Rumah Adat Jambi – 2 Contoh Arsitektur Rumah Tradisional Provinsi Jambi

Menempati pesisir timur bagian tengah Pulau Sumatera, Provinsi Jambi termasuk daerah dengan pengaruh budaya Melayu yang kuat. Terkait arsitektur tradisional, rumah adat Jambi pun bergaya Melayu. Namun, sebagai identitas budaya daerah, rumah adat Melayu Jambi tetap memiliki gaya arsitektur adat yang khas.

Ada beberapa arsitektur dalam budaya Suku Melayu Jambi, tapi yang terkenal adalah Rumah Kajang Leko. Sementara itu, Suku Kerinci memiliki gaya arsitektur adat sendiri. Suku Jambi termasuk Melayu Deutro (Muda) dan Suku Kerinci adalah Proto Melayu (Tua). Budaya kedua suku inilah yang sejauh mewarnai budaya Jambi.

Dalam artikel ini tersaji contoh rumah tradisional daerah Jambi. Belum mencakup semua jenis arsitektur rumah tradisional Suku Jambi, namun lebih berkaitan dengan Rumah Kajang Leko yang populer mewakili Rumah Jambi. Disertai pula penjelasan singkat mengenai rumah tradisional Suku Kerinci. Berikut ini daftarnya:

Ragam Arsitektur Rumah Adat Provinsi Jambi

Rumah Kajang Leko Melayu Jambi

Rumah Adat Kajang Leko Daerah Jambi
credit: instagram.com/teyeika

Rumah Kajang Leko atau Kajang Lako atau Rumah Lamo merupakan arsitektur adat Suku Batin, salah satu suku Melayu di Jambi. Fungsinya sebagai tempat tinggal. Bentuknya seperti bangsal dengan panjang 12 m dan lebar 9 m. Berjenis rumah panggung dengan sebagian besar material bangunannya terbuat dari kayu.

Atap atau bumbungannya berbentuk lipat kajang. Seperti perahu yang ujung atasnya melengkung ke atas. Dari samping, atap yang terbuat dari anyaman ijuk tersebut nampak berbentuk segitiga. Terdapat tambahan Kasau Bentuk yang miring di sisi depan dan belakang dengan tujuan mempermudah air turun ketika hujan.

Masinding atau dinding terbuat dari kayu dengan 3 jenis pintu, yakni pintu tegak, pintu masinding, dan pintu balik melintang. Pintu tegak berada di sisi ujung kiri berfungsi sebagai pintu masuk. Desainnya lebih rendah sehingga setiap orang yang masuk ke rumah harus menunduk sebagai tanda hormat pada pemilik rumah.

Pintu masinding berfungsi sebagai jendela dan ventilasi di ruang tamu. Digunakan melihat ke bawah saat upacara adat untuk mengetahui acaranya mulai atau belum. Pintu balik melintang terdapat pada tiang balik melintang. Fungsinya sebagai jendela bagi pemuka adat, alim ulama, ninik mamak, dan cerdik pandai.

Tiang rumah adat Jambi ini terdiri atas 24 tiang utama untuk kerangka bangunan dan 6 tiang palamban.  Lantainya bertingkat, lantai utama di ruang balik melintang dan lantai biasa di ruang balik menalam, ruang tamu biasa, ruang gaho, dan pelamban. Pelamban adalah ruang bagian depan di ujung kiri berfungsi mirip teras.

Penutup ruang atas penahan tempias air hujan namanya tebar layar. Lalu ada penteh, yakni tempat penyimpanan di atas bangunan. Selebihnya, rumah Kajang Leko memiliki 2 tangga. Tangga utama berada di sisi kanan pelamban, sedangkan tangga tambahan adalah tangga penteh untuk naik ke penteh.

Rumah Tradisional Khas Suku Kerinci

Rumah Tradisional Suku Kerinci Jambi
credit: instagram.com/rayat_derip

Seperti halnya karya seni budaya Kerinci lainnya, arsitektur bangunan tradisional Kerinci juga sangat khas. Salah satu contohnya adalah umoh panja atau umoh larik atau umoh laheik. Ini adalah rumah panjang bertipe panggung dan meliputi beberapa rumah petak yang sambung menyambung. Fungsinya sebagai tempat tinggal.

Nama umoh larik merujuk pada susunan rumah yang berlarik-larik atau berderet-deret. Dihuni oleh beberapa tumbi atau kalbu (keluarga satu keturunan) yang masing-masing menempati satu petak. Setiap tumbi dipimpin oleh seorang ninik mamak. Besar kecilnya rumah Kerinci ini tergantung jumlah keluarga yang menghuninya.

Secara filosofis, terdapat konsep vertikal (ketuhanan) dan horisontal (kemanusiaan) pada rumah ini. Secara vertikal, terdapat pembagian ruang, bagian bawah untuk ternak, bagian tengah untuk manusia. Dan, bagian atas untuk menyimpan benda pusaka. Secara horisontal, pembagian petak tidak bersekat dan saling menyatu.

Kontruksi rumah ini tidak menggunakan fondasi permanen, hanya tumpukan batu sebagai alas tiang. Tidak juga memakai paku, namun memakai pasak dan ikatan ijuk. Dulu, atap rumah bukan genteng, tapi dari ijuk. Dindingnya dari kelukup atau kulit kayu dan lantainya dari papan. Jendelanya hanya terbatasi oleh jeruji berukir.

Bagian bawah rumah berfungsi sebagai gudang alat pertanian dan kandang ternak. Sedangkan di bagian atas loteng terdapat “parra” atau bumbungan tempat menyimpan benda pusaka. Di bagian luar, terdapat beranda panggung kecil yang terhubung dengan tangga sebagai tempat bersantai atau beristirahat sepulang kerja.


Demikian sekilas tentang arsitektur rumah tradisional adat Suku Melayu Jambi dan Suku Kerinci di Provinsi Jambi. Jika ingin lebih mengenal karya kebudayaan masyarakat Jambi, baca juga Baju Tradisional Jambi dan Tarian Daerah Jambi. Berkaitan dengan rumah adat, lihat juga Rumah Tradisional Daerah Bengkulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *