kita perhatikan dari samping terlihat seperti lipatan kebaya. Karena itu, rumah ini terkenal dengan nama Rumah Kebaya.

Ciri khas lain dari Rumah Kebaya adalah terasnya yang luas. Dinding rumah yang terbuat dari panel-panel yang dapat dibuka atau digeser ke tepinya sehingga rumah terasa lebih luas. Dari segi sifatnya, Rumah Kebaya terbagi menjadi 2 bagian. Bagian depan sifatnya semi publik, sementara bagian belakang bersifat pribadi.

Rumah Panggung

Selain tiga bentuk utama Rumah adat Betawi yang tersebut di atas, terdapat juga rumah tradisional di Jakarta yang berkolong tinggi. Rumah jenis ini terkenal dengan nama Rumah Panggung Betawi, contohnya adalah rumah Si Pitung di Marunda. Atap rumah ini ada yang berbentuk Bapang, Joglo, dan lain sebagainya.

Rumah Panggung ada juga yang berkolong rendah, terdapat di daerah pesisir dengan tujuan menyiasati potensi banjir. Salah satu ciri khas Rumah Panggung adalah balaksuji, yakni tangga depan yang diyakini dapat menolak bala. Sebelum memasuki rumah, seseorang harus membasuh kakinya sebagai simbol penyucian diri.

Ragam Hias Rumah Tradisional Betawi

Rumah Adat Betawi di Jakarta
credit: Marwan, CC BY-SA 4.0, edited

Rumah adat tradisional Betawi menghadirkan ragam hias yang nampak sederhana. Umumnya berhias motif-motif geometris, seperti titik, belah ketupat, segi empat, segi tiga, setengah bulatan, lengkung, bulatan, dll. Motif-motif tersebut biasanya terdapat pada lubang angin, kusen, serta daun pintu dan jendela.

Ragam hias juga menghiasi tiang yang tak tertutup dinding. Misalnya tiang langkan, dinding ruang depan, listplank, garde atau pembatas ruang tengah dan ruang depan, tangan-tangan atau skur. Serta teras yang terbatasi oleh langkan terbuat dari batu-batu atau jaro yang berupa pagar bambu atau kayu ornamentik.

Ragam hias juga terlihat pada konstruksi seperti sekor, siku penanggap, tiang atau hubungan antara tiang dengan batu kosta. Konstruksi tou-kung pada siku penanggap adalah adaptasi arsitektur Cina. Tiang bangunan juga tidak polos, namun terdapat sentuhan akhir pada sudut maupun detail-detail di ujung bawah dan atasnya.

Ada juga skor besi cor yang mengadaptasi bentuk-bentuk Eropa. Ragam hias seperti ini terlihat pada listplank, pintu, langkan (pagar rumah), jendela, garde (bentuk relung yang menghubungkan ruang depan dengan ruang tengah), sisirgantung (bidang yang terbuat dari papan yang menggantung di bagian depan rumah), dll.

Pengerjaan ragam hiasnya lebih teliti dan bervariasi. Khusus pada garde dan sisir gantung dilakukan sendiri sehingga sering disebut elemen estetis yang utuh. Berdasarkan pola visual, ragam hias Rumah Betawi adalah Pucuk Rembung, Cempaka, Swastika, Matahari, Kipas, Jambu Mede, Delima Flora, dan Gigi Balang.

Pantangan Dalam Membangun Rumah

Rumah Tradisional Betawi
credit: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Sama halnya dengan kebudayaan suku-suku lain di Indonesia, suku Betawi juga mengenal sejumlah pantangan atau larangan terkait pembangunan rumah. Jika tidak melanggarnya, ada keyakinan bahwa penghuni rumah akan mendapatkan hal-hal baik atau keselamatan selama menempati rumah tempat tinggalnya tersebut.

Pantangan biasanya berkaitan dengan tanah, posisi dan bahan bangunan. Orang Betawi pantang membangun rumah di atas tanah keramat, misalnya bekas kuburan. Rumah yang ideal harus berada di sebelah kiri rumah orang tua atau mertua. Jika di sebelah kanan, diyakini penghuninya akan sakit-sakitan atau susah rezeki.

Terkait material, pantang memakai kayu nangka menjadi bagian bawah kusen pintu. Ada kekhawatiran melangkahi kayu nangka bisa terkena penyakit kuning. Kusen pintu atas sebaiknya kayu cempaka harum agar disenangi tetangga. Jangan memakai kayu asem karena khawatir mengganggu hubungan dengan tetangga.

Larangan lain yang tidak kalah kerasnya adalah sehubungan dengan atap rumah. Pantang membuat atap rumah dengan bahan yang mengandung unsur tanah. Dalam kepercayaan masyarakat Betawi, tanah seharusnya berada di bawah. Apabila mengabaikan larangan ini, penghuni rumah dianggap telah terkubur di dalam tanah.


Demikian sekilas tentang ragam rumah adat Betawi di Jakarta. Lebih lanjut mengenai keragaman karya seni budaya masyarakat Betawi, Anda bisa membaca Pakaian Adat Betawi dan Tarian Khas Daerah Jakarta. Sementara itu untuk keragaman rumah adat di berbagai daerah, lihat juga Rumah Tradisional di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *